NovelToon NovelToon
Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.

Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.

Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...

_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Cerai yang Kupinta Sendiri

Nama pada gelang itu baru terbaca ketika Kirana kembali ke rumah Prawira.

Rangga.

Ia memiringkan gelang bayi yang kusam di bawah cahaya lampu meja. Ukiran di sisi dalamnya sudah menipis, tetapi tujuh huruf itu masih jelas. Nama yang sama tercetak pada separuh undangan yang terinjak di kamar vila. Nama lelaki Adiningrat yang sejak kecil dijanjikan kepadanya.

"Kenapa barang Bagas bertuliskan nama Rangga?" gumamnya.

Tak ada jawaban. Di luar kamar, perdebatan keluarga belum juga berhenti meski mereka telah pulang dari vila tiga jam lalu.

Kirana menyimpan gelang itu ke dalam laci saat pintunya diketuk.

Ratna masuk dengan mata bengkak. "Keluarga sudah mengambil keputusan."

"Tanpa bertanya kepadaku?"

"Foto kalian sudah masuk ke dua grup WhatsApp keluarga. Orang yang merekam mengaku sudah menghapusnya, tetapi kita tidak tahu berapa orang yang sempat menyimpan." Ratna duduk di tepi ranjang. "Pihak Bagas bersedia bertanggung jawab."

"Aku tidak meminta dia bertanggung jawab. Aku meminta orang yang menjebak kami ditemukan."

"Bagas sedang memeriksa rekaman CCTV vila."

"Lalu kenapa semua orang membicarakan pernikahan?"

Ratna menarik napas panjang. Jemarinya bertaut begitu erat sampai cincin kawinnya menekan kulit. "Karena kalau sampai kamu hamil..."

"Mama."

"Mama tidak sedang menuduhmu." Suara Ratna melembut. "Mama tahu kamu korban. Bagas juga mungkin korban. Tapi orang-orang di luar tidak peduli pada kebenaran kalau skandal lebih enak dibicarakan."

Kirana memalingkan wajah. Di layar ponselnya, pesan-pesan masuk terus bertambah. Ada yang bertanya dengan kata-kata manis. Ada yang mengirim doa sambil menyelipkan rasa ingin tahu. Ia mematikan ponsel tanpa membuka satu pun.

"Aku seharusnya menikah dengan Rangga."

Nama itu membawa ingatannya kepada cerita yang telah diulang keluarga selama bertahun-tahun.

Mbah Kartono pernah menyelamatkan Broto Adiningrat dalam sebuah kecelakaan di jalan pegunungan. Sebagai tanda persaudaraan, Broto berjanji menyatukan keluarga mereka kelak. Saat Kirana dan putra Adiningrat beranjak dewasa, janji itu berubah menjadi perjodohan.

Kirana hampir tidak pernah bertemu Rangga. Hubungan mereka tumbuh dari surat, surel, dan pesan yang diteruskan melalui keluarga. Lelaki itu mengenal kesukaannya pada sketsa kain, mimpinya membuat rumah mode, bahkan kebiasaannya minum teh tanpa gula. Setidaknya, begitulah yang diyakini Kirana.

Sekarang nama Rangga justru terukir pada gelang milik lelaki lain.

"Pihak Adiningrat tetap menganggap perjodohan lama itu sebagai utang budi," kata Ratna. "Tapi setelah kejadian ini, mereka tidak mungkin memaksamu menikah dengan Rangga."

"Jadi aku dilempar kepada perwira miskin dari desa supaya semua orang bisa mencuci tangan?"

"Rana, jangan bicara seperti itu."

"Apa aku salah?"

Ratna tidak menjawab. Diamnya terasa lebih kejam daripada bantahan.

***

Dua minggu kemudian, ruang akad di rumah Prawira hanya dihiasi melati putih dan kain krem.

Tidak ada panggung. Tidak ada musik. Kursi yang disiapkan bahkan tidak sampai dua puluh. Seorang penghulu dari KUA duduk di depan meja kecil bersama wali hakim dan dua saksi. Semua dibuat serendah mungkin, seolah keluarga mereka dapat mengecilkan aib dengan mengecilkan perayaannya.

Kirana duduk di kamar dengan kebaya putih sederhana. Ratna merapikan kerudung putrinya, lalu berhenti ketika melihat wajah pucat di cermin.

"Kalau kamu berkata tidak sekarang, Mama akan membawamu pergi."

Kirana menatap pantulan ibunya. "Pergi ke mana?"

Pertanyaan itu membuat Ratna terdiam.

Sejak Suryo meninggal, usaha keluarga terus merosot. Rumah besar itu masih tampak megah, tetapi surat tagihan menumpuk di ruang kerja. Nama Adiningrat adalah satu-satunya dinding yang masih menahan para penagih dan pemburu gosip.

"Setelah ini selesai, aku tetap akan mencari siapa yang melakukannya," kata Kirana.

"Mama akan membantumu."

Dari ruang depan terdengar suara Bagas mengucapkan kabul dalam satu tarikan napas. Tegas. Tidak terbata sedikit pun.

"Sah," ucap para saksi hampir bersamaan.

Kirana menutup mata.

Satu kata itu mengubah orang asing menjadi suaminya.

Ketika ia keluar untuk menandatangani berkas administrasi dan menerima buku nikah, Bagas sudah duduk di sisi lain meja. Seragamnya rapi, wajahnya tenang. Hanya bayangan kurang tidur di bawah matanya yang menunjukkan bahwa dua minggu terakhir juga tidak mudah baginya.

Tatapan mereka bertemu.

Bagas menggeser pena ke arah Kirana. "Baca dulu sebelum tanda tangan."

"Aku tidak sebodoh itu."

Tangan Bagas berhenti. "Aku tidak bilang begitu."

Kirana membaca setiap baris meski huruf-hurufnya bergetar di depan mata. Ia lalu menandatangani berkas tersebut dan mengambil buku nikah tanpa menyentuh jemari Bagas.

Tidak ada senyum pengantin. Tidak ada foto berdua.

***

Yang tidak diketahui Kirana, senyum paling puas hari itu tersembunyi di kamar Melati.

Kakak tirinya mengunci pintu, lalu membuka sebuah kotak di bawah tumpukan pakaian. Di dalamnya tersimpan cetakan surel Kirana untuk Rangga, kartu ucapan lama, dan salinan percakapan yang selama bertahun-tahun ia jawab dengan nama adiknya.

Melati tahu warna kesukaan Rangga karena Kirana pernah menuliskannya. Ia tahu makanan kesukaan lelaki itu karena membaca balasan yang seharusnya diterima Kirana. Sedikit demi sedikit, Melati mengambil tempat adiknya dalam setiap pesan sampai Rangga percaya perempuan yang memahami dirinya adalah Melati.

Malam di vila seharusnya menjadi langkah terakhir.

Ia menyuruh pelayan bayaran memasukkan obat ke dalam minuman Kirana dan kopi Bagas. Ia mengarahkan dua orang yang sempoyongan itu ke kamar yang sama, lalu mengirim nomor kamar kepada beberapa kerabat yang paling gemar bergosip menjelang pagi.

Kini Kirana telah menikah dengan lelaki lain. Jalan menuju Rangga akhirnya kosong.

Melati membakar satu lembar salinan pesan di atas asbak. Api kecil memakan nama Kirana lebih dulu.

"Maaf, Adik," bisiknya tanpa penyesalan. "Sekali ini saja, biarkan aku yang menang."

***

Tiga hari setelah akad, Bagas berdiri di ruang kerja mendiang Suryo dengan tas dinas di kakinya.

"Aku harus kembali ke Magelang besok pagi," katanya. "Penyelidikan dari vila belum selesai. Pelayan yang membawa minuman memakai identitas palsu."

Kirana menyandarkan punggung pada meja. Buku nikah tergeletak di antara mereka.

"Bagus. Sekalian urus perceraian kita."

Bagas menatapnya lama. "Apa?"

"Ajukan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama. Aku tidak akan mempersulit prosesnya."

"Kita baru menikah tiga hari."

"Karena keluarga memaksa. Bukan karena aku menginginkanmu."

Rahang Bagas mengeras. "Aku juga tidak pernah meminta semua ini terjadi."

"Tapi kamu mendapat banyak keuntungan." Luka dan malu membuat kata-kata Kirana semakin tajam. "Seorang perwira dari desa menikahi putri keluarga Prawira. Bukankah itu jalan pintas yang bagus?"

Sesaat setelah mengucapkannya, Kirana membenci dirinya sendiri. Bagas telah melindunginya dari kamera. Ia juga tidak melarikan diri. Namun kalau ia tidak membuat lelaki itu terluka, mungkin Bagas akan terus bertahan karena rasa tanggung jawab.

"Jadi itu penilaianmu tentangku?" tanya Bagas.

Kirana memaksa dagunya terangkat. "Apa lagi?"

Keheningan turun di antara mereka.

Bagas mengambil buku nikah, membukanya sekali, lalu meletakkannya kembali. Sorot matanya yang semula tenang berubah dingin.

"Baik. Aku juga tidak mau memaksa."

Ia meraih tas dinas dan berjalan menuju pintu.

"Tunggu."

Kirana membuka laci meja untuk mengambil gelang bayi yang hendak dikembalikan. Ketika logam kusam itu terkena cahaya, ukiran di sisi dalamnya kembali terlihat.

Rangga.

Jantung Kirana berdegup aneh. Ia menatap punggung Bagas, lalu gelang yang terlalu kecil untuk pergelangan tangan lelaki dewasa.

"Ada apa?" Bagas menoleh.

Kirana menutup telapak tangannya. "Tidak jadi."

Bagas memandangnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya membuka pintu.

Tatapannya tertahan pada Kirana satu detik lebih lama sebelum ia pergi.

Malam itu, Kirana menyimpan gelang tersebut di laci bersama buku nikah yang baru berusia tiga hari. Besok Bagas akan kembali ke Magelang dan memulai proses perceraian mereka.

Namun satu pertanyaan terus mengusik Kirana.

Mengapa benda paling pribadi milik Bagas justru menyimpan nama Rangga Adiningrat?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!