Victoria yang baru saja lulus dari kuliah S1 nya harus menerima kenyataan pahit ketika tau orang tuanya telah dibunuh oleh seorang Mafia yang bahkan tak pernah ia jumpai sama sekali.
Dan hal lain yang lebih mengejutkan pun terjadi, sang ketua mafia yang membunuh kedua orang tua Victoria ternyata ingin menjadikan dia sebagai istrinya.
Lalu bagaimana dengan kehidupan Victoria selanjutnya? siapa sebenarnya si Mafia yang telah membunuh kedua orang tua Victoria? Akankah Victoria bisa membalaskan dendam atas kematian orangtuanya? atau justru dia akan jatuh ke dalam lubang cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiyah Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 22. Purnama
Setelah melihat kode yang telah diberikan oleh Daniel, Victoria dan Alan pun langsung mulai membidik orang-orang yang ada di dalam ruangan loker 4:7 itu.
Karena ruangan loker 4:7 itu berada di bagian yang mudah untuk dilihat oleh Victoria juga Alan, ditambah dengan dinding yang tembus pandang karena terbuat dari kaca, juga cahaya bulan yang langsung menembus ke dalam ruangan sehingga ruangan itu terlihat terang meski lampu tak dinyalakan, hal ini lah yang membuat mereka berdua semakin mudah untuk menembak para anggota dari Peodute Family itu.
Sebenarnya ini juga merupakan salah satu rencana dari Kai. Kai yakin bahwa para penyusup yang ingin menyabotase senjata mereka di gudang senjata tersebut, akan terlebih dahulu mengamati seluruh ruangan yang ada, jadi Kai sengaja tidak memberikan akses keamanan di ruangan loker 4:7 itu agar para penyusup tersebut memilih ruangan itu.
Kai memilih ruangan loker 4:7 karena di titik ruangan itulah yang menjadi titik paling baik untuk Alan juga Victoria membidik.
Disisi lain, saat ini Kai, Alvaro, juga Daniel sedang bergelut dengan 30 orang anggota Peodute Family itu. Melihat mereka bertiga kewalahan karena melawan orang yang jumlahnya sangat tak seimbang, Victoria dan Alan semakin serius dalam membidik.
"ARRGGHHH!!" Salah satu dari anggota Peodute Family berteriak kesakitan, darah pun muncrat keluar dari tubuhnya.
"Ada apa ini?!" Luca kini bingung dan mulai panik, ditambah lagi selang beberapa detik saat orang yang berteriak tadi jatuh dan terbaring di tanah, beberapa saat setelah itu muncullah korban baru.
Satu persatu anggota Peodute Family tewas, kini lantai penuh dengan darah dari orang-orang yang telah tak berdaya itu. Dari 30 orang, kini hanya ada 18 orang Peodute Family.
Kai, Daniel, dan Alvaro juga terus menambah korban, begitupun dengan kedua sniper yang bersembunyi disana. Dalam waktu 15 menit, kini jumlah mereka seimbang, sebagian besar anggota dari Peodute Family benar-benar telah tewas, jadi kini hanya tersisa Luca, juga dua orang bawahannya.
Victoria dan Alan kini berhenti menembak, mereka berhenti untuk beristirahat sebentar dan merayakan sekilas atas keberhasilan mereka, karena tak satupun peluru dari senapan itu meleset, semuanya mengenai sasaran.
"Kamu sudah banyak berubah Consigliere, jika dibandingkan dengan hari pertama mu saat menggunakan senapan, ini berkali-kali lebih baik!" Ucap Alan dengan kagum.
"Kau tau Alan, aku baru menyadari bahwa malam saat ini memiliki bulan purnama bersamanya, cahaya bulan yang begitu terang itulah yang membuatku semakin mudah untuk membidik." Balas Victoria dengan kepala yang mendongak melihat bulan.
"Dan mungkin karena ini ada di arena yang sesungguhnya, aku jadi berusaha untuk lebih fokus. Jika saja aku meleset dalam membidik tadi, selain rugi peluru, kemungkinan terburuk peluru itu malah mengenai Kai, Daniel ataupun Alvaro." Lanjutnya masih dengan mata yang melihat bulan purnama itu, mata Victoria berbinar melihat bulan purnama yang begitu indah itu, hatinya terasa begitu adam dan damai saat ini.
......................
"Sebenarnya apa yang terjadi?! Apa yang telah kalian lakukan?!" Teriak Luca dengan raut wajah yang ketakutan, sementara Kai membalasnya dengan senyum mengerikan.
Dan saat Luca masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan para bawahannya itu, tiba-tiba saja salah satu bawahannya yang masih hidup itu jatuh dan tergeletak di lantai dengan darah yang keluar dari dadanya.
Karena kondisi saat ini sudah sepi dan tak seribut tadi, kini Luca akhirnya menyadarinya, sekilas dia melihat benda kecil yang sangat cepat melesat tadi, sesaat sebelum bawahannya tersebut tergeletak di lantai.
Luca mengarahkan pandangannya keluar gedung, mencoba mencari dari mana asalnya benda kecil itu. Sorot matanya pun akhirnya berhenti saat melihat ada dua orang sniper, dan dua buah senapan di atas atap gedung yang berada di depannya.
"Hai!!" Teriak Victoria ketika menyadari dirinya ketahuan, dia pun melambaikan tangganya sembari tersenyum.
Luca yang melihatnya menjadi sangat kesal, dia menggempalkan tangannya dengan marah, "Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya, dan bagaimana bisa kaca-kaca itu tidak pecah?!"
"Kalian! Berani-beraninya kalian bermain kotor seperti ini! Apa maksud kalian dengan 2 sniper disana?" Seru Luca dengan marah.
"Kotor? Kau tak menyadari apa yang telah kau perbuat tadi? Kalian lah yang terlebih dahulu bermain kotor dengan kami! Kalian menyabotase senjata kami, mencurinya, lalu mengeroyok kami, kau ingin memakan semua fakta yang kau tebar sendiri itu?!" Sahut Alvaro dengan wajah jijiknya karena perkataan dari Luca itu.
"Kami bisa mengalahkan kalian semua meski hanya bertiga, namun Consigliere kami di atas sana tak ingin sampai kami terluka sedikitpun, jadi dia membantu untuk mengurangi musuh kami." Sambung Daniel sembari menunjuk Victoria yang masih ada di atas atap gedung itu.
"KURANG AJAR KALIAN!" Teriak Luca yang benar-benar sangat marah dan emosi, dia ingin kabur bersama dengan satu bawahannya yang masih tersisa itu, namun Kai dengan cepat menyuruh Daniel dan Alvaro untuk menangkap mereka.
Setelah berhasil ditangkap, mereka berdua mengikat Luca juga satu bawahannya lagi itu di kursi. "Victoria, kesini lah bersama Alan, sepertinya kita akan mewawancarai mereka terlebih dahulu, jadi akan memakan waktu yang cukup lama." Seru Kai di ponselnya, lalu kemudian terdengarlah balasan dari ponsel tersebut, "Baik."
Victoria dan Alan mengemasi senapan mereka, lalu setelah itu mereka segera pergi menuju ke gedung yang merupakan gudang senjata Lucchese Family, yang letaknya di sebelah gedung tempat mereka saat ini.
"Baiklah sebelum mereka datang, aku akan menanyakan satu hal ini terlebih dahulu. Apa alasan kalian sampai melakukan sabotase ini? Sudah banyak keluarga mafia yang kalian ganggu, namun aku masih tak mengerti apakah ada keuntungan dalam melakukan hal itu." Ucap Kai setelah dia mematikan ponselnya.
Kini Kai berdiri tepat diantara kedua orang yang diikat itu, matanya melihat tajam kedua orang tersebut secara bergantian.
Kai menunggu jawaban dari pertanyaan nya itu, siapapun yang akan menjawabnya dia akan mendengarkan, namun sudah beberapa menit kedua orang itu tetap diam. "Ayo jawab!"
"Untuk apa aku menjawabnya? Apakah ada keuntungan bagi ku?" Balas Luca dengan enggan, Kai yang mendengar jawaban itu tersenyum semirik.
Kai menendang kursi yang Luca duduki hingga dia bersama kursinya terjatuh dan terbaring di lantai, kemudian kaki Kai menginjak kaki kursi tersebut. Setelah itu dia mengeluarkan pistol yang sedari tadi dia sembunyikan, lalu dia menodongkan pistol tersebut ke arah Luca.
"Aku akan menembak mati bos mu jika kau tak menjawab pertanyaan ku tadi!" Gumam Kai dengan suara yang pelan namun begitu mengintimidasi, sembari menatap mata bawahan Luca itu, kini jarak mata mereka hanyalah 3cm. Siapa yang tak akan gugup dan takut?
Orang itu menelan ludahnya, bola matanya bergetar melihat mata Kai yang datar namun begitu mematikan itu.
Kai semakin memberi tekanan kepada bawahan Luca tersebut, sebenarnya dia melakukan hal ini karena dia tau, seorang bawahan tak akan pernah membiarkan bosnya mati di depan mata mereka, terlebih lagi jika ada cara untuk menyelamatkan nyawanya. Maka dengan begitu, saat ini si bawahan Luca tersebut tak memiliki pilihan lain, dia terpaksa untuk menjawab pertanyaan yang sempat Kai lontarkan tadi, karena inilah "Hukum Dunia Mafia."