Al tak pernah mengira pertemuan nya dengan Chelsea, gadis kecil yang duduk di sebelahnya saat di pesawat berbuntut panjang. Gadis kecil itu sepertinya hantu yang terus saja mengikutinya.
Chelsea jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria kaku, dingin dan dewasa. Entahlah daya tarik apa yang dia miliki, yang pasti Chelsea menyukainya.
Pertemuan demi pertemuan tak sengaja terjadi, namun Al justru menuduhnya sengaja membuntuti pria itu, hingga sebuah insiden yang mengharuskan mereka menikah.
Penasaran? ikutin kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Rasya
Caca menoleh kesamping, Al sudah berdiri tegak di sampingnya.
"Kak, dia tidak seperti itu, kami.." Caca menggantung kalimatnya percuma juga menjelaskan nya sekarang.
Dia menoleh ke belakang, Al berjalan kearahnya, dia tersenyum pada Rasya."Kak, kenalkan ini suamiku." tunjuk nya pada Al.
"Gibran, Gibran Al Habsi? Suami mu?" tanya Rasya tak percaya. Dia berulang kali menatap Caca dan juga Al.
Dengan penuh percaya diri Al mendekat, mengulurkan tangannya pada Rasya
"Ya, kenalkan aku Gibran. Apa kabar?"
"Kau!!" Rasya menatap sang adik bergantian dengan pria di depannya.
"Benar ini suamimu?" Ulang Rasya masih menatap tak percaya adiknya. Dia ingin memastikan sekali lagi jika pendengarannya tidak salah.
"Iya, kak. Ini suamiku. Apa kakak mengenalnya?" Gadis itu bertanya dengan polos.
"Cih, kau apakan adikku yang masih polos!" bentak Rasya. Beberapa orang yang ada di dekat mereka sampai menoleh. Namun kembali fokus pada urusan masing-masing.
"Tenang bro, adikmu lah yang mengejar ku." bantah Al tak terima.
"Hu..Hua...hahahha.." tawa Rasya meledak.
"Apa kau pikir aku akan percaya. Adikku masih polos dia tidak pernah pacaran, Apa takut tidak laku, hingga kau melakukan itu pada adikku?" ejek Rasya disela tawanya.
"Tak ku sangka setelah ditinggal menikah oleh Akila, dirimu menjadi begini! Cih, sialnya adikku yang menjadi istrimu."
"Apa maksud kakak?"
Caca sudah tidak sabar mendengar penjelasan kakaknya. Dan apa hubungan suaminya dengan sang kakak ipar.
Al mendengus kesal, "Maaf kamu salah paham. Aku juga terpaksa, andai saja saat itu aku.."
"Kak Al!" panggil Akila. Menghentikan cerita Al, dia ikut menoleh ke sumber suara.
Akila muncul disaat yang tidak tepat. Caca menoleh kearah suaminya minta penjelasan. Ada hubungan apa sang kakak ipar dengan suaminya?
"Sayang," Rasya sengaja menyambut mesra sang istri di depan Al.
"Sayang, kau pastinya tidak akan percaya. Tapi ini nyata sayang," ucap Rasya menatap lembut istrinya sengaja menunjukkan kemesraan di depan Al.
Al mendengus kesal, cih, dasar tak tahu tempat, memangnya cuma dia yang bisa, aku juga bisa.
"Dengar baik-baik, Gibran sekarang adalah adik ipar kita, Suami dari adik kesayangan ku. Dunia memang sangat sempit. Bisa bisanya dia lah yang menjadi suami adik kesayangan ku yang begitu cantik dan anggun." jelas Rasya.
"Ada apa ini kak? kalian sudah saling kenal? kakak ipar juga?" tanya Caca penuh rasa ingin tahu.
"Caca sayang," panggil Rasya dan merangkul adiknya. "Suamimu itu dulu pernah di jodohkan dengan istriku , namun..."
"Aku menolak," potong Al cepat.
"Oh,.. aku kira ada apa." jawab Caca lega.
"Benar kakak ipar?" Caca memastikan dengan bertanya pada Akila.
"Benar, dan bodohnya kami sepakat kabur di acara pernikahan hingga mengorbankan banyak orang, dan aku menyesal." ucap Akila sedih mengingat kesalahannya di masa lalu.
"Tapi aku merasa beruntung sayang, jika kamu tidak kabur kita tidak akan menikah sekarang, dan kau akan menikah dengan es batu itu." ejek Rasya lagi.
Al hanya bisa menahan kekesalannya, tak mungkin dia bertengkar dengan iparnya apalagi disini banyak orang, apa pendapat mertuanya nanti. Bagaimana penilaian mereka tentangnya.
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Rasya pada Al. Kali ini wajahnya terlihat datar dan serius.
Tak menunggu jawaban, pria itu berjalan lebih dulu diikuti oleh adik iparnya dari belakang. Rasya membawa Al ke ruangan kerja papanya.
"Duduklah!" perintah Rasya tak bersahabat.
"Katakan apa tujuanmu sebenarnya?" tanyanya to the point. Ekspresi wajahnya berubah menjadi datar dan kelam. Ada nada tidak suka dari kalimatnya.
"Apa kau belum mendengar kejadian sebenarnya? kami terjebak dan aku tidak bisa mengelak!" jawab Al santai.
"Lantas?"
"Apa maksud mu?" tanya Al lagi.
"Aku tidak bodoh. Aku tahu kau berpacaran dengan Cintya, bagaimana dengan adikku? awas jika sampai kau mempermainkannya!" ancam Rasya tanpa takut.
"Hahahaha....kau mengancam ku?"
"Aku lah orang pertama yang akan menghabisi mu dan pelakor sialan itu, jika sampai itu terjadi." ancam Rasya lagi.
"Sayangnya aku tidak takut! Baguslah jika kau sudah tahu, aku tidak perlu lagi berpura pura di depanmu. Aku harap kau ingat, aku dipaksa!" ucap Al penuh tekanan pada akhir kalimatnya.
"Aku tidak main main, sekali saja aku dengar kau mempermainkan adik kesayangan ku, maka aku sendiri yang akan menghancurkan mu," ucap Al tegas.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan? dan kau tidak bisa ikut campur urusan rumah tanggaku, oh ya.. selamat untuk pernikahan mu. Jika kau ingin bahagia menikah dengan wanita yang kau cintai, begitu juga aku! aku juga ingin menikah dengan gadis yang mencintaiku dan yang ku cintai."
"Kau!!!" Rasya menggeram kesal. Tangannya mengepal erat siap menghajar Al.
Dengan santai Al menepuk pundak Rasya, "Aku tidak bilang aku tidak mencintai istriku, jangan terlalu memikirkan ku, sebaiknya kau pikirkan istrimu, karena dia sedikit bar-bar. Kau harus hati-hati."
Setelah bicara Al pergi meninggalkan Rasya yang masih menggeram kesal.
...****************...
Mereka semua berangkat ke hotel tempat resepsi pernikahan di gelar.
Semua keluarga dan kerabat hadir, begitu juga dengan kolega dan rekan bisnis mereka.
Acaranya berlangsung dengan sangat meriah, semua ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua pengantin yang duduk di singgasana.
Mikayla tampak duduk di dekat Caca. Perutnya yang membuncit membuatnya mudah lelah. Caca dengan senang hati duduk mengobrol bersama nya. Adik iparnya itu selalu hangat menyambutnya, membuat Caca merasa sangat nyaman mengobrol dengannya.
Al juga disana bergabung dengan beberapa orang rekan bisnis nya yang ikut hadir, mengobrol dan berbagi cerita. Tanpa mereka sadari jika dia sudah menjadi bagian dari keluarga besar Baskoro.
"Hai sweety," seseorang datang menghampiri Caca.
Gadis itu menoleh, dia tersenyum lebar dan menyambut uluran tangan James, pria itu langsung mencium tangannya mesra, khas pria di Eropa.
"Hai, kak James!" pekik Caca tak percaya.
"Yes, It's me. You look so pretty honey," James memindai penampilan Caca yang sangat mempesona, cantik dan anggun semuanya begitu pas.
Pria itu tidak menyadari jika kebaya yang di gunakan Caca sama dengan istri tuan Baskoro.
"Oh thank you," jawab Caca malu. James pria yang berterus terang, di puji seperti itu tentu saja Caca senang tapi juga malu.
Al tak sengaja menoleh dan melihat interaksi keduanya, dia menjadi geram melihat istrinya mengobrol bahkan tertawa lepas dengan pria asing.
"Kamu juga di Undang, jika aku tahu pasti kita akan berangkat bersama. Berdua pasti lebih menyenangkan," ucap James
Caca tersenyum, "Rasya adalah kakak ku, James" jawab Caca.
James terkejut mendengar ucapan gadis itu,
"Oh No." matanya hampir keluar saking kagetnya.
"Are you serious?"
Anggukan Caca meyakinkan Al, dia melirik pasangan pengantin di singgasana kemudian tuan dan nyonya Baskoro, James menyadari sesuatu Caca menggunakan pakaian yang sama dengan ibunya, nyonya Baskoro.
"Jika aku tahu sejak dulu, aku pasti sudah melamar mu sayang," godanya lagi.
"Sayangnya aku tidak mau," jawab Caca asal hingga keduanya tertawa.
"Oh ya kak, kenalkan ini tetangga ku tapi sudah ku anggap sebagai kakak ku," Caca mengenalkan Mikayla pada James.
James mengulurkan tangannya, namun Mikayla tidak menyambutnya dia hanya mengatupkan tangannya di dada.
"Sorry, Aku Mikayla." ucapnya tersemyum.
James sedikit salah tingkah namun dia tetap tersenyum.
"Kamu baik baik saja sayang," panggil Haikal yang sudah berada disamping istrinya.
"Is she your wife?" tanya James pada Haikal dengan tatapan tak percaya.
Haikal menoleh, "Hello Mr. James. Nice to meet you. Yes, she is my wife." ucap Haikal bangga dan memeluk istrinya.
"Wow, you are very luckyman, she ia not only beautiful but very pious. You know she refuses to shake my hand."
"Thank you." jawab Haikal.
"Sayang, sebaiknya kita pulang, kamu pasti lelah. Kamu butuh istirahat." lanjut Haikal.
Mikayla memang sudah merasa lelah. Diusia kandungannya yang memasuki bulan terakhir di tambah dia mengandung dua bayi kembar, membuatnya mudah lelah.
"Kak.." panggilnya kearah Caca.
"Aku tidak apa apa, beristirahat lah dan jaga dua jagoan ku." ucap Caca tersemyum lebar.
Haikal dan Mikayla berpamitan pulang. James yang awalnya menjauh kembali mendekati Caca saat dilihatnya gadis itu sendiri.
"Kamu sendirian?" tanya James basa basi. Tampaknya dia mulai berani menunjukkan rasa sukanya pada Caca. Apalagi setelah tahu gadis itu putri dari keluarga Baskoro yang juga rekan bisnisnya. Puteri keluarga kaya yang sepadan dengan dirinya. Di tambah Caca gadis unik, cantik dan yang dia tahu Caca tidak pernah bersama seorang pria.
Al terus menatap interaksi keduanya dari kejauhan. Dia bisa melihat dengan jelas Caca tertawa dan bercanda dengan James.
"Al bukankah itu istrimu? siapa cowok itu? kelihatannya mereka sangat akrab!" tegur Jo yang juga melihat Caca. Hanya keluarga dan Jonatan lah yang tahu jika Caca istrinya Al.
"Itu, temanku. Entah lah mungkin mereka memang saling kenal." jawab Al malas dan memalingkan wajahnya.
"Apa kau tidak cemburu, lihat dia cara memandang istrimu!" tambah Jo memprovokasi Al.
Perasaan nya menjadi tidak nyaman. Dia tidak lagi fokus pada obrolannya dengan Jo dan beberapa rekan bisnisnya.
Al pamit undur diri dan berjalan mendekat dan menyapa James. "Hai, James. Kamu juga hadir?"
"Hai Al. Tentu saja, Rasya adalah rekan Bisnisku. Sangat tidak sopan jika aku tidak datang. Tapi aku sungguh beruntung, akhirnya aku bisa bertemu bidadari disini." lanjutnya.
"Kenalkan ini Chelsea, dia adiknya Rasya."
"Hai Om Gi," Caca menyapa Al. Wajah Al berubah marah. Bisa bisanya dia memanggil ku Om Gi, Didepan James lagi, sial.
"What! Om?" ulang James. seketika tawanya meledak."Hahahaha.." gadis cantik di depan ini memanggil Al Om, James sungguh terhibur.
Sialan, gadis ini membuat James mentertawai ku, awas kamu nanti. batin Al.
"Mengapa kamu tertawa James, dia memang Om ku, lagipula dia lebih tua dariku dan aku harus menghormatinya bukan?" lanjut Caca mengejek.
Wajah Al semakin merah, dia menggeram kesal. Gadis ini benar benar menguji kesabarannya saat ini.
"Aku kenal baik dengannya, dan biasa dia memang suka bercanda." ucap Al yang tiba tiba memeluk Caca. Tangannya dengan lancang menarik hidung Caca hingga memerah.
"Ok James, silahkan nikmati pestanya. Ca, kamu di panggil oleh ibumu, ayo." Al menarik Caca menjauh dari James.
mau tau gimana rasa nya,,sini Aq bisikin ca😅