Ini hanya karya fiksi.
Bagaimana kabar mu hari ini? Apa semua berjalan dengan lancar? Atau mereka masih suka mengganggu mu?
Tenang, bila itu terjadi aku akan selalu melindungi mu dari bangun hingga terlelap mu, sebagai imbalannya biarkan aku menyatu dengan jiwa mu.
Ikuti terus alur cerita pendek menarik dalam setiap judulnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXIII (Istri Kedua Yang Sholeha)
Seminggu setelah kembalinya aku dari Malaysia, aku dan teman-teman memutuskan akan berlibur ke pulau Sumatera untuk menenangkan pikiran, pasca bercerai ku dengan suami ku satu tahun yang lalu.
Beberapa hari di Medan membuat hati ku agak mendingan, kami pun pergi menuju terminal ALS (antar lintas Sumatera).
Lalu saat aku naik ke dalam bis, sang sopir ALS mengedipkan mata kepada ku, aku memalingkan wajah ku, tak lama dia duduk di sebelah ku.
Karena dia mengajak ku mengobrol, ku fikir tak ada salahnya, bila di tanggapi sebentar
Kami pun mulai berbincang-bincang, dia berkata pada ku, kalau dia telah bercerai dengan istrinya, dia juga memperlihatkan surat cerai dan baju-bajunya.
Aku pun cukup percaya, Itulah pertemuan pertama kami sebelum kami menikah.
Kini 13 tahun sudah kami berumah tangga sejak dia mempersunting ku sejak 2000 silam, kami di karuniai dua orang anak. Yaitu Aldi dan Ami.
Kalau dari istri pertamanya dia di karuniai tiga orang anak, yaitu Bagas, Rika dan Juni.
Selama 13 tahun kami berumah tangga, kami sudah delapan kali berpindah tempat, bahkan ganti-ganti usaha, aku selalu mengikuti kemana suami ku pergi, meski itu tinggal di tengah hutan yang masih jarang di kunjungi oleh manusia.
Aku sih tidak pernah protes, tapi yang paling sedih pads saat aku sakit, dia tidak pernah ada di samping ku, suami ku juga kerap kali meninggalkan aku dan ke dua anak ku Aldo dan Ami di tengah hutan belantara yang di kelilingi oleh binatang buas.
Dia jarang sekali berada di gubuk ladang kami, tanpa memberi nafkah, dia selalu pergi melanglang buana, dan yang paling menyayat hati ku adalah, dia masih sempat rujuk bersama istri pertamanya.
Sering mengirimi mereka uang, mereka juga sering tinggal bersama meski mereka melakukan rujuk cerai rujuk cerai.
Aku tidak berani melawan dan protes akan kelakuan suami ku itu, kalau aku menasehati dia, hanya makian dan pukulan yang mendarat di tubuh ku.
Aku pernah keguguran sekali selama tinggal di hutan, tetangga di sekitar gubuk ku juga tidak ada, hanya ada aku dan kedua anakku di gubuk derita ini.
Dan sekarang, aku mengalami keguguran untuk yang kedua kalinya, lagi-lagi tanpa dia disisi ku, rasa sakit yang ku rasa tak dapat di jabarkan dengan kata-kata.
Dengan sekuat tenaga, aku merangkak perlahan turun ke desa untuk mencari rumah pertolongan dengan kondisi bagian bawah ku bercucuran darah.
Entah berapa lama aku aku menempuh perjalanan, yang jelas aku bertemu dengan salah satu warga yang melintas di jalanan desa.
Aku pun meminta tolong padanya dengan posisi tengkurap di atas tanah, agar mengantarkan aku ke bidan. Ku lihat hatinya agak berat melakukannya, namun pada akhirnya dia pun bersedia, tapi dengan syarat aku harus menemani dia berbelanja ke pasar terlebih dahulu.
Apa boleh buat aku harus bersabar dahulu menahan sakit yang ku rasa meski saat itu aku sudah merasa hampir mati.
Ku pikir hanya sebentar berbelanja di pasar, nyatanya berkeliling dahulu ke sana kemari, aku juga harus membawa semua barang belanjaannya, hingga memakan waktu empat jam.
Setelah selesai, baru wanita itu mengantar ku ke bidan. Sesampainya bidan desa, sang bidan berkata kalau kondisi ku dan janin ku sangat lemah.
Kalau aku terlalu cape, maka janin ku akan keguguran.
Dengan perasaan sedih, aku menghubungi suami ku, jujur saja, saat itu aku sangat butuh dekap dan kasih sayangnya agar aku merasa semangat lagi.
Tapi apa di kata, mimpi pun aku tak berhak mendapatkannya, dia malah mengatakan “Jangan menghubungi kesini lagi!”
Ya Allah, ternyata dia sedang bersama istri pertamanya. tepatnya mantan istri pertamanya yang sering memaki ku, begitu juga dengan anak-anaknya.
Pada hal aku tidak pernah membenci mereka, bahkan aku mengasihi mereka dan merawat mereka kalau bersama ku.
Alu tak tahu, ibunya mengajari atau tidak, yang jelas ketiga anak dari mantan istrinya sering mengatakan “wanita panggilan, lont*, anjin*.”
Walau begitu, aku tak pernah membalas makian mereka.
Mungkin karena aku banyak fikiran, tiba-tiba perut mu bergejolak hebat, sakit tak tertahankan, pada hal aku belum sampai ke gubuk ku di tengah hutan
Lalu, darah kembali keluar dari ************ lu, kemudian ku lihat gumpalan daging yang belum sempurna berwujud terjatuh ke tanah.
“Ya Tuhan begini kah yang pantas untuk ku? Kuatkan aku Tuhan.”
Ketika suami ku pulang, dia hanya duduk-duduk dan tidur-tiduran saja , aku hanya bisa merangkak untuk menanam bibit kacang panjang dan jagung di ladang, di temani oleh anak ku yang paling sulung Aldo.
Kalau suami ku bangun, dia hanya memerintah, suami ku sering kali memanggil anak-anak ku dengan sebutan “anjing, monyet.”
Kalau tidak sesuai dengan yang di inginkan, suami ku akan memukul anak-anak ku, bahkan menginjak-injak tubuh ku.
Beberapa tahun tinggal di hutan dengan usaha berladang, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke kota I.
Tanah ladang yang ada di dalam hutan seluas 10 hektar, di serahkan kepada orang lain. Dan aku juga telah melahirkan anak ketiga ku yang bernama Siska.
Tak lama di kota I, suami ku membawa ku ke rumah mantan istri pertamanya di Medan, di sana aku di hadapkan dengan seluruh anggota keluarga mantan istrinya.
Lengkap dengan seorang lelaki tua dengan sebutan pak haji.
Kata pak haji, talak yang di berikan suami ku kepada istri pertamanya itu tidak sah, suami ku juga disana di mandikan dengan berbagai ritual, astagofirlohalngazim, ternyata suami ku telah syirik bersama mereka semua.
Mereka berteman dan meminta kepada jin, mereka menyuruh aku untuk ikut mereka, aku tidak mau, setelah aku tahu tentang itu semua, pandangan ku berubah kepada suami ku.
“Sebesar apa kalian menghargai pak haji ini? Seujung kuku ku tak ku hargai dia!” Hardik ku.
Cacian, olokan, kekerasan bahkan bermain wanita kesana kemari masih bisa ku maafkan, tapi apabila telah menduakan Allah, aku menyerah.
Aku pun memutuskan keluar dari rumah itu, dan menuju ke rumah orang tua ku kota S Jawa tengah.
Ku bawa juga ke tiga ku. Di Jawa aku menyekolahkan anak ku Aldo dan Ami, selama beberapa bulan kami hidup di Jawa, suami ku selalu saja menghubungi ku.
Entah aku bodoh, atau memang ingin mengabdi di jalan Allah, tiba-tiba aku merasa iba dan tak tega meninggalkannya disana.
Bagaimana pun juga aku ini masih istri sahnya, dia tidak pernah memberikan talak pada ku, aku juga tidak pernah meminta walau sebenarnya aku menginginkannya.
Aku juga meminta saran kepada kakak ipar ku, mereka bilang berikanlah kesempatan sekali lagi.
Karena aku tidak ingin menjadi istri yang durhaka, ku putuskan untuk kembali lagi ke Sumatera mengikuti suami ku yang tak jelas arah tujuan ingin tinggal di mana.
Aldo dan Ami ku tinggalkan bersama neneknya, ibu ku menangis menjerit-jerit ketika aku akan meninggalkan mereka lagi.
Isak tangis ibu ku, tak pernah aku lupakan, aku mencium dan bersimpuh di kaki ibu ku, dan meminta maaf.
Ibu ku berkata “Kenapa Agung tega sekali pada mu?”
“Maafkan aku mak, bagaimana pun juga aku masih istrinya, aku meminta do’a restu mu mak, tolong restui kepergian ku.”
Seakan sudah tak ada malu lagi, aku dan ibu ku menangis kuat di terminal, dengan berat hati harus ku tinggalkan anak-anak ku, karena mereka harus sekolah, kalau mengikuti ku, yang ada sekolah mereka tidak akan jelas.
Karena kami sering berpindah tempat. Dalam hati ku berkata, “Meski aku telah menikah dan setua ini, masih menyusahkan orang tua ku yang telah senja, maafkan aku mak.”
Aku pun mendatangi suami ku, kami tinggal di kota I lagi.
Dan sudah bisa di tebak, hanya bertahan beberapa bulan. Dia sudah menyuruh kami pindah ke kota N, kembali lagi ke hutan, katanya di sana aku hanya akan menyuruh orang untuk bekerja, tapi apa dikata, setibanya disana, malah aku yang jadi pekerja 24 jam.
Aku juga harus tidur di lantai bersama anak bungsu ku Siska, suami ku pun jarang pulang, karena aku tak tahan, empat bulan di sana, aku pergi ke tempat kakak ipar ku Fatma.
Hingga saat ini aku tinggal di rumah kakak ipar ku.
Sungguh tak ada rasa malu suami ku, masih menompangi kakak ku janda beranak sembilan, miskin dan sudah tua.
Aku tak tahu sampai kapan akan berada di rumah ini, aku sangat merasa jenuh dan tak enak hati menyusahkan kakak ipar ku terus.
Dulu ku pikir pernikahan ku yang ke dua ini akan membahagiakan, nyatanya lebih parah dari yang pertama.
Keadaan ku yang sekarang adalah penyesalan yang tak berujung, tapi walau begitu, aku tak ingin berbuat kesalahan kepada suami ku, biar Allah yang akan memberikan keadilan padanya.
SELESAI.
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Mutualan di IG yok, nanti ada trailer Save Yalisa kalau mau up!
Mohon lbih teliti lagi sblm updte bab ato bisa direvisi biar lbih ciamik🙏
Semngt thor
Thanks 😊