Kisah tentang seorang pangeran yang masa lalunya dipenuhi dengan lika-liku kehidupan yang penuh dengan emosi, karena ibundanya yang diperlukan kasar oleh permaisuri ayahandanya. Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Raden Cakara Casugraha tidak tahan dengan perlakuan seperti itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari istana. Namun siapa sangka di luar istana ia menghadapi berbagai masalah. Ayahandanya mendapatkan petunjuk, bahwa anaknya Raden Cakara Casugraha harus masuk Islam untuk mengendalikan amarahnya yang sangat merugi. Sementara ibundanya, ratu Dewi Anindyaswari merasa keberatan. Namun akhirnya Raden Cakara Casugraha masuk Islam karena ingin memperbaiki dirinya.
Hingga kejadian yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun, Yaitunya kematian sang prabu. Dari 7 putra putri yang dimiliki sang prabu, hanya Raden Cakara Casugraha yang pantas menjadi raja
Akan tetapi, ada rahasia yang harus dijaga olehnya. Rahasia yang tidak boleh ia katakan pada siapa saja termasuk ibundanya
bisakah Raden Cakara Casugraha menyimpan rahasia ia hingga akhir hayatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retto fuaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TULUS DAN KESUNGGUHAN
...***...
Halaman Istana Utama.
Mereka semua terdiam mendengarkan apa yang dikatakan ratu Dewi Anindyaswari.
"Saya mohon pada kalian semua." Tatapan matanya begitu sedih. "Tetaplah tenang, jangan sampai kalian mencelakai orang lain." Lanjutnya. "Juga mencelakai diri sendiri, hanya karena informasi yang kita dapatkan."
Ratu Dewi Anindyaswari menjelaskan kepada mereka.
"Apakah kalian masih meragukan Raja kalian?." Suaranya terdengar bergetar. "Apakah kalian tidak memiliki hati nurani?." Begitu juga dengan hatinya. "Sehingga kalian menggunakan kekerasan di atas segalanya?."
Tidak ada jawaban dari mereka, merasa malu atas apa yang telah dikatakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.
"Di dunia ini, ada rahasia yang harus disimpan oleh seorang raja dari siapapun." Ucapnya lagi. "Bahkan dari orang terdekatnya." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari menatap mereka semua.
"Ibunda." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Gusti Ratu." Dalam hati Nyi Ayudiyah Purwati cemas.
"Tidak ada manusia sempurna di dunia ini." Ratu Dewi Anindyaswari kembali menatap mereka. "Apakah kalian telah merasa sempurna? Sehingga kalian menghakimi putra saya?." Hatinya terasa sakit. "Ingin mencelakai anak saya?." Hatinya terasa terluka. "Apakah anak saya? Telah membuat kalian menderita?."
Tidak ada tanggapan apapun dari mereka.
"Saya mohon, jangan gunakan kekerasan di atas segalanya." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba tenang. "Tidak semua masalah, diselesaikan dengan kekerasan."
...***...
Pesantren tempat Putri Agniasari Ariani belajar.
Nila Ayu dan Putri Agniasari Ariani saat itu sedang latihan ringan, keduanya begitu menikmati latihan itu.
Putri Agniasari agar mencoba menyerang dengan beberapa pukulan, tendangan yang cukup kuat, namun Nila Ayu bisa mengatasinya.
"Boleh juga." Ucapnya. "Seorang putri Raja memiliki kemampuan ilmu kadigdayaan." Nila Ayu merasa terkesan, namun kali ini ia balas menyerang.
"Aku hanya ingin membela diri saja." Putri Agniasari Ariani menahan sebuah pukulan yang datang. "Tidak mungkin aku selalu mengharapkan perlindungan dari prajurit." Lanjutnya. "Jika sewaktu-waktu kami berhadapan dengan musuh yang sangat kuat."
"Ya, nimas benar."
Keduanya semakin menikmati latihan itu, seperti dua orang yang sedang menari, namun bukan tarian biasa.
Di saat itu pula, tidak sengaja dilihat oleh sepasang mata yang sangat tertarik akan keanggunan Putri Agniasari Ariani.
"Sepertinya dia murid baru di sini." Dalam hatinya sangat yakin itu. "Kalau begitu? Aku akan menariknya ke dalam hidupku." Dalam hatinya sangat yakin, akan mendapatkan Putri Agniasari Ariani dengan kekuasaan yang ia miliki.
...***...
Telaga Warna Bidadari.
Semara Layana dan Mayang Sari sedikit kewalahan menghadapi Putri Gempita Bhadrika.
Serangan demi serangan ia lancarkan, menghalangi kekuatan tenaga dalam yang datang padanya. Saat itu juga Nini Kabut Bidadari memperhatikan apa yang mereka lakukan.
"Kekuatannya sudah mulai berkembang." Dalam hatinya. "Hanya saja." Hatinya terasa sakit mengingat apa yang telah terjadi. "Kekuatan seperti apa? Yang dimiliki oleh pemuda bertopeng itu?." Hatinya terasa sakit. "Sehingga dia dapat memukul mundur kami semua, dan bahkan dia." Kini hatinya telah diisi oleh Perasaan dendam yang sangat membara. "Aku harus memperdalam ilmu kanuragan ku." Itulah tekad yang ada di hatinya.
...***...
Halaman Istana kerajaan Suka Damai.
Mereka semua memikirkan apa yang dikatakan oleh sang Prabu. Benar yang dikatakan sang Prabu, selama beliau memerintah, bahkan sehari beliau memerintah, ia selalu memperhatikan rakyatnya. Menanyakan kekurangan rakyatnya, apa saja yang dibutuhkan oleh rakyatnya.
Mereka semua menyadarinya, memohon ampun pada sang Prabu, bersujud dihadapan rajanya.
"Kalian semua berdirilah." Sang Prabu tampak panik. "Hanya kepada Allah SWT yang patut kalian sembah, Allah maha besar!." Tegas sang Prabu. "Kebesarannya tidak ada yang bisa mengukurnya."
Masalah yang dihadapi oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akhirnya selesai dengan damai.
Namun Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya yang lainnya tidak terima. Mereka tidak menyangka bahwa adiknya mendapatkan kepercayaan lagi dimata rakyatnya.
"Sia-sia saja yang kita lakukan." Raden Ganendra Garjitha mengutuk dalam hatinya, ia sudah kehilangan ide saat mereka semua pergi meninggalkan istana. "Lain kali, akan aku lakukan dengan cara yang berbeda." Hatinya bergemuruh dipenuhi kedengkian yang luar biasa.
"Kenapa malah jadi seperti ini?." Raden Gentala Giandra tidak percaya mereka menurut begitu saja pada rajanya?. "Tidak seperti yang diharapkan!." Ia sangat marah karena gagal.
"Aku harus melakukan cara lain." Putri Andhini Andita masih penasaran ingin membongkar identitas Jaya Satria. "Tidak satu cara untuk menjatuhkan mu cakara casugraha!." Dalam hatinya juga sangat kesal.
Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya yang lainnya terpaksa meninggalkan tempat itu juga dari pada dicurigai.
"Ibunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati ibundanya. "Terima kasih, karena telah membantu nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memeluk ibundanya.
"Sama-sama nak, ibunda tadi sangat mencemaskan keadaanmu putraku." Ratu Dewi Anindyaswari mengusap punggung putranya dengan sayang.
"Kalau begitu kita kembali ke dalam istana."
"Mari."
Pedanda dan bawahannya termasuk senopati kembali ke dalam istana, termasuk Syekh Asmawan Mulia dan istrinya. Mereka cukup terkesan dengan apa yang telah dilakukan oleh Ratu Dewi Anindyaswari dalam membantu anaknya menyelesaikan masalah yang terjadi.
"Mari masuk ibunda." Prabu Asmalaraya Arya mempersilahkan ibunda masuk.
"Ibunda akan masuk bersama kalian nak." Ratu Dewi Anindyaswari menatap keduanya. Membuat keduanya sedikit bingung, apa maksud ucapan dari Ratu Dewi Anindyaswari?.
"Tapi sebelum itu, mari kita ke ruang pengobatan." Tatapan matanya sangat dalam. "Biarkan ibunda obati luka ditangan kalian nak."
Rasanya Ratu Dewi Anindyaswari tidak dapat menyembunyikan kesedihannya, ia menarik pelan tangan kiri Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Entah mengapa keduanya gugup dengan apa yang dilakukan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.
"Apakah ibunda menyadarinya?." Perasaan was-was menghampirinya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit khawatir.
"Ya Allah, kuatkan hati hamba." Perasan gugup karena mendapatkan perhatian seorang ibu membuat Jaya Satria merasa canggung. "Tidak mungkin ibunda menyadarinya."
"Ibunda tidak tahu apa yang terjadi?." Hatinya terasa pedih. "Tapi hati ibunda mengatakan, ingin melindungi kalian berdua nak." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk keduanya, sehingga menangis adalah ungkapan perasaannya saat ini.
"Ibunda." Hati sang Prabu terasa sakit. "Pada saatnya, nanti nanda akan menceritakannya pada ibunda." Sang Prabu berusaha menekan perasaan sesak di hati. "Percayalah dengan apa yang nanda ucapkan." Bisik prabu Asmalaraya Arya Ardhana membuat Ratu Dewi Anindyaswari semakin menangis.
Keduanya memeluk erat Ratu Dewi Anindyaswari dengan penuh kasih sayang. Meskipun ia tidak mengerti apa yang terjadi, tapi ia percaya bahwa putranya melakukan yang terbaik, sama seperti mendiang suaminya dulu.
...***...
Setelah seminggu berada di telaga warna bidadari, Putri Gempita Bhadrika kembali ke istana. Ia ingin memastikan bahwa ayahandanya sudah baikan. Ia memeriksa kamar, namun ia tidak menemukan ayahandanya?.
"Ayahanda?."
Ia memeriksa istana dan mencari keberadaan ayahandanya. Namun saat di belakang Istana ia melihat ayahandanya sedang duduk?.
"Ayahanda!." Ia tidak percaya jika ayahandanya berada di sini?.
"Putriku?! Kau sudah kembali." Senyuman prabu Wajendra Bhadrika sangat sumringah, melihat putri yang ia cintai kembali dari luar?.
"Ayahanda?! Aku sangat merindukan ayahanda." Rasa rindu itu tidak bisa ia tahan lagi, dengan eratnya ia memeluk ayahandanya.
"Kau ke mana saja putriku? Ayahanda juga merindukanmu." Begitu ia melepaskan pelukannya, ia bertanya kepada putrinya.
"Maafkan aku ayahanda." Ucapnya. "Aku pergi keluar istana." Lanjutnya. "Untuk menghilangkan kegelisahanku." Raut wajahnya tampak sedih. "Karena ayahanda belum juga bangun."
Mereka duduk di kuris taman istana, sambil mengobrol sebagai ayah dan anak.
"Terima kasih, kau telah menyembuhkan ayahanda." Ucapnya dengan tatapan penuh kebanggaan. "Menurut tabib istana, kau lah yang mencari obatnya." Lanjutnya. "Terima kasih sekali lagi putriku."
"Tentu saja ayahanda." Balasnya. "Aku akan melakukan apa saja, demi ayahanda Prabu."
"Beruntung sekali, memiliki putri yang hebat seperti kau." Ungkapnya.
"Tentu saja ayahanda." Balasnya penuh kebanggaan.
"Lantas? Apa yang terjadi?." Ucap Prabu Wajendra Bhadrika. "Saat kau melakukan perjalanan ke sana?."
"Saat aku mengambil air telaga warna bidadari." Jawabnya. "Aku bertemu dengan seorang wanita." Lanjutnya. "Ia bernama nini kabut bidadari." Ia menatap ayahandanya. "Apakah ayahanda kenal padanya?."
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita saat ini berada di taman istana. Ia duduk di bawah pohon rindang yang sekitarnya dipagari bunga-bunga cantik. Di tengahnya ada kursi dan meja yang terbuat dari bata?.
Suasana hatinya tidak nyaman, setelah kegagalannya dan juga saudaranya yang lainnya membuat perasaannya gusar.
"Tidak perlu cemberut seperti itu, Gusti Putri."
Deg!.
Tiba-tiba suara seseorang menyapa dirinya. Ia sedikit terkejut, dan mencari sumber suara itu.
Namun ia lebih terkejut lagi, ternyata dia adalah Jaya Satria yang sedang duduk di rerumputan. Menyandarkan tubuhnya ke bunga-bunga yang tingginya sebatas pinggang orang dewasa. Jadi jika dilihat dari jauh? Hanya Putri Andhini Andita saja yang duduk di sana, karena mereka tidak melihat keberadaan Jaya Satria.
"Tidak baik seorang putri Raja merenung jauh." Ucapnya. "Nanti cepat tumbuh kerutan di wajahnya."
Meskipun sebagian wajah itu tertutup oleh topeng, namun masih bisa melihat senyumannya.
"Kau?! Untuk apa kau kemari?." Rasa kesal menyelimuti hatinya.
"Bukankah kau ingin melihatku dari jarak dekat?." Balasnya santai. "Bukankah rasa penasaranmu? Membuatmu dan saudara-saudaramu yang lainnya?." Lanjutnya. "Menyebarkan fitnah! Tentang Prabu asmalaraya arya ardhana?." Ucapan itu sangat tepat mengenai apa yang terjadi.
"Apa maksudmu?!." Balasnya. "Kau mencoba menuduhku?!." Hatinya bergejolak seketika. "Berbuat jahat pada rayi Prabu?!." Bentaknya dengan suara keras.
"Hamba tidak menuduh Gusti Putri." Respon Jaya Satria. "Hanya berkata yang sebenarnya." Kembali ia tersenyum ramah. "Bahwa kau berkali-kali mengintip ruang pribadi Raja." Lanjutnya. "Sehingga rasa penasaran yang timbul dihatimu." Jaya Satria menatap tajam ke arah Putri Andhini Andita.
"Kurang ajar!." Umpat Putri Andhini Andita dalam hati. "Dia mengetahui apa yang aku lakukan?."
"Setelah itu, rasa penasaran itu telah berganti dengan kebencian." Ucap Jaya Satria lagi. "Yang membuatmu ingin menjatuhkan adikmu sendiri." Jaya Satria ingin membuat Putri Andhini Andita mengakui perbuatannya. "Apakah hamba salah? Katakan."
"Diam!." Bentaknya. "Tutup mulut kurang ajarmu itu!." Ia bangkit dari duduknya. Ia tidak akan membuka rahasianya, ia tidak akan mengatakannya.
"Sama halnya dengan Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana." Jaya Satria terkekeh kecil. "Beliau memiliki rahasia yang seharusnya disimpan, tapi Gusti malah berusaha mengoreknya?." Namun kali ini tatapan matanya sangat tajam. "Sungguh tindakan lancang! Terhadap seorang Raja." Jaya Satria memancing kemarahan putri Andhini Andita. "Kau akan mendapatkan hukuman yang berat!." Lanjutnya. "Karena merusak kepercayaan Prabu asmalaraya arya ardhana! Di hadapan rakyat!."
"Bedebah!." Umpatnya keras. "Kau mencoba mengancam aku?." Putri Andhini Andita marah, ia mendekati Jaya Satria. Ia hendak memukul Jaya Satria, namun ia mendengar suara kakaknya Raden Hadyan Hastanta.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana rayi?." Ucapnya heran. "Kepada siapa kau marah-marah?." Raden Hadyan Hastanta merasa aneh dengan tingkah laku adiknya.
"Aku-." Saat ia melihat ke arah bawah, ia tidak lagi melihat keberadaan Jaya Satria.
"Kurang ajar! Kapan dia pergi?." Dalam hatinya semakin bergejolak. "Cepat sekali dia menghilang?." Matanya tidak lagi melihat sosok itu.
"Ada apa rayi andhini andita?."
"Ah! Tidak raka." Responnya. "Aku tadi sedang kesal, karena rencana kita gagal semua." Keluhnya mencoba mencari alasan mengapa ia terlihat marah.
"Aku juga sedang kesal, bagaimana mungkin rencana kita gagal?." Raden Hadyan Hastanta juga merasakannya.
"Sepertinya kita harus lebih berhati-hati lagi raka."
"Ya, kau benar rayi." Balasnya. "Kita tidak boleh lengah."
Namun siapa sangka percakapan itu didengar oleh Jaya Satria, yang masih berada di sekitar mereka. Apakah Jaya Satria akan mengatakannya pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tentang percakapan itu?. Simak terus cerita ya.
...***...
Istana kerajaan Kegelapan.
"Nini kabut bidadari?." Prabu Wajendra Bhadrika nampak berpikir, ia pernah mendengar nama itu. "Oh ya?." Ucap sang Prabu. "Dia adalah seorang pendekar dengan jurus kabut beracun yang mematikan."
"Ayahanda mengenalnya?." Rasa penasaran itu muncul begitu saja.
"Dulu memang wanita itu adalah abdi ayahanda." Jawab Prabu Wajendra Bhadrika. "Tapi dia pergi meninggalkan istana ini, karena dia merasa bosan." Lanjut sang Prabu. "Itulah alasan, kenapa ia meninggalkan istana ini."
"Sama persis yang dia ucapkan padaku." Putri Gempita Bhadrika mulai percaya.
"Lalu bagaimana dengan keadaannya?." Prabu Wajendra Bhadrika kembali duduk dengan tenang. "Sudah lama sekali ayahanda tidak mendengar kabarnya."
"Keadaannya baik-baik saja ayahanda." Jawabnya. "Aku senang berlatih dengan orang cerdas seperti nini kabut bidadari." Lanjutnya. "Dia memang sangat luar biasa hebatnya ayahanda."
"Ya, dia menang sangat luar biasa dari dahulu." Balasnya. "Itulah kenapa? Aku ingin mengajaknya bergabung denganku."
"Tapi ayahanda!." Raut wajah itu berubah lagi.
"Ada apa putriku?." Respon sang Prabu. "Apa yang terjadi selama ayahanda tertidur?." Prabu Wajendra Bhadrika ingin mengetahuinya. "Apakah terjadi sesuatu padanya?." Entah kenapa perasaanya tidak enak sama sekali.
"Aku mendapatkan kabar." Jawabnya. "Bahwa Prabu Kawiswara Arya Ragnala telah meninggal, setelah bertarung dengan ayahanda."
"Benarkah?." Prabu Wajendra Bhadrika spontan berdiri. "Benarkah yang kau katakan itu putriku."
"Benar ayahanda." Jawabnya. "Anak buahnya nini kabut bidadari yang mengatakan itu."
"Jadi?." Senyumannya mengembang begitu saja. "Itu artinya? Istana kerajaan suka damai dalam keadaan kosong?." Hatinya merasa bangga?. Dapat mengalahkan raja agung itu?.
"Tidak ayahanda!." Balasnya cepat. "Raja baru kerjaan kerajaan suka damai sekarang." Lanjutnya. "Bernama Prabu asmalaraya arya ardhana." Jelasnya. "Dia adalah putra bungsunya dari Prabu kawiswara arya ragnala, dia yang menggantikannya."
"Raja baru kah?." Ia mengepalkan kuat tangannya. Hatinya telah dipenuhi oleh rasa geram yang membuncah. "Aku tidak menduga." Ucapnya. "Mereka menemukan pengganti Raja baru secepat itu?." Prabu Wajendra Bhadrika malah heran. "Aku pikir aku akan berhasil menaklukkan kerajaan suka damai dengan sempurna." Ungkapnya dengan kecewa. "Tapi siapa sangka? Masih ada yang bisa menjadi Raja?." Sang Prabu menarik nafas pelan. "Jadi singgasana itu? Menerima salah satu anak dari raja busuk itu?."
"Apakah ayahanda takut padanya?." Putri Gempita Bhadrika seakan-akan sedang menguji ayahandanya.
"Tidak mungkin." Responnya. "Aku takut pada anak kemarin sore." Senyumannya mengembang begitu saja. "Ia hanyalah anak ingusan." Ucapnya sambil mendengus kesal. "Itu akan mudah bagiku, untuk mengambil kerajaan itu darinya." Sang Prabu terkekeh kecil. "Hanya sekali sentil saja? Sudah tumbang dia, hahaha!."
"Tidak semudah itu ayahanda." Putrinya langsung membantah anggapan ayahandanya.
"Apa maksudmu, putriku?." Raut wajah itu mengernyit heran.
"Saat aku, nini kabut bidadari dan anak buahnya." Jawabnya. "Mencoba untuk membuat kekacauan di sana." Lanjutnya. "Sembari menunggu ayahanda sembuh." Raut wajahnya tampak sedih. "Kami bertarung dengan salah satu bawahannya, tapi kami tidak mengetahui siapa dia?." Ungkapnya.
"Tidak mengetahuinya?." Raut wajahnya terlihat aneh, merasa kebingungan. "Kenapa?."
"Dia menggunakan topeng penutup wajah." Jawabnya. "Ilmu Kanuragan sangat tinggi." Ia masih ingat itu. "Dia menggunakan jurus petir penutup aliran darah." Ia masih merasakan betapa ngerinya jurus itu.
"Apa?! Jurus petir penutup aliran darah?." Respon Prabu Wajendra Bhadrika. "Kau terkena jurus berbahaya itu putriku?."
