NovelToon NovelToon
Di Titik Nadir

Di Titik Nadir

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:732.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Tirza

CERITA PERTAMA - END
"Aku hanya memainkan bagianku, cinta yang akan menyempurnakannya" - Nara

CERITA KE DUA - END
"Aku tetaplah sama, berdiri di sudut tersembunyi, menunggumu sampai akhir nafasku." - Liana

Ardian Rahardja tidak percaya lagi kepada cinta, setelah gagal menikahi Nara. Desakan orang tua membuatnya terpaksa memilih Liana Devi Saraswati, sahabat Nara sebagai istri untuk menghindari perjodohan yang dibuat oleh orang tuanya.

Ardi yang mengetahui bahwa Liana memiliki perasaan untuknya, memanfaatkan hal itu untuk mengatur istrinya sesuka hati dan memaksa ia bersandiwara seolah pernikahan mereka sangat bahagia.

Apakah waktu akan membuat Ardi menjadi luluh? Ataukah Liana harus menerima kenyataan bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mencintainya sampai kapanpun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beradu Permainan

“Dimana Nara?” Ardi langsung menanyakan keberadaan Nara tanpa basa-basi.

“Siapa kak?” Nara yang penasaran mendekati Rendra dan terkejut melihat kedatangan Ardi.

“Astaga! Apa yang terjadi denganmu?” Ardi masuk ke dalam apartemen sebelum Rendra mempersilakannya. Ia menghampiri Nara dan menyentuh pundak gadis itu dengan kedua tangannya.

"S-saya…......." Nara menjeda ucapannya.

"Saya memasak cukup banyak makanan malam ini, mungkin kak Ardi bisa bergabung dan menikmati makan malam bersama. Iya kan kak Rendra?” Nara berbicara dengan tenang sambil tersenyum melihat Ardi dan Rendra. Gadis itu mencoba mengalihkan pembicaran, sehingga ia memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan jawaban yang tepat.

“Kak Rendra?" Ardi berucap di dalam hati. Ia merasa aneh dengan sapaan itu karena terakhir kali Nara menyapa Rendra dengan sebutan tuan.

“Makanlah bersama kami!” Rendra menutup pintu dan berjalan menuju ke ruang makan.

------------------

“Apa yang terjadi denganmu Nara? Beberapa hari yang lalu kau berjalan dengan terseok-seok, sekarang kau bahkan terlihat sangat…. Mengerikan.” Ardi membuka pembicaraan setelah memastikan bahwa semua orang di meja itu telah menyelesaikan makan malamnya.

“Berjalan dengan terseok-seok?” Rendra bergumam dalam hati. Ia merasa tidak pernah melihat gadis itu berjalan terseok-seok.

“S-saya dikeroyok,” kata Nara berbohong. Rendra sedikit terkejut mendengar penuturan Nara.

“Bagaimana bisa?” Ardi mengerutkan keningnya.

“S-saya membantu seorang wanita yang kecopetan. Saya mengejar pencopet itu dan sempat mendapatkan tasnya. Namun, teman pencopet itu datang, lalu mereka berdua menghajar saya hingga seperti ini, karena saya tidak kunjung melepaskan tas wanita itu.” Nara menundukkan kepalanya. Ia tahu bahwa jika ia menatap Ardi, maka Ardi bisa membaca bahwa gadis itu sedang berbohong.

"Dikeroyok pencopet?" Ardi menatap Nara dengan aneh. Ia nampak tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan gadis itu.

“Kenapa tiba-tiba datang dan mencari Nara?” Rendra menyela pembicaraan mereka. Rendra mengetahui bahwa Ardi akan terus mendesak gadis itu untuk menceritakan yang sebenarnya, jika tidak segera dihentikan.

“Aku mengkhawatirkannya. Dia tidak datang selama beberapa hari di toko dan tidak memberi kabar,” ucap Ardi dengan tatapan tajam yang ditujukan kepada Rendra.

"Di toko?" Rendra menatap Ardi dengan penuh tanda tanya.

"Nara adalah karyawanku. Itu sebabnya terakhir kali kita bertemu, aku mengatakan bahwa ia bekerja padaku. Kau justru menghinanya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi," balas Ardi sambil mengingat peristiwa lalu.

Rendra tidak langsung membalas. Laki-laki itu menyadari kesalahannya.

"Bagaimana kondisimu sekarang?" Ardi menatap Nara kembali, saat tidak mendapat tanggapan dari Rendra.

“Kau sudah melihatnya dan sudah mendengar ceritanya. Dia sudah lebih baik sekarang hingga bisa memasakkan makan malam untuk kita,” jawab Rendra.

Ardi merasa tidak suka dengan cara Rendra yang selalu menyela pembicaraannya dengan Nara. Ardi tidak bisa mendapatkan informasi yang utuh dari gadis itu karena sikap Rendra.

“Nara, terima kasih atas makanannya. Bisakah kau meninggalkan kami berdua sebentar?” Ardi meminta Nara dengan lembut.

Gadis itu tidak langsung beranjak. Dia menatap suaminya, seakan menanyakan apa yang harus ia lakukan. Rendra menganggukkan kepala dan Nara pun meninggalkan keduanya untuk berbicara secara pribadi.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Rendra segera membuka pembicaraan setelah melihat Nara masuk ke dalam kamar.

“Apa yang kau lakukan pada istrimu?” Ardi menyipitkan matanya. Laki-laki itu mencurigai Rendra.

“Apa maksudmu? Bukankah dia sudah mengatakan semua tadi?” Rendra berusaha menjawab dengan tenang. Laki-laki itu merasa bahwa ia tidak perlu menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada semua orang.

“Nara sudah menceritakan tentang pernikahan kalian, saat aku mengantarnya pulang waktu itu. Melihat betapa kau sangat membencinya, aku lebih percaya jika kau yang melakukan hal jahat itu, dibandingkan para pencopet yang ada dalam cerita karangannya itu.” Ardi menggepalkan tangannya sambil menatap Rendra penuh curiga.

“Aku bukan laki-laki rendah yang suka memukul wanita,” ucap Rendra sambil menyeringai setelah mendengar ucapan Ardi.

“Kapan kau berniat mengakhiri pernikahanmu dengannya?” Ardi mengambil gelas berisi air di sampingnya dan meneguk air itu.

“Apa urusannya denganmu?” Rendra memang tidak mencintai Nara, tetapi ia merasa terusik ketika Ardi menanyakan sesuatu yang bukan urusannya.

“Aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka setelah kau melepasnya. Sebaiknya lakukan secepay mungkin! Gadis itu terlalu baik untuk kau miliki,” tutur Ardi kemudian menjeda sejenak ucapannya.

“Sampaikan salamku pada Nara, katakan aku menyukai masakannya! Aku pamit.” Ardi berdiri. Ia melangkahkan kakinya ke arah pintu dan meninggalkan apartemen Rendra dengan segera.

Rendra masih berada di ruang makan. Ia termenung memikirkan perkataan Ardi. Beberapa kalimat terakhir Ardi cukup mengusiknya.

“Ada apa dengan sahabat-sahabatku? Yang satu begitu menginginkan Nara, hingga melakukan tindakan gila. Yang satu lagi sedang menunggu aku menceraikannya. Apa istimewanya perempuan itu?” Rendra mengangkat kedua bahunya seolah ingin menyatakan ‘masa bodoh’ dengan sikap sahabat-sahabatnya dan segera beranjak meninggalkan ruang makan untuk menuju ke kamar.

-----------------

*Keesokan harinya*

“Saya ingin menemui bosmu,” ucap Sari kepada resepsionis.

“Mohon tunggu sebentar nona Sari!” Salah satu resepsionis meminta perempuan itu untuk menunggu.

Beberapa karyawan memang mengenal Sari sebagai mantan kekasih Rendra. Mereka sempat berpikir bahwa Sari yang akan bersanding dengan Rendra di pelaminan waktu itu. Banyak karyawan merasa terkejut dan mempertanyakan mengapa Rendra justru menikahi wanita lain, saat mereka menghadiri resepsi.

Resepsionis itu segera menghubungi Arifin, sekretaris Rendra untuk memberi tahu kedatangan Sari. Arifin kemudian menanyakan kepada Rendra apakah ia mau menemui perempuan itu dan laki-laki itupun mengijinkan.

“Silakan naik Nona!” Resepsionis itu tersenyum ramah saat mempersilakan Sari.

“Kadang aku bingung dengan hubungan percintaan bos kita. Istrinya sekalipun tidak pernah muncul untuk menemui suaminya di kantor, sementara mantannya terus-terusan datang,” ucap salah satu resepsionis kepada temannya, saat melihat sosok Sari telah menghilang dari pandangan mata mereka.

“Pacarannya sama siapa, menikahnya sama siapa?” Resepsionis yang lain membalas ucapan temannya.

“Menurutku nona Sari harus lebih tahu diri. Bagaimana pun juga pak Rendra itu sudah beristri. Dia tidak bisa terus-terusan membayangi kehidupan rumah tangga pak Rendra.” Pembicaraan itu pun terhenti saat ada tamu lain menghampiri mereka.

----------------

“Hai, sayang!” Sari mencium pipi Rendra begitu ia tiba ke kantor laki-laki itu.

“Merindukanku?” Rendra bertanya kepada Sari.

“Tentu saja! Beberapa hari ini kamu tidak pernah menghubungiku,” ucap Sari sambil bergelayut manja pada lengan Rendra.

“Sesuatu terjadi pada Nara dan aku tidak bisa meninggalkannya,” balas Rendra sambil membayangkan Nara yang terbaring lemah beberapa hari yang lalu.

“Mark menemuiku kemarin dan ia menceritakan semuanya,” ucap Sari dengan tenang.

“Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu kan? Mulai sekarang jangan mendekati laki-laki itu. Dia betul-betul seorang laki-laki yang tidak beradab,” tutur Rendra sambil mengepalkan tangannya karena geram.

“Mark tidak akan melukaiku sayang. Dia menemuiku karena masih merasa tidak enak jika langsung menemuimu. Dia menjelaskan kepadaku alasannya melakukan hal itu. Awalnya, ia tidak berniat untuk melecehkan perempuan itu, tetapi cara berpakaian perempuan itu membuatnya tergoda.” Sari mencoba membantu Mark dengan mengucapkan kebohongan tentang Nara.

Rendra mencoba mengingat kembali pakaian yang dikenakan Nara. Ia tidak bisa menilai pantas atau tidaknya, karena saat ia datang, pakaian gadis itu sudah tidak berbentuk.

“Kau percaya dengan alasannya? Aku mengganti pakaian Nara yang terkoyak. Aku hampir melihat seluruh bagian tubuhnya waktu itu, tetapi aku tidak berpikir untuk melakukan apapun padanya,” ucap Rendra tanpa sadar.

“K-kau, tidak bisakah kau meminta bantuan orang lain? Haruskah kau yang mengganti pakaiannya?” Sari membuang wajah sambil mengerucutkan bibirnya. Rendra menyadari bahwa ia telah salah berbicara.

“Aku panik sayang. Kondisinya sangat mengenaskan. Aku juga tidak mungkin berpikiran macam-macam dalam kondisi seperti itu,” tutur Rendra membela dirinya sendiri. Ia mencoba menggenggam tangan Sari untuk melunakkan hati wanita itu.

“Kau tidak berpikiran macam-macam karena kau tidak menyukainya. Sementara Mark menyukai istri sandiwaramu itu, makanya ia kehilangan kontrol diri. Namun, sekalipun kamu tidak menyukainya, aku tidak rela jika kamu bertindak jauh seperti itu.” Sari menepis tangan Rendra.

Laki-laki itu segera bangkit dari kursinya dan menghampiri kekasihnya. Ia memeluk Sari dengan mesra, sambil membujuk agar dimaafkan.

“Aku berjanji, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku minta maaf. Jangan marah lagi, ya?” Rendra mengeratkan pelukannya.

Mereka berdua asyik bermesraan di dalam ruangan. Tiba-tiba, seseorang masuk tanpa mengetuk pintu.

“Rendra apa yang kamu lakukan dengan rubah betina ini?” Rani membentak anak laki-lakinya.

Rendra yang terkejut segera melepaskan pelukannya dari Sari. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri keduanya.

Plaakkkk!!!

Rani menampar Sari dengan sekuat tenaga. Rendra terkejut melihat reaksi wanita yang melahirkannya itu. Sari seketika menangis sambil memegang pipinya yang memerah.

“Mama! Cukup ma!” Rendra menahan ibunya yang sedang bersiap untuk mengayunkan tamparan ke-duanya.

“Lepaskan mama! Rubah ini bahkan pantas mendapatkan yang lebih buruk dari ini.” Rani mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Rendra.

“Aku tidak akan melepaskan mama, sampai mama bisa menenangkan diri,” kata Rendra sambil terus menahan pergerakan ibunya. Rani menyadari bahwa ia terlalu terbawa emosi. Wanita itu pun segera menguasai dirinya lagi.

“Mama sudah lebih tenang. Kamu bisa melepaskan tanganmu,” pinta Rani dan diikuti oleh Rendra.

“Kamu tidak apa-apa, Sari?” Rendra menghampiri kekasihnya. perempuan itu menganggukkan kepala sambil menghapus air matanya.

“Jadi seperti ini kelakuanmu di kantor selama ini? Ingat Rendra, kamu sudah beristri!” Rani berbicara sambil menahan emosi yang kembali merong-rong dirinya saat melihat sikap manis Rendra kepada Sari.

“Aku masih mengingatnya ma, tetapi aku juga menyadari bahwa aku mencintai Sari bukan Nara,” tutur Rendra sambil menyembunyikan Sari di belakang dirinya untuk melindungi wanita itu.

“Sampai kapan kamu seperti ini Rendra? Kamu tidak boleh melakukan hal itu pada istrimu!” Rani semakin mengeraskan suaranya.

“Seharusnya mama dulu membiarkan aku membatalkan pernikahan konyol itu, sehingga hari ini aku bisa bersama dengan orang yang aku cintai. Mama membuat aku terpaksa menjadikan pernikahan sebagai sebuah permainan,” ucap Rendra dengan penuh penekanan.

“Kamu sedang tidak sepenuhnya menyadari siapa yang seharusnya kamu pilih dan siapa yang semestinya kamu tinggalkan." Rani mengucapkan kalimat itu dengan bibir yang bergetar. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kembali ucapannya.

"Kamu suka bermain? Baik! Mama akan meladeni permainanmu. Mama akan menempatkan Nara sebagai wakil direktur di perusahaan ini, supaya kamu punya lebih banyak waktu untuk mengenalnya. Kita lihat apa yang akan terjadi ke depan. Permainan siapa yang lebih hebat di antara kita?” Rani kembali berucap sambil menyeringai. Ia juga menatap anak laki-lakinya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

------------

Happy reading! Saya tunggu Feedback-nya.

1
Forta Wahyuni
padahal Rani dah tau busuknya si sari n tapi bknnya ditunjukkan malah kesan nya membiarkan trus anaknya bermesraan trus dgn sari. mungkin klu islam mak nya mendukung perzinahan walau hnya cuma cium dan peluk saja, bkn malah diksh tau kebobrokan sari tapi malah mengikuti permainan. 🤭🤭
novita setya
tdk semudah itu ferguso..ho ho ho😄😄
novita setya
nara..tersakiti tiada batas akhir
Asih Prawawati
Hmmm Nara ...
Silvia Hapsari
Love this storyyyy😍😍😍 nangis bombay sampe diketawain suami😂 sukses terus thor!!!
LAJ
fix...dr ratusan novel yg uda eike bc di entuun cm ini yg bs bikin eike sesegukan idung meler mata bengkak...bagus bangettt pemilihan kata2 nya, berasa ky kita tuh ada disana...good job otor 🥰😍🥰😍
Nining Juhaeni
Kecewa
Silvia Hapsari
Mewekkk😭😭😭
Arie
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Arie
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Rinisa
Happy Ending...😍👍🏻🤗
Rinisa
Kasihan sekali Liana...
Rinisa
Miris...
Rinisa
Dilema
Rinisa
Next 🤗
Rinisa
Next
Rinisa
Kasihan banget Liana...
Rinisa
next😊
Rinisa
Emak nya Ardi datang, gini nich nikah tanpa ijin orang tua...
Rinisa
kasihan Liana...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!