Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatah lebih
"Bayangkan saja sendiri," sela Rangga enteng.
"Pasti asyik. Semalam dengan istri tua dan semalam dengan istri muda," canda Max dengan pikiran kotornya.
Rangga hanya geleng-geleng.
1 minggu kemudian....
Tias sudah merasa bosan berada di rumah terus-menerus. Ia pun merajuk meminta sejumlah uang pada Rangga yang tengah berada di hotel, "Bosen di rumah terus.... Aku mau jalan sejenak," pintanya nya sambil bergelayut di leher Rangga. Padahal Rangga sudah memberinya sejumlah uang tiga hari yang lalu.
"Menangnya kamu kemanakan uang yang sudah aku berikan?" tanya suaminya dingin.
"Itu kan jatah bulanan. Aku mau shopping dan uang segitu mana bisa cukup untuk membeli alat make up dan beberapa baju hamil. Dan coba lihat nih, aku bosen pakai dress ini terus..."
Tias sudah teracuni oleh teman-temannya melalui sambungan telepon dan pengaruh buruk dari Rina yang mendorong nya untuk mendapatkan hak lebih melebihi Naya.
"Jatah mu memang segitu. Naya saja sangat merasa cukup dengan uang pemberian ku berikan," hardik Rangga ketus.
"Dia beda denganku, dia tak tahu fashion dan gaya hidup di kota. Jadi wajar lah dia tak butuh lebih," sungut nya memaksa.
Rangga berpikir sejenak. Ia menimang apa yang diutarakan istrinya. Ia pun menulis sejumlah uang pada cek dan memberikannya, "Ini yang terakhir bulan ini," tukasnya.
Tias tersenyum, ia mencium pipi Rangga dan berlalu. Teman-temannya sudah menunggunya di parkir an.
"Dasar wanita!" celetuk Rangga.
Tias berbelanja dan berpesta pora disebuah cafe yang dihadiri beberapa orang pria hingga sore hari.
Tias tak mengira jika Rangga berada di belakangnya saat ia sampai di rumah.
"Darimana saja kamu?" sergah Rangga saat keduanya keluar dari dalam mobil.
Tias membuka kacamatanya dan menghampirinya. Ia membawa belanjaan yang begitu banyak sebagai alasan, "Nih, aku beli baju hamil dan beberapa baju bayi. Kita lihat sama-sama ya!" dalihnya girang.
"Anak kita lahir masih lama. Kenapa beli baju untuknya? Lagipula kamu tak tahu dia laki-laki atau perempuan," cetus Rangga. Ia geleng-geleng kepala dan meninggalkannya.
Tias tak begitu mempedulikan apa yang ia ucapkan. Yang penting hari ini ia sudah puas bersenang-senang.
Di kamar Naya melipat mukena nya usai sholat ashar. Ia membereskan seperangkat alat sholat nya dan keluar dari kamar. Senyum Rangga merekah ketika keduanya bertemu mata di anak tangga. Naya segera mencium telapak tangannya.
"Malam ini aku tidur denganmu."
Naya menatapnya lekat.
"Kenapa?" tanya Rangga.
"Oh, tidak. Aku pikir Mas akan tidur bersama Tias karena semalam ia tak enak badan."
Rangga mencium keningnya, "Aku akan selalu berusaha adil pada kalian," bisiknya. "Kita ke kamar?"
"Iya," angguk Naya.
Tias segera menyusul keduanya dan berusaha menguping di balik pintu, tetapi tak ada yang bisa didengarnya. Sementara Rangga asyik mencumbui Naya hingga 1 jam lamanya.
"Mas senang?" tanya Naya lirih.
Rangga mencium bibirnya dengan tubuh masih menindih Naya dan berbisik, "Sangat... Aku tak pernah merasa sepuas ini."
Naya tersenyum. Percintaan mereka berlangsung hingga menjelang magrib. Rangga menatap istrinya yang tengah melaksanakan sholat. Ada sejumput perasaan malu dan perasaan bersalah yang tiba-tiba menghinggapinya. Tak mau ambil pusing ia pun keluar dari kamar.
Naya mengucap syukur. Ia menoleh saat pintu terdengar tertutup. Ia melanjutkan dengan membaca ayat suci al quran.
Satu jam kemudian Naya melanjutkannya dengan sholat isya.
Usai salam tiba-tiba wajah kedua orangtuanya terbayang. Hanya karena sakit hati dengan alasan di balik pernikahannya ia menjauhi kedua orangtuanya. Ia merasa begitu berdosa, "Mak, Pak, Naya minta maaf," bisiknya.
Diruang keluarga seluruh keluarga berkumpul kecuali Ilham dan Naya. Saat ini Ilham tengah menidurkan Sulaiman yang tengah rewel. Naya mendengar rajukannya ketika hendak ke dapur dan Ia pun bergegas menghampirinya, "Sayang," sergahnya, " belum tidur?"
"Belum, Ma!" Sulaiman bermain-main di atas ranjang nya mengacak-acak bantal dan guling nya.
"Sini, Mama gendong."
Dengan cepat Sulaiman menghampirinya. "Kita keluar yuk?" ajaknya.
Naya terkejut saat mendapati Rangga tengah merangkul Tias di atas sofa dengan begitu mesra. Ia merasa enggan untuk berbaur bersama keluarganya di ruang santai. Ilham lantas menyentuh pundaknya, "Mari," ajaknya.
Naya melangkah mendekat dan duduk di atas karpet disusul Ilham. Rangga lantas melepaskan pelukan nya dan duduk di samping Naya, "Aku pikir kamu tak akan kebawah," sapa nya.
"Supaya kamu bisa leluasa dengannya?" batin Naya kesal.
Tias cemburu berat, tanpa diduga ia memeluk Rangga dari belakang. Naya terkejut. Rasanya ia ingin menendang wanita itu menjauhi suaminya.
"Ngantuk.... Mau di peluk," pinta Tias di telinga Rangga.
"Tidurlah, malam ini adalah giliran Naya," bisiknya.
"Kalau begitu peluk di sofa sampai aku terkelap. Papa mau kan menggendong ku sampai kamar?" rajuknya kian manja membuat dada dan kuping Naya menjadi panas.
Rangga tak dapat menolak. Sembari membelai kepala Naya ia bangkit keatas sofa. Tias mendekap nya sangat erat hingga ia merasa begitu sesak. "Jangan terlalu erat begini, aku jadi sesak!" pintanya sedikit kasar mencoba melonggarkan pelukan Tias. Kedua orangtuanya tersenyum geli. Rosi dan Rina saling menatap melemparkan senyuman jail.
"Tidurlah, jangan nonton tv," pinta Ilham kepada Sulaiman dalam dekapan Naya. Ia mengusap pergelangan kaki putranya.
"Tidurlah, Nak," pinta Naya mendekap nya erat.
Naya mencoba bertahan ditempat itu dengan hati terluka. Ia tak ingin melihat sedikitpun apa yang dilakukan suaminya yang kini tengah bermesraan di belakangnya. Hingga tanpa ia sadari Sulaiman sudah tertidur.
"Anak kita sudah tidur, biar aku yang bawa dia ke kamar," pinta Ilham sembari meraih tubuh Sulaiman.
"Apa-apaan kak Ilham!" sergah Rangga kesal dalam hati, "Kenapa dia mengatakan anak kita!" Ia sangat kesal dan begitu geram.
Tias yang melihat raut wajahnya tersenyum sinis, "Rival mu ternyata kakak mu sendiri, pa?" bisiknya dalam hati.
Naya bangkit akan ke kamarnya tetapi Rangga berpikir jika ia akan menyusul Ilham, "Kemana, Naya?!" bentaknya.
"Ke kamarku, Mas," jawab Naya polos.
Rangga melepaskan pelukan Tias dan segera menarik tangan Naya.
"Mas pelan-pelan," pinta Naya.
Rangga lantas menghentikan langkahnya, "Kamu sadar tidak jika kelakuan Ilham padamu diluar batas?! Dia seolah menganggap mu sebagai istrinya!"
Naya tak paham dengan yang ia ucapkan, "Maksud, Mas?"
Rangga kian mendekat, "Kamu terlalu polos hingga tak menyadarinya."
Naya menyentuh dadanya, "Dia Abang mu.... Dia hanya membutuhkan pendamping untuk Sulaiman. Tak mungkin dia berniat buruk sedikitpun."
Rangga menggeleng, "Tidak, kamu tidak mengerti. Dia menginginkan mu. Kamu takkan bisa melihat dan menerka hati seorang pria," bisiknya.
"Termasuk hatimu?" sela Naya sinis.
Tenggorokan Rangga terasa terdekat. Ia mendesah, "Ini bukan tentang diriku tetapi Ilham.... Sayang..." selanya.
Naya mengangguk, "Oh... ternyata beda ya? Artinya Mas lebih nakal dibandingkan kak Ilham...."
Rangga menarik pinggangnya pelan, "Sekalipun ada dua cinta terapi hanya ada satu yang bisa memenangkan hatiku, yaitu kamu."
"Sungguh?" tanya Naya jail.
"Lanjutkan di kamar," bisik Rangga. Ia pun membopong tumbuh Naya menuju kamarnya.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya