Kepindahanku yang mendadak ke sekolah yang baru membawa perubahan besar dalam kisah cinta pertamaku. Bertemu Juan dan jatuh cinta padanya adalah hal terbaik selama masa SMAku. Juan mewarnai hariku dengan banyak romansa.
Tetapi datang seorang pria bernama Nandes yang mengaku jatuh cinta padaku saat pandangan pertama. Dengan gayanya yang slengean membuat aku pusing dengan kelakuannya setiap hari. Mengibarkan bendera perang kepada Juan secara terang-terangan.
Apakah mereka musuh lama? Rahasia apa yang Juan dan Nandes sembunyikan dariku? Dan siapa Meggy yang sering Nandes sebut dan membuat Juan seperti kehilangan kesadarannya?
Penuh banyak pertanyaan dan kisah kasih masa remaja yang dipenuhi rasa suka, cemburu dan patah hati, baca terus kelanjutan Merpati Kertas setiap episodenya.
^*^ Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Tolong klik Like, Favorit dan berikan saran yang membangun. ♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaanku Atas Masa Lalumu
Juan sangat sibuk di semester ini. Tapi itu tidak menghambat ku bertemu dengannya. Setelah malam dia datang kepadaku dengan rasa lelahnya aku tidak mendengar sepatah katapun tentang keresahannya. Dan aku tidak ingin bertanya.
Hanya saja nama Meggy terus berkelebat di kepalaku. Siapa Meggy? Apa yang terjadi di antara Juan dan Nandes? Tapi aku berusaha menyingkirkan rasa ingin tahuku itu.
Dan di suatu siang yang cukup terik, matahari tidak malu untuk bersinar seperti hari sebelumnya. Nandes muncul di sekitar sekolahku bersama beberapa temannya seperti biasa, duduk di atas tembok pagar dan menungguku lewat.
Ketika aku lewat bersama Elsa, Nandes tanpa malu-malu langsung memainkan gitar yang dibawanya. Mendadak terjadi konser kecil-kecilan.
Yang membuat wajahku memerah adalah Nandes menyebut namaku dengan lantang membuat siswa yang sedang hiruk pikuk untuk pulang membatalkan niat mereka dan kembali berkumpul untuk menonton.
" Hai Embun… Lagu ini ku persembahkan untuk kamu".
Nandes lalu menyanyikan lagu yang baru ku dengar dari mulutnya hari ini. Teman Nandes yang ikut bersamanya tidak ketinggalan, ada yang memukul ember yang dengan niat mereka bawa dan ada yang memainkan pianika.
Elsa tertawa melihat kelakuan Nandes " Wah pantes Juan menggila, saingannya punya nyali yang luar biasa Embun. Ini mah perang namanya".
Aku melirik Elsa jengkel, lalu berjalan berusaha menghindar dari kelakuan Norak Nandes tapi tidak bisa karena teman Nandes menghadang jalanku dan Elsa. Sempat-sempatnya dia mengedipkan mata ke Elsa yang dibalas dengan tatapan galak dari Elsa.
" Eit mau ke mana? Nonton dulu dong, teman saya sudah capek-capek latihan sampai bolos masa ditinggal", kata teman Nandes.
Aku menyerah dan berdiri menatap Nandes jengkel. Banyak siswa yang berdiri menonton konser mini ini dari balik pagar bahkan ada yang mendekat karena penasaran. Nandes tersenyum padaku lalu memetik gitarnya dengan yakin.
Dan kau datang tepat waktu
Di saat ku butuh kamu
Engkau menjadi pengobat pilu
Jantung hatiku
Tahukah kamu aku sedikit kecewa
Setelah ku tahu kau sudah ada yang punya
ooooo...
Aku suka pacar orang
Membuatku mabuk kepayang
Dan terimalah cintaku
Lalu putuskan saja pacarmu
Aku suka pacar orang
Membuatku mabuk kepayang
Dan terimalah cintaku
Lalu putuskan saja pacarmu
Aku melotot ke arah Nandes begitu mendengar isi dari lirik lagu itu, tentu saja Nandes cuek bebek terus bernyanyi sambil melihat ke arahku.
Berbeda denganku, para penonton yang lain dengan serunya bertepuk tangan penuh semangat mendengar band dadakan ini menunjukan aksinya.
Pianika dimainkan dengan lihai dan dengan semakin bersemangat Nandes memetik gitarnya. Teman Nandes yang menghalangi jalanku berjoget dengan heboh tanpa rasa malu.
Aku suka pacar orang, membuatku mabuk kepayang
Dan terimalah cintaku lalu putuskan saja pacarmu
Aku suka pacar orang, membuatku mabuk kepayang
Dan terimalah cintaku lalu putuskan saja pacarmu.
Konser kecil itu berakhir karena hadirkan keras dari belakang kerumunan. Konser ini sepertinya mengganggu kelas 3 yang kebetulan posisi kelasnya berada di bagian belakang.
" Ada ribut-ribut apa ini? Kenapa belum pulang? Siapa itu yang naik di atas pagar?", Security sekolah mencoba melewati kerumunan untuk menangkap biang keributan ini.
Nandes dan teman-temannya sontak melompat dari atas pagar. Dan kerumunan yang tadi semakin banyak mulai berhamburan, membuat satpam sekolah kami semakin susah mengejar.
Nandes berlari ke arahku dan dengan cepat menarik tanganku ikut berbaur dengan kerumunan yang berhamburan. Secara refleks aku menarik tangan Elsa, kami bertiga berlari seperti kesetanan dan hebatnya teman-teman Nandes menghilang dalam sekejap mata menyisakan ember yang hampir jebol di bawah tembok.
***
" Stop . . . Stop…. Gue capek ", Elsa menarik tanganku untuk berhenti.
Aku dan Nandes spontan memperlambat lari dan berhenti. Nandes duduk di aspal kompleks perumahan yang sepi sama kecapekan seperti kami. Entah kami berlari ke mana.
" Wah… gi..la… paru-paru… mau … jebol", aku terengah-engah sedikit limbung dan ikut duduk di atas aspal.
Nandes memperhatikan kami berdua yang tidak sanggup berdiri. Lalu tertawa kecil " Kalian larinya kencang juga ya. Tunggu sini saya belikan air minum", Nandes berdiri sambil menenteng gitarnya. Dia pergi sebentar lalu kembali dengan 3 botol air dingin di tangannya.
Aku dan Elsa menyambut air mineral itu dengan bahagia. Meneguk airnya seperti orang yang tidak minum selama berbulan-bulan. Setelah itu aku memukul lengan Nandes dengan seluruh kekuatanku.
" Kamu yaa, kenapa suka buat ribut?", marahku.
" Aku kan cuma nyanyi, salahnya di mana?" , tanpa rasa bersalah Nandes menjawab.
" Salahnya kakak nyanyi di depan sekolah orang. Dan lagi kakak kan kelas 3 emang gak ada persiapan UN?", aku ngoceh-ngoceh marah.
" Ada tapi lebih penting nemuin kamu sih ", Nandes tersenyum tanpa beban.
Aku dongkol berjalan cepat meninggalkan Nandes. Elsa hanya berdiri bengong dengan perdebatan kami.
" Eh ini teman kamu ketinggalan. Hai nama kamu Elsa ya?", Nandes mengulurkan tangannya ramah.
" Iya kak. Kok kakak tau?", Elsa heran Nandes tau namanya.
" Iya dong tau.. kan Embun gebetan aku masa gak kenal sama teman gebetan ", Nandes tersenyum.
Aku menengok ke belakang melihat ke arah mereka " Ayo buruan. Malah ngobrol", aku sewot.
"Iya.. sayang… galak banget. Mau aku nyanyiin lagu lagi?", Nandes menggodaku.
Aku melotot ke arah Nandes yang disambut tawa dan uluran tangannya untuk mengacak-acak rambutku.
***
Juan datang ke rumahku sore hari menjelang malam, lengkap dengan seragam sekolahnya. Saat aku mendekatinya wangi parfum dan wangi badannya yang maskulin membuatku menggila. Semakin sore aku malah semakin terpesona karenanya.
" Kamu langsung ke sini?", tanyaku.
" Iya.. aku dengar Nandes datang ke sekolah?", Tanya Juan tanpa basa basi.
" Ya.. dia … begitulah", aku mengajak Juan duduk. Enggan membicarakan itu.
" Kamu suka cara itu? Aku bisa lebih norak dari itu? ", Juan menggamit lenganku.
Aku menatap mata Juan, ada rasa cemburu di sana, " Gak.. jangan lakukan hal yang seperti itu. Rasanya aku mau menghilang saja tadi dari bumi", tolak ku tegas.
Juan menghela nafas panjang, lega. Kami mengobrol cukup lama. Sampai aku akhirnya bertanya sesuatu yang sepertinya enggan dibicarakan Juan.
" Kak, aku boleh bertanya sesuatu?", aku berhati-hati.
" Ya kamu mau tanya apa?", Tanya Juan sambil memainkan ujung rambutku.
" Siapa Meggy?", tanyaku polos.
Juan berhenti dari aktivitasnya memainkan rambutku. Sepersekian detik dia menatapku sambil berpikir. Aku menunggu cukup lama.
" Dia teman lama ", Jawab Juan tanpa ragu. Lalu kembali memainkan rambutku.
Aku mengangguk paham, tidak bertanya lagi. Juan juga tidak membahas apa-apa hanya saja ada sedikit perubahan di wajahnya.
Ketika Juan akan pulang, aku mengantarnya sampai ke depan teras. Juan maju selangkah ke arahku. Dia menatap mataku lembut dan sedikit sedih. Aku meraih wajahnya dengan tanganku, sedikit membelainya.
" Aku suka kamu Embun", Bisik Juan padaku dan tanpa diduga dia mencium pipiku lembut.
Serangan itu membuat jantungku berdegup cepat, rasanya semua aliran darahku turun ke kaki. Wajahku memanas dan pipiku merona merah. Juan mengelus pipiku lembut.
" Sampai jumpa di sekolah besok, cantik", Kata Juan padaku.
Aku mengangguk padanya, berharap Juan tidak mendengar suara jantungku yang berdebar kencang seperti akan keluar dari tempatnya. Ketika Juan sudah berlalu aku berlari masuk ke kamarku dan menutupi diriku dengan selimut. Ada rasa bahagia bercampur malu yang nyaris meledak dari dadaku. Pipiku dicium oleh cinta pertamaku. Aku berguling-guling bahagia di atas tempat tidur.
***