NovelToon NovelToon
The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Contest / Militer / Romansa / Cintapertama / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.6
Nama Author: Ornies

Pertemuan yang tidak terduga membuat gadis tersebut menatapnya. getara-getaran cinta tumbuh di hati Davira. meski susah tapi dia berjalan terus kearahnya.

Arka tidak mudah untuk di dekati. dia menghindari semua wanita. memandang wanita sebagai masalah yang harus hilang dari hidupnya. tapi hanya untuk sekarang dia berusaha untuk fokus untuk studynya.

perbedaan umur itu tidak masalah. cinta, sedikit demi sedikit akan berkembang.

[Novel Ongoing 106420 Kata]

•••

Cerita ini murni karya sendiri dan semua karakter serta latar yang digunakan berasal dari imajinasi author sendiri dan tidak ada dalam sejarah manapun.

Jika ada kesamaan nama tokoh atau alur cerita itu hanyalah suatu kebetulan semata.

(Kalau ada yang aneh dari perbabnya, karena ada perbaikan kata dan kalimat dalam novelnya. Jadi mohon pengertiannya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ornies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]

"Nona mau saya ambilkan kue?" Davira masih kesal dengan bocah yang bernama Raga. Ia duduk di kursi yang mengarah ke kolam.

"Tidak ..." Ia dengan tegas menjawab.

"Sudah kamu pergi aku mau sendiri." Pelayan tersebut mengundurkan diri dan pergi ke dapur.

Sebenarnya dia masih marah. Davira membuka sepatunya dan melemparnya sembarangan.

"Kenapa aku harus pakai pakaian seperti ini sih," ia bergumam dengan nada yang marah.

Arka yang melihat tingkah anak kecil tersebut Ia hanya tertawa.

"Siapa di sana?" Davira berbicara dengan tegas. Matanya melihat ke penjuru taman.

"Yah — Ketahuan." Arka mengaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hanya ingin melihat keadaan Vira. Maaf dengan perkataan adikku yang tadi. Dia hanya mengucapkan tanpa dicerna. Perkataan Raga jangan dibawa serius."

"Kamu tau namaku," ia berdiri dari tempat duduk, memandang dengan wajah polos, "Orang aneh aku tidak kenal denganmu, jangan berbicara denganku."

"Maaf kalau buat Vira kaget. Aku tidak bermaksud jahat."

Arka mengambil sepatu yang ada dipandangannya. Sepasang sepatu ada di tangannya.

"Jangan bergerak nanti kakimu sakit. Kamu tidak memakai alas kaki," Arka berjalan mendekat.

Davira memandang dengan tatapan waspada.

"Aku sudah biasa," ia mencoba mengabaikan. Tetapi Arka sudah di hadapan Davira.

.

Melihat ke atas, badan Arka tinggi. yang di pikirkan Davira pada saat itu.

Tinggi Davira hanya sampai sedada Arka. Dia berpikir kalau anak cowok itu jauh lebih tinggi dari dia. Mungkin umurnya sebelas tahun.

"Nanti kakimu tidak bagus lagi." Arka hanya tersenyum memandang Davira.

"Tidak usah — Rumput-rumput ini tidak akan melukaiku," ia menggosokkan kakinya di rumput tersebut.

Arka hanya menggelengkan kepala. Pada hal dia baru berusia enam tahun, tapi dia sudah keras kepala seperti ini.

Kalau dia sudah besar seperti apa ya ...

Mungkin dia masih keras kepala, seperti dia masih kecil. Ia hanya tertawa membayangkan Davira tumbuh dewasa.

"Ayo duduk — Aku akan memakaikan sepatunya." Davira tidak menurut. Ia mengabaikan Arka, "Dengar Vira. Jangan membantah." Ia mengangkat Davira dan dia duduk di kursi.

Sebal yang Davira rasakan, "dengar lain kali kalau marah jangan melempar sepatu. Itu tidak baik. Nanti kalau kamu terluka bagaimana?" Ia memasangkan sepatunya di kaki Davira.

Ia hanya berbicara dengan pelan, "aku bisa mengurus diriku sendiri." Entah kenapa pipinya berubah merah.

Ini seperti buku yang dia baca. Pangeran yang akan menemukan wanitanya dan memasangkan sepatu kaca di kaki wanita tersebut.

Tapi sebenarnya dia tidak percaya dengan cerita cinderella. Dia menganggapnya itu cuma dongeng.

Davira tidak tau apa itu cinta. Dia hanya baru berusia empat tahun. Dia merasa kalau ada orang lain selain papa mamahnya yang memperlakukan dia semanis ini.

"Sudah selesai." Ia merekatkan talinya di kaki Davira. Matanya memandang Davira.

Ia hanya memalingkan wajahnya. Pipinya sudah berubah merah,

"ada apa?" Ia bertanya.

Davira masih menghindari kontak mata dengan Arka "maaf aku tidak sopan ya? Aku sudah memasangkan sepatu kepada Vira. Aku hanya ..." Ia menggaruk kepalannya yang tidak gatal.

Ia memainkan jari jarinya. Dia merasa gugup, "tidak usah dijelaskan. Aku yang tidak sopan ke kakak. Maaf."

"Kamu lucu ya — Tidak seperti adikku." Ia hanya tertawa kecil.

Bodohnya dia membandingkan dengan adiknya. Yang jelas mereka berdua berbeda.

Lucu. Dia membayangkannya saja sudah senang.

"Nama?" Ia berbicara dengan ketus. Padahal dia merasa malu.

'Lucunya... enak kalau punya adik perempuan. Tapi sayangnya aku hanya punya adik laki-laki,' ia hanya bisa menghela napas.

"Namaku Arka. Kalau kamu mau bisa memanggilku kak Arka."

"Bolehkah." Matanya bersinar penuh dengan antusias.

"Boleh," Arka mengangguk. Arka yang masih berlutut sedangkan Davira yang masih duduk.

"Kak Arka" dia merasa kaya punya kakak laki-laki. Dia selama ini selalu sendiri dan hanya di temani sama Miki.

Tapi hari ini berbeda. Davira bertemu dengannya membuat hatinya melunak.

"Iya." Ia hanya tersenyum.

Davira hanya tertawa. Dia hanya memandang Arka dengan penuh rasa kagum.

***

"Tidak mau." Ia menahannya dengan memegang tangan Arka.

"Vira tidak boleh begitu." Tante Nita membujuk anaknya untuk melepaskan Arka.

"Aku tidak mau Kak Arka pergi." semua orang gempar dibuatnya.

"Nak Arka maaf ya." kata Om Fino.

"Tidak apa-apa. Namanya juga anak kecil." Arka hanya memaklumkan dengan sifat Davira.

Kedua orang tua Davira hanya bisa memandang keduanya. Sifat Davira yang keras kepala. Membuat mereka tidak tau harus berbuat apa.

Arka mencoba membujuk, "Vira ..."

Ia menyesuaikan tinggi badan Davira. saat mereka sejajar. Arka berbicara, "Kak tau kalau kamu sedih kalau kakak pulang. Tapi nanti kak Arka bakalan sering liat Vira."

"Tidak pasti kak Arka bohong," ia menangis, "Aku tidak mau kak pulang. Kak Arka tinggal di sini ya. Menemani Vira."

"Itu yang kamu mau. Kak temani."

"Beneran." Air matanya masih mengalir ke pipinya. Matanya masih memandang Arka.

"Benar, jangan menangis. Kamu jelek kalau menangis." Ia menghapus air mata Davira dengan punggung tangannya.

"Aku tidak menangis," tegas Davira.

"Kalau begitu kak Arka mau bicara dulu sama Ayah, boleh?"

"Iya," ia mengangguk.

"Patuh, tunggu kakak di sini." Dia mengelus kepala Davira.

"Nak Arka maaf. Dengan sifat Davira yang keras kepala. Sudah merepotkan Arka." Om Fino berbicara sebagai ayah Davira. Dia tidak tau lagi harus bagai mana.

"Tidak apa-apa Om Fino. Davira sudah aku anggap kaya adikku sendiri. Jadi tidak perlu sungkan," ia hanya tersenyum ramah.

Arka berbicara ke Ayahnya kalau dia bakalan ada di rumah Om Fino hanya sampai malam. Nanti dia langsung pulang ke rumah. Hanya untuk menenangkan Davira.

Om Dirga memakluminya. Ia setuju dengan Arka.

Arka menemani Davira bermain, tempat khusus Davira bermain.

Waktu berjalan dengan cepat. matahari mulai tidak terlihat, berganti dengan pintang dan juga bulan yang menyinari gelapnya malam.

"Sekarang waktunya tidur. Besok kita main lagi. Beresin semua mainannya Vira."

"Tapi aku belum mengantuk," tetapi dia menguap. Mulutnya terbuka menekan rasa kantuk.

"Tapi kamu sudah lelah," dia mengusap kepala Davira.

"Sayang sudah waktunya tidur." Tante Nita berjalan menuju ke arah anaknya.

"Baik, aku mau tidur bareng kak Arka."

"Kak Arka juga mengantuk dia juga harus tidur," kata Tante Nita.

"Iya kakak juga mengantuk," ia pura-pura menguap.

"Vira tidur bareng mamah ya," kata Tante Nita.

"Tidak mau, aku mau ditemani tidurnya sama kak Arka." Tante Nita hanya bisa menggelengkan kepalannya. Sifat keras kepalanya ini turunkan dari siapa sih.

"Maaf ya Nak Arka, merepotkan kamu lagi."

"Tidak apa-apa tante."

"Berarti aku boleh tidur bareng kak Arka" Ia memandang mamahnya. Mamahnya hanya mengangguk.

Davira tersenyum dan berlari ke arah Arka dan memeluknya di lehernya. "asyik ... Aku tidur bareng kak Arka." dia tersenyum sambil memegang erat tangan Arka.

"Sesenang itukah," kata Arka.

"Hm .. senang."

Arka bergandeng tangannya dengan Davira. Mereka berjalan menuju kamarnya Davira.

Tante Nita mengikutinya dari belakang. Davira langsung naik ke atas kasur. Badannya bergeser sampai ditengah tempat tidur. Biar Arka bisa tidur di tepi tempat tidur.

"Sudah ditemani kak Arka sekarang tidur ya Davira." Tante Nita memandang Davira yang sudah tidur di kasur. Sedangkan Arka masih duduk di tepi kasur.

"Mau bercerita sama Kak Arka," Dia memandang Arka dengan wajah polosnya.

"Ini anak banyak maunya" Tante Nita berbicara dengan suara pelan.

Arka mengelus rambut Davira. "Emang Vira mau cerita apa?" Ia tersenyum dengan kepolosannya Davira.

Tante Nita sudah keluar dari kamar anaknya. Ia menunggu di ruang tamu.

"Hm ... Buku yang di meja rias di samping kakak. Baca itu aja."

Arka mengambilnya melihat sampul buku penuh dengan warna. "Kakak akan baca tapi kamu tidur ya," Davira hanya mengangguk.

Arka membaca buku tersebut dengan posisi dia yang masih duduk di tepi tempat tidur. Arka mulai membaca ceritanya, Davira yang tidur di samping memandang Arka yang sedang membaca.

Saat mendengar ceritanya, dia mengingatkan sesuatu tempat yang ingin dia kunjungi.

Temannya seminggu sebelumnya dia bercerita kalau dia bermain ke tempat yang bagus. temannya itu pergi ketaman bermain bersama kakaknya.

kagum dengan cerita temannya, tempat yang di ceritakan seperti dongeng. penuh dengan permainan yang belum dia lihat, kata temannya.

Membuat Davira penasaran.

Davira menarik ujung bajunya, memandang Arka.

"Ada apa?" Ia merasa bingung. Dia masih membaca dan memandang tangan Davira.

"kakak apa kamu pernah pergi ke taman bermain?" Merubah posisi tidur dan duduk di samping Arka, "Kata temanku banyak tempat bermain yang seru? ada juga permainan bisa liat semuanya dari atas. aku lupa namanya. Di sana juga ada istana princess juga. Ingin ke sana."

"Maksud Vira Bianglala, Kakak sudah pernah ke sana. Kapan-kapan kita ke sana."

"Namanya bianglala. Kakak janji ya kita pergi ke sana."

Davira mengulurkan kelingkingnya kedepan Arka. Dia mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Davira, "Janji."

Arka berjanji akan membawa Davira ke taman bermain. Davira tersenyum senang. Merubah posisi duduk, tidur di samping Arka.

Arka melanjutkan membaca cerita dan Davira mulai memejamkan matannya. Beberapa saat Davira tertidur lelap.

Tangan Davira bergerak ke atas.

"Tangan" Davira mengingau, tangannya masih bergerak ke atas.

Arka hanya tersenyum melihat tingkahnya. Dia mengaitkan tangannya di tangan Davira. Saat Davira merasakan tangan besarnya. Ia hanya tersenyum lebar dan dia tertidur lelap di tempat tidur.

Dua puluh menit sudah berlalu. Davira sudah terlelap tidur. Arka meletakan buku bacanya di meja yang ada disebelahnya.

Ia mengeluarkan ponsel di dalam celana. Dia memfoto Davira yang sedang terlelap. Soalnya dia tidak bakal bisa sering atau pun main dengan Davira. Foto ini hanya untuk mengingat kalau dia pernah bertemu dengan gadis kecil ini.

Ia melepaskan tangannya yang di genggam oleh Davira. Dengan pelan dia melepaskan. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Ia keluar dari kamar Davira.

Arka berjalan menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Om Fino dan juga Tante Nita.

"Om, tante saya pulang dulu. Ayah sudah jemput di depan." Tante Nita hanya mengangguk.

"Maaf ya Arka,usdah merepotkan kamu," kata Om Fino.

"Tidak ko Om, aku yang seneng bisa main sama Vira."

"Main-main lagi ke sini kalau ada waktu. Pasti Davira seneng," Tante Nita berbicara.

"Iya Tante saya usahakan." Ia hanya tersenyum memandang kedua Orang tua Davira. "Kalau kaya begitu saya pamit pulang om dan tante."

"Iya nak, hati-hati di jalan." Tante nita sama Om Fino mengantar sampe depan mobilnya.

"Iya Tante." Ia naik di kursi belakang. Mobil tersebut melaju meninggalkan kediaman Om Fino.

Mulai hari itu, Arka tidak lagi mengunjungi kediaman Om fino. Dia mulai sibuk menyiapkan diri untuk bisa masuk smp favoritnya.

Dua tahun ini Davira mulai merajuk untuk bisa bermain dengan Arka. Tapi mamanya selalu bilang kalau kak Arka sedang sibuk. Mereka juga sempat mengunjungi rumahnya Arka tapi dia tidak menemukan Arka disana.

Arka sudah pindah. Dia mulai tinggal dengan neneknya untuk melanjutkan smp yang dia inginkan.

Sudah bertahun-tahun Davira mulai bisa melupakannya. Tapi Arka tidak, dia selalu mengingat gadis kecil yang keras kepala. Tapi dia tidak berani untuk bisa bertemu dengannya. Karena dia tidak bisa menepati janjinya.

Waktu kecil dulu dia berjanji akan sering mengunjunginya dan juga menemani ke taman bermain. Dia takut kalau Vira sudah tidak mengenalnya lagi dan juga membencinya. Dia takut itu.

Ada sesuatu yang di dalam hati Arka yang sedang melawan gelapnya dunia. dia tidak mau kalau Davira terluka, karena dia.

Lulus Sma Arka balik lagi ke rumah masa kecilnya. Satu tahun dia tinggal di rumah dan dia mencari Apartemen yang dekat dari kampus. Mulai banyak perbedaan saat Arka beranjak dewasa. Sedangkan Davira tidak banyak berubah dalam sifatnya. Wajahnya mulai ada perbedaan saat Davira beranjak Remaja.

1
Erina Munir
jngn...jngn...ada sesuatuu...kabooorrr../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Erina Munir
ternyata oh ternyata Arkaaa
Erina Munir
ooohh...punya arka taa
Erina Munir
arka plinplan luuh...masa davira ga boleh ngobrol sama cowo2
Dwi Rikahayu
Akirnya berlanjut lg...
Tia Ovan
senang
Dwi Rikahayu
akirnya berlanjut jg thoor dh sekian lm gk update...semangat thooorr...
BGC
Arkaa, laku namanya
BGC
satu bab pertama
Farayaka Aulia
Aku membuat sebuah karya menarik di MangaToon, mohon dukungannya ya!
Obsessive Love Disorder
by: farayakaaulia
Amelia
❤️❤️❤️👍👍
Dwi Rikahayu
mantap thooorr....
Amelia
salam kenal ❤️❤️❤️
matcha
lanjut thor semangat
Kalvie Asar
Luar biasa
Nat Asya
Biasa
Sri Hartini
ceritanya bagus bgt tp sayang update lama
LaVoitureNoire
......
Rohad™
Waduh, Davira yang diculik 🤦‍♂️
Rohad™
Semoga Arka ketemu, agar alur cerita kembali meningkat 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!