Melati gadis yatim piatu yang harus mencari nafkah buat diri sendiri dan untuk membayar hutang yang ditinggalkan ayahnya.
Setiap hari ada saja yang datang buat menagih hutang orang tuanya.
Rasa putus asa karena tak pernah dapat melunasi hutang peninggalan ayahnya membuat Melati menerima pernikahan kontrak, yang memintanya mengandung anak seorang pria yang arogan dan dingin.
Melati selalu menerima apapun yang dilakukan Jino pada dirinya. Ia berusaha menjadi istri yang baik walau Jino selalu berlaku kasar.
Tapi Jino sang suami masih saja tak pernah menganggap kehadirannya.
Hingga suatu hari Melati merasa lelah atas pernikahannya. Ia pergi meninggalkan suaminya ketika ia sedang mengandung anak keduanya.
Ketika Melati telah pergi, Jino baru mengetahui Nia istri pertama yang sangat dicintainya ternyata menipu dirinya dan telah berselingkuh.
Saat semuanya telah terungkap , Melati telah pergi jauh dari kehidupannya. Jino pada akhirnya sadar jika ia telah jatuh cinta pada Melati. Akankah cinta sang suami membawa Melati kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua puluh Tiga
Melati menangis di lantai kamar rawat inapnya itu dengan masih memegang dan mencium baju putranya yang tertinggal.
Raka yang datang membawakan makanan untuk Melati kaget mendengar suara tangis. Ia membuka pintu tergesa dan mendapati Melati yang menangis di lantai dekat tempat tidur.
Ia berjongkok dihadapan Melati dan membawanya ke dalam pelukan.
"Kamu kenapa , Melati" ucap Raka sambil mengusap punggung Melati agar ia sedikit tenang.
"Rendra, Raka...Rendra putraku telah dibawa mbak Nia dan mas Jino"
"Kamu jangan menangis Melati, kamu baru sembuh habis melahirkan. Kamu harus tetap sehat dan kuat agar bisa bertemu putramu lagi"
"Raka, kenapa mas Jino begitu teganya memisahkan aku dan puteraku secepat ini. Bagaimanapun ia tak menyukai diriku tapi aku tetap ibunya. Di dalam darah Rendra juga mengalir darahku...."
Melati memegang kedua lengan Raka dan memandangi wajah Raka dengan sendu seakan minta perlindungan.
"Raka, aku tahu ini akan terjadi. Aku yang setuju jika puteraku dirawat mbak Nia. Tapi aku tak mengira jika mas Jino secepat ini mengambilnya. Kenapa mereka tak menunggu hingga satu bulan. Ya satu bulan aja ...aku ingin bersama puteraku"
"Mela, kamu ambil aja hikmahnya. Jika kamu lebih lama lagi bersama puteramu akan lebih berat bagimu melepaskannya"
Melati melepaskan tangannya yang berada dilengan Raka.
"Jadi kamu juga setuju atas apa yang mas Jino lakukan"
"Bukannya aku setuju. Tapi apa yang bisa kita lalukan, bukankah itu sesuai perjanjianmu. Aku juga sebenarnya mengutuk apa yang Jino lakukan padamu, tapi saat ini aku tak bisa berbuat apa apa. Kamu telah menandatangani kesepakatan itu. Aku tak mau Jino nanti menempuh jalur hukum jika kamu mengingkarinya. ..."
"Raka...tolong aku"
"Apa yang bisa aku bantu, Mela"
"Tolong bicara dengan mbak Nia, izinkan aku tetap bisa menyusui puteraku. Aku bisa lakukan itu saat mas Jino ke kantor"
"Aku coba cari waktu buat bicara dengan Nia tanpa Jino tau"
"Terima kasih, Raka..."
"Sekarang kamu tenang ya. Jangan menangis lagi. Akan aku usahakan kamu bisa bertemu dengan puteramu"
Melati tanpa di duga memeluk Raka, membuat dirinya menjadi gugup.
"Raka, aku tak akan pernah melupakan semua apa yang pernah kamu lakukan untukku..."
Raka melepaskan pelukan Melati dan membantunya berdiri. Raka membawa Melati duduk di sofa.
"Kamu makan dulu ya, pasti kamu belum makan siang. Matamu merah dan bengkak. Aju yakin kamu sudah lama menangis"
"Raka, aku nggak lapar"
"Kamu harus makan. Agar tetap sehat, kamu ingin bertemu puteramu bukan. Siapa tadi namanya"
"Rendra..."
"Ya, Rendra. Kamu masih ingin memberikan ASI buat Rendra bukan"
Melati menganggukan kepalanya. Raka membuka bungkusan makanan itu dan menyuapi Melati.
"Raka...terima kasih"
"Kenapa kamu sering mengucapkan terima kasih. Aku ikhlas melakukan semuanya. Anggap saja semua yang aku lakukan untuk menebus semua kesalahan yang Jino lakukan padamu. Bagaimanapun Jino itu saudaraku"
"Aku rasa ucapan terima kasihku masih tak cukup untuk semua yang telah kamu lakukan padaku. Dan Kamu tak perlu merasa bersalah atas apa yang mas Jino lakukan padaku"
"Melati, aku ingin kamu tetap tersenyum dan tetap kuat menghadapi semua cobaan yang kamu lalui. Kamu harus percaya jika pelangi itu akan hadir setelah turunnya hujan. Dan tak selamanya langit itu mendung dan menurunkan hujannya , ada kalanya langit akan cerah. Kamu harus yakin, jika semua cobaan yang kamu hadapi pasti akan ada akhirnya. Tuhan tidak akan memberi cobaan pada umatnya melebihi kemampuannya"
"Raka, apakah akan ada pelangi buatku"
"Tentu saja. Kamu harus yakin jika Tuhan memberi semua cobaan ini padamu karena kamu termasuk umatnya yang terpilih. Jadi bersabarlah, pasti langit akan cerah suatu hari nanti...."
"Raka, aku ingin percaya semua itu. Tapi disaat aku sendiri, kembali aku bersedih. Kenapa harus aku yang diberikan semua cobaan ini. Kenapa harus aku yang mengalami semua ini. Kenapa aku tidak terlahir dari keluarga yang utuh, yang memiliki harta melimpah. Agar aku tak pernah mengalami semua ini."
"Melati, percayalah semua akan indah pada waktunya. Bersabarlah...."
Melati mencoba tersenyum pada Raka. Tapi ketika ia melihat baju anaknya kembali wajahnya sedih.
"Mela, kamu telah diizinkan pulang"
"Sudah..."
"Jino tahu kamu telah diizinkan pulang hari ini"
"Tentu saja tau, ia yang telah melunasi semua biayanya ...."
"Dan ia membiarkan kamu sendiri, ia tak mengantarmu pulang terlebih dahulu"
"Ia menyuruhku menggunakan taksi"
"Jino emang keterlaluan. Tunggu saja Jino, kamu akan menyesal karena membuat Melati menangis terus. Akan aku beri kamu bukti jika istrimu yang selalu kamu banggakan itu yang lebih j*l*ng dari wanita jal*nan. Kamu akan mendapat pembalasan atas apa yang telah kamu lakukan pada Melati"
"Biar aku yang mengantarmu pulang. Sekarang sebaiknya kita berkemas aja"
Raka membantu Melati membereskan semua barang barangnya. Melati membawa baju bayinya yang tertinggal.
Dalam mobil pandangannya menerawang entah kemana. Raka dan Melati sama sama diam larut dengan pikiran mereka masing masing.
"Melati, rasanya aku ingin membawamu ke dalam pelukanku. Akan aku buat kamu melupakan semua kesedihanmu itu. Aku tak tahu perasaan apa ini. Hatiku sakit melihatmu menangis. Aku rasanya ingin membunuh orang yang telah melukai hatimu"
"Raka..." ucap Melati memecahkan kesunyian di antara mereka
"Ya, ada apa Melati"
"Apa kamu yakin bisa membuat mbak Nia mengizinkan aku buat bertemu Rendra"
"Kamu percayakan saja semua itu padaku. Aku akan melakukan apapun agar Nia mengizinkan kamu setiap hari melihat dan memeluk Rendra"
"Semoga saja mbak Nia mengizinkan...." gumam Melati.
"Ya Tuhan, aku memohon...bukalah hati mbak Nia untuk mengizinkan aku bisa bertemu puteraku lagi"
Sementara itu di rumahnya , Jino sedang asyik bermain dengan tangan mungil puteranya. Ia berbaring di samping putranya . Senyum selalu terpancar diwajahnya.
"Sayang papi, kamulah penerusku nantinya. Aku harap kamu menjadi seorang putera yang sangat membanggakan. Kamu akan menjadi pelengkap kebahagiaanku bersama Nia"
Jino memandangi wajah puteranya. Matanya mengingatkan Jino pada sosok Melati.
"Maafkan papi yang harus memisahkan kamu dengan ibumu. Papi nggak mau nanti ibumu berubah pikiran dan membawamu jauh dari papi. Tapi papi akan membuat kamu tidak akan kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Papi yakin jika mami Nia akan menyayangi kamu seperti anak kandungnya sendiri. "
******************
Terima kasih
walopun belum sepenuhnya buat Kimberley, but it's okay..
seiring berjalannya waktu, semoga Raka benar2 bisa mencintai Bee sepenuhnya seperti dulu lg..
selalu suka sama semua cerita novelmu mam..
walopun banyak komen pro dan kontra, hal itu sudah wajar dan lumrah..
mau seperti apapun bagusnya kita, pasti ada aja yg gak sepaham..
sabar dan tetap semangat ya mam..
para reader setia tetap mendukung kok, termasuk aku, hehe..
oke deh, cus lanjut novel berikutnya..
semoga sehat terus ya mam..
tetap semangat berkarya meski beragam komen yg berdatangan..
semoga sukses selalu dimanapun mama berkarya..
💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕💕💕