Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Pandu Merajuk
Waktu berjalan cepat, bahkan terasa sangat cepat bagi Pandu dan Lyra yang menjalani hari bersama dengan segala manis dalam canda dan tawa. Pacaran sesudah halal itu ternyata lebih menyenangkan, karena sah mau melakukan apa saja yang diinginkan.
Kebahagian yang Pandu berikan memang terkesan sederhana. Tidak bermewah-mewah dalam berlaku romantis, tidak berlebihan dalam mengumbar janji dan tidak terkesan lebay dalam mengucap kata cinta. Cukup dengan kata ‘I Love You’ sudah mampu membuat Lyra bahagia di tambah perlakuan sederhana yang terkesan manis.
Ulangan semester pertama baru saja selesai di laksanakan. Dua bulan lalu jabatan juga tanggung jawab yang Pandu dan Lyra pegang di OSIS sudah di serahkan pada adik kelasnya lewat pemilihan, dan mereka hanya tinggal fokus belajar untuk ujian yang akan di laksanakan beberapa bulan lagi. Jika murid lain seperti Amel dan Dimas yang di tuntut oleh orang tua mengikuti les ini itu, beda dengan Pandu, Lyra, Luna, Devi dan Leo yang memilih untuk belajar bersama di perpustakaan atau di rumah orang tua Pandu yang memiliki perpustakaan sendiri milik sang ayah yang memang bekerja sebagai dosen juga pengusaha, tapi minggu siang ini mereka memutuskan untuk bekumpul di rumah Lyra-Pandu, selain luas, rumah sepasang pengantin ini juga sepi dan tentunya banyak makanan. Luna, Devi dan Leo memang bahagia, tapi tidak dengan Pandu yang merasa di rugikan karena stok untuk sebulan selalu habis sebelum waktunya.
“Udah lah, sayang, kamu itu harus ikhlas, anggap aja sedekah untuk orang-orang yang tidak mampu.” Itu yang selalu Lyra ucapkan saat Pandu mengomel pada ketiga sahabatnya.
Jam lima sore semua temannya baru saja pulang. Lyra dan Pandu naik ke kamar untuk istirahat setelah sebelumnya membereskan buku-buku yang merekan gunakan belajar tadi, juga membereskan kekacauan yang di timbulkan teman-temannya.
Membaringkan tubuh masing-masing dalam empuknya ranjang, Lyra dan Pandu sama-sama menatap dinding kamar yang di tempeli bintang-bintang yang akan menyala di kegelapan. Sudah pasti itu adalah keinginan Lyra. Dan Pandu sebagai suami yang ingin membahagiakan istrinya tentu saja menuruti kemauan sang ratu.
“Yang, nanti kamu mau lanjut kuliah ke mana?” tanya Pandu setelah beberapa menit hening.
“Emang gak apa-apa kalau aku kuliah?” Lyra malah balik bertanya.
“Aku gak akan larang kamu, kalau memang kamu ingin. Asal jangan jauh-jauh apa lagi sampai ninggalin aku,” ujar Pandu yang mulai menatap ke arah Lyra yang juga tengah menatapnya.
“Biar aku pikirkan nanti. Kalau aku keburu hamil, ya, aku memilih di rumah aja. Kecuali kalau kamu bersedia gak hamilin aku dulu!” Lyra berucap seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Ya, kalau kamu emang benar-benar kepengen kuliah aku akan berusaha buat gak hamilin kamu dulu, lagian 'kan kamu juga minum pencegah kehamilan?”
“Udah ah, kenapa jadi ngomongin hamil sih!”
“Ya, kan kamu yang mulai, sayang!” Pandu menekan pipi chubby Lyra dengan gemas menggunakan kedua telapak tangannya membuat bibir mungil Lyra maju beberapa senti. Dan itu lucu menurut Pandu.
Suasana hangat di sertai canda seperti inilah yang membuat Pandu nyaman, tidak jauh berbeda dengan Lyra. Awalnya Lyra tidak menyangka akan mendapat perlakuan hangat dari laki-laki dingin dan datar itu, tapi sekarang Lyra percaya bahwa perubahan itu ada. Terlihat jelas oleh mata kepalanya sendiri, bahwa Pandu yang terkenal dengan sikap dingin, datar dan minim ekspresi yang dulu sangat sulit Lyra gapai, yang dulu kebal dengan segala macam godaan yang Lyra berikan, kini sudah dapat ia taklukkan. Pandu yang sekarang sudah banyak tersenyum, tak jarang juga mengeluarkan ekspresi yang sebelumnya tidak pernah Lyra lihat.
“Pan, jangan pernah tinggalkan aku, ya?”
“Gak akan! Aku gak akan pernah meninggalkan kamu sekali pun kamu yang meminta, karena aku sudah sangat mencintai kamu, sudah sangat nyaman berada di samping kamu, dan aku tidak ingin jauh dari kamu meski itu hanya dalam mimpi.”
Ucapan tulus yang keluar dari mulut dan di pancarkan dari kedua mata hitam teduh Pandu mampu meluruhkan air mata yang sudah membendung di pelupuk mata Lyra, masih dalam keadaan berbaring, Lyra memeluk tubuh besar Pandu yang beraroma segar, membuat Lyra merasa nyaman. Kecupan demi kecupan Pandu berikan di puncak kepala Lyra hingga aroma manis dan segar yang berasal dari rambut hitam halus itu menerbitkan senyum Pandu.
Tok tok tok
“Neng Lily, Den Pandu makan dulu mumpung masih hangat!”
“Iya Bi, Lily sama Pandu turun sekarang!”
Suara langkah menjauh terdengar, Lyra mendongakkan wajahnya menatap sang suami yang juga tengah menatapnya. ‘Cup’ satu kecupan singkat Lyra daratkan pada bibir tipis Pandu, berusaha sekuat tenaga membebaskan diri dari pelukan erat yang di berikan tangan besar dan kokoh laki-laki tampan itu, yang sayangnya tidak juga berhasil.
“Lepasin Pandu, aku lapar!”
Pandu menggeleng. “Cium dulu baru aku lepasin.”
“Barusan kan udah?”
“Yang lama,” pinta Pandu semakin mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Lyra. Perempuan cantik itu mendengus dan menggelengkan kepala, menolak.
“Ya, udah gak usah makan!”
“Bodo! Paling juga nanti Daddy yang marahin kamu gara-gara gak biarin aku makan.”
“Daddy kamu 'kan gak akan tahu,” ujar Pandu meremehkan.
“Kan nanti aku yang ngadu. Kamu kira Daddy bakalan diam aja saat anak kesayangannya kelaparan. Yang ada nanti kamu di eliminasi jadi suami aku!”
Senyum kemenangan terbit dari bibir mungil Lyra saat Pandu mulai meregangkan pelukannya. Sebelum melepaskan diri dari kukungan Pandu Lyra menyempatkan untuk mengecup pipi Pandu dan setelah itu bergegas lari ke luar dari kamar sebelum Pandu menariknya kembali dalam kukungan lengan besar itu dan mengurungnya di kamar.
Tak lama setelah Lyra duduk di meja makan, Pandu datang dengan wajah yang di tekuk. Lyra tertawa geli di buatnya. Wajah cemberut Pandu lebih ganteng menurut Lyra dari pada wajah datarnya.
“Gak boleh cemberut di depan makanan. Pamali!”
Pandu tak menghiraukan, dan memilih melahap makanan yang sudah Lyra ambilkan sebelumnya. Masih dengan cemberut Pandu menghabiskan makanan itu tanpa bicara, bahkan menjawab ucapan Lyra yang menawarinya untuk menambah lauk serta nasi.
Lima belas menit waktu yang mereka habiskan untuk makan malam yang hanya di dominasi dengan celotehan Lyra tanpa mendapat respon, maupun balasan dari Pandu. Lyra tidak tersinggung justru ia semakin semangat bercerita dan sesekali tertawa. Setelah selesai membereskan bekas makan dan menyimpan sisanya di lemari makan, Pandu lebih dulu naik ke kamar tanpa menunggu Lyra yang berjalan menuju pintu utama untuk menguncinya.
Lyra menyusul sang suami yang ternyata tengah duduk di atas ranjang sambil memainkan game yang berada di ponselnya. Masa bodo dengan pria itu, Lyra memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi, mencuci muka juga menggosok gigi dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan lembut favoritnya. Panjang gaun tidur itu hanya sebatas paha, namun tertutupi dengan jubbah yang panjangnya hingga bawah lutut. Rambut panjangnya sengaja Lyra gelung hingga menampilkan leher jenjangnya.
Pandu sempat melirik sekilas, tapi dengan cepat-cepat ia mengalihkan kembali tatapannya sebelum Lyra menyadari. Berpura-pura tidak perduli itu benar-benar menyiksa Pandu sebagai seorang laki-laki normal apa lagi melihat istrinya yang terlihat seksi malam ini, memakai gaun tidur berwarna merah menyala yang beberapa bulan lalu perempuan itu beli bersama Pandu. Baju itu padahal tidak tipis apa lagi transparan, tapi entah kenapa terlihat begitu seksi. Salahkan saja mata dan otaknya yang membayangkan hal-hal mesum. Tapi bukankah itu wajah bagi mereka yang sudah menikah? Walau pun Pandu sadar bahwa mereka masih sekolah.
“Kamu lagi niat godain aku?” tanya Pandu yang sumpah, sudah tidak tahan lagi melihat istrinya itu yang kini tengah berjalan pelan menuju ranjang.
“Dih siapa yang mau godain kamu coba, ge'er!” cuek Lyra yang mulai membaringkan tubuhnya di ranjang sebelah kiri.
“Siapa yang izinin kamu tidur?” cepat Pandu berkata dengan nada ketus saat melihat Lyra yang mulai memejamkan matanya.
“Emang kalau mau tidur harus izin dulu, ya?” tanyanya polos.
Pandu kesal dengan ke sok polosan istrinya itu langsung saja menerjang tubuh mungil Lyra dan mulai mencium bibir mungil beraroma strawbery tersebut, Lyra sempat membelalakan matanya karena terkejut dengan ke tiba-tibaan itu, tapi tidak urung membalas ciuman yang di berikan Pandu. Laki-laki dan napsunya memang tidak bisa di pisahkan, membuat Lyra pasrah di bawah kukungan suaminya.
@ ank ips jga😎