WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23
Setelah membebaskan Radit dan kawan-kawannya, polisi kembali mendatangi rumah sakit. Mereka ingin mengatakan pada Lastri, jika kematian putranya itu tidak bisa di lanjutkan untuk di usut. Karena kematian Jony tidak wajar.
“Selamat pagi, Ibu Lastri dan Bapak Cipto!” Dua orang polisi yang mengawal komandan mereka, segera memasuki ruangan di mana Lastri berada.
“Selamat pagi, pak!” balas Pak Cipto papa dari Jony.
“Bagaimana, pak? Apakah kelima anak itu sudah mengaku?” tanya Lastri, ia mengetahui semua itu, karena kemarin polisi mengatakan ada lima tersangka dalam kasus pembunuhan Jony.
“Maafkan kami, kami tidak bisa melanjutkan untuk mengusut kematian putra bapak dan ibu,” kata komandan polisi itu. Membuat Lastri menatap nya dengan tatapan tajam.
“Apa maksud kalian?” tanya Lastri dengan tatapan tidak suka.
“Ma, sabar,” kata Pak Cipto sembari menahan kedua bahu istrinya itu. Ia takut, istrinya yang arogan dan emosian menjadi nekat dan menyerang ketiga polisi itu dengan brutal.
“Begini, bu, pak. Kelima anak yang kami tahan, sudah kami bebaskan. Karena, tidak ada bukti apapun yang mengaitkan mereka dengan kasus meninggal nya anak kalian. Lagi pula, tidak ada sidik jari mereka di tubuh mayat anak kalian!” jelas kepala polisi itu.
“Lalu, jika tidak ada kaitannya dengan mereka. Kenapa mereka bisa ada di tempat yang sama dengan putra saya?” tanya Pak Cipto. “Dan bagaimana mungkin putra saya terjun sendiri dari lantai atas gedung itu?”
“Untuk masalah itu, kami tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Tapi, kasus kematian seperti ini bukan lah kasus yang pertama. Satu bulan yang lalu, sepasang siswa siswa juga kami temukan meninggal dalam keadaan tragis seperti ini,” kata kepala polisi. “Mungkin, semua yang akan saya katakan kepada kalian berdua, tidak akan masuk di nalar. Saya menyimpulkan bahwa anak anak meninggal karena di sedang mahluk ghaib!”
“Jangan mengada-ada, pak. Mana ada mahluk ghaib di dunia ini,” kata Pak Cipto kepada kepala polisi itu.
“Maaf, ini hanya kesimpulan kami saja,” kata kepala polisi.
Lastri terdiam setelah mendengar semua yang di katakan oleh kepala polisi. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Apa mungkin arwah perempuan jal*ng itu gentayangan karena ingin membalas dendam?” batin Lastri.
.
.
.
“Akhirnya, kita bebas juga,” kata Toni.
“I-i-iya, syu-syu-syukur banget,” kata Farhan pula.
“Hari ini, kita semua libur aja dulu,” ucap Radit. “Sumpah, aku capekdan ngantuk banget.”
“Iya, aku juga!” timbal Toni dan Sarah bersamaan.
“A-a-aku ju-ju-juga,” kata Farhan ikut-ikutan.
Sedangkan Ibra, pemuda itu tampak diam. Ia seperti sedang memikirkan hal yang begitu penting.
“Ib, kamu kenapa?” tanya Radit. Seakan ia tahu, jika Ibra sedang memikirkan sesuatu.
“Ada satu anak lagi yang di incar sama Cempaka,” kata Ibra tiba-tiba. Membuat Radit dan yang lainnya menatap serius ke arahnya.
“Siapa? Apa salah satu dari kita?” tanya Sarah dengan takut. Ia begitu ngeri jika mengingat kematian Lidia yang tragis dan juga Jony yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Bukan kita, tapi anak pindahan baru dari kota sebelah. Namanya Diandini,” kata Ibra.” Tapi, kayaknya Cempaka bakal susah buat menganggu anak itu.”
“Kenapa?” tanya Radit.
“Karena gadis itu, sepertinya gadis baik. Dia pintar mengaji dan berpakaian tertutup. Kemaren aja, waktu Cempaka mau mendekati gadis itu, dia malah mundur dan menghilang entah kemana,” kata Ibra.
“Bagus kan kalau begitu,” ucap Radit.
“Bagus dari mana? Aku takut, karena dia gagal untuk menyingkirkan gadis itu, dia malah melampiaskannya kepada banyak orang.”
“Terus kita harus gimana?” tanya Radit.
“Aku juga gak tau, yang pasti kita harus hati-hati dari sini sampe kedepannya. Terutama kamu!” tunjuk Ibra pada Radit.
“Kok aku?”
“Ya, karena awal muncul nya Cempaka, kamu lah orang pertama yang dia temui dan datangi,” kata Ibra.
“Maksud kamu?” Radit tidak paham dengan maksud dari perkataan Ibra.
“Hati-hati, kalau-kalau dia menginginkan kamu untuk menemani dia sebagai ganti papa mu!” ujar Ibra. Membuat Sarah, Toni dan Farhan mendelik lebar.
“Hahaa.. Ngawur kamu,” kata Radit, pemuda itu tertawa sumbang. Sepertinya, Radit takut setelah mendengar perkataan Ibra.
“Aku serius!” Ibra menatap wajah Radit yang tampak berubah pucat.
“Lalu aku harus gimana? Kalau bisa, aku pengen hidup yang lama. Aku pengen bahagian mama dan papa-ku dulu,” kata Radit.
“Perbanyak ibadah, kokoh kan dinding mu! Kuatkan imanmu! Jangan takut, ada aku dan yang kainnya!” Ibra memegangi pundak Radit. Mencoba memberi kekuatan kepada temannya itu.
“Ribet banget hidupku! Kalau aku tau dia setan, gak akan ku samperin malam itu!”
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu