Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.
Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.
Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.
Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?
Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.
"Dia milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Andrea menutup telepon dan menyerahkannya pada Fabrizio. Dia menerimanya dan melempar tatapan penuh hasrat padanya. Andrea merasakan seluruh tubuhnya merinding dan agak tidak nyaman dengan situasi itu.
"Nah, sekarang semuanya sudah beres, bagaimana kalau kita makan malam?"
"Boleh, aku kelaparan."
"Bagus. Tunggu aku mandi sebentar, lalu kita berangkat."
Fabrizio melepas kemejanya di depan Andrea, yang langsung menutup wajah dengan tangan sambil memekik kecil dan membalikkan badan. Dia ingin tertawa melihat situasi itu, lalu mendekat ke arahnya dan berbisik di telinganya,
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu canggung."
Merasakan embusan napas hangat di telinganya, Andrea merasakan bagian intimnya melembap, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia membelalak dan berbalik cepat sampai wajahnya membentur dada Fabrizio. Itu membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke ranjang. Fabrizio mencoba menahannya, tapi malah ikut jatuh menimpanya. Andrea merasakan tonjolan kejantanan Fabrizio yang mengeras menekan bagian intimnya. Itu membuat wajahnya makin merah. Dia mencoba menyingkir, tapi karena Fabrizio jauh lebih besar dan lebih kuat, gerakannya sia-sia. Fabrizio tersenyum padanya, mengecup dahinya, berdiri, dan membantunya berdiri, lalu berbalik dan langsung ke kamar mandi untuk mandi. Andrea duduk di kursi berlengan yang ada di kamar itu, linglung, berusaha mengerti apa yang baru saja terjadi.
Ya ampun, panas apa ini!? Sensasi apa ini di seluruh tubuhku? Seperti ada listrik yang nikmat mengalir ke seluruh tubuh, dan kelembapan di bagian intimku ini dari mana datangnya, Ya Tuhan?
Andrea belum pernah berpacaran atau dekat dengan siapa pun. Setiap kali ada yang tertarik padanya di sekolah, sepupunya Ester melakukan segala cara untuk menggagalkannya. Kalau bukan sepupu perempuannya, sepupu laki-lakinya yang berinstingt pelindung berlebihan, begitu pikirnya waktu itu. Karena dia juga belum pernah ke klub, kemarin adalah yang pertama, dia belum pernah punya kesempatan didekati lelaki. Andrea lalu menaruh tangan di dahinya dan berpikir,
Lalu ciuman di dahi ini artinya apa?
Dia sangat ingin menelepon Sara, yang pasti bisa menjelaskan semua sensasi baru ini. Tapi sayangnya dia tidak bisa. Selain tidak punya ponsel, dia tidak mau mempertaruhkan keselamatan sahabatnya.
Fabrizio di kamar mandi berusaha menenangkan temannya dengan mandi air dingin, yang nyaris mustahil. Setiap kali dia memikirkan Andrea, temannya itu bangkit dengan sendirinya.
Perempuan ini akan menghabisiku!
Setelah melepaskan diri di kamar mandi, satu-satunya cara yang dia temukan untuk menenangkan temannya, dia keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti untuk berpakaian. Saat keluar dengan pakaian lengkap, dia melihat Andrea duduk menyilangkan kaki di kursi berlengan, tenggelam dalam pikirannya. Pemandangan itu membuatnya terpukau. Andrea tampak begitu rapuh dengan tatapan polosnya, dan dia ingin melindunginya dari segala keburukan.
"Ayo!?"
Andrea melonjak dari kursi karena kaget dan berkata agak linglung,
"Ayo, tentu."
Fabrizio menuruni tangga lebih dulu dan Andrea mengikutinya. Saat itulah dia melihat mansion itu untuk pertama kalinya. Dia menoleh ke kiri dan kanan, memperhatikan setiap detail.
Wah, rumah yang indah sekali. Aku belum pernah melihat kemewahan sebanyak ini di satu tempat.
Fabrizio berhenti di ujung tangga. Andrea, yang sibuk memandangi rumah, tidak menyadarinya dan menabrak punggungnya.
"Aduh..."
Dia menutup hidungnya dengan tangan. Fabrizio berbalik dan bertanya,
"Kamu baik-baik saja?"
Andrea menatap pria tampan itu dan tenggelam dalam mata hijau keabuannya. Tubuhnya merinding lagi, dan dia kembali merasakan listrik yang nikmat itu. Dia sadar kembali dan berkata,
"Ya, maaf, aku terpaku memandangi rumahmu."
Fabrizio menyadari Andrea tadi menatapnya dengan nakal. Dia tersenyum miring dan bertanya,
"Suka apa yang kamu lihat?"
"Hah?! Maksudnya?"
"Maksudku rumahnya?"
"Ya, tentu, rumahnya, memangnya apa lagi. Ya, rumahnya bagus sekali."
Andrea mengatakannya dengan pipi terbakar malu. Fabrizio tidak berkata apa-apa lagi, tapi dia sangat menikmati situasi itu. Dia berjalan ke ruang makan, dan Andrea mengikutinya dalam diam. Sampai di ruang makan, Andrea terperangah melihat begitu banyak makanan, dan segera melihat Solange.
"Selamat malam, Bu Solange, apa kabar?"
Dia menghampiri Solange dan memeluknya erat. Solange membalas pelukannya dan berkata,
"Baik, Nak. Duduklah dan makan sedikit."
Fabrizio, yang melihat keakraban itu, berdeham dan berkata agak ketus,
"Nah, karena kalian sudah akrab, tidak perlu perkenalan. Hidangkan makan malamnya, Solange."
"Baik, Tuan Fabrizio."
Mereka duduk dan Solange mulai menghidangkan makan malam. Andrea merasa tidak enak melihat Solange bekerja sendirian. Dia berdiri dan berkata,
"Biar aku bantu!"
"Jangan repot-repot."
"Sama sekali tidak repot, aku mau."
"Andrea, tolong duduk. Itu pekerjaannya."
Dari nada suara Fabrizio, keduanya sadar dia kesal. Solange, yang sudah mengenal tuannya, mengerti sebab kekesalannya, tapi Andrea tidak mengerti dan duduk dengan agak kecewa, mengira dia telah berbuat salah.
Makan malam berlanjut dalam keheningan yang mematikan. Hanya terdengar denting alat makan di piring. Andrea memecah keheningan dengan berkata,
"Tuan Fabrizio, saya ingin mengambil beberapa pakaian di apartemen saya."
"Tidak perlu memanggilku Tuan. Aku belum setua itu."
"Perlu, Anda atasan saya. Kalau ada yang melihat saya akrab dengan Anda dan memanggil nama depan, mereka bisa salah mengira."
Fabrizio menatap Andrea dengan pandangan yang tidak terbaca.
"Terserah kamu. Nah, seperti yang tadi akan kukatakan, aku akan menyuruh sopirku ke apartemenmu mengambil beberapa pakaian. Sampai saat itu, kalau kamu butuh sesuatu, tinggal bilang dan akan kusuruh beli."
"Baik, terima kasih. Yang sudah Anda belikan untuk saya sudah cukup."
"Boleh kita lanjut makan?"
"Ah, satu hal lagi. Sepertinya kamar tempat saya tadi itu kamar Anda, benar?"
Fabrizio hanya mengangguk.
"Kalau bisa, tolong siapkan kamar lain. Saya tidak mau merepotkan lebih dari perlu. Bisa juga sekamar dengan Bu Solange."
"Tidakkah kamu pikir itu akan mengganggu Solange kalau kamu menempati kamarnya?"
Andrea berpikir beberapa detik dan menjawab,
"Sepertinya tidak, tapi saya bisa menanyakannya padanya."
"Tidak perlu. Akan kusuruh menyiapkan kamar untukmu. Ada banyak yang kosong di mansion ini. Ada lagi?"
"Tidak, hanya itu."
"Boleh kita kembali makan?"
Andrea hanya mengangguk dan kembali makan dengan kepala tertunduk. Fabrizio memandanginya makan sambil bertanya-tanya ke mana perginya semua makanan itu, mengingat tubuhnya kecil dan kurus.