Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Padahal Bukan Masalahku
Dua minggu telah berlalu sejak Rina memutuskan untuk terbang ke Singapura bersama Alvino Chandra. Cello tentu saja ikut dalam rombongan itu, dan kini Darren hanya bisa menatap layar ponselnya setiap malam, menunggu dengan cemas panggilan video dari putra semata wayangnya. Di balik layar digital itulah, Cello selalu menunjukkan senyuman paling lebar. Anak itu bercerita dengan antusias tentang kemewahan tempat yang mereka kunjungi, tentang bunga di taman kota yang tertata rapi, hingga deretan mobil mewah yang dikendarai oleh Om Alvino. Kendati demikian, Darren bisa melihat dari sorot mata anaknya bahwa bocah itu sangat merindukannya.
Darren menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak memiliki kekuatan hukum untuk memprotes. Bagaimanapun, Rina adalah ibu yang melahirkan Cello, dan hak asuh berada di tangan perempuan itu. Oleh sebab itulah timbul pertanyaan yang terus menghimpit dadanya setiap malam tentang apakah dirinya memang tidak layak untuk mendampingi tumbuh kembang anaknya sendiri? Rasa benci kepada Rina tumbuh subur di dalam hatinya, namun di saat yang bersamaan, masih ada sisa perasaan yang tersimpan di sudut jiwanya yang paling gelap.
“Gue emang bener-bener bego, udah dikhianati masih aja ada rasa,” pikir Darren sembari menghela napas panjang menatap langit-langit kamarnya.
Sore itu, Darren berdiri tepat di belakang Seo yeon saat mereka berada di depan kasir sebuah butik ternama. Kedua tangannya penuh dengan tas belanjaan yang seolah tidak ada habisnya. Sementara Wanita di depannya itu membayar semua tagihan menggunakan kartu hitam tanpa menoleh sedikit pun. Darren mengamati punggung Seo yeon dengan saksama. Rambut wanita itu tergelung sangat rapi, mengekspos leher putihnya yang jenjang serta bahunya yang tegap bak model.
Lantas Darren bertanya-tanya mengapa wanita sepertinya masih betah sendirian. Rasanya mustahil jika tidak ada pria yang mencoba mendekatinya. Seo yeon pun seolah merasakan adanya tatapan yang tertuju kepadanya dan berbalik, menatap Darren dengan alis yang sedikit terangkat.
“Lagi lihatin apa?” tanya Seo yeon tiba-tiba.
Darren sedikit gagap karena tertangkap basah. “T-tidak ada. Aku cuma lagi mikir saja.”
Seo yeon tidak mempedulikan alasan itu. Dia segera menentukan tujuan selanjutnya. “Ayo kita ke kafe. Aku lapar.”
Mereka akhirnya duduk di sebuah kafe yang berada di sudut mal. Darren meletakkan tumpukan tas belanjaan di kursi samping dengan hati-hati. Adapun wanita keturunan Korea itu segera memesan kopi serta beberapa potong kue.
Tak lama kemudian, Seo yeon mulai membicarakan kesibukannya sebagai jurnalis lepas. Darren pun menyimak setiap kalimat itu, meskipun pikirannya sempat melayang jauh. Dia merasa heran mengapa seorang pewaris konglomerat justru memilih pekerjaan yang menguras tenaga. Tapi Seo yeon lebih dulu membuyarkan lamunan Darren dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam.
“Kenapa kau diam saja dari tadi?” tanya Seo yeon sembari menatap mata Darren.
Darren menggelengkan kepala dengan cepat. “Aku hanya berpikir. Bukankah kamu bisa memilih pekerjaan yang jauh lebih mudah dan nggak merepotkan diri sendiri?”
Seo yeon menyunggingkan senyum tipis. “Sebenarnya aku suka tantangan. Menjadi jurnalis membuatku tetap memijak bumi dan dekat dengan realitas yang sebenarnya.”
Entah karena apa, Seo yeon mendadak mengalihkan topik pembicaraan menuju target modal satu miliar yang pernah mereka sepakati. Dia menyatakan bahwa Darren tidak perlu memikirkan angka itu lagi karena rencana kerja sama mereka tidak akan dibatalkan.
“Kenapa begitu? Bukankah itu syarat utamanya?” tanya Darren dengan raut wajah penuh keheranan.
“Aku sudah mengubah skema rencana kita. Modal awal akan aku tanggung sendiri untuk sementara waktu. Kamu cukup fokus belajar dan membantuku melakukan riset. Itu sudah lebih dari cukup sebagai kontribusi,” jawab Seo yeon dengan mudahnya.
Lantas Darren terdiam karena mencoba mencerna kebaikan hati yang tiba-tiba ini. Wanita di hadapannya benar-benar sulit ditebak. Seo yeon kemudian melanjutkan bahwa akhir-akhir ini dia memiliki masalah pribadi karena ulah seseorang. Darren merasa penasaran siapa yang berani menyulitkan wanita seperti Seo yeon.
Seo yeon akhirnya bercerita bahwa ada seorang pria yang sedang mendekatinya secara intens. Pria itu jauh lebih tua, memiliki kemapanan finansial yang luar biasa, serta merupakan lulusan universitas ternama di luar negeri. Orang tua Seo yeon pun merasa pria itu adalah pasangan yang paling cocok untuknya.
“Lalu, apa kau menyukainya?” tanya Darren.
Seo yeon mengaduk kopi di depannya tanpa selera. “Aku juga nggak tahu pasti. Tapi itu bukan masalah besar bagiku, selama dia adalah pilihan terbaik menurut standar keluarga.”
“Masa soal perasaan sendiri aja dia nggak tahu, bukankah dia sudah memiliki segalanya? Seharusnya bisa memilih semua yang dia mau,” Darren membatin sembari menatap wajah datar wanita di depannya.
Darren akhirnya memutuskan untuk memberikan sedikit masukan. Dia menjelaskan bahwa pernikahan yang dibangun tanpa adanya rasa cinta hanya akan berakhir dengan penderitaan. Dia bercerita sekilas tentang pengalamannya bersama Rina, bagaimana cinta yang dulu menggebu bisa luntur dan hanya menyisakan luka yang mendalam.
“Aku nggak terlalu paham apa itu cinta. Yang aku pahami, selama seseorang punya kegunaan bagi hidupku, itu sudah lebih dari cukup,” jawab Seo yeon sembari memakan kuenya dengan perlahan.
Darren akhirnya sadar bahwa dirinya tidak bisa memaksa seseorang yang bahkan tidak mengenal definisi cinta untuk memahami argumennya. Ia kemudian bertanya apakah Seo yeon sering bertemu dengan pria itu dan Seo yeon mengangguk, menyatakan bahwa pria itu selalu membahas rencana masa depan, termasuk pernikahan mereka.
“Pernikahan? Kalian sudah sejauh itu pembahasannya?” Darren nyaris terjungkal dari kursinya karena kaget.
Seo yeon kemudian menyebutkan identitas pria itu. Darren segera mengeluarkan ponselnya, mencari nama yang baru saja didengarnya. Begitu wajah pria itu muncul di layar, Darren kembali merasakan guncangan hebat.
Foto di layar menunjukkan seorang pria yang diperkirakan berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sudah hampir habis di bagian atas, menyisakan area botak yang cukup luas. Wajahnya terlihat sangat biasa, jauh dari standar pria idaman untuk wanita muda dan secantik Seo yeon.
Darren menunjukkan layar ponselnya kepada Seo yeon. “Ini orangnya? Kamu serius mau sama dia? Dia sudah sepuh sekali!”
Melihat reaksi Darren, Seo yeon justru tertawa. Mulanya hanya tawa kecil, namun perlahan berubah menjadi tawa yang sangat lepas hingga matanya mengeluarkan air mata. Darren pun sudah jelas terpaku di tempatnya. Ini adalah kali pertama dia melihat Seo yeon tertawa sebahagia itu.
“Manis juga kalau lagi ketawa kayak gitu,” pikir Darren, namun dia segera mengutuk dirinya sendiri karena berpikiran demikian.
“Kamu itu orang yang sangat aneh, Darren. Kauu masih sangat polos dalam memandang dunia ini, padahal usiamu jauh lebih tua dariku,” kata Seo yeon setelah tawanya mereda.
“Memangnya berapa usiamu yang sebenarnya?” tanya Darren yang sedikit merasa tersinggung.
“Dua puluh empat,” jawab Seo yeon.
“Aku tiga puluh empat tahun. Selisih kita sepuluh tahun, tapi kau bilang aku yang polos?” Darren tidak terima.
Sementara Seo yeon mengangguk setuju. “Secara pengalaman hidup di dunia elit, aku jauh lebih dewasa dibandingkan kamu.”
Di waktu yang sama, ponsel milik Seo yeon mendadak berdering. Dia mengangkatnya dengan ekspresi yang kembali kaku. Alhasil, percakapan singkat terjadi di sana. Setelah menutup telepon, Seo yeon menatap Darren dengan serius.
“Dia mengajakku bertemu di sebuah restoran sekarang,” kata Seo yeon.
“Siapa?” tanya Darren.
“Pria yang tadi kita bicarakan. Calon suamiku. Dia ingin bertemu dengan asisten baruku, katanya kamu boleh ikut bergabung,” jelas Seo yeon.
Darren sampai menahan napas. “Kalau kamu mau, aku bisa hubungi Budi biar dia jemput kita di sini.”
“Nggak usah repot-repot. Dia kebetulan lagi ada di mal ini juga. Kita cuma perlu naik ke lantai atas,” jawab Seo yeon sembari berdiri dari kursinya.
Darren segera berdiri dan meraih semua tas belanjaan yang menggantung di tangannya. Sebelum mereka melangkah menuju lift, Seo yeon menoleh sebentar. “Kau sangat penasaran dengan dia, kan? Sekarang waktunya membuktikan bahwa dia tidak seburuk yang kamu bayangkan.”
“Bagimu, pria botak yang kepalanya bisa buat gantiin spion itu nggak buruk? Aku bayangkan dia tipe orang yang hobi menyetrum anak yatim secara massal, Seo yeon,” batin Darren. “Awas aja kalau beneran aneh, gue tarik hokinya sampai ludes.”