Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Kota
"Hallo,Bu Adelia Saya dari dinas kota,ingin menawarkan toko Zuri Couture untuk bergabung di Acara pameran dari kami,Apakah Bu Adelia Bersedia"
Dengan bibir gemetar gugup Adelia Menjawab
"Baik,Bu saya bersedia" ia tidak menyangka toko yang baru saja ia bangun sudah diberi kesempatan untuk bergabung di Acara pameran di kota.
"Baik,Bu,Undangannya saya kirim besok pagi ya"
Surat undangan resmi berukuran besar dengan cetakan huruf emas dari dinas pariwisata kota tergeletak di atas meja kerja Adelia yang dipenuhi gulungan benang dan sisa potongan kain. Di dalamnya tertulis sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan:
Adelia diminta untuk menampilkan koleksi busana buatannya di acara pameran tingkat kota yang akan dihadiri oleh para bangsawan dan masyarakat umum yang memadati gedung utama.
Dua minggu menjelang hari pelaksanaan, suasana di ruko Zuri Couture terasa sangat sibuk dan melelahkan. Adelia menghabiskan hampir seluruh waktu siang dan malamnya di ruang jahit lantai bawah, merancang koleksi busana kerja dan gaun malam yang menonjolkan kerapian potongan serta kenyamanan mutlak bagi pemakainya. Ia tidak menggunakan gaya gaya yang rumit untuk busananya, ia hanya fokus pada kualitas jahitan, ketepatan ukuran, dan pemilihan bahan terbaik.
Adelia memadukan kain katun sutra warna emerald brown hangat, dan hitam tegas dengan detail sulaman halus di bagian kerah dan ujung lengan agar terlihat profesional namun tetap anggun saat dikenakan di bawah lampu panggung.
"Ibu, model untuk gaun utama nomor tiga sudah siap dirias di ruang ganti belakang," lapor Kenzie sambil membawa beberapa gantungan baju bersih dari lantai dua dengan napas sedikit terengah-engah.
Adelia melepaskan meteran kain dari lehernya, menarik napas panjang untuk meredakan pegal di pundaknya, lalu tersenyum tipis pada putranya.
"Bagus, Kenzie. Tolong pastikan sepatu dan aksesorisnya tidak ada yang tertinggal di dalam kardus besar di dekat meja setrika, ya. Jangan sampai ada yang kurang satu pun."
"Siap, Bu! Biar Kenzie cek sekali lagi!" jawab Kenzie mantap, lalu bergegas kembali menuju area belakang panggung peraga.
Malam pameran yang dinantikan akhirnya tiba. Gedung utama kota dipenuhi oleh sorot lampu putih terang yang memantulkan kilap lantai marmer dan ratusan pasang mata dari berbagai kalangan yang memadati area sekitar panggung peraga.
Suasana di dalam gedung terasa riuh oleh suara obrolan para pengunjung, kilatan kamera ponsel, dan alunan musik latar yang mengiringi jalannya acara.
Di barisan kursi penonton terdepan, Faris Zayn El-Amin duduk dengan tenang bersama beberapa rekan bisnisnya, mengenakan jas rapi dengan dasi.
Saat model pertama melangkah anggun membawakan rancangan pembuka berupa setelan jas wanita berpotongan tegas namun tetap mempertahankan siluet feminin, Faris mengangguk pelan,tersenyum tipis dan memberikan tepuk tangan apresiasi. Ia tahu betul seberapa keras usaha yang dicurahkan Adelia di balik layar selama ini.
Satu demi satu busana karya Adelia melenggang di atas panggung, menampilkan harmoni warna yang matang dan presisi jahitan yang sangat rapi.
Para penonton di kursi sekitar tampak antusias melihat detail busana yang dikenakan oleh para model, membuktikan bahwa karya rumahan Adelia kini mampu bersaing secara kualitas dengan produk butik ternama di pusat kota.
Tidak ada kesan norak atau berlebihan, setiap helai pakaian dirancang agar benar-benar bisa dipakai dan dicintai oleh wanita modern dalam aktivitas sehari-hari mereka.
Begitu peragaan busana sesi terakhir selesai dan seluruh model berdiri di ujung panggung bersama sang perancang, tepuk tangan riuh bergema di dalam gedung.
Adelia, yang mengenakan blus hitam sederhana rancangannya sendiri, melangkah keluar ke atas panggung untuk membungkuk hormat menyapa para penonton yang berdiri memberikan apresiasi.
Seorang perwakilan juri pameran naik ke atas panggung dengan memegang mikrofon kecil. "Koleksi dari Zuri Couture malam ini menunjukkan standar pengerjaan yang teliti, pemilihan bahan yang tepat, serta desain yang sangat fungsional bagi wanita aktif," ucap juri tersebut di hadapan penonton, disambut anggukan setuju dari orang-orang di barisan depan.
Keesokan paginya, nama Adelia Zuri mulai banyak dibicarakan oleh orang-orang dari kalangan atas di kota. Pesanan yang masuk melalui akun media sosial tokonya melonjak drastis, membuat Adelia dan kedua penjahitnya harus bekerja ekstra keras setiap hari dari pagi hingga petang untuk memenuhi permintaan yang terus berdatangan.
Namun, di tengah kesibukan dan rasa syukur atas pencapaian tokonya yang kian melejit, sebuah kejadian tak terduga datang menghampiri toko butik Zuri Couture.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel