Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Prapta
Lewat dini hari Safana terjaga dari tidurnya, Ia menyalakan lampu meja dan beringsut bangun mengambil ponselnya yang terus menerus berdering tengah malam begini.
“Hallo” dengan suara berat Safana menerimanya.
“Safana, ini Aku. Apa Kau masih tidur ?”
Safana melihat layar LCD, nomer suaminya berubah saat berada di luar negeri dan tak dikenali.
Perbedaan waktu antara Doha dan Jakarta sekitar enam jam lebih lambat. Sehingga ketika Prapta tiba di Doha pukul sepuluh malam, di Jakarta sudah pukul empat pagi.
Safana terdiam lama, ragu untuk menjawab. Antara rindu mendengar suara Prapta dan kesal dengan sikap pria itu selama ini.
“Safana” Prapta memanggilnya diseberang telephone.
“Mas sampai mana ?” akhirnya kebekuan Safana mencair.
“Doha. Pesawat transit tiga jam sebelum meneruskan penerbangan kembali.”
“Mas sudah makan malam ?”
“Sudah dipesawat tadi. Kau apa masih tidak berselera makan ?”
Safana terdiam, sejujurnya seharian kemarin Ia masih enggan menyentuh makanan. Ia hanya minum juice buah yang dibuatkan Sumi.
“Sudah tidak” Safana berbohong.
“Kalau begitu selamat melanjutkan tidur Safana. Besok setibanya di Casablanca Aku akan menghubungimu lagi.” Prapta menutup perbincangan.
Safana masih tertegun tak bisa meneruskan tidurnya. Ia masih memikirkan Prapta yang tengah bersama Heidy. Apa yang dilakukan mereka sekarang ?
Tiga jam berlalu, jam menunjukkan pukul satu malam waktu Doha. Pemberitahuan terdengar dari pengeras suara, petugas mempersilakan kepada para penumpang yang akan melanjutkan perjalanan menuju Casablanca untuk melakukan boarding.
Gate dibuka, Heidy, Prapta dan para penumpang lainnya melakukan boarding. Setelah itu mereka dibawa ke bus yang akan mengantar ke pesawat. Awak pesawat memberitahu bahwa penerbangan akan memakan waktu kurang lebih tujuh jam dari Doha menuju Casablanca. Dan akan transit di Tunis selama satu jam.
“Berarti sekitar sembilan jam perjalanan untuk sampai di Casablanca” sambil mencari seat 14 A-B yang akan mereka berdua tempati Heidy menggumam.
“Nikmati saja. Tokh tidak semua manager Ku beri kesempatan sepertimu untuk ikut dalam perjalanan dagang ini” Prapta mengusap bahunya dan menyilakan Heidy duduk setibanya mereka di seat yang tertera ditiket pesawat.
Pukul setengan sembilan pagi waktu Maroko, pesawat mendarat sempurna di Mohammed V International Airport Casablanca. Para penumpang termasuk Heidy dan Prapta turun dari kabin pesawat menuju terminal bandara.
Terik matahari langsung menyengat ketika mereka keluar dari pesawat. Suhu sekitar tiga puluh sembilan derajat celcius karena memasuki musim panas diawal juni ini.
Dipintu masuk bandara papan selamat datang menyambut dan ditulis dalam tiga bahasa ; Arab, Inggris dan Perancis. Heidy iseng memperhatikan dan tanpa sadar mengerutkan kening.
"Aku mengerti disini negara arab, wajar kalau ucapan selamat datang ditulis dalam bahasa mereka. Atau bahasa inggris untuk menyambut tamu asing. Tapi kenapa mereka juga menulisnya dalam bahasa perancis ?" Heidy yang baru pertamakali berkunjung ke Maroko agak heran dengan papan selamat datang yang dilihatnya.
"Sebagian besar penduduk sini adalah orang asing yang bermigrasi. Kebanyakan dari mereka adalah pensiunan guru atau teknisi dari perancis yang mencari pekerjaan baru. Jadi wajar kalau disini bahasa perancis digunakan dalam tulisan atau bahasa keseharian masyarakatnya" Prapta yang sudah pernah travelling ke Maroko sebelumnya menerangkan.
Heidy manggut-manggut mendengarnya. Keduanya lalu beriringan dengan penumpang lain mengantri koper di tempat pengambilan barang. Setelah dapat, Mereka berdua berjalan ke teras.
Beberapa penjemput tampak membawa papan nama. Sebagian dari mereka bercakap dalam bahasa perancis.
"Kita naik taxi atau ada yang menjemput ?" Heidy menoleh pada Prapta.
"Pihak Hyatt Regency Casablanca hotel tempat kita akan menginap mengatakan kalau supir mereka akan menjemput" Prapta menyapu pandang dan membaca satu persatu papan nama penjemput.
"Itu dia orangnya" Prapta menarik tangan Heidy menghampiri supir yang membawa papan nama bertuliskan nama mereka.
"Bonjour Monsieur Prapta et Madame Heidy"
"Bonjour" Prapta yang sedikit mengerti bahasa perancis menjawab.
"J'étais le chauffeur de l'hôtel Hyatt Regency Casablanca est attribué pour venir vous chercher.
S'il vous plaît suivez-moi dans la voiture" driver hotel memperkenalkan diri dan menyilakan mereka ikut ke mobilnya.
"Ok" Prapta menarik tangan Heidy mengikuti driver hotel ke mobilnya.
Setelah mereka berada di jok belakang sedan yang menjemput Prapta menyetel jarum jam dipergelangan tangannya.
"Quelle heure est-il monsieur ?" Prapta bertanya pada supir hotel.
"Quinze minutes à neuf hôte monsieur" supir hotel melirik jam dipergelangan tangannya dan menyampaikan pada Prapta.
"Kau sedang apa ?" Heidy memperhatikan.
"Perbedaan waktu enam jam dari jakarta. Aku harus mengubahnya ke zona waktu Western Europe Time. Tadi aku menanyakan pada supir jam berapa sekarang. Dan Ia menjawab kalau sekarang jam sembilan kurang lima belas menit"
Heidy mengangguk paham, Ia mengikuti apa yang dilakukan Prapta. Mengubah date di ponsel-nya.
Setelah selesai Heidy melihat keluar jendela, memperhatikan pemandangan yang dilewatinya. Bangunan-bangunan bercat putih, jalan raya yang macet tak ubahnya jakarta dan polutan yang bertebaran diudara.
"Kupikir kota ini punya suasana romantis. Ternyata aku salah membayangkan" Heidy mengomentari.
"Tidak juga. Ada beberapa tempat yang cukup romantis dan bisa kutunjukkan padamu."
"Benarkah ?" Heidy melihat Prapta dengan tatapan menggoda.
Prapta mengangguki dan menggengam jemarinya, seolah mereka benar-benar pasangan sungguhan.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya