Lovina Serena Robinson adalah seorang wanita cantik jebolan dari MI6. Rekrutan termuda berusia 18 tahun dan menguasai 8 bahasa.
Namun, trauma yang dialaminya ketika berumur 10 tahun dan menewaskan kedua orang tuanya, tak bisa disembuhkan oleh MI6. Lovy menjadi semakin kejam. Dia mengundurkan diri dari MI6 setelah merasa dijebak dalam misi pertamanya.
Sang nenek membawa Lovy kepada Lea dan menjadikannya salah satu anggota The Red Lips. Sebuah organisasi yang berisi para wanita yang memiliki trauma hebat. Tujuannya, membunuh semua pria hidung belang dengan kematian tragis.
Siapa sangka, kehidupan baru Lovy membuatnya berhasil hidup layaknya sipil dan bertemu cinta sejatinya, Sean Wilver.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama setelah Lovy tahu pembunuh kedua orang tuanya. Lovy membalaskan dendam itu dan meninggalkan Sean. Dalam pengasingannya, Lovy mengandung anak dari pria yang pernah dicintainya.
Bagaimana nasib anak lelaki yang lahir dan kini menanyakan tentang ayahnya?
***
Selamat datang di novel Lele karya ke 8❤️ Semoga suka ceritanya dan jangan lupa berikan semua dukunganmu padaku ya😆
Vote poin, koin, vocer, like dan komen ajaib😍
Nglunjak bin ngarep🤭 Lele padamu💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lelevil Lelesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BARON DIMENSION*
Di tempat Lovy dan timnya berada.
Mereka akhirnya tiba di Cancun di mana Lovy mendatangi pria yang ia kenal sebelumnya dan ternyata, foto dari Harold juga mengarah ke mafia tersebut.
Entah hubungan apa yang terjalin antara Harold dengan Baron Dimension, tapi Lovy ingin menyelidikinya. Terlebih, ia masih mencemaskan keadaan puteranya yang belum ia ketahui keadaannya.
Namun, tim yang berpisah dengannya kala itu di bandara menyebutkan, jika Rico diselamatkan pihak kepolisian. Ada rasa khawatir dan lega.
Khawatir karena ia takut jika Rico bertemu dengan Sean, tapi tak seperti yang ia duga. Ia berharap, pertemuan ayah dan anak berlangsung harmonis.
Namun, mengingat Rico sudah menganggap Matthew sebagai ayah kandungnya, ia cemas jika malah terjadi perselisihan antara Sean dan Rico, di mana hal ini sudah terjadi tanpa sepengetahuan Lovy.
Lega, karena anaknya selamat walaupun di tangan kepolisian Kansas. Tim Lovy yang menyelidiki pergerakan para polisi di Kansas, membuat Lovy yakin jika Harold masih hidup.
Timnya mengikuti para polisi yang sedang mencari jejak Harold di sepanjang sungai Kansas.
"Jadi ... Baron Dimension ya? Jujur, aku baru dengar nama itu," ucap Dorothy yang diangguki oleh Suzanne dan Vivi bersamaan.
"Kaumengenalnya?" tanya Vivi dan Lovy mengangguk.
"Kisah masa lalu," jawab Lovy fokus menyetir di mana kali ini ia yang akan membawa timnya ke sana.
"Ceritakan. Kami harus tahu untuk berjaga-jaga saat bertemu dengannya," desak Suzanne.
Lovy menoleh ke arah tiga wanita cantik yang kini memandanginya lekat dengan penampilan barunya.
"Well, itu ... terjadi saat aku masih menjadi agent MI6. Baron orang Inggris. Aku diminta memata-matai pria itu yang melakukan kerjasama perdagangan senjata ilegal dengan para mafia di Amerika Utara. MI6 menduga jika Baron adalah dalang di balik masuknya senjata buatan Amerika ke Inggris. Aku dan kawanku yang ditugaskan saat itu melihat Baron bersama mafia Italia dan Amerika masuk ke sebuah toko barang antik. Saat itu aku yakin jika tempat tersebut adalah kamuflase berkumpulnya para mafia di kota Mexico," jawab Lovy berkisah.
"Apakah ... dugaanmu benar?" tanya Vivi menatap Lovy lekat yang pandangannya terfokus pada jalanan di depannya.
"Ya. Tebakanku tepat."
Suzanne, Dorothy dan Vivi tersenyum. Mereka seperti sudah menduga jika dugaan Lovy tak meleset.
"Saat subuh, kotak-kotak peti kayu diangkut oleh orang-orang bersenjata ke dalam mobil-mobil van yang terparkir dalam jumlah banyak. Kami tak melakukan penyergapan. Hal itu akan dilakukan oleh timku yang sudah menunggu di dermaga Margante ketika senjata-senjata itu memasuki Inggris. Ternyata, para mafia itu datang ke sebuah hunian milik salah seorang pebisnis resort di kota itu, dialah Baron Dimension."
"Ah, aku mengerti sekarang," ucap Vivi. D dan S mengangguk sepemahaman. Lovy tersenyum.
"Baron menyelundupkan senjata-senjata ilegalnya dengan kapal-kapal wisata miliknya. Akhirnya, timku berhasil melumpuhkan anak buah Baron dan menyita seluruh senjata api ilegal tersebut. Namun, Baron berhasil kabur dan tak diketahui keberadaannya sampai bertahun-tahun lamanya hingga aku tak sengaja bertemu dengannya tepat sebelum memasuki perbatasan Mexico, di mana aku akan menjalankan misi terselubung di luar Red Lips beberapa tahun silam," jawab Lovy panjang lebar yang membuat tiga wanita itu tampak tegang mendengar ceritanya.
"Jadi ... Baron mengenalimu?" tanya Vivi dan Lovy mengangguk pelan.
"Lihat rumah besar itu?" tanya Lovy menunjuk sebuah mansion yang terlihat di sebuah bukit. Tiga wanita itu mengangguk cepat. "Aku membunuh pemilik lamanya, Fernando Hernandez, dan kuberikan kekuasaan Fernando pada Baron. Kini, aku menagih hutang budiku padanya," jawab Lovy dengan wajah bengis.
"Aku tahu siapa Fernando Hernandez. Dia penjahat keji, Lovy. Aku tak tahu jika kau berhasil membunuhnya. Apakah ... termasuk Ramirez, anak dari Fernando?" tanya Suzanne curiga, dan Lovy tersenyum miring. "Oke. Aku akan diam," ucap Suzanne langsung pucat seketika.
"Aku baca tragedi pembunuhan itu. Aku tak menyangka jika pembunuh dua penjahat itu adalah senior kita. Lovy sungguh menyeramkan," bisik Dorothy dan Suzanne mengangguk pelan terlihat tegang.
"Dia juga membunuh Geofani," sambung Vivi, dan dua wanita rekrutan muda Red Lips itu menganga lebar.
"Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Dorothy penasaran.
"Akan kuceritakan nanti setelah urusan kita selesai di sini. Kita sudah tiba. Tetap siagakan senjata. Apa pun yang mereka minta, jangan berikan. Tetap ikuti instruksiku. Jika Baron tak mau bekerjasama, berikan dia kematian," tegas Lovy.
Tiga wanita itu mengangguk cepat terlihat tegang di mana kedatangan mereka kali ini ternyata bukan dengan cara baik-baik karena ingin membunuh pemilik mansion tersebut.
Saat Lovy akan memasuki gerbang utama, dua penjaga menghadang mobilnya. Lovy menurunkan kaca jendela dan tersenyum.
"Katakan pada tuan Baron Dimension, Patricia Magdalena ingin bertemu," ucap Lovy santai.
"Tak ada nama Baron di sini," tegas penjaga berpakaian hitam.
"Jangan membuatku membunuh pemilik mansion ini. Katakan pada Baron, dia berhutang padaku," tegas Lovy melotot.
Orang itu berkerut kening. Ia menoleh ke arah kawan penjaganya yang kini berada di sebelah kanan mobil.
Lovy tampak tak sabar, saat ia akan mengeluarkan pistolnya, tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka. Praktis, pandangan Lovy dan timnya langsung ke arah pintu itu.
"Patricia sayangku!" panggil Baron berteriak sembari berjalan ke arah mobil Lovy dari dalam rumahnya seraya memegang botol sampanye.
"Itu Baron?" tanya Vivi terkejut.
"Hem. Dia terlihat tampan," ucap Lovy memuji. "Dulu saat aku menemukannya, dia seperti gembel. Ingat pesanku," tegas Lovy dan tiga wanita itu mengangguk.
Lovy memasukkan mobilnya ke halaman. Baron menyambutnya dengan senyum terkembang. Lovy lalu turun dengan penampilan barunya, dan hal itu membuat Baron seperti terkejut.
"Wow, rambut baru? Kau terlihat ... berbeda," ucap Baron seraya mendekat.
"Kauterlihat tua," tegas Lovy, dan Baron terkekeh mendengarnya.
"Sudah lama sekali dan kau tetap cantik, Patricia. Dan, oh! Kau membawa teman-temanmu? Berlibur?" tanya Baron heran dan seperti tak terlihat takut dengan kedatangan Lovy.
"Aku lelah," jawab Lovy malas dan Baron mengangguk.
"Dia tamu istimewa! Singkirkan lainnya dan manjakan Patricia termasuk teman-temannya!" titah Baron lantang ke para anak buah yang mengikutinya di belakang.
Para lelaki itu lalu memasuki mansion. Tak lama, muncul wanita-wanita cantik dengan pakaian mini seperti diusir paksa.
Baron meringis terlihat canggung, dan Lovy diam saja tak merasa terganggu dengan pemandangan yang barusan ia lihat.
"Tunggu sebentar. Biar rumahku dibersihkan. Kolam renang?" tawar Baron dan Lovy mengangguk.
"Bos, mereka bersenjata," ucap salah satu penjaga yang melihat pistol di balik pinggang Dorothy.
"Biarkan saja. Jangan usik mereka," tegas Baron seraya melambaikan tangan menyingkirkan anak buahnya itu.
Suzanne dan Dorothy tersenyum. Mereka tak menyangka jika Baron menanggapi dengan santai tak merasa terancam.
Lovy dan lainnya berjalan mengikuti Baron yang berjalan di depan. Baron mempersilakan para tamunya duduk di kursi santai. Hidangan penyambutan datang dan Baron mempersilakan para tamunya untuk menikmati.
"Tunggu," pinta Lovy saat Vivi akan mencomot sebuah anggur. Semua orang terdiam. "Kau dulu yang makan. Semuanya, satu-satu. Aku tak keberatan berbagi," ucap Lovy menatap Baron tajam.
"Aku tak mungkin meracuni kalian," jawabnya dengan senyum terkembang.
"Makan."
Baron mengembuskan napas pelan. Tiba-tiba saja, BYUR! BYUR!
Baron melemparkan semua sajian itu ke dalam kolam renang dengan wajah kesal. Suzanne dan lainnya saling melirik dalam diam penuh kewaspadaan.
"Kaupikir, kau dapat semua ini dari siapa, Baron? Aku yang menyelamatkanmu. Aku yang menjadikanmu penguasa. Berhenti bersikap konyol padaku!"
DUAK! BYUR!
"Tuan!" teriak anak buah Baron saat Lovy tiba-tiba saja meluncurkan kaki kanannya ke kursi yang diduduki Baron sehingga lelaki itu terjengkang dan tercebur ke kolam renang.
Suzanne, Dorothy dan Vivi langsung mengarahkan pistol ke orang-orang Baron. Lovy masih duduk dengan kaki menyilang seraya melihat Baron yang ditolong oleh anak buahnya saat naik ke pinggir kolam.
"Apa otakmu sudah jernih sekarang? Jika belum, kulubangi kepalamu agar air kolam itu membersihkan otak dangkalmu," tegas Lovy mengancam.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Aku ... hanya ingin memastikan jika ini sungguh kau. Maksudku, uhuk!" jawab Baron basah kuyup dan terlihat shock dengan kejadian yang barusaja terjadi padanya.
Semua anak buah Baron diminta menurunkan senjata. Baron mendatangi Lovy dengan napas tersengal. Lovy masih duduk dengan tatapan tajam memandangi pria berjambang itu.
"Selamat datang kembali, Patricia. Jujur, aku sangat merindukanmu. Namun, kau bohong padaku. Namamu bukan Patricia Magdalena. Kau, Lovina Serena Robinson. Harold yang memberitahuku," ucapnya yang membuat mata Lovy melebar saat menunjuknya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya. Lele padamu😍 Abang Logan X-Men main disini dulu ya jadi mafia. Cakar2annya lanjut kapan2 aja. Kwkwkwkw😆