Nara Kumaira 16 thn, terlahir kaya raya tapi setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, hidupnya berubah drastis. Yang awalnya bergelimpangan harta dan kebahagiaan, mendadak Nara jatuh miskin dan berakhir menghabiskan satu malam dengan orang misterius.
Ia pun mengandung anak dan merelakan pendidikannya. Namun setelah anak itu dilahirkan, Nara mendapat kesempatan bersekolah kembali. Nara menerimanya dan terpaksa menyembunyikan identitas bayi kecilnya.
Seiring berjalannya waktu, rahasia terbesarnya terbongkar dan tidak sangka ayah dari anak yang dia lahirkan ternyata cowok angkuh yang selama ini berada di sampingnya dan rupanya baby Alan adalah cucu keluarga konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira61, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. BAB 23 - MELAYANI?
"Daffa, tapi sepertinya hari ini ditunda saja," tolak Nara sedikit ragu - ragu keluar.
"Mumpung hari minggu loh, Nara."
"Ya sih, tapi cuaca di luar agak panas dan baby Alan juga sepertinya mau tidur siang dulu." Nara menolak, tidak mau baby Alan jatuh sakit lagi. Daffa pun diam, menimbang - nimbang keputusan Nara. 'Kemarin Nara tolak mainanku, sekarang dia tolak ajakanku, apa dia sedang menjaga jarak dariku?' pikir Daffa sedikit sedih kalau itu benar.
Daffa pun melihat ke atas. 'Apa aku titipkan ke Ezra dulu? Biar aku dan Nara bisa jalan - jalan berdua juga, lagian tadi Ezra mau menggendong adiknya Nara,' batin Daffa pun yakin Ezra bisa membantunya. Tetapi tiba - tiba saja cowok itu turun lagi membawa sekeranjang yang berisi tumpukan baju.
"Loh, apa - apaan kamu ini bawa baju sebanyak itu?" tanya Daffa kagetnya bukan main, apalagi Nara juga tidak habis pikir tingkah Ezra yang semakin menjengkelkan.
"Woy, Daffa, aku sih tidak masalah kamu belikan baju untuk baby Alan, tapi kamu perginya harus sendiri deh." Ezra meletakkan keranjang itu di depan.
"Apa maksudmu aku pergi sendirian?" tanya Daffa perasaannya mulai tidak enak. Ezra dengan muka meremehkan menunjuk Nara.
"Hari ini kan hari minggu, jadi ya sebagai pembantu di rumah ini harus bekerja 'kan, Nara?" lirik Ezra sengaja menggagalkan Daffa kencan dengan Nara.
"Ezra, kamu jangan keterlaluan, baju sebanyak itu tidak bisa Nara cuci, kamu bawakan saja ke londri," ucap Daffa.
"Yaleah, apa gunanya dia digaji kalau tidak bisa bekerja?" cibir Ezra sengaja memancing emosi keduanya.
"Ezra, kamu banyak uang 'kan? Harusnya pakai uangmu itu! Masa anak orang kaya sepertimu tidak bisa ke londri, malu - maluin keluarga," balas Daffa tidak terpancing.
Nara yang berdiri di antara kedua cowok yang saling tatap - tatapan sinis langsung setuju saja demi tidak ada keributan. Nara sudah tidak mau mendengar anaknya menangis lagi.
"Daffa, beli bajunya lain kali saja, dan untuk gaji pertamaku di simpan saja, aku… aku ke belakang cuci bajunya Ezra, permisi." Nara menyeret keranjang cucian itu meninggalkan Daffa yang kesal dan Ezra yang tersenyum senang.
"Nah begitu dong, pembantu itu harus nurut sama majikan," sindir Ezra ingin sekali berkata kalau 'Istri harus nurut kata suami' tapi karena ada Daffa, dia ogah mengatakan itu ke Nara. "Oh ya, tolong hari ini jadi babysitternya, ketua osis," lanjut Ezra pun menyusul Nara dan membiarkan Daffa berdiri menahan amarahnya.
"Sialan, kenapa sih Ezra makin hari makin kurang ajar? Ini rumahku, tapi dia begitu pedenya memerintah Nara dan mengataiku babysitter, benar - benar maunya itu sudah kelewatan. Aku harus katakan ini ke Pak Mahendra nanti," decak Daffa naik ke atas membawa baby Alan untuk ditidurkan. Sedangkan Ezra di dekat pintu dan bersandar sambil menertawai Nara yang sedang mencuci baju.
"Cuci yang bersih, jangan ada noda sedikitpun," perintah Ezra.
"Tuh, ada noda di sana, kucek sampai hilang," lanjutnya menunjuk. Nara cuma diam saja diperintah ini itu karena tidak mau lagi berdebat. Padahal Nara ingin sekali protes karena baju - baju Ezra sudah dicuci bersih kemarin - kemarin lalu. Hanya bau parfum Ezra yang masih tercium sangat tajam ke hidungnya.
"Oh ya, soal hak asuh," ucap Ezra mulai ungkit lagi membuat Nara mendongak.
"Maaf, aku tidak akan bahas itu lagi," ucap Nara membuang pandangannya, tidak sudi melihat Ezra.
"Okeh, tidak apa - apa, aku juga tidak akan bahas itu lagi, tapi mulai sekarang kamu harus patuhi aku 24 jam dan malam ini kita tetap pisah kamar sampai kita lulus sekolah," tutur Ezra tersenyum smirk.
"Baiklah, aku tidak masalah jadi babu untukmu, tapi tolong jangan kelewatan nanti," ucap Nara setuju.
"Kelewatan? Apa maksudmu?" tanya Ezra. Nara berdiri, menunjuk Ezra. "Aku memang istrimu, wajib patuh pada suami, tapi tidak wajib melayanimu," jawab Nara.
"Hah melayani? Maksud kamu hubungan suami istri, begitu? Hahaha… siapa juga yang mau dilayani cewek dekil berkacamata tebal begini?" Tunjuk Ezra dengan tatapan jijik.
"Dan kalau saja waktu bisa diputar, aku pasti meminta Vano bawakan cewek lain pada saat itu," ucap Ezra sombong.
"Aku jadi sedih, adik kecilku pernah mencoba cewek miskin sepertimu, harusnya cewek –" Elus Ezra ke tonjolan juniornya dan berhenti saat Nara menunjuk lagi.
"Seperti Friska? Ya, boleh saja, silahkan kalau kamu mau coba sama dia, aku tidak keberatan. Toh kamu dan dia sama - sama bajingaan." Ucap Nara kembali kerja dan tidak memandang Ezra lagi.
"Arghh, brengseek!" Kesal Ezra pergi sebelum tangannya memukul. Nara mengelus dada, sedikit lega bisa memenangkan perdebatan ini.
....
Ditolak dulu, nanti ujung - ujungnya
bakal pengen tuh wkwk
gak terasa sudah 6 aja anaknya ezra👍👍👍👍👍