Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.
Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.
Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.
Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.
Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.
Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Ane Smith
Aku duduk di tepi kolam renang seperti biasa. Kadang kupikir sebaiknya aku menjatuhkan diri dan membiarkan tubuhku tenggelam di air hangat yang dalam. Dengan begitu aku bisa beristirahat dengan tenang, membebaskan kakakku dari beban mengurusku seumur hidup dan dari takdir yang membuatku tak akan pernah punya cinta.
Tuan Salvatore kadang mengamatiku, dan aku tahu dia bertanya-tanya apa yang ingin kulakukan di tempat ini. Mungkin kakakku menceritakan masa lalu kami yang menyedihkan, dan bagaimana orangtua kami meninggal. Aku melihat mereka terbakar. Dan yang paling menyakitkan adalah mengetahui ibuku bahkan tidak bereaksi. Dia terlalu teler untuk merasakan apa pun. Sementara ayahku berlari ke seluruh rumah, meronta dan menyulut semua ruangan. Aku tahu beban yang ditanggung Isabela karena memutuskan kembali untuk menarikku dari keadaan katatonik saat aku menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Dan meski aku tak punya bekas luka luar, kubayangkan caranya memperlakukanku hanyalah salah satu akibat traumanya. Dan aku berusaha setiap hari untuk lebih memahami, tapi aku sudah lelah.
Sejujurnya, menipu seorang bos mafia adalah keputusan terburuk yang bisa diambil kakakku. Dan meski begitu, aku harus tetap di sisinya apa pun yang telah dia lakukan atau yang akan dia lakukan padaku. Kalau perlu, akan kuambil kesalahannya dalam permainan tipu-tipu yang menyeretku ini.
Aku meminum pil-pil yang diresepkan dokter dengan disiplin setiap hari. Dan sebenarnya, pil-pil itu membuatku merasa sangat aneh. Kadang aku punya keinginan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.
Aku berbaring di tempat tidurku. Semalaman aku membantu Isabela, atau lebih tepatnya merapikan kamar untuknya. Katanya dia ingin menyenangkan suaminya dengan cara itu, aku tak yakin itu pendekatan terbaik. Kenapa seorang Don butuh pelayan? Dia tidak lihat betapa banyak yang ada di sini?
Aku mendengarkan musik di iPod yang kutemukan di dalam kotak hadiah di kamarku. Untuk pertama kalinya kakakku ingat ulang tahunku. Kuputar lagu Marina, Whitesnake - Is This Love, kuambil sisir rambut dan mulai bernyanyi sambil berputar-putar di kamar. Aku menari seperti orang gila. Aku tersenyum sambil bernyanyi lantang. Aku tidak peduli pada kebisingan, karena aku sendirian di rumah sepanjang hari ini, jadi aku tak mengira akan ada kejutan seperti ini.
"Is this love that I'm feeling? Is this the love that I've been searching for? Is this love or am I dreaming? This must be love. 'Cause it's really got a hold on me. A hold on me."
Kupejamkan mata, merasakan nada-nada kuno dari ketukan musiknya. Gitarnya adalah bagian favoritku. Aku melompat ke atas ranjang king size yang tak pernah kubayangkan akan kumiliki. Aku seperti anak kecil yang menemukan kebebasan di ranjang orangtuanya.
"Ya Tuhan, kaget aku!" Mataku membelalak, tanganku terangkat ke dada.
"Aku tidak seburuk itu..." Dia mengatakannya dengan segala kedinginannya.
"Anda sama sekali tidak jelek." Tidak, kamu sangat tampan. Kumiringkan kepala sambil menatapnya. "Hanya saja, saya kira saya sendirian di rumah."
"Dan kau memutuskan membuat pertunjukan?" Dia mengangkat sebelah alis.
"Eh?!" Aku tersenyum memperlihatkan semua gigiku dengan cara aneh. "Maaf, saya sedang bahagia hari ini karena..."
Dia mengerutkan kening sambil bersandar di kusen pintu, tangannya di saku.
"Tidak apa-apa, aku suka." Dia mengangkat tangan, menunjuk alat musik di tanganku. "Lanjutkan!" Lalu dia memeluk tubuhnya sendiri.
"Saya tidak mau menyanyi di depan Anda..."
"Ayolah. Kau kira aku belum melihatnya? Aku sudah berdiri di sini sekitar dua menit." Mataku membelalak, dan dia melepaskan tawa keras yang mungkin agak menyeramkan.
"Dengar, ini langka."
"Apa?"
"Kau tersenyum seperti itu. Biasanya kau tersenyum culas atau sarkastis."
"Aku harus mengakui, melihatmu menari dan bernyanyi begitu bisa memperbaiki suasana hati siapa pun."
Aku menunduk malu. "Maaf..."
"Jangan minta maaf. Sudah kubilang aku suka dan aku tidak akan mengulanginya. Tapi kulihat kau suka hadiahnya."
"Hadiah?" Aku mengerutkan kening.
"iPod yang kutaruh di ranjangmu."
"Oh, saya kira dari kakak saya. Biasanya dia tidak ingat ulang tahun saya."
"Masa? Dia bilang sebaliknya padaku..." Kulihat ekspresinya berubah sementara dia melipat tangan.
"Tolong jangan marah padanya. Dia hanya dulu sangat sibuk dan..."
"Tenang saja. Lanjutkan bernyanyi... dengan sangat buruk..." Dia tertawa sambil keluar dan menutup pintu.
Sial, sial, malunya. Kakakku tidak boleh tahu dia melihatku melakukan itu. Dia tidak akan suka. Dia tidak pernah suka melihatku bernyanyi dan menari seperti itu. Dan dia selalu bilang anak perempuan yang kehilangan orangtuanya tidak boleh punya kemewahan sebahagia itu.