Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Skenario
Mawar terkekeh pelan, menyilangkan kakinya dengan anggun. “Skenario yang rapi sekali, Pak Heru. Tapi maaf, aku tidak mau cuma sekadar diakui sebagai ‘pengusaha yang sedang berkembang'.”
“Maksudmu apa, Mawar?!” bentak Bagas, tak sabar. “Ayahku sudah berbaik hati menyusun jalan keluar untukmu. Kamu masih mau nuntut apa lagi?"
“Berbaik hati, katamu?” Mawar menatap Bagas tajam, matanya berkilat penuh intimidasi. “Siapa yang butuh kebaikan hati kalian? Kalian butuh aku agar nama besar Utama Group tidak hancur di media, kan? Jadi jangan berakting seolah kalian penolong di sini!”
“Jaga mulutmu!” geram Bagas, mengepalkan tangannya di atas paha kuat-kuat.
“Cukup, Bagas,” selak Heru, mengangkat tangan untuk menenangkan putranya. Ia lalu menatap Mawar secara mendalam. “Katakan apa yang kamu mau, Mawar.”
Mawar tersenyum puas, menikmati posisi tawarnya yang kini berada di atas angin. “Sederhana. Sebelum aku menginjakkan kaki di rumah keluarga Utama untuk bertemu Bu Risma, aku mau kesepakatan finansial yang jelas.”
“Kamu sudah dapat uang miliaran dari aku!” cecar Bagas, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah. “Rumah ini, modal bisnismu, semua dariku! Mau minta apa lagi, kamu?”
“Uang yang kemarin itu pembayaran untuk rasa sakit hatiku selama ini, Bagas,” balas Mawar santai, membalas tatapan murka pria itu tanpa gentar. “Sekarang beda lagi. Kalau aku harus berpura-pura jadi menantu idaman di depan Bu Risma, aku butuh uang yang lebih banyak. Berikan aku aset!”
“Aset apa?” tanya Heru, alisnya bertaut rapat namun nada bicaranya tetap tertata.
“Tiga puluh persen saham atas nama pribadi di anak perusahaan Utama Group, plus satu unit penthouse di pusat kota atas namaku sebelum akad nikah dilaksanakan,” tuntut Mawar tanpa ragu sedikit pun. “Aku tidak mau menikah hanya membawa perut buncit tanpa jaminan posisi dan status yang kuat di keluarga kalian.”
“Kamu gila!” Bagas langsung bangkit dari duduknya, menuding wajah Mawar dengan tubuh gemetar akibat emosi yang membakar. “Kamu itu cuma mantan customer service yang kebetulan hamil! Berani-beraninya menuntut saham dan status setinggi itu!”
“Kalau kamu keberatan, tidak masalah, Bagas,” bisik Mawar dingin, menyunggingkan senyum licik seraya merogoh gawainya dari atas meja. “Aku bisa langsung menelepon wartawan sekarang juga. Kita lihat, berapa harga saham Utama Group yang bakal anjlok besok.”
Bagas membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar menatap gawai di tangan Mawar. Tenggorokannya mendadak terasa kering terkunci, tercekik oleh ancaman terstruktur yang sama sekali tak memberi mereka celah untuk melarikan diri.
“Jangan merasa kamu memegang seluruh kendali, Mawar,” potong Heru dingin, matanya menatap tajam tanpa riak tertekan.
“Jika berita ini tersebar, yang hancur bukan cuma kami. Kamu juga akan dikenal sebagai wanita murahan yang sengaja menjebak pria kaya demi harta. Dengan kekuasaan dan tim pengacaraku, aku bisa memutar-balikkan narasi ini di media. Sampai kamu tidak punya muka!”
Mawar tercekat, jemarinya mendadak gemetaran.
Intimidasi tenang dari Heru berhasil menembus pertahanannya, membakar ego tingginya menjadi ketakutan yang nyata.
“Pikirkan baik-baik,” lanjut Heru merendah, menekan setiap patah kata. “Ikuti alur skenario yang kubuat untuk menghadapi Risma, atau kamu kehilangan segalanya. Termasuk peluang menjadi bagian dari keluarga Utama.”
Mawar menelan ludah pahit. “Baik,” bisiknya pasrah, terpaksa mengalah demi mengamankan posisi dan restu Risma. “Aku ikuti alur cerita yang Pak Heru susun.”
---
“Buka pintunya! Jangan coba-coba menghalangi kami!” gertak suara berat yang menggelegar dari balik pintu gerbang kos.
Brak! Brak! Brak!
Salsa yang sedang menyapu area lantai bawah seketika terlonjak kaget. Sapu di tangannya merosot jatuh ke ubin. Dengan tubuh gemetar, ia memberanikan diri mendekati pintu depan. “S-siapa di luar? Ini kos-kosan putri! Laki-laki dilarang masuk!”
“Jangan banyak bicara kamu, Bocah!” bentak pria bertubuh kekar dengan tato di leher. Ia mendorong pintu gerbang besi, hingga terhempas keras. Membuat Salsa terlonjak karena kaget. Reflek mundur beberapa langkah, menahan diri tidak menjerit, meski ia takut.
Di belakang pria itu, Juragan Herwanto melangkah masuk dengan senyum picik yang menjijikkan. Pakaian mewahnya yang mencolok tampak kontras dengan suasana kos-kosan milik Wak Kaji tersebut. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang lebih dalam.
“Di mana, kamar gadis buta bernama Melati itu?” tanya Herwanto tanpa basa-basi, suaranya serak dan penuh gairah kotor yang mengintimidasi.
“G-gak ada! Di sini nggak ada yang namanya Melati!” bohong Salsa, berusaha melindungi. Matanya bergerak liar mencari celah untuk meminta pertolongan.
"Jangan bohong kamu!” bentak salah satu anak buah Herwanto seraya mencengkeram bahu Salsa kasar. “Saudaranya sendiri yang memberi tahu kami kalau Melati tinggal di sini!”
Salsa meringis kesakitan. "Aduh. Si Om, beraninya sama anak kecil." Sambil tangannya bergerilya cepat di dalam saku celana. "Saudara siapa? Melati siapa? Di kos ini, mbak-mbaknya nggak ada yang namanya Melati. Adanya Anggrek, Lily, Tulip, Raflesia Arnoldy. Om tahu bunga raflesia nggak?"
Dengan jari gemetar tanpa melihat layar gawai, Salsa memencet tombol speed dial nomor Satya, menggeser layar hijau, seraya berteriak keras. “Juragan Herwanto, nggak tahu jenis bunga woy!!!"
"Kamu itu ngoceh apa toh bocah gendeng?" bentak Herwanto, lalu memberi kode ke anak buahnya. "Cepat periksa dan temukan gadis buta itu!"
"Laksanakan!"
Anak buah Herwanto langsung sigap. Berpencar, untuk menemukan Melati.
Di lantai atas, Melati yang mendengar keributan hebat dari arah tangga mendadak membeku.
Tangannya yang sedang merapikan kebaya untuk acara lamaran besok pagi bergetar hebat. “Salsa? Ada apa di bawah?” bisiknya panik seraya meraba dinding untuk keluar kamar.
“Cari sampai ketemu di kamar atas!” perintah Herwanto pada dua anak buahnya. “Seret gadis itu ke mobil sekarang juga! Jangan buang waktu!"
Dua preman itu bergegas naik melompati anak tangga. Dalam hitungan detik, pintu kamar Melati di-dobrak kasar. Melati terjerat dalam kepungan panik, meraba udara mencari perlindungan.
“Siapa kalian?! Jangan sentuh aku!” jerit Melati histeris saat jemari kasar seseorang, mencengkeram pergelangan tangannya.
“Lepaskan! Tolong ... siapa pun! Tolong aku!” suara Melati pecah dipenuhi ketakutan.
Tubuhnya gemetar hebat. Sebagai gadis buta, ia hanya mampu menebak arah dari derap sepatu, juga helaan napas dari orang yang mengepungnya.
“Jangan banyak bacot!” bentak salah satu preman sambil memelintir tangan Melati. Membuat si gadis meringis kesakitan.
“Aaah ... sakit! Kumohon, aku tidak kenal kalian. Jangan bawa aku!” isaknya, meronta.
Tangannya meraba dinding, berharap menemukan kusen pintu atau benda apa pun untuk bertahan. Namun, yang ia rasakan hanya tarikan kasar yang membuat tubuhnya hampir terjatuh.
“Kita harus cepat! Kalau perlu … paksa saja kalau dia terus melawan!” geram preman lainnya.
“Satya! Satya ... di mana kamu? Tolong aku! Satya!” teriak Melati sekuat tenaga.
Air matanya mengalir deras, dadanya sesak. Bayangan mengerikan memenuhi benaknya. Ia tak tahu ke mana akan dibawa, oleh tangan yang menyentuhnya.
“Percuma memanggil pemuda jelek itu. Dia tidak di sini. Tidak ada yang akan menyelamatkanmu!”
Kalimat itu membuat Melati membeku. Ia langsung yakin, kalau suara itu ... adalah suara anak buah Juragan Herwanto.
“Tidak! Kumohon, jangan bawa aku!” suara Melati berubah serak karena terus berteriak.
“Diam kamu, gadis buta! Mulai hari ini kamu akan menjadi ayang-nya Juragan Herwanto!” seru preman itu seraya menyeret Melati turun menutupi mulutnya, karena terus berteriak memanggil nama Satya.