NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

POV: Nara

“Aku mencintaimu, Nara.” Bisiknya jatuh pelan di telingaku. Bibir Leon menyusuri leher, naik ke pipi dengan kecupan singkat. Ketika wajahku menoleh, ia mengecup bibirku, sekali, dua kali. Kecupan ketiga kubiarkan terjadi, sampai tubuhku menegang saat tangannya mencengkeram dadaku, sementara satu lagi bergerak ke balik kain celanaku.

Aku reflek mendorongnya. "Kamu nggak boleh lakuin itu!" nafasku terengah, sedangkan Leon terdiam mematung.

Untuk beberapa saat, ruangan ini terasa hening, tidak ada yang berbicara di antara kami. Namun akhirnya dengan keraguanku, aku mendekatinya lagi.

"Aku begini karna aku sayang sama kamu." Wajahku terbenam di dadanya, tanganku mencengkeram bajunya.

Rasanya menyakitkan, harus mati-matian menahan perasaan karena sesuatu yang bahkan tak bisa dilawan. Karena sadar, hubungan ini terlalu rumit. Sulit. Seakan sejak awal memang tak pernah memiliki jalan menuju akhir yang baik.

Tangannya terangkat, menangkup wajahku sebelum Leon mengecupku. Kecupan itu terasa seperti luapan emosi yang terlalu lama ditahan. Dalam satu gerakan, tangannya mengangkat pinggangku, membuat tubuhku jatuh ke atas ranjang. Leon masih tenggelam dalam kecupan itu, seolah takut kehilangan waktu. Jemarinya mulai menyingkirkan pakaian yang menghalangi. Saat bibirnya terlepas dari milikku, itu bukan akhir. Kecupan itu hanya berpindah, turun perlahan, ia beralih ke dadaku, tangan satunya meremasnya dengan tergesa seakan dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan.

Aku merintih saat kurasakan tarikan yang begitu dalam di dada. Pria itu berhenti di sana, wajahnya turun ke bawah, melepaskan celanaku hingga membuatku tidak lagi mengenakan apapun.

"Leon, cukup!" Aku menahannya.

Dia menghentikan aksinya, perlahan wajahnya merayap mendekati wajahku, posisinya berada di atas ku.

"Nara..." Jempolnya mengusap pipiku perlahan, "aku sudah effort sebesar ini, demi kamu. Aku menyakiti perempuan lain cuma demi bisa dekat denganmu lagi."

Aku membeku mendengarnya.

"Aku cuma ingin memilikimu, itu saja. Aku bisa mencintaimu lebih baik dari Devandra. Kasih aku kesempatan untuk membuktikan."

Wajahnya terlihat berat seolah menyimpan beban yang begitu besar. Aku melihat ada kesungguhan di sana. Perlahan ku sentuh wajahnya, bibirku mengecup bibirnya, hanya berusaha untuk menenangkannya.

"Aku cuma takut," kataku lirih. "Kejadian kemarin sudah sangat menyiksaku."

"Aku janji, kejadian waktu itu nggak akan pernah terulang lagi, nyawaku taruhannya."

Aku terdiam, mencoba memikirkan kembali. Suasana berubah menjadi hening.

Hingga aku pun, mengangguk mengiyakan.

...***...

POV: Leon

"Nara... aku sudah effort sebesar ini, demi kamu. Aku menyakiti perempuan lain cuma demi bisa dekat denganmu lagi."

Aku bahkan menjadi pria jahat demi perempuan yang ada di hadapanku saat ini. Bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa aku begitu tergila-gila padanya? Mungkin karena aku sulit jatuh cinta, dan ketika aku menemukan perasaanku tumbuh pada seseorang, aku akan berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, walau harus mempertaruhkan nyawa sekalipun.

Saat dia mengiyakan, itu artinya dia juga bersedia untuk melanjutkan hubungan yang lebih besar. Menjalin cinta terlarang walaupun harus diam-diam, berpura-pura, bersandiwara di depan orang-orang yang mencintai.

Aku mengecup bibirnya, rasanya bahagia sekali setelah akhirnya bersabar untuk waktu yang cukup lama. Tubuhku terasa hangat saat menyentuh tubuhnya yang tidak lagi berbalut kain. Dingin yang menyusup lewat celah kamarku karena cuaca yang masih hujan deras, seolah tak lagi kurasakan.

Gundukan lemak di dadanya yang selama ini selalu membuatku salah fokus setiap berhadapan dengannya—kini dapat kusentuh lansung, rasanya hangat, kenyal, lembut. Setiap aku menyentuh bagian ujungnya, dia selalu merintih geli, membuatku semakin panas. Daging itu terasa kenyal begitu bertemu dengan lidahku, aku menghisapnya kuat seolah sangat haus.

Tubuhnya begitu sempurna, kulitnya seputih salju, selembut sutra. Dia lebih cocok menjadi bidadari daripada manusia. Nafasnya yang terengah-engah, wangi semerbak anggur merah yang harganya mencapai harga studio ini.

Wajahku perlahan turun, ku kecup pelan perutnya yang datar, mengecup sampai ke bawah, hingga bertemu dengan bagian penting tubuh indah ini. Jemariku menyentuh dengan hati-hati, sensasi hangat dan basah membuat jantungku berdegup tidak karuan. Nafasku mulai memburu.

Dia merintih saat telunjukku masuk sedikit ke dalam. Tangannya menahan tanganku, mencoba menghentikanku. Aku melihat wajahnya memerah, entah karena takut atau justru menikmati?

Aku mendekatinya, berbisik lirih di telinga. "Nara, aku akan melakukannya. Jika kamu merasa nggak nyaman, bilang aja."

Dia mengangguk mengiyakan.

Aku membuka semua pakaian di tubuh. Bersiap untuk melakukannya, tapi aku sedikit gugup, tanganku gemetar, nafasku mulai tersengal.

"Leon," Nara mengangetkanku. "Kamu kenapa?"

Aku menoleh padanya, "nggak apa-apa." Dan itu bohong, padahal aku memang sedang gugup seolah sedang menghadapi eksekusi mati.

"Kamu bahkan berkeringat, padahal belum mulai," ucap Nara.

Aku mengusap keringat di dahiku.

"Kamu bahkan gemetaran, Leon. Serius nggak apa-apa?" tanyanya sedikit cemas.

Aku menghela nafas panjang, bersisik di telinganya. "Aku gugup banget, soalnya ini pertama kali."

"Hah?" Sontak perempuan itu kaget tidak percaya.

"Bohong banget," dia tertawa sinis. "Jaman sekarang ada laki-laki yang belum pernah ngelakuin itu? Mustahil."

"Itu karna aku nggak gampang deket sama sembarang orang, apalagi melakukan hal intim kayak gini. Bagiku, ini adalah hal yang nggak bisa buat main-main."

Nara terdiam saat mendengar penjelasanku. Aku tidak berbohong, jika aku memang tidak pernah melakukan hal seintim ini. Dan Nara akan menjadi perempuan pertama dan terakhir yang akan melakukannya denganku.

"Ja—jangan bilang kalau kamu juga nggak tahu gimana caranya?"

Deg. Kalimat itu membuatkan mengernyit.

"Kamu meragukanku?" kataku lantang.

"Sorry, bukan begitu," katanya seolah menyesali ucapannya.

"Hei... walaupun aku belum pernah, tapi aku juga nggak bego, kali."

"Masa?" Nara malah meledekku. "Pasti koleksi tontonan dewasa mu, banyak ya."

Aku tertawa geli, perempuan ini malah memancing suasana menjadi kikuk.

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, "yaaa begitu deh."

"Dasar, semua laki-laki ternyata sama." Wajahnya berubah kesal.

"Namanya juga pria dewasa, mereka spesies berbeda, lebih sensitif soal seksual." Aku mencoba membujuk wajahnya yang terlihat cemberut.

"Ini sebenarnya kita mau ngobrol atau mau apa sih?" kataku kesal.

Dia tertawa, kami pun saling tertawa dalam pelukan.

"Oke cukup! Aku mulai ya? Kalau sakit bilang aja."

Kalimatku membuat suasana kembali menegang, wajah Nara tampak kembali tegang.

Perlahan aku memasukkan milikku ke dalam lubang yang terlihat sangat kecil. Aku ragu apakah benar itu tempatnya? Melihat milikku yang cukup besar seolah ragu jika bisa masuk.

Saat aku mulai mendorong, Nara terlihat merintih, tangannya mencengkeram seprai, dia mengigit bibirnya.

Reflek aku mendesah pelan saat ujungnya mulai masuk, rasa hangat mulai bisa kurasakan. Tapi tiba-tiba—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!