"Ia ayahanda." Jawabnya. "Aku memang terkena jurus itu." Ia tidak berbohong sama sekali. "Aku kira aku akan mati, tubuhku mati rasa." Ungkapnya. "Aku tidak dapat bergerak karena pengaruh jurus itu." Lanjutnya. "Tapi, nini kabut bidadari, yang telah menyelamatkan aku."
"Syukurlah kalau begitu." Prabu Wajendra Bhadrika merasa lega. "Jurus itu memang jurus yang mematikan." Tatapan mata sang Prabu terlihat jauh. "Jurus itu, milik pendekar golongan hitam." Ingatan sang Prabu kembali ke masa lalu. "Bagaimana mungkin? Bawahan Raja baru itu? Memiliki jurus itu?." Rasanya tidak percaya, hingga terbawa emosi.
"Bukan hanya jurus itu saja ayahanda." Ucapnya. "Konon menurut nini kabut bidadari." Lanjutnya. "Kekasihnya, aki dharma seta juga tewas, ditangan orang itu." Ia juga terbawa amarah. "Dengan jurus cakar naga cakar petir."
Prabu Wajendra Bhadrika melotot tidak percaya. "Aki dharma seta?." Hatinya tidak karuan. "Yang terkenal dengan jurus pukulan telapak tangan dewa kematian?." Hatinya terasa bergemuruh. "Terbunuh ditangan orang itu?." Matanya menatap lekat anaknya. "Ini benar-benar mustahil."
"Tapi itulah yang terjadi ayahanda." Balasnya. "Kita harus memikirkan matang-matang, jika ingin menyerang raja baru itu."
"Ini adalah musibah." Dalam hatinya mengutuk orang yang telah membunuh Ki Dharma Seta. "Tapi aku tidak akan diam saja." Sang Prabu sedang memikirkan sesuatu. "Kerajaan itu tetap akan aku kuasai." Ya, tekadnya dari awal sudah bulat, bahwa ia tidak akan merubah keinginannya.
"Kalau begitu kita akan menghubungi raja-raja jin." Ucap Prabu Wajendra Bhadrika. "Serta raja-raja kegelapan lainnya untuk bergabung dengan kita, untuk menyerang kerajaan suka damai."
Ya, itulah satu-satunya cara yang terpikirkan saat ini. Suasana hatinya sedang kacau saat ini. Apakah ia bisa menghadapi raja baru dan pengikutnya itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Pesantren kerajaan Daun Bidara.
"Terima kasih telah datang ke sini Gusti Patih." Ia memberi hormat. "Maaf jika kami menyambut kedatangan Gusti Patih dengan seadanya saja."
"Tidak apa Syekh guru." Balasnya. "Lagi pula kedatangan saya ke sini." Lanjutnya. "Hanya untuk memastikan santri baru itu."
"Jadi?." Responnya. "Surat yang kami berikan? Telah sampai ke tangan Gusti Prabu dharma tungga suara?."
"Benar sekali Syekh guru." Ia tersenyum kecil. "Gusti Prabu cukup terkejut." Lanjutnya. "Karena tidak biasanya, ada seorang putri bangsawan." Ungkapnya. "Yang mau belajar ilmu agama Islam, bergaul dengan rakyat biasa." Patih Gundala Prajawarna juga merasa heran. "Bahkan kami pun terkejut." Ia menarik nafas pelan. "Karena tuan putri itu, berasal dari negeri yang jauh dari sini."
"Itu sangat benar." Balasnya. "Nimas agniasari ariani berasal dari kerajaan suka damai."
"Jauh sekali." Patih Gundala Prajawarna heran.
"Konon, katanya mereka semua memeluk agama Hindu-Budha." Dari raut wajahnya terlihat sangat puas, bagaimana perasaan penasaran itu. "Entah hidayah dari mana datang padanya? Sehingga ia mau belajar agama Islam di pesantren kita ini."
"Wallahu 'alam." Responnya. "Hanya Allah yang mengetahui segala, apa yang terjadi pada umatnya?."
"Namun, menurut keterangan dari nini dewi cantika." Ucapnya. "Ia masuk Islam? Karena tertarik melihat adiknya." Lanjutnya. "Adiknya seorang Raja muda yang sangat taat beragama."
"Adiknya seorang Raja?!."
"Ya." Responnya. "Adiknya yang merupakan seorang Raja." Lanjutnya. "Masuk agama Islam setelah melakukan pengembaraan."
"Jadi?." Ucapnya heran. "Sekarang kerajaan suka damai?." Lanjutnya. "Dipimpin oleh seorang raja muda? Yang merupakan seorang mualaf?."
"Seperti itulah menurut cerita dari nini dewi cantika."
"Kalau begitu?." Responnya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." Patih Gundala Prajawarna menghela nafas lega. "Kita tidak perlu cemas, jika ia adalah mata-mata dari kerajaan lain."
"Ya, hamba rasa benar Gusti."
Mereka hanya waspada, jika ada yang ingin berbuat tidak baik terhadap kerajaan Daun Bidara.
...***...
Masih di kawasan pesantren.
"Sepertinya kalian sangat lihai sekali." Ucapnya. "Memainkan beberapa jurus yang rumit."
"Raden, hormat hamba Raden."
Nila Ayu langsung menghentikan apa yang ia lakukan.
"Hormat hamba Raden." Putri Agniasari Ariani juga memberi kesempatan.
"Tidak perlu merendah seperti itu nimas agniasari ariani." Raden Hidayat Lasmana tersenyum ramah. "Nimas adalah seorang putri Raja." Lanjutnya. "Tidak perlu menaruh hormat padaku."
"Jadi? Dia telah mengetahui siapa aku?." Dalam hati Putri Agniasari Ariani tidak menduga itu.
"Ini sangat luar biasa sekali." Ucapnya. "Jarang sekali aku melihat seorang putri raja." Matanya menatap ke arah Putri Agniasari Ariani, ada bentuk ketertarikan di hatinya. "Yang mau belajar ilmu agama Islam, dan bahkan memiliki kepandaian." Ucapnya dengan penuh sanjungan.
"Saya hanya belajar." Balasnya. "Dan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
"Itulah letak luar biasanya nimas, sebab?." Responnya. "Tidak semua dari Putri raja, yang mau bergaul dengan rakyat biasa." Kali ini matanya melihat ke arah Nila Ayu. "Bahkan kedua saudara perempuan ku saja?." Ungkapnya. "Mereka tidak mau belajar ilmu agama Islam di sini." Lanjutnya. "Karena mereka merasa malu, jika berdekatan dengan rakyat biasa."
"Kegh!." Dalam hati Nila Ayu sangat kesal. "Jika saja kau bukan seorang putra Raja? Sudah aku hajar kau!." Dalam hatinya hanya bisa menahan perasaan itu.
"Dia ini? Sangat keterlaluan sekali dalam berucap." Dalam hati Putri Agniasari Ariani jengkel mendengarnya, dan bahkan melihat perubahan raut wajah Nila Ayu sahabatnya.
"Maaf saja Raden." Ucapnya dengan senyuman kecil. "Wanita yang hebat, adalah mereka yang mau belajar dengan siapa saja." Putri Agniasari Ariani mencoba merangkai kata-kata yang tepat. "Entah itu dari kalangan bangsawan? Atau dari kalangan biasa?." Ia melihat ke arah Nila Ayu. "Jika ia memiliki keinginan belajar yang kuat? Serta hati yang bersih?." Lanjutnya. "Maka ia tidak akan melihat orang lain dalam keadaan apapun." Kali ini ia melihat ke arah Raden Hidayat Lasmana. "Bahkan dewi padi? Yang merupakan dewi khayangan pun?." Jelasnya. "Ia turun ke bumi untuk memberikan kehidupan layak pada rakyat biasa." Lanjutannya. "Ia tidak malu-malu belajar pada rakyat biasa." Kembali ia tersenyum kecil. "Mengenai apa saja yang pantas ia lakukan? Demi membuat rakyat bahagia." Putri Agniasari Ariani sangat ingat dengan kisah hang diceritakan ayahandanya. "Apakah menurut Raden?." Kembali ia tersenyum kecil. "Seseorang yang memeluk agama Islam? Tidak ada toleransi pada sesamanya?." Senyumannya begitu manis, dan ramah. Namun tidak dengan ucapannya yang menohok perasaan suasana hati yang mendengarkan ucapan itu.
Deg!.
Raden Hidayat Lasmana dan Nila Ayu sangat terkejut mendengarnya, tidak menduga Putri Agniasari Ariani akan berkata seperti itu untuk sebuah perumpamaan?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya halaman selanjutnya ya.
...***...
Semoga crta terbaru bagus ya..