Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5— Cinta Pei....
Shen Yueli berpamitan, mengundurkan diri bersama rombongannya. Di sampingnya, Xuer masih sibuk menggerutu, "Apa yang akan Kakak lakukan? Shue... Maksudku, Putra Mahkota pasti tidak akan melepaskan Kakak begitu saja."
Yueli buru-buru menoleh. "Tenangkan dirimu, Adik. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah."
"Dengan apa, Kak?"
"Surat-surat dari Shue Hao adalah buktinya."
Xuer terdiam sesaat. Ia berdiri mematung sementara Yueli terus berjalan pelan. Menyadari adiknya tidak lagi mengikuti di belakang, Yueli menoleh dan mendapati Xuer tampak tengah merenung dalam-dalam. "Adik, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada, Kak. Hanya saja... aku tak pernah melihat Shue Hao mengirimimu surat terlalu sering sementara kakak hampir setiap mimggu mengirim surat. Itulah masalahnya."
Shen Yueli terdiam sesaat, lalu menepuk pelan pundak adiknya. "Di situlah akar masalahnya. Aku memang hanya membalas surat-suratnya, tetapi bagaimana mungkin isi surat yang kukirim bisa berbeda drastis dengan apa yang dikatakannya?"
Xuer mendongak, menatap lekat-lekat mata sang kakak. "Lalu, apa yang akan Kakak lakukan?"
"Membuktikan bahwa diriku tidak pernah menulis surat semesra itu padanya."
"Dengan cara apa?"
Shen Yueli mengulum bibirnya perlahan, menutup matanya erat-erat, mencoba menggali kembali memori terdalam si pemilik tubuh asli. Ia yakin, di antara tumpukan barang pribadi di kamarnya, pasti ada petunjuk. "Ada. Surat-surat balasan dari Shue Hao. Di antara puluhan atau bahkan ratusan surat yang kusimpan, pasti ada kejanggalan atau surat palsu yang disusupkan."
Xuer justru menahan napasnya, raut wajahnya berubah semakin tegang. "Kakak... aku baru ingat sesuatu. Dulu Ayah pernah sangat marah besar karena masalah ini."
"Karena apa?"
"Kurir yang mengantar surat itu bukan berasal dari pelayan kediaman kita. Katanya, itu adalah orang asing yang mengaku sebagai kepercayaan Kakak, dan Kakak sendiri yang pernah memberinya izin akses."
"Kurir? Apakah ia bekerja di tempat kita?"
"Aku kurang yakin, Kak."
Angin malam berhembus kian kencang, membuat pelataran paviliun menuju gerbang istana terasa semakin dingin dan lengang di bawah penjagaan ketat para pengawal. Shen Yueli mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Adik, lebih baik kita bahas masalah ini setelah sampai di rumah."
"Baiklah, Kak."
Keduanya akhirnya mempercepat langkah keluar menuju pintu gerbang utama istana. Begitu sampai di area parkir kereta kuda, mata Shen Yueli menangkap sesosok pria tegap berbalut jubah gelap yang berdiri menanti di dekat kendaraan mereka. Pei Chanqing.
"Lama sekali," ucap sang jenderal pelan dengan suara baritonnya yang khas, memecah keheningan malam.
Shen Yueli mengerjap sesaat sebelum mengulas senyum tipis. "Maaf, Pei Ge. Kami tadi sempat tertahan karena ada urusan sebentar."
Pei Chanqing hanya menghela napas pendek, uap putih tipis mengepul dari sela bibirnya di udara malam yang dingin. "Aku akan mengantar kalian pulang."
Yueli menggeleng pelan, merasa tidak enak merepotkan sang jenderal lebih jauh. "Tidak perlu, Pei Ge. Kami bisa pulang sendiri dengan kereta keluarga."
Namun, Pei Chanqing terkenal dengan ketegasan dan kepribadiannya yang keras kepala. Tanpa memedulikan penolakan tersebut, ia melirik sekilas ke arah dua pengawal pribadinya yang membawa gulungan mantel hangat. Dalam hitungan detik, kedua pengawal itu bergerak sigap mendekat, menyelimuti pundak kedua kakak beradik itu dengan kain tebal berlapis bulu halus. Mantel putih bersih kini terpasang sempurna di tubuh Shen Yueli, sementara mantel berona biru muda melingkup hangat di tubuh Shen Xuer.
"Terima kasih, Pei Ge," ucap Xuer sopan sambil menundukkan kepala dan melempar senyuman kecil penuh rasa terima kasih.
Mereka berdua akhirnya menaiki kereta kuda, sementara Pei Chanqing tetap setia menunggangi kuda hitamnya di samping kendaraan tersebut. Laju roda berderit membelah jalanan ibu kota yang perlahan mulai lengang di bawah naungan malam.
"Kakak, aku ingin melihat perhiasan sebentar," ujar Xuer tiba-tiba saat mereka melewati kawasan pasar malam yang masih menyisakan beberapa pedagang kaki lima.
Yueli sempat terdiam sejenak, menimbang waktu. Langit memang sudah gelap sepenuhnya. "Baiklah, kita turun sebentar... tapi cepatlah, aku khawatir Ayah akan mencari kita jika terlalu malam."
Xuer menganggukkan kepalanya antusias. "Tentu, Kak! Kusir, tolong hentikan keretanya di sini."
Begitu mereka turun, Pei Chanqing dengan sigap ikut melompat turun dari kudanya, berjalan tepat di belakang kedua gadis itu untuk memastikan keamanan mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, Yueli mulai menangkap sesuatu yang janggal di antara interaksi kedua orang di hadapannya.
Mereka berhenti di sebuah kios kecil yang memajang berbagai ornamen giok. Di bawah temaram cahaya lentera jalan, Yueli sengaja memperlambat langkahnya dan mengambil jarak beberapa langkah ke belakang.
Tiba-tiba, sebuah rasa nyeri yang tajam menghantam dadanya—bukan luka fisik, melainkan sisa-sisa emosi tertahan dari pemilik tubuh asli. Inilah kepingan ingatan yang menjelaskan segalanya. Pakaian yang dikenakan Pei Chanqing dan Xuer malam ini tampak begitu serasi; cara mereka berdiri, nada suara sang jenderal yang terdengar jauh lebih lembut ketika menanggapi Xuer, bahkan warna jubah mereka yang senada.
Sudut bibir Shen Yueli terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kepahitan. Kini ia sepenuhnya mengerti mengapa di dalam alur cerita aslinya, Shen Yueli memilih untuk terus membisu dan menelan segala penderitaan meski suaminya dikelilingi banyak wanita. Akar dari luka itu ternyata telah tertanam jauh sebelum pernikahan mereka dimulai.
"Kakak, lihatlah ini!" panggil Xuer dengan mata berbinar senang. Ia mengambil sebuah cincin giok berukir halus dari baki kayu pedagang tersebut. Dengan gerakan natural yang membuat dada Yueli semakin sesak, Xuer meraih tangan Pei Chanqing tanpa ragu dan memasangkan cincin itu langsung ke jemari sang jenderal.
Pei Chanqing tidak menolak. Pria itu justru menatap Xuer lekat-lekat, lalu balas mengambil sebuah gelang giok bercorak awan dari etalase yang sama.
"Ini juga untukmu. Terima kasih atas hadiah cincinnya," ucap Pei Chanqing pelan sambil menyematkan gelang giok itu ke pergelangan tangan Xuer, menciptakan pemandangan yang terlampau intim bagi seorang kakak ipar dan adik ipar.
"Pei Ge memang sangat baik," ucap Xuer riang sebelum menoleh ke arah kakaknya. "Benar, kan, Kak?"
Yueli hanya tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala pelan, menahan gemuruh di dalam dadanya. Begitu transaksi pembayaran selesai, Xuer melangkah lebih dulu mendahului mereka menuju kereta kuda, meninggalkan Shen Yueli dan Pei Chanqing berdiri berdampingan di bawah temaram lentera jalan.
"Jika kau mencintainya, mengapa harus menikahiku?" ucap Yueli pelan, suaranya teramat lirih namun cukup tajam untuk menembus keheningan malam.
Pei Chanqing sontak menoleh. Pria itu menatap lurus ke arah sang gadis cukup lama, tubuhnya terpaku kaku di tempat tanpa mampu langsung merangkai kata.
Untuk pertama kalinya, Shen Yueli melihat celah keraguan dan keterkejutan yang telak terpancar dari mata sang jenderal perang yang biasanya selalu tenang dan tak tersentuh.
"Apa maksudmu?" tanya Pei Chanqing, melangkah mendekat dengan alis berkerut dalam.
Yueli mendongak, menatap manik mata pria itu tanpa secercah rasa gentar. "Aku tidak buta, Tuan Pei."
"Shen Yueli!" panggil pria itu dengan nada tertahan saat Yueli berbalik begitu saja.
Namun, panggilan itu sepenuhnya diacuhkan. Yueli buru-buru mengangkat ujung gaunnya dan menaiki anak tangga kereta kuda, meninggalkan sang jenderal berdiri terpaku di luar dalam kebingungan yang pekat.
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu