NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18_Melawan diri sendiri

Belial langsung memegangi pundakku.

"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Kai?? Kau tiba-tiba mengamuk dan mulai menyerang kami, bahkan sampai menghancurkan semua yang ada di sekitarmu."

Aku menatapnya, mataku membelalak.

"A-apa maksudnya??"

Sophie langsung memberiku sihirnya untuk meredakan luka yang ada di tubuhku.

"Maaf, Tuan Kai, karena kau mengamuk seperti itu, kami jadi terpaksa untuk menahanmu dengan kasar."

Alis Agrees langsung mengerut.

"Tapi bagaimana bisa, Tuan Kai menjadi orang yang sangat berbeda seperti itu?? Kekuatan yang ada di dalam tubuh anda juga tiba-tiba saja meningkat secara drastis!?"

Aku memegangi kepalaku dan mulai berpikir.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku, kenapa aku bisa menjadi seperti ini??" Aku menoleh ke arah Zafira dan Belial. "Dan kenapa kalian berdua terlihat begitu cemas seperti itu??"

Selena langsung mengepalkan tangannya.

"Sebenarnya tadi malam..."

[Kilas Balik]

Langit berubah menjadi gelap, angin mulai bertiup kencang diiringi guntur yang mulai terdengar dari balik awan-awan gelap itu.

"Pada saat itu aku baru saja keluar dari ruang latihan, sehabis berlatih menguasai sihir kegelapan baruku." Dia melihat Kai yang sedang terdiam mematung di lorong. "Tuan Kai??"

Selena langsung menghampiri Kai dan menepuk pundaknya.

"Tuan Kai, apa yang anda lakukan disini?? Bukankah sudah terlalu larut untuk anda berkeliaran di istana??"

Kai tersenyum sinis.

"Benarkah?? Kalau begitu bagaimana jika kau mengantarkan aku ke kamarku, Selena."

Agrees yang melihat mereka berdua pun langsung menghampiri mereka.

"Oh kalian berdua... sedang apa kalian disini??"

Selena langsung melambaikan tangannya.

"Oh Agrees, cepat kemari..."

Kai menundukkan kepalanya, lalu membuang mukanya ke samping. Agrees yang datang di situ pun langsung melihat ke arah Kai.

"Ahh... Tuan Kai?? Selena juga?? Apa yang kalian lakukan disini??"

Selena langsung tersenyum lebar.

"Ahh... aku, aku hanya ingin mengantarkan Tuan Kai ke kamarnya saja, benarkan Tuan Kai??"

Kai langsung mengangguk pelan.

"Hmm... begitulah, soalnya aku sedikit kelelahan karena terlalu lama berlatih dan membaca buku akhir-akhir ini."

Agrees langsung tersenyum tipis.

"Hehh... begitu ya??"

Tiba-tiba saja Agrees langsung menerjang lalu menebas Kai dengan sangat cepat.

Debu-debu mulai berterbangan kemana-mana, menutupi pandangan sekitar.

Selena yang melihat itu langsung terkejut dan terjatuh.

"Apa yang kau lakukan Agrees?? Kau ini berniat membunuh tuan kita!?"

Debu-debu mulai menghilang dan terlihat serangan Agrees yang berhasil ditahan oleh Kai dengan tangannya yang sudah diselimuti oleh mana berwarna hitam.

"Ahh... padahal hanya tinggal sedikit lagi untuk diriku menguasai kalian semua."

Agrees langsung menendang Kai dengan sangat kencang, sampai dia terpental sedikit ke belakang.

"Cihhh... tubuhnya benar-benar sangat keras!!"

Selena bangun dan berdiri di samping Agrees.

"Sepertinya itu bukanlah Tuan Kai yang kita kenal." Alisnya mengerut, dia menggertakkan giginya. "AbyssFlare!!" (Membuat kobaran api berwarna hitam yang sulit padam)

*BOOM*

Akibat serangan itu lorong itu pun hancur berkeping-keping, debu-debu mulai berterbangan dan puing-puing kecil mulai berjatuhan. Bahu Selena terangkat, nafasnya masih terengah-engah.

"Apa seranganku berhasil membuatnya terluka??"

Bayangan seseorang yang sedang berdiri mulai muncul.

"Kau sepertinya sudah berlatih sangat keras ya... Selena." Wajah Kai mulai tertutupi setengahnya oleh mana berwarna hitam, matanya juga berubah menjadi merah. "Tapi apa kau yakin akan terus menyerangku dengan serangan seperti tadi?? Asal kalian tau saja walaupun aku adalah orang yang berbeda dengan dirinya, tapi tetap saja tubuh ini adalah miliknya."

Agrees menggenggam pedangnya dengan erat, alisnya mengerut.

_Sekarang kami harus apa?? Kami berdua tidak mungkin menyerangnya dengan tenaga penuh..._

Saat mana di tubuh Kai mulai ingin menyelimuti dirinya lebih banyak lagi, tiba-tiba sebuah benang tipis memotong tangannya.

"Sialan..." Darah mulai keluar dari tangannya yang terpotong.

Kai memegangi dengan erat tangannya dan tersenyum tipis.

"Nampaknya lawan yang merepotkan mulai muncul juga..."

Astra, Gigan dan Sophie datang untuk membantu mereka. Astra langsung tertawa kecil ketika melihat Agrees yang tidak bisa berbuat apa-apa saat itu.

"Hahaha... aku pikir kau akan berani untuk membuat keputusan sepertiku tadi."

Gigan langsung mengarahkan tameng raksasanya ke arah Kai.

"Titanfall Break!!" (Menabrak musuh dengan otot tubuh yang diperