Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Tamparan Kenyataan dan Seragam Takdir
"Adit, kamu kenapa sudah pulang? Bukannya pekerjaanmu di Paris belum selesai?" tanya Vivian dengan kening berkerut.
Ia melangkah mendekat, matanya memindai penampilan putranya yang jauh dari kata rapi. "Ini kenapa baju kamu basah keringat begini, Dit? Rambut kamu juga acak-acakan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama kamu di sana?"
Vivian menyentuh bahu Adit dengan raut khawatir yang nyata. Adit hanya bisa menelan ludah paksa, jakunnya naik-turun saat ia berusaha meredam gejolak kepanikan di dadanya.
"Aku... aku ada urusan mendesak, Mi. Jadi terpaksa pulang lebih cepat," jawab Adit dengan suara yang ia usahakan tetap stabil, meski tangannya di samping tubuh mulai bergetar.
Jasmine ikut berdiri dan mendekat, langkahnya yang gemulai membuat Adit makin terpojok secara mental.
"Oh gitu. Memangnya masalah mendesak apa, Dit? Sampai kamu kelihatan... kacau banget?"
tanya Jasmine dengan nada lembut yang dulu selalu bisa menenangkan Adit, tapi sekarang justru terasa seperti sembilu.
Adit memalingkan wajah sejenak, menghindari tatapan Jasmine yang penuh selidik.
Ya Tuhan, kenapa gue susah banget buat ngomong yang sejujurnya? Sial, kenapa harus ada Jasmine di sini?! jerit batinnya frustrasi.
Vivian tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Oh iya Dit, ini Jasmine baru saja sampai di Jakarta tadi sore. Dia sengaja mampir dan rencananya mau menginap di sini sampai besok. Kebetulan sekali kan kamu pulang?"
Jasmine mengulurkan tangannya dengan ragu, seulas senyum menghiasi bibirnya. "Adit... apa kabar? Aku nggak nyangka kita bakal ketemu secepat ini."
Adit mematung menatap tangan itu, sebelum akhirnya memaksakan diri untuk menjabatnya singkat. Dingin. Tangannya yang berkeringat terasa sangat kontras dengan tangan Jasmine yang halus.
"Aku... aku baik-baik saja, Jasmine. Senang melihatmu kembali," ucap Adit dengan senyum yang dipaksakan—sebuah topeng CEO yang mulai retak.
Boro-boro baik. Ini lagi darurat tingkat dewa, dan besok gue harus jadi suami orang! batin Adit merana, menyadari bahwa fajar esok hari akan menjadi kiamat bagi harapan apa pun yang mungkin tersisa di antara dirinya dan Jasmine.
"Mendingan kamu cepat istirahat aja, Dit. Kamu kelihatan capek banget," ucap Jasmine lembut, matanya menatap Adit dengan binar yang masih sama seperti dulu.
"Iya, bener kata Jasmine. Kamu mandi terus tidur, ya," timpal Vivian.
Adit meremas kunci mobil di sakunya. Lidahnya terasa kelu, seolah ada beban ribuan ton yang menahan kejujurannya.
"Hmm, iya Mi. Tapi Adit nggak bisa lama di sini. Adit mau ke apartemen saja, lebih dekat ke kantor. Adit cuma mampir ganti baju. Besok siang... Adit harus balik lagi ke Paris," bohong Adit.
Bego! Bego! Kenapa gue malah makin ngarang cerita! batin Adit menjerit frustrasi.
"Lho, kenapa harus ke apartemen? Kenapa nggak menginap di sini saja?" tanya Vivian heran.
"Nggak bisa, Mi. Maaf, Adit permisi ke kamar dulu."
Adit melangkah cepat menuju lift, menghindari tatapan selidik ibunya dan kehadiran Jasmine yang membuatnya makin sesak.
****
Beberapa saat kemudian, Adit turun kembali. Ia sudah berganti pakaian dengan kemeja bersih, tampak lebih rapi namun raut wajahnya tetap mendung. Di ruang tengah, Jasmine sudah tidak terlihat, hanya ada Vivian yang duduk tenang sambil menyesap teh sisa tadi.
"Mi, kok belum tidur?" tanya Adit pelan.
"Belum. Mami sengaja mau melihat kamu berangkat," ucap Vivian lembut.
Adit terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ini kesempatannya. Ia tidak mungkin menyimpan bom waktu ini sendirian.
Adit melangkah perlahan, lalu duduk di sofa tepat di samping ibunya. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dada, lalu meraih jemari Vivian dan menggenggamnya erat.
"Mi..." suara Adit parau.
"Maafin Adit kalau tadi Adit bohong."
Vivian menoleh, senyumnya sedikit memudar digantikan rasa ingin tahu. "Bohong soal apa, Sayang?"
"Adit kena masalah besar di Paris. Ada skandal... Adit dijebak. Adit dituduh melakukan hal yang tidak pantas dengan seorang gadis bernama Sella. Adit bahkan nggak kenal dia sebelumnya, Mi," ucap Adit dengan mata berkaca-kaca.
"Dan... besok pagi jam delapan, Adit harus menikah dengan dia di KUA."
Hening sejenak. Adit menunduk, tak berani menatap ibunya. "Adit mohon Mami datang. Adit nggak sanggup kasih tahu Oma Karin dan Opa Antonio sekarang. Adit takut jantung Opa drop lagi. Tolong... Mami yang sampaikan ke mereka pelan-pelan besok."
Bukannya panik atau marah, Vivian justru terdiam sejenak lalu tiba-tiba terkekeh pelan. Tawanya makin lama makin keras, membuat Adit bingung sekaligus merana.
"Aduh, Adit! Kamu ini ya, baru pulang dari Paris bukannya bawain oleh-oleh parfum, malah bawain prank!"
Vivian menepuk bahu Adit sambil tertawa.
"Mami tahu kamu suka usil buat menghibur Mami yang kesepian, tapi konten nikah di KUA pagi-pagi itu terlalu absurd, Dit. Kreatif sekali kamu!"
"Mi, ini bukan prank! Adit serius!" tegas Adit dengan wajah frustrasi.
"Iya, iya, Mami percaya. Terus nanti maskawinnya apa? Struk belanjaan?"
Vivian kembali tertawa, menyangka anaknya hanya sedang mencoba mencairkan suasana kaku di rumah itu.
Adit hanya bisa mematung. Ternyata kejujuran yang paling pahit pun terdengar seperti lelucon di telinga ibunya. Ia menyadari, meyakinkan Vivian akan jauh lebih sulit daripada menghadapi gertakan Kaizen.
"Adit mohon, Mi. Kali ini saja... Adit benar-benar serius, enggak bercanda. Mami harus percaya!" suara Adit meninggi, sarat akan keputusasaan yang mendalam.
Ia meremas jemari ibunya hingga buku-buku jarinya memutih. Vivian seketika menghentikan tawanya. Keheningan yang janggal merayap di antara mereka, menyisakan deru napas Adit yang tidak beraturan.
"Kalau Adit enggak datang ke KUA besok pagi, Adit bakal digantung hidup-hidup sama bapaknya yang galak itu. Adit harus tanggung jawab, Mi. Kesuciannya terancam ternoda karena kesalahpahaman obat malam itu," lanjut Adit dengan nada parau, kepalanya tertunduk dalam karena malu yang luar biasa.
Deg!
Vivian mematung. Senyum remeh di bibirnya lenyap seketika, digantikan oleh raut wajah yang pucat pasi. "Kamu... jangan bercanda, Dit," ucap Vivian lirih, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu liar.
"Beneran, sumpah Mi! Bahkan... di seprai hotel itu ada noda darahnya," aku Adit, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan malam.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Adit, membuat kepalanya tersentak ke samping. Suara tamparan itu bergema di ruang tengah yang sunyi, memecah sisa-sisa ketenangan Mansion Abraham.
"Mami kecewa sama kamu, Dit! Benar-benar kecewa!"
Vivian berteriak dengan suara bergetar karena emosi yang meluap. Air mata mulai menggenang di pelupuknya.
"Kenapa kamu bisa bertindak seceroboh ini? Kamu mau mengikuti jejak Papi kamu yang jahat itu, hah?! Mau menghancurkan hidup orang lain?!"