Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Rubah Betina vs Siluman Ular
Joana masuk ke dalam ruangannya dan segera duduk di kursinya, seraya terus melihat ke arah Jesslyn yang sedang bersama dengan Natalie.
Joana memang ingin menghampiri Jesslyn di toilet tadi, tetapi saat Jesslyn meneriakkan nama Jayden, ia pun kembali bersembunyi. Ia benar-benar tidak menduga dengan berita yang baru saja didengarnya itu.
Jayden secara khusus memberi perhatian kepada Jesslyn. Pria itu juga terlihat khawatir tadi dan bahkan Jayden juga meminta seseorang untuk menyiapkan dokter spesialis kandungan terbaik untuk Jesslyn.
'Jadi wanita itu sedang hamil? Lalu mengapa dia bisa diterima bekerja di sini?'
Joana bingung karena sejak dulu syarat utama sebagai sekretaris Jayden adalah masih lajang. Itulah sebabnya Natalie akan mengundurkan diri bulan depan karena ia akan menikah.
Lalu mengapa Jesslyn yang jelas-jelas telah menikah dan sedang hamil sekarang, malah diterima bekerja di sini? Terlebih lagi kemarin Steve sendirilah yang mengantarkan Jesslyn ke ruangan Jayden.
'Apa mungkin bayi itu adalah milik Presdir Zhou? Aku benar-benar tidak menduga akan hal ini. Wajah polosnya itu benar-benar telah menipu semua orang. Pantas saja semua kandidat yang kemarin ikut test seleksi malah dipindahkan ke divisi lain.
Heh! Kukira dia adalah kucing kecil yang manis, tetapi ternyata dia adalah siluman ular. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Kakak Xia saat ia tahu jika posisinya malah digantikan oleh seorang wanita hamil?
Dan yang lebih menarik lagi adalah jika sampai Diana si wanita licik itu mengetahui bahwa tunangannya telah mempunyai anak dengan wanita lain.'
Joana pun tersenyum sinis memandang Jesslyn. Ia merasa cemburu dengan Jesslyn, karena ia memang menyukai Jayden sejak pertama ia bertemu dengan pria itu. Joana pun bermaksud untuk mendekati Jayden, ia tidak peduli jika nanti Jayden hanya menginginkan tubuhnya saja.
Ia sangat rela untuk sekedar menjadi penghangat ranjang pria itu dan memuaskannya, tetapi Diana selalu menghalangi rencananya. Kini, dengan adanya Jesslyn di sini, ia pun berniat untuk mengadu domba kedua wanita itu dan ia-lah yang akan memetik hasilnya nanti. Hadiah yang sangat menggiurkan. Seorang Jayden Zhou, sang pewaris tunggal kekayaan keluarga Zhou.
Jesslyn sangat senang karena cara Natalie dalam mengajarinya sangat mudah untuk ia pahami. Natalie juga ramah dan menyenangkan untuk diajak berbicara. Ia pun bersyukur karena ternyata bekerja di sini tidaklah begitu mengerikan seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Rekan kerjanya sangat baik kepadanya.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, jam istirahat pun telah tiba. Para wanita itu pun mengajak Jesslyn untuk makan siang. Meskipun Jesslyn tidak terlalu berselera makan, ia pun tetap mengikuti ketiga orang rekannya itu.
Selain agar dapat lebih mengakrabkan diri dan mengenal lingkungan kerjanya, ia juga harus memenuhi asupan nutrisinya untuk bayinya, walaupun ia hanya akan memakannya dalam porsi sedikit nanti.
Terdapat beberapa buah restoran khusus untuk pegawai di perusahaan ini. Restoran itu terletak di tiga lantai yang berbeda. Pekerja kelas bawah dan menengah akan makan di lantai 10. Tingkatan selanjutnya diperuntukan untuk para petinggi perusahaan, dan restoran terakhir di lantai 12 adalah restoran khusus untuk Jayden dan para tamunya.
Meskipun begitu, semua menu di ketiga restoran itu adalah menu yang terbaik. Dimasak oleh para chef yang ahli di bidangnya, menjadikan menu makanan di sana tidak hanya lezat dan menggugah selera, tetapi juga dengan standar gizi yang cukup dan seimbang.
"Lho? Mengapa kita berhenti di sini, Kak?" tanya Tiffany kepada Natalie.
Ia bingung, karena kini mereka berada di lantai 11. Restoran yang hanya diperuntukkan untuk para pekerja kelas atas, dan juga pemegang saham yang memang mempunyai jabatan di perusahaan ini. Sedangkan, mereka yang hanya seorang sekretaris, seharusnya makan di lantai 10 bersama dengan para staf biasa lainnya.
"Mulai sekarang, kita akan makan di sini," ucap Natalie santai.
"Apa?!" teriak Joana dan Tiffany terkejut.
Sementara, Natalie hanya tersenyum seraya menggandeng Jesslyn untuk masuk ke restoran itu. Tadi, Jayden menghubungi Natalie dan mengatakan jika mulai hari ini, para sekretarisnya akan makan di lantai 11 bersama dengan para petinggi lainnya.
Natalie pun sudah dapat menduga mengapa Jayden bersikap seperti itu. Sudah lama ia bekerja bersama dengan Jayden, jadi ia pun sedikit banyak dapat mengetahui sifat pria itu.
Mengapa baru sekarang Jayden membuat pengumuman seperti ini, di saat ada seorang sekretaris baru yang datang bekerja hari ini. Jawabannya pun sudah tak perlu diungkapkan lagi, bahwa Jayden mengistimewakan Jesslyn.
Alasannya mengapa mereka juga dapat ikut menikmati keistimewaan itu adalah karena Jayden tak ingin membuat Jesslyn canggung. Natalie pun mengerti pasti Jayden terlibat affair dengan sekretaris barunya ini.
Apalagi Jesslyn memang sangat cantik dan dengan sifat playboy Jayden, mustahil jika pria itu tidak tertarik dengannya. Namun, Natalie tidak peduli, itu bukanlah urusannya.
Selama Jesslyn memperlakukannya dengan baik, maka ia pun akan melakukan hal yang sama kepadanya. Ia juga akan menutup mata dan mulutnya atas kejadian ini.
Mereka berempat pun sudah duduk di kursinya masing-masing dan siap menyantap hidangannya. Tiffany sangat gembira karena ia dapat memakan makanan yang lebih lezat dan berkelas, yang selama ini hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan ini. Sementara Joana, ia menjadi semakin cemburu dengan Jesslyn.
"Mengapa kau tidak memakan makananmu?" tanya Natalie yang melihat Jesslyn sepertinya tidak tertarik dengan hidangan lezat yang berada di hadapannya. Ia sejak tadi hanya mencicipinya dengan porsi kecil dan meletakkan kembali sendok dan garpunya.
"Ada apa? Kau tidak suka, ya? Ini lezat sekali lho." Tiffany menjulurkan lidahnya menjilati sisa saus tomat di bibirnya.
"Ehm, aku sedang tidak nafsu makan. Mungkin aku masih kenyang karena sarapan terlalu banyak," bohong Jesslyn. Ia sama sekali tidak sarapan tadi dan hanya meminum susu hamilnya, itu pun sudah ia muntahkan lagi tadi pagi.
"Tidak boleh! Kau harus tetap makan," ujar Natalie. 'Karena itulah perintah Presdir tadi,' sambungnya dalam hati.
Jayden memang meminta Natalie untuk memastikan agar Jesslyn memakan makanannya, karena Jayden melihat tubuh Jesslyn yang gemetar setelah ia muntah-muntah tadi. Natalie pun segera mengambilkan lauk untuk Jesslyn.
"Ayo, Jessy. Cobalah. Ini sangat enak."
"Iya, Kak."
Tak mau mengecewakan Natalie yang memperlakukannya dengan begitu baik, Jesslyn pun mencoba menyantap makanan itu lagi, tetapi perutnya sungguh tidak dapat diajak untuk bekerja sama. Ia pun segera merasakan mual kembali.
"Kau kenapa?!" tanya Natalie terkejut.
"Maaf. Aku ... aku harus ke toilet." Jesslyn segera pergi meninggalkan ketiga orang rekannya itu.
"Cih! Menyebalkan! Membuatku kehilangan selera makanku saja!" desis Joana kesal seraya meletakkan alat makannya dengan kasar di meja.
"Ada apa dengannya? Apa dia sakit?" tanya Tiffany kepada kedua rekannya.
"Kalian tunggu di sini. Aku akan pergi melihat keadaannya dulu."
Natalie khawatir dengan keadaan Jesslyn, tetapi Joana pun segera menarik tangan Natalie untuk menghentikan langkah wanita itu.
"Apa kau bodoh, Kak?! Apa kau tidak tahu kalau dia itu sedang ...?"
"Aku tahu!" tukas Natalie cepat. Ia paham dengan apa yang ingin diucapkan oleh Joana. "Aku tahu, Joana. Tetapi, itu bukan urusan kita. Kau mengerti?"
Natalie melepaskan tangan Joana dan segera mencari Jesslyn ke toilet. Sementara Joana hanya dapat terdiam. Ia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran Natalie.
Posisi Natalie akan digantikan, hanya karena ia akan menikah, dan orang yang menggantikannya sangat tidak memenuhi syarat.
Karena selain Jesslyn sudah menikah, ia juga sedang hamil dan bahkan terlibat hubungan asmara dengan atasannya. Namun, Natalie malah membiarkan hal itu begitu saja meskipun ia sudah mengetahui semuanya.
Sekarang, Joana hanya dapat berharap kepada Diana untuk menyingkirkan Jesslyn yang mengganggu pemandangan matanya.
'Hanya si rubah betina itu harapanku sekarang. Aku ingin tahu siapa yang akan menang di antara kalian. Dasar para j*lang pengganggu!'
.
.
.