Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.
Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.
Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.
Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.
Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..
Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?
Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..
**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Mengunjungi Panti
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
♥️♥️♥️♥️♥️
Lima hari berlalu..
Selama lima hari ini Naya tidak harus menjadi
pelayan pribadi Aham karena laki-laki itu pergi
ke luar negeri untuk urusan bisnis. Tapi kenapa
rasanya ada sesuatu yang hilang dari diri Naya.
Dia merasakan kehampaan kini menggerogoti
jiwanya yang seakan kesepian.
Sejak kejadian waktu itu, Naya tidak lagi bertemu
dengan Aham sebab malam hari nya laki-laki itu
langsung pergi, tanpa bilang ataupun basa basi.
Sungguh sangat di sayangkan dia tidak sempat
melihat dulu laki-laki itu sesaat sebelum
kepergiannya.
Haiss..memang nya apa yang bisa dia harapkan?
Aham tidak mungkin memberitahu tentang
rencana kepergiannya itu pada dirinya kan?
Memang siapa dia di mata Aham.? Sungguh
sangat tidak penting baginya.!
Saat malam hari seringkali Naya berkhayal kalau
Aham akan menghubunginya. Tapi ibarat pungguk
merindukan bulan, itu adalah sesuatu yang tidak
pernah terjadi. Lagipula untuk apa laki-laki itu
menghubunginya, tidak ada alasan bukan?
Mungkin dia hanya akan terus berkabar dengan
kekasih nya itu. Ya.. tentu, kekasihnya itu lebih
penting daripada dirinya.
Naya menjalani harinya dengan sedikit tenang. Semenjak kejadian tempo hari Nyonya Elen tidak
lagi mengusik ketenangan Naya. Dia terlihat
acuh dan seakan tidak memperdulikan keberadaan Naya. Semacam di anggapnya tidak ada.
"Tuan Muda memberi peringatan pada Nyonya
Besar untuk tidak lagi mengusik anda Nona."
Jelas Rani ketika Naya bertanya. Dan Naya cukup
terkejut dengan semua itu. Kenapa laki-laki itu
menginginkan kedamaian untuk dirinya.?
Siang ini Naya sedang berada di kantornya. Dia
tampak sibuk memeriksa semua laporan yang
menumpuk di atas meja kerjanya.
Tidak lama ke dalam ruangan muncul Monica
bersama seorang wanita muda berkaca mata.
"Selamat siang Bu Kanaya.."
Sapa wanita muda itu seraya membungkuk dalam.
Kanaya melihatnya sebentar.
"Duduk Han.."
Sambut Naya seraya bangkit dari kursi kerjanya.
Wanita itu adalah desainer terbaik bagian Permata
di perusahaannya. Dia duduk dengan membuka
tablet dan laptop nya.
Tidak lama Naya ikut duduk di hadapannya.
"Bagaimana, apa kau sudah menyiapkan apa
yang saya minta kemarin? saya tidak punya
banyak waktu, lusa barang nya sudah harus jadi."
"Sudah Bu..ini semua adalah gambar desainnya.
Ibu tinggal memilihnya. Dan hari ini juga kita
serahkan pada bagian produksi."
"Baiklah..coba aku lihat dulu desain nya ya."
Naya meraih tablet dan mulai melihat semua
gambar gelang cantik yang ada di layar. Semua
modelnya terlihat sangat indah dan unik.
"Ini kelihatan nya sangat indah, dan terkesan
istimewa."
Tunjuk Naya pada sebuah gambar.
"Bagaimana menurutmu Han.? "
Wanita berkacamata bernama Hany itu tampak
melihat gambar tersebut dan mengangguk setuju.
"Pilihan yang bagus Bu..ini memang saya desain
berbeda, untuk anak muda yang super energik
dengan sentuhan mewah namun tetap anggun."
Naya tersenyum setuju.
"Kalau boleh tahu, hadiah mewah ini untuk siapa
Bu.? karena ini sangat istimewa."
Naya tersenyum lalu menatap Hany dengan sorot
mata sedikit bimbang.
"Sebenarnya saya tidak yakin, apakah dia akan
menerima hadiah ini atau tidak."
"Kok bisa begitu Bu.?"
"Dia bahkan tidak menyukai ku.."
Lirih Naya. Hany menatap tidak percaya. Mana
ada orang yang tidak menyukai bos cantik nya
ini, dia itu kan paket komplit. Udah baik, sopan,
ramah, lembut dan sangat lah cantik. Selain itu
dia juga seorang yang sangat perhatian terhadap
semua orang. Uuhh sedikit mustahil jika ada
orang yang tidak menyukai dirinya.
"Sudahlah..! saya putuskan untuk memilih
model yang ini. Kau langsung serahkan gambar
nya pada bagian produksi sekarang juga ya."
Naya berdiri setelah memutuskan pilihannya.
"Baik Bu..saya pergi sekarang juga kesana. "
"Mon..tolong antar Hany biar cepat.."
"Baik Nona Muda.."
Monica yang dari tadi berdiri di samping Naya
tampak mengangguk patuh. Mereka berdua
keluar dari ruangan bersamaan dengan
kemunculan Noah ke ruangan itu.
"Hai Dear.. how are you.?"
Senyum menawan Noah langsung terkembang.
Naya membalas senyuman itu dengan sama
cerah nya. Entah kenapa, dia memang sedikit
merindukan pria ini. Beberapa hari terakhir
ini Noah pergi untuk urusan pekerjaan.
"Kak Noah..kau sudah pulang.?"
Noah mendekat seakan ingin memeluk Naya,
namun di balas tatapan horor gadis itu.
"Haha..apa aku tidak punya kesempatan sekali
saja untuk memeluk mu Dear.?"
Kesal Noah seraya menjatuhkan dirinya di atas
sofa empuk. Naya duduk di hadapannya. Dia
menatap Noah seraya menggeleng.
"Maaf Kak, aku seorang wanita dengan segala
keterbatasan yang di miliki."
"Kalau begitu aku akan menikahi mu saja !"
"Kak Noah..! jangan bercanda ahh..!"
Naya memutar bola matanya malas.
"Hei..siapa yang bercanda! aku tidak pernah
bercanda untuk satu hal itu."
Noah menatap lekat wajah Naya. Semua yang
di ucapkan nya memang serius. Tapi dia juga
sadar betul dengan status gadis pujaannya itu.
Walau pun tidak pernah jelas. Naya terdiam.
"Aku masih istri saudara mu Kak.."
Lirih Naya dengan suara yang sangat pelan.
Ya..istri seseorang yang bahkan sampai saat
ini tidak pernah di akuinya. Menyedihkan !
"I know..but I don't care.!"
Acuh Noah tersenyum miring. Naya berdiri dan kembali menatap Noah.
"Aku masih banyak pekerjaan."
"Hei wait..! Ayo sekarang kemasi barang mu.!"
Noah ikut berdiri. Naya menatapnya bingung.
"Aku kesini ingin mengajak mu pergi ke suatu
tempat. ! Come on.."
"Tapi pekerjaan ku masih banyak Kak.."
"Lupakan.! bisa nanti lagi, cepatlah dear.."
"Tapi kita mau kemana Kak.?"
"Kau akan menyukainya, ayolah cepat.!"
"Baiklah, tunggu sebentar ya."
Naya beranjak ke dekat meja kerja, mengambil
tas nya setelah itu dia bergegas keluar menyusul
Noah yang sudah pergi lebih dulu.
***** *****
Noah ternyata membawa Naya menuju sebuah
Mall untuk berbelanja. Semula Naya tampak
keberatan dengan ide Noah.
"Hei..dear, jangan pelit ! kau ini seorang wanita
super kaya sekarang.!"
"Tapi aku tidak suka berbelanja kalau tidak perlu
Kak Noah.."
"Aku tidak menyuruh belanja untuk mu dear.."
Mata Noah tampak berkedip-kedip usil.
"Lalu, untuk siapa.?"
Naya menatap penasaran.
"Untuk Ibu, dan adik-adik pantimu sayang.."
"Apa ?? benarkah.? kenapa tidak bilang dari tadi
sih, yasudah ayo kita mulai perburuan nya !"
Naya memekik bahagia, tanpa sadar dia menarik tangan Noah yang langsung terkekeh dengan
senyum lebar tercipta di bibir seksinya. Seakan
tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Noah
balik menggenggam erat tangan Naya.
Mereka berdua tampak sangat bersemangat
untuk memilih berbagai macam pakaian dan
keperluan lainnya untuk orang-orang di Panti
dengan saling berbagi tugas biar lebih cepat
dan efektif.
Keduanya menghabiskan waktu 2 jam hingga
akhirnya semua barang terkumpul.
"Yes..sudah lengkap semua kan? tidak ada yang
ketinggalan.?"
Noah memasukan semua barang belanjaan
ke dalam bagasi mobilnya.
"Ya sudah Kak..aku kan tahu benar berapa jumlah
anak-anak panti beserta semua orang yang tinggal
di sana."
Sahut Naya dengan senyum puas dan wajah di
hiasi kebahagiaan.
Noah menutup bagasi dan berdiri menatap Naya
yang juga sedang menatapnya dengan perasaan
senang yang tidak terjabarkan.
"Terimakasih banyak ya Kak, kamu sudah mau
memperhatikan kami semua.."
Lirih Naya. Noah kembali terkekeh dan tersenyum.
"No problem, dari dulu mereka semua sudah
menjadi urusanku ! bahkan sebelum kamu tahu
segalanya. Aku lah yang mendapat amanat dari
kakek dari dulu.."
"Apa? kenapa kakak tidak pernah bilang? Lalu
kenapa aku juga tidak pernah melihat mu?
Kau pasti bohong kan.?"
"Aku tidak suka membual.! Let's go dear !
masih ada kejutan lainnya !"
"Kau ini benar-benar menyebalkan ! kenapa
tidak pernah bilang sebelum nya? jadi kamu
sudah tahu tentang aku dari dulu kan..?"
"Hahaa..kau tebak saja sendiri..
"Kamu jahat Kak, kamu curang.."
Noah tidak menanggapi ocehan Naya, dia acuh
saja berjalan masuk ke dalam mobil dengan
kekehan kecilnya di ikuti oleh Naya yang masih
tiada henti dengan segala omelan nya.
Sebelum pergi ke panti, lagi-lagi Noah membawa
Naya untuk mampir ke sebuah butik ternama.
Naya hanya bisa cemberut saat Noah memaksa
dirinya untuk memilih gaun yang terbaik.
"Buat apalagi sih Kak? "
Naya menghentakkan kakinya kesal setelah dia
kelelahan karena harus beberapa kali mencoba
gaun yang berbeda.
"Kamu tidak ingin tampil buruk di hadapan
suami kamu kan ?"
Naya mengernyitkan alisnya tidak mengerti.
"Maksud kakak.?"
"Itu untuk acara ulang tahun Meline. Aku tidak
mau melihatmu tampil biasa-biasa saja.!
pasanganku harus bersinar.."
"Iihh..siapa yang mau jadi pasangan mu ?"
Naya memutar bola matanya jengah.
"Memang nya kamu pikir suamimu itu bakal
datang dengan menggandeng mu.?"
Naya terdiam. Raut wajah nya langsung muram.
Noah hanya tersenyum tipis.
"Masih ada aku yang lebih baik segala nya dari
dia, jangan berkecil hati.."
Bisiknya di dekat telinga Naya membuat gadis
itu berjingkat seketika.
"Iihh...kau sangat menyebalkan..! sama saja
seperti orang itu.."
Naya memukuli bahu Noah karena kesal dengan
sikap narsis nya. Noah hanya tertawa sambil
kemudian keluar dari butik tersebut dengan
membawa beberapa paper bag berisi sederet
gaun mewah untuk Naya.
Setelah dari butik tadi, akhirnya perjalanan Naya
hari ini berujung di panti asuhan Kasih Bunda.
Namun Naya hanya bisa terdiam bengong saat
Noah membawa nya ke tempat baru. Bangunan
ini terlihat jauh lebih luas berkali-kali lipat dari
bangunan yang dulu. Bahkan di halaman belakang
terdapat kolam renang dan taman yang luas.
Anak- anak terlihat sangat senang saat Noah
mengeluarkan semua barang dari dalam bagasi.
Pria itu langsung berbaur dengan semua anak
dan membagikan barang bawaannya satu persatu
pada setiap anak sesuai bagiannya.
Naya memeluk erat Ibu Halimah penuh kerinduan.
Setelah puas mereka berdua menghampiri Noah
dan anak-anak yang saat ini berada di halaman
belakang. Laki-laki itu tampak sedang mengajak
anak-anak bermain bola.
"Tuan Muda yang sudah menyediakan tempat ini
Nay. Kami pindah dari tempat yang dulu beberapa
hari setelah kamu menikah."
Naya tampak terkejut ,menatap Ibu Halimah tidak
percaya dengan ucapan nya.
"Tuan..Aham yang menyiapkan ini semua ?"
Ibu Halimah mengangguk.
"Tuan Muda juga menjamin semua pendidikan
anak-anak di tempat yang lebih baik."
Naya semakin tidak percaya. Benarkah pria
dingin itu punya kepedulian terhadap panti
asuhan tempat dirinya hidup selama ini.?
Sangat sulit untuk di percaya !
----- -----
Malam menjelang. Setelah menjalankan ibadah
sholat isya, Naya terdiam di kamar nya. Dia
meminta Rani untuk membawakan minuman
hangat untuk dirinya karena dia memiliki sisa pekerjaan yang harus kembali di periksa nya.
Naya duduk di atas ranjang kecil tempat dirinya
beristirahat selama ini. Entah sampai kapan dia
akan menempati kamar sempit ini. Tapi sungguh
ini bukanlah sesuatu yang besar bagi dirinya.
"Hei..kalian tahu gak si Naya itu siapa.?"
Ada suara obrolan dari arah luar kamar, tepatnya
di bangku taman yang terletak di depan deretan
kamar para pelayan.
"Memang nya siapa dia.?"
"Coba deh lihat ini.."
Para pelayan muda itu berkumpul dan melihat
video klip grup gambus Al Arafah. Dimana di
sana Naya sebagai vokalis nya.
Mata mereka semua tampak terbelalak tak
percaya dengan apa yang di lihat nya.
"Ini beneran Kanaya, teman kita itu kan?"
"Ya iyalah..dia itu sebenarnya penyanyi religi.
Pantas saja aku merasakan kejanggalan pada
dirinya, dia itu tidak pantas berada di antara kita."
"Ya Tuhan.. suaranya merdu banget ya.."
"Iya benar, sangat menyentuh."
Mereka terus membicarakan Kanaya. Semua
video klip sholawat dari grup gambus nya
mereka putar berulang-ulang.
"Tapi..yang aku heran, kenapa dia harus bekerja
di sini ? sebagai pelayan pula.! bukankah itu
sangat tidak pantas baginya ?"
"Iya ya..kenapa coba? apa untuk mencari
tambahan penghasilan ya ?"
"Bisa juga sih, sudah ayo kita putar lagi video nya..
Kok rasanya tidak ada bosannya ya.."
"Hahaa iya, itu karena sholawat sama suaranya
sangat merdu dan menyejukkan kalbu.."
"Benar-benar.."
Pembicara mereka terus berlanjut seakan tiada
habisnya.
Rani masuk kedalam kamar dengan wajah yang
sedikit bimbang.
"Nona..ini minumannya.."
Naya tersenyum lembut menyambut gelas yang
di sodorkan Rani kemudian meminumnya pelan.
"Nona.. sepertinya mereka sudah tahu tentang
profesi Nona yang sebenarnya."
Lirih Rani ragu-ragu. Naya melirik dan tersenyum.
"Tidak apa Rani, biarkan saja. Aku juga tidak tahu
sampai kapan bisa bertahan di tempat ini."
"Kenapa Nona berbicara seperti itu ?"
"Kalau Tuan Muda tidak juga bisa menerima
kehadiran saya, lalu saya bisa apa Ran ?"
Rani terdiam menundukkan kepalanya .
"Saya sangat berharap Tuan Muda akan
mengakui Nona secepatnya."
Naya kembali tersenyum miris.
"Sejujurnya itupun yang aku inginkan Ran. Aku
tidak ingin mengecewakan Kakek."
Lirih Naya. Dia kembali menekuni laptopnya.
Meneruskan sisa pekerjaan nya.
"Tapi apapun yang terjadi, ijinkan saya untuk
tetap mengikuti kemana pun Nona pergi ya.."
Naya tersenyum lagi, melihat kearah Rani yang
sedang menatapnya penuh harap.
"Iya Ranii..tenang aja, saya pastikan kamu akan
selalu jadi teman baik saya.."
"Hehee.. Nona, anda ini sangat baik hati. Tuan
Muda sangat beruntung memiliki anda sebagai
istrinya."
"Aahh..itu kan menurut kamu Ran, dia itu kan
orang nya aneh..! menyebalkan !"
Rani menatap wajah Naya yang terlihat seakan
berbinar saat berbicara tentang Aham.
"Nona boleh saya bertanya?"
"Soal apa Ran.?"
"Emm.. Memang nya Nona tidak jatuh cinta
pada pandangan pertama pada Tuan Muda..?"
Naya melongo. Matanya mengerjap. Dia tidak
menyangka akan mendapat pertanyaan yang
menjebak seperti ini dari pelayan pribadinya
itu.
Uuhh..Rani ini apaan sih, kok pertanyaan nya
macam begini? Tidak sadar ada semburat
merah yang kini memenuhi wajah cantiknya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
. Bersambung.....
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