ATMAJA FAMILY SERIES#1
"Bagaimana jika aku melunaskan saja semua biaya operasi ayahmu itu?" ucap dingin pria tinggi berwajah tampan.
Wanita yang berada dihadapannya itu menatapnya berbinar. "Beneran Dok? terimaksih Dokk terimakasih banyak."
"Tapi semua itu tidak gratis." Dokter itu menarik smrik-nya.
"Mak-maksud dokter?"
"Aku akan melunaskan semua biaya operasi ayahmu itu serta pengobatannya sampai dia sembuh dan bayarannya kau harus bersedia menikah dengan ku."
Bagaimana jadinya jika seorang dokter tampan tiba-tiba berbaik hati melunaskan pengobatan ayah dari gadis tak mampu seperti Elena tapi semua itu tidak gratis, Elena harus membayarnya dengan kehidupan dan masa depannya itu.
Apakah Elena menerima tawaran Dokter itu? bagaimana kelanjutannya?
SELAMAT MEMBACA❤
[ JANGAN LUPA DUKUNGAN NYA DENGAN LIKE, VOTE DAN KOMEN YA! JANGAN LUPA FOLLOW BIAR GAK KETINGGALAN UP ]
Cover by Pinterest.
Copyright 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EvaNurul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB21: Sadar
Sampai didepan tujuannya Bryan pun segera masuk kedalamnya. Ia melihat ada seorang gadis dengan seorang pria yang masih memejamkan matanya ditempat tidur. Bryan lantas berjalan mendekat kearah tempat keberadaan kedua orang itu.
Bryan berdiri disamping Elena, gadis itu nampak memejamkan matanya dengan memegang tangan pria dihadapannya erat.
"Ayahmu baik-baik saja. Dia akan sadar setelah obat bius ditubuhnya menghilang."
Suara itu membuat Elena tersentak kaget. Elena pun lantas segera melihat ke asal suara yang berbicara tadi. Matanya menangkap seorang pria tampan yang berdiri tepat disampingnya namun tak lama tatapannya kembali teralihkan pada sang Ayah.
"Apa Bapak bakal sembuh setelah ini Dok?" tanya Elena tanpa mengalihkan tatapannya pada Dimas.
"Aku tidak menjamin kesembuhannya, kita lihat saja perkembangan kedepannya nanti."
Elena menghela nafasnya pelan. Ia tau penyakit sang Ayah sudah terlalu parah jadi dirinya hanya bisa berdoa saja untuk kesembuhan Dimas.
Bryan melihat jika wajah Elena masih bersedih. Gadis itu sepertinya sangat menyayangi Bapaknya. Entah kenapa hatinya merasa teriris melihat wajah sedih dari gadis disampingnya ini.
Keduanya pun terdiam dengan pikiran masing-masing membuat keadaan ruangan ini kembali sunyi, namun tak lama tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan pergerakan mata dari arah seseorang yang tidur dihadapannya.
"Bapak?!" mata Elena berbinar ketika melihat sang Bapak yang mulai membuka matanya.
Bryan masih terdiam, sepertinya obat bius itu sudah hilang ditubuh Dimas membuat pria itu sekarang mulai tersadar.
"Bapak bangun Pak, ini Elena," Elena tersenyum dengan tangan yang menggenggam telapak tangan sang Bapak.
Mata Dimas mulai terbuka perlahan. Pria itu nampak mulai menormalkan pandangannya menstabilkan cahaya diruangan ini.
"Syukurlah Bapak udah bangun." Elena melirik sekilas Bryan dengan tersenyum senang lalu kembali menatap Bapaknya.
"Na? in-ini dimana? Uhuk!" tanya Dimas dengan pandangan binggung.
Elena segera mengambil segelas air dan memberikannya pada Dimas untuk diminum. Ia tau pasti Bapaknya ini haus. Setelah selesai meminum Elena pun lantas menaruh gelas kosong itu kembali diatas meja yang berada disamping ranjang.
"Ini dirumah sakit Pak, Bapak abis dioperasi jadi Bapak tenang aja ya pasti sebentar lagi Bapak bisa sembuh." lanjut Elena.
Wajah Dimas nampak berubah. "Rum-mah sakit? Na, kamu tau kita gak punya uang buat bayar rumah sakit." pelan Dimas menatap Elena sendu.
"Bapak tenang aja ya, Bapak gak usah mikirin biayanya yang terpenting Bapak sekarang pikirin kesehatan Bapak biar Bapak bisa cepet sembuh." Elena tau pasti Bapaknya ini khawatir dengan biaya rumah sakit yang mahal jadi Elena harus berkorban demi kesembuhan sang Bapak, keputusan menikah dengan Dokter disampingnya ini adalah keputusan terbaik.
