JUARA 1 LOMBA NOVELTOON "YANG MUDA YANG BERCINTA"
Demi bisa menghindari akhir cerita tragis, Tara - yang kini jiwanya merasuki tubuh antagonis gemuk Elona Locke dalam webtoon "Cerita Hati" - memutuskan untuk mengakhiri pertunangan dengan Louis Vandyke dan pergi dari ibu kota.
Tara alias Elona memilih tinggal di wilayah kekuasaan keluarganya, Kota Armelin. Demi mencegah kebangkrutan Locke, gadis itu memanfaatkan seluruh pengetahuan yang ia miliki dari berbagai buku di dunia modern. Tara mengetahui, bahwa ia bisa mengalihfungsikan lahan bekas galian tambang di kota tersebut, menjadi pertanian tanaman kedelai!
Apakah Tara berhasil membangkitkan keterpurukan Kota Armelin berkat usaha dan kecerdasannya? Lalu, mungkinkah ia menemukan cinta yang baru bagi tokoh Elona Locke setelahnya?
Original writing by @author_ryby
Covert art by @fuheechi_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Kue Cokelat
"Duh, serangga apa sih ini?! Hih!"
Arthur berkata jijik seraya mengusir serangga yang sedang singgah di pundaknya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lainnya sedang memegang dahan pohon besar yang sedang dipijakinya sekarang. Lelaki itu melongok ke arah jendela yang berada di hadapannya, dan ruangan kosong pun terlihat.
"Mana dia?" gumam Arthur, ketika dia melihat sebuah kamar yang hanya ada perabotan tapi penghuninya sedang pergi.
Saat ini, Arthur dengan kenekatannya, menyelinap masuk ke dalam lingkungan kediaman Locke di Armelin. Pemuda itu lalu memanjat pohon besar yang menghadap ke sebuah kamar tidur yang terletak di lantai dua. Langit telah menunjukkan sore menuju malam, namun Arthur tidak peduli, hingga kepuasan hatinya terpenuhi.
Hal ini dilakukan karena lelaki itu sedang gelisah, karena ada yang tidak biasa terjadi hari ini. Tadi sore, ia sama sekali tidak melihat Elona menjalani rutinitas olahraga larinya di tepian danau. Setiap harinya Arthur menunggu-nunggu saat sore hari ketika ia dapat melihat senyum dan tawa Elona bahkan meski hanya 15 menit. Setelah 15 menit berakhir, Arthur harus menahan diri untuk bisa melihat wajah gadis itu lagi di keesokan sorenya.
Tetapi hari ini, lelaki itu sudah menunggu seharian dan malah Elona tidak muncul sama sekali. Arthur gusar dan menjadi tidak sabaran, sesuatu yang sangat jarang dia rasakan sebelumnya. Arthur adalah seorang pemburu, kesabaran adalah kunci utama keberhasilannya dalam memangsa hewan buruan. Tetapi kalau mengenai Elona, ia selalu ingin cepat-cepat dan jadi sering gelisah. Berbeda sekali dengan kebiasaannya selama ini.
Dan inilah dia sekarang si putra duke yang tampan, kaya raya, dan digilai banyak wanita. Dengan memakai tunik sederhana dan penutup kepala dari kain seperti biasanya, ia sedang bertengger di sebuah dahan pohon, berusaha mengintip kamar seorang gadis. Benar-benar tidak ada etikanya sama sekali. Seandainya Duke Ron Eckart tahu mengenai hal ini, ia akan segera memenjarakan Arthur dalam penjara bawah tanah dan menghapusnya dari daftar ahli waris karena telah mencoreng nama baik keluarga.
Tetapi ya, sekali lagi, ini lah Arthur Eckart. Mana mungkin dia peduli dengan semua itu. Semua ini ia lakukan agar kepuasan hatinya terpenuhi, yaitu dengan melihat wajah seseorang yang sudah memenuhi pikirannya belakangan ini.
"Kemana dia?! Bisa tidak sih, tidak membuatku kepikiran sehari saja!" gerutunya sambil terus mengintip. Sebenarnya ia tidak yakin seratus persen kalau kamar yang diintipnya ini adalah milik Elona. Tetapi memang Elona pernah mengatakan kalau pemandangan danau terlihat dari kamarnya, jadi Arthur hanya menebak dengan insting kalau kamar besar ini milik Elona.
Dan yang ditunggu-tunggu pun muncul. Tebakan Arthur benar. Elona datang memasuki kamar tersebut, dengan memakai sebuah gaun malam berwarna putih, yang lebih pas dengan tubuhnya sekarang. Lemak di perut gadis itu mulai tak terlihat lagi, meskipun Arthur tidak peduli dengan semua hal itu. Cukup keberadaan Elona di hadapannya saja sudah membuatnya tidak bisa tenang seharian.
Elona membawa sebuah kue cokelat kecil berbentuk kotak di tangannya. Gadis itu tersenyum senang seraya memandangi kue cokelat tersebut.
"Akhirnya, setelah sekian lama! Kue cokelaaatt!"
Elona tersenyum sangat bahagia. Senyuman yang sangat menyentuh hati seorang pemuda yang tanpa Elona sadari sedang bertengger di depan jendelanya. Arthur menatap lekat-lekat wajah Elona yang bahagia, terutama saat gadis itu melahap gigitan pertama kue cokelat di tangannya dengan sebuah sendok. Rona merah menghiasi wajah lelaki itu bahkan sampai ke telinga, seolah seluruh darah dalam tubuhnya mengalir ke sana.
"Cantik..."
Matahari telah terbenam. Satu hembusan angin datang menerpa, dan sehelai daun terbang ke arah tengkuk Arthur.
"Waahh!" spontan lelaki itu merasa geli dan mengusap-usap leher belakangnya, berusaha menyingkirkan apapun yang singgah di sana. Tetapi yang terjadi malah ia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh dari dahan tempatnya berpijak.
"Art?!!"
Tanpa Arthur sadari, kedua daun jendela di hadapannya telah terbuka, dan gadis yang sedang diintipnya sedari tadi melongok ke arah luar jendela. Tidak bisa memberikan penjelasannya yang masuk akal, Arthur hanya bisa tersenyum malu dan menyapa.
"Hehe... hai."
"Kamu sedang apa?!" tanya Elona, lalu menengok ke arah bawah halaman, memastikan tidak ada prajurit yang melihat. "Ayo kemari, cepat!"
Arthur menatap Elona dengan heran, "Aku? Masuk ke kamarmu?"
Saat ini Elona sedang memakai gaun malam saja, menandakan ia akan tidur setelahnya. Gaun malam tentunya tidak setebal dress biasa, dan hal itulah yang membuat Arthur heran. Bagaimana bisa, seorang gadis yang tidak berpakaian lengkap mengundang seorang lelaki masuk ke dalam kamarnya? Meskipun Elona masih mengenakan pakaiannya, tapi membiarkan lelaki masuk dan melihatnya hanya dengan gaun malam saja cukup bisa memancing kecurigaan.
Namun gadis itu sepertinya tidak cukup peduli. Ia malah semakin mengajak Arthur masuk ke dalam kamarnya.
"Cepat! Kalau sampai ada yang melihatmu seperti itu, kau tidak akan boleh menemuiku lagi selamanya!"
"Eh?!!" Arthur terkejut. Etika tidak lagi menjadi penghalang sekarang. Lebih baik ia melanggar etika untuk sementara ini saja, daripada harus kehilangan kesempatan untuk menemui Elona selamanya.
Dengan panik, Arthur berjalan di atas dahan besar tempatnya duduk sedari tadi, dan dengan cekatan melompat masuk ke dalam ruangan tempat Elona berada.
Ruangan temaram dengan lilin-lilin sebagai pencahayaan menyambut lelaki tersebut. Elona segera menutup kedua daun jendela dengan cepat. Setelahnya, gadis itu menoleh pada Arthur dengan cepat.
"Apa yang kamu lakukan??"
"Aku..." Arthur sebenarnya ingin memberikan alasan. Namun tatapannya tidak dapat lepas dari pemandangan di hadapannya. Gadis yang selalu memenuhi pikirannya belakangan ini sekarang berdiri di depannya, hanya mengenakan gaun malam saja. Otaknya jadi tidak bisa konsentrasi. Ketimbang memberi penjelasan, Arthur malah sedang berusaha keras untuk menahan diri agar tidak memangsa Elona.
Karena dirasa ia sudah tak kuat menahan lagi, Arthur beranjak ke arah tempat tidur. Diambilnya selimut yang terhampar di sana, dan direlungkannya selimut tersebut dari belakang Elona, guna menutupi tubuh gadis itu.
