NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Ruth Garcia

Hari ini Sabtu, peresmian klub baru Fabrizio. Aku tidak akan melewatkannya demi apa pun.

Aku bangun pagi dan pergi ke pusat kebugaran untuk latihan sebentar. Menjelang sore aku ke salon untuk perawatan rambut dan kuku. Aku tidak punya teman di sini dan tidak merasa perlu punya, menurutku itu sama sekali tidak diperlukan.

Sampai di rumah, aku mandi dan berganti pakaian. Aku membeli gaun merah khusus untuk peresmian klub itu. Setelah dia mendiamkanku kemarin, kalau aku muncul dengan penampilan seperti ini, aku yakin Fabrizio akan terpukau. Kupakai sandalku, kuambil tasku, dan aku berangkat.

Sampai di klub, aku menuju area VIP untuk menemui Fabrizio. Dia tidak ada di sana, tapi kulihat Pepi sedang mengobrol dengan seorang gadis di bar.

Kalau Pepi ada di sini, Fabrizio juga ada. Aku tanya dia saja.

Aku menuruni tangga dan mendengar tembakan. Aku menunduk melindungi diri, tapi kupikir tempat terbaik saat ini adalah di samping Fabrizio, dan aku mulai cemas memikirkannya. Saat itu kulihat seorang pria berwajah tidak bersahabat berjalan ke arahku.

"Halo, cantik!"

Aku merasakan sakit tajam di kepala dan pingsan.

Saat sadar, aku sudah berada di kursi belakang mobil dalam keadaan terikat. Di sampingku ada seorang pria yang sibuk dengan ponselnya, dan di kursi depan ada sopir.

"Siapa kamu? Kamu mau apa dariku? Pacarku akan mencariku dan kamu akan mati."

"Oh ya? Boleh tahu siapa pacarmu?"

"Fabrizio Lutero. Kamu akan menyesal sudah menculikku."

"Menarik... Kalau begitu, kita berdoa saja supaya pacarmu datang menyelamatkanmu."

"Kamu gila berurusan dengan Fabrizio. Dia tidak biasa memberi kesempatan kedua."

Pria itu terbahak dengan tawa mengerikan yang membuat seluruh tubuhku merinding.

"Asal kamu tahu, aku juga tidak biasa memberi kesempatan kedua. Dan hari ini hari kematian pacar kecilmu. Siapa tahu setelah dia mati, kita bisa bersenang-senang sedikit."

Pria itu mengelus pahaku, dan aku bisa melihat tatapan penuh hasratnya padaku. Akan kupakai itu untuk keuntunganku dan mencoba lepas darinya.

"Kenapa harus menunggu dia mati?!"

Aku menatapnya dengan nakal. Pria itu mengerti maksudku dan memasukkan tangannya ke dalam gaunku. Dia mengelus bagian intimku, yang tanpa sadar mulai basah. Pria itu menyingkirkan celana dalamku ke samping dan memasukkan kelima jarinya sekaligus, membuatku menjerit kesakitan. Dia mulai menghentak keluar masuk dengan begitu keras seakan seluruh tangannya akan masuk ke dalamku. Segera rasa sakit itu berubah jadi nikmat, dan aku mulai menggoyangkan pinggul dan mengerang di kursi. Kulihat pria itu sudah gelap mata, dan sopirnya tidak berhenti melirik lewat kaca spion. Aku mengaku, aku suka semua perhatian yang tertuju padaku. Tiba-tiba ponsel pria itu berbunyi. Dia menjawab dengan satu tangan, sementara tangan satunya masih di dalamku. Dia hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang di seberang, menutup telepon, mencabut tangannya dariku, memasukkannya ke mulutnya sambil merasakan cairanku, memutar bola mata, dan berkata,

"Rencana berubah. Permainan ini harus ditunda dulu."

Sopir menyerahkan sehelai kain kepadanya, dan dia langsung menekannya ke wajahku. Kain itu berbau menyengat yang membuat hidungku perih, dan dalam hitungan detik aku pingsan.

Aku terbangun setengah linglung dan sadar tanganku terikat dan tergantung. Aku bahkan tidak sempat melihat sekeliling, dan rasa perih menyengat lain menyerang hidungku. Aku pingsan lagi.

Saat terbangun lagi, aku sudah di tempat lain, terbaring di brankar dengan sesuatu seperti infus di pembuluh darahku. Kulihat seorang perempuan, kurasa perawat, di sampingku.

"Tenanglah, kamu sudah aman."

Aku tertidur lagi.

Fabrizio Lutero

Sampai di markas, Fabrizio langsung menemui dokter, sementara anak buahnya membawa para tawanan ke ruang penyiksaan.

"Hei, Dok, bagaimana keadaannya?"

"Selain kloroform yang dipakai untuk membuatnya pingsan, tidak kutemukan sesuatu yang aneh, kecuali..."

"Kecuali apa, Dok? Katakan."

"Aku tidak tahu ini relevan atau tidak, tapi sepertinya dia baru berhubungan seks dengan seseorang."

"Ketika Dokter bilang berhubungan seks, maksudnya bukan pemerkosaan, benar?"

"Benar."

"Bisa diketahui kapan dia melakukannya?"

"Dari yang bisa kuperiksa, kira-kira dua setengah jam lalu."

Fabrizio mulai berpikir bahwa mungkin Ruth pengkhianat yang menyusup, tapi dia tidak mau gegabah, karena Ruth sudah bekerja untuknya cukup lama, dan meski jalang, dia selalu kompeten dalam pekerjaannya dan tidak pernah memberi alasan untuk dicurigai.

Saat Fabrizio masuk ruangan, Ruth yang mulai siuman tersenyum lebar dari telinga ke telinga.

"Jadi kamu datang menyelamatkanku! Aku tahu kamu punya perasaan padaku."

"Jangan berpikir terlalu jauh, Ruth. Aku akan melakukan hal yang sama untuk karyawanku mana pun."

Tapi itu tidak menggoyahkan Ruth. Di kepalanya, Fabrizio menyelamatkannya karena mencintainya, dan tidak ada yang bisa mengubah itu.

"Bagaimana keadaanmu? Mereka melukaimu? Memaksamu melakukan sesuatu?"

"Tidak, mereka hanya membiusku di tengah jalan."

"Kamu sempat mendengar sesuatu yang berguna untuk kita?"

"Tidak, dia menerima telepon."

Saat Ruth mengatakan itu, wajahnya memerah mengingat kejadian di mobil. Dia berusaha menyembunyikannya, tapi itu tidak luput dari perhatian Fabrizio. Lalu dia melanjutkan,

"...tapi aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan orang itu. Lalu dia bilang rencananya berubah dan membiusku. Maaf, Sayang, andai aku bisa membantu lebih banyak."

"Tidak apa-apa, Ruth. Istirahatlah dan tinggal di rumah selama kamu perlu untuk pulih. Aku pergi dulu, jaga dirimu."

"Tung..."

Fabrizio keluar tanpa memberi perhatian lebih pada Ruth, yang tetap terbaring di brankar dengan mata berkaca-kaca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!