Vania Maharani terpaksa memutuskan jalinan cintanya dengan Leon Mahardika,kekasih masa SMA nya karena desakan dari Nyonya Laras, mamanya Leon. Keadaan lah yang membuat Vania terpaksa menyetujui kemauan Nyonya Laras dan menjalankan rencana yang membuat Leon sangat membenci Vania.
Hingga 7 tahun berlalu, mereka kembali bertemu namun dengan status yang berbeda. Leon sudah menikah dengan Ziva yang tak lain sahabatnya sejak kecil sekaligus dialah orang yang memberikan ide gila pada Nyonya Laras.
Perusahaan tempat Vania bekerja bangkrut, dan di ambil alih oleh perusahaan Leon. Dan di sanalah penderitaan Vania di mulai.
Apa yang terjadi dalam kehidupan Vania hingga membuatnya mau menjadi istri siri Leon?
Simak dan ikuti ceritanya.
Jangan lupa dukung Author dengan cara
Like, Coment, Vote, Favorite dan kasih hadiah buat author ya.
Kamsyahamida 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cintya Devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naik Jabatan
Dari pada galau sendiri, Vania memutuskan untuk tetap berjalan mengekor di belakang Bu Leni dan juga diam seribu bahasa. Sesaat kemudian, mereka pun tiba di depan ruangan dan mulai memasuki ruangan Bu Agnes, kepala HRD.
"Selamat pagi Bu Agnes. Ini Vanianya sudah masuk. Katanya ada yang ingin Ibu sampaikan pada Vania," ucap Bu Leni pada Bu Agnes.
"Ayo duduk dulu Vania, Bu Leni," titah Bu Agnes.
Vania pun mengangguk. Rasa di hatinya seperti permen nano-nano. Asam, manis, gurih, berkecamuk menjadi satu. Dengan perasaan ragu, Vania lalu duduk di tempat duduk yang berada tepat di depan Bu Agnes.
"Ada apa Bu Agnes menyuruh saya kemari? Apa karena ijin saya kemarin?" desak Vania.
Bu Agnes dan Bu Leni sama-sama tertawa mendengar suara nerveous yang sangat terasa keluar dari mulut Vania.
"Bukan soal itu Van. Mendingan saya langsung pada intinya saja ya," jelas Bu Agnes.
"Jadi begini. Berdasarkan pertimbangan saya, Bu Leni dan Pak Leon, saya ingin mengangkat kamu menjadi karyawan divisi keuangan. Lagi pula, kamu kan sudah lama bekerja di sini. Dan Bu Leni juga sering memuji kinerja kamu. Meski pun kamu sudah senior, tapi kamu selalu memberi contoh yang baik untuk junior kamu. Maka itulah alasan kami menaikan jabatan kamu. Saya juga melihat kembali nilai ijasah kamu yang nilainya terbilang hampir sempurna, kesetian kamu pada perusahaan, juga menambah nilai plus dari kami untuk kamu. Oleh sebab itu, perusahaan memutuskan untuk mengangkat kamu menjadi karyawan di bagian keuangan. Mulai besok, kamu sudah tidak memakai seragam ob lagi ya."
Deg...
Mata Vania seakan mau copot mendengar penjelasan Bu Agnes. Vania sangat yakin, di balik ini semua ada campur tangan Leon di dalamnya.
Vania yang enggan menerima kenaikan jabatan ini, langsung beranjak dari kursinya sambil membungkukan setengah badan ke arah Bu Agnes dan Bu Leni.
"Maafkan saya Bu, tapi saya tidak mau menerima kenaikan jabatan ini. Masih banyak karyawan lain yang lebih berdedikasi dengan perusahaan ini. Sekali lagi maafkan saya ya Bu," jelas Vania.
"Tapi Vania, ini adalah kesempatan kamu di dunia karir," jawab Bu Leni sambil terus berusaha meyakinkan Vania.
"Maaf Bu Leni, maaf banget saya gak bisa nerima ini. Kira-kira saya sudah boleh melanjutkan pekerjaan saya kembali?
"Hmm, silakan Vania. Tapi jika kamu berubah pikiran, kamu bisa hubungi saya ya," pesan Bu Agnes yang di jawab anggukan kepala oleh Vania.
Sambil menggerutu kesal, Vania mempercepat langkahnya dan hendak menemui Leon di ruangannya. Sayang seribu sayang, karena terlalu marah dan kesal, Vania tidak memperhatikan jalan dan menabrak orang yang juga hendak masuk ke dalam ruangan Leon.
"Auuu, Shhiittt...," celetuk Ziva.
"Maaf Bu, maaf. Saya gak sengaja."
Glek...
Ziva membulatkan kedua matanya, melihat sesosok wanita yang amat dia benci, wanita yang selalu di sebut Leon saat mengigau ketika tidur.
"Vania, kamu? Jadi kamu kerja di perusahaan suamiku? Apa kamu juga tahu jika Leon adalah bos di sini?" seri Ziva dengan nada yang meninggi.
"Iya aku tahu, tapi kamu gak perlu khawatir. Aku dan Leon..."
"Stop!! Jangan bicara lagi. Aku minta secepatnya kamu segera mengundurkan diri. Atau aku akan bilang sama Mama Laras. Kamu masih ingat bukan, soal perjanjian yang kamu tanda tangani dulu?" ucap Ziva sinis.
Vania menghela nafasnya berat. Jelas dia masih ingat, apa isi dalam perjanjian yang Ia tanda tangani dulu beserta konsekuensinya.
"Iya aku ingat Ziv. Kamu gak perlu menyuruhku untuk resign, karena sehabis gajian bulan ini aku akan keluar dari pekerjaanku."
"Bagus deh kalau gitu. Apa kamu juga tahu jika aku sudah menjadi istri Leon?"
"Iya Ziv, aku tahu."
"Jika kamu sudah tahu, aku minta kamu jauhi Leon dan cepat pergi dari kehidupannya. Perlu aku ingatkan kembali sama kamu! Aku ini masa depan Leon dan kamu hanya masa lalunya. Leon sama sekali sudah melupakan kamu. Jadi pergi sejauh mungkin dari Aku dan Leon!! Kamu paham?" gertak Ziva.
"Iya aku juga paham. Ya sudah, aku permisi ya Ziv. Aku mau melanjutkan pekerjaanku."
"Hmm. Aku pengen kamu buktikan semua omonganmu kepadaku tadi."
"Iya Ziva," jawab Vania. Ia segera membalikkan badannya dan mengurungkan niatnya untuk menemui Leon.
Dari jarak yang agak jauh, Pras melihat ada obrolan serius antara Vania dan Ziva. Pras pun memutuskan untuk berjalan mendekat hingga akhirnya ia mendengarkan sedikit pembicaraan antara dua wanita tadi.
"Perjanjian kontrak dan isi perjanjian? Ini maksudnya apa ya? Lebih baik aku cari tahu semuanya. Apa ada yang di sembunyikan Ziva dari Leon selama ini?"
kayak perhatian Morgan pada istri orang yang author anggap hal benar
mudah mudahan author merasakan diposisi leon didunia nyata, amin
ternyata sudah ada yang ngantri lagi untuk nyakiti vania🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️