Dimas terdiam tapi tak lama matanya teralihkan pada seorang pria berjas putih disamping anaknya.
Melihat itu membuat Elena mengikuti arah pandang sang Ayah. Ia paham dengan maksud dibalik tatapan itu.
"Namanya Dokter Bryan Pak, dia Dokter dirumah sakit ini. Dia juga yang ngerawat dan biayain semua pengobatan Bapak." lanjut Elena.
Dimas tersenyum menatap Dokter tampan itu. "Terimakasih ya Dok, saya sangat berhutang budi pada Dokter."
Bryan berdekhem pelan. "Iya." singkatnya dengan dingin.
Bryan mengalihkan tatapannya pada Elena. Ia sepertinya memberi kode pada gadis itu untuk berbicara pada Dimas.
Elena menatap Bryan dengan pandangan binggung. Ia tidak megerti dengan maksud dibalik tatapan pria itu.
Dimas nampak menatap kedua orang disampingnya dengan penuh tanya. Sepertinya ada yang ingin mereka bicarakan? membuat Dimas sedikit kepo dengan keduanya.
Bryan menghela nafasnya pelan. Gadis disampingnya ini sepertinya tidak mengerti dengan maksud tatapannya.
"Kalian kenapa?" tanya Dimas.
Tatapan Elena yang tadinya menatap Bryan langsung kembali menatap sang Bapak. "Eh, gapapa kok Pak." ucapnya dengan tersenyum.
Elena memegang perutnya pelan ketika mendengar suara pelan dari dalam perutnya. Karna menunggu lama ketika operasi tadi membuatnya sedikit lapar.
"Kamu kalo laper makan dulu sana Na, Bapak yakin kamu pasti laper kan?" ucap Dimas dengan nada kasihan.
"Tapi Bapak?"
Sebelum Dimas menjawab tiba-tiba saja Bryan memotongnya.
"Bapakmu biar dijaga oleh suster, nanti aku akan perintahkan mereka untuk kesini." sahut Bryan menatap Elena.
"Tuh kan, Bapak gapapa kok Na. Kamu makan aja dulu sana, Bapak gak mau kalo kamu sakit nanti." ujar Dimas tersenyum sembari memegang tangan Elena yang masih menggenggamnya erat.
"Yaudah kalo begitu Elena ke kantin dulu ya Pak. Bapak disini aja jangan mikirin macem-macem juga biar Bapak cepet sembuh." jawab Elena dengan tersenyum manis.
"Iya." Dimas melirik Bryan yang masih terdiam lalu kembali menatap anaknya. "Kamu ke kantin sendirian aja Nak?"
"Biar Elena pergi sama saya Pak, kebetulan saya juga akan ke kantin."
Mendengar jawaban dari arah sampingnya membuat Elena menatap Bryan. Sepertinya Dokter itu akan berbuat sesuatu padanya. "Ah! gak usah Dok, saya bisa makan sendiri kok." tolaknya secara halus.
"Kamu gak boleh gitu sama Dokter Bryan, lagian juga tujuan kalian sama bukan? lebih baik kalian sama-sama biar kamu juga ada yang ngejagain Na." Dimas menatap Elena tersenyum. Sebenarnya ia juga merasa sedikit senang jika Elena bersama dengan Dokter itu. Sepertinya keduanya juga cocok jika disandingkan.
Bryan tersenyum miring penuh kemenangan menatap Elena. Sepertinya pria ini berada dipihaknya.
Elena kesal, Bapaknya ini malah membiarkannya pergi bersama Dokter itu. Sebenarnya ia gugup berada didekat Bryan, jantungnya seakan mau copot jika melihat tatapan tajam dari pria disampingnya ini. Apalagi sekarang Bapaknya menyuruhnya untuk makan bersama dengan Dokter itu dikantin. Ia hanya takut Bryan menyuruhnya kembali untuk membayar makanan seperti saat di Restaurant kemarin. Hutang rumah sakit saja sudah banyak belum lagi ditambah hutang makanan saat direstaurant kemarin dan jika sekarang hutangnya bertambah lagi bagaimana coba?
Ya tuhan, kira-kira hutangku pada Dokter ini bisa dihitung tidak ya? hiks jika seperti ini kapan aku bisa melunasi semua hutang itu?
↔↔↔
Terimakasih sudah membaca❤
Nexttt? jangan lupa juga tinggalkan jejak dibawah ini ya!