"Eh, kenapa...?" Elona hanya bingung melihat tindakan Arthur. Lelaki itu mendengus kesal.
"Apa begini caramu memperlakukan laki-laki?"
"Apa maksudmu?"
Arthur merasa kesal dalam hati, "Kalau padaku saja Elona bisa seperti ini, apa jangan-jangan dia juga begitu pada laki-laki lain?"
"Jangan mengundang masuk sembarang laki-laki ke dalam kamar, apalagi cuma pakai gaun malam seperti itu!"
"Oh... iya," Elona hanya menurut, meskipun sebenarnya dia tidak cukup mengerti, tapi diiyakannya saja. Karena dalam pemikirannya sebagai Tara, gaun malam yang ia kenakan saat ini masih lebih tebal ketimbang pakaian-pakaian modern di bumi sana.
"Tapi, aku kan tidak mengundang sembarang orang," Elona berkata, lalu menatap mata Arthur. "Aku mengundang kamu, yang aku kenal. Iya kan?"
Untung saja keadaan ruangan ini temaram, hanya ada cahaya lilin-lilin dan sinar rembulan yang masuk melalui jendela. Kalau tidak, Elona akan bisa melihat wajah Arthur memerah seperti kepiting rebus saat ini.
"O-oh... yaa pokoknya, jangan lakukan ini pada laki-laki lain!"
"Oke! Lalu, ada perlu apa kamu kemari?" tanya Elona.
"Err, itu, aku..." Arthur tergagap memberikan alasan. "Soalnya kamu tidak ke danau sore ini, jadi..."
"Kamu mencariku?"
"Tidak!!"
"Lalu?"
"Aku, err..." Arthur kehabisan kata-kata. Biasanya dia selalu punya seribu satu alasan untuk menolak wanita yang berusaha mendekatinya. Berbagai alasan untuk membalas nasihat orangtuanya. Namun sekarang, ia bahkan tidak berkutik di hadapan seorang gadis yang hanya bertanya satu pertanyaan sederhana padanya.
Elona menatap laki-laki di hadapannya itu. Namun ketika gadis itu melihat kalau Arthur tidak dapat menjawab pertanyaannya, ia tidak mengejarnya lagi. Bagi Elona, setiap orang punya alasan tersendiri, dan mungkin saja pemuda di hadapannya itu tidak ingin mengatakan hal itu padanya.
"Kalau kamu tidak punya tempat untuk pergi kemanapun, kemari saja." ucap Elona, seraya mengambil sepiring kue cokelat yang tadi diletakkannya di atas meja.
"Aku boleh kemari...?" tanya Arthur ragu. Elona mengangguk.
"Iya,"
"Kapanpun?"
"Iya, kapan saja boleh, selama aku sedang ada di rumah." Elona memotong kue cokelat tersebut dengan sendoknya, lalu menyodorkannya pada Arthur.
"Kamu sudah makan? Mau kue cokelat? Ini!"
Dengan cepat, Elona menyuapkan kue cokelat di sendoknya langsung masuk ke mulut Arthur tanpa pemuda itu bisa menolaknya. Tetapi meskipun sebenarnya Arthur tidak menyukai makanan manis, ia tidak dapat menolaknya. Jantungnya terlalu sibuk berdegup kencang pada setiap apa yang dilakukan Elona padanya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih.
"Enak kan? Ini buatanku sendiri!" tanya Elona tersenyum senang.
Arthur semakin kehilangan kendali akan seluruh aliran darah dalam tubuhnya.
"Mau lagi? Aaa..."
Elona bersiap menyuapinya sesendok kue cokelat lagi, tapi kemudian Arthur menahan sendok tersebut dan mengambilnya dari tangan gadis itu.
"Cukup! Kalau kamu suapi terus, aku bisa meledak nanti!"
"Ha? Meledak? Maksudnya?"
"Bukan apa-apa!"
Malam itu, Arthur pulang ke kediamannya di kota Rudiyart dengan jantung yang berdegup sangat kencang dan hati yang sangat kacau. Tapi kekacauan itu berhasil membuatnya tersenyum-senyum sendiri sepanjang jalan. Tidak sia-sia ia melakukan kenekatan gila yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya.
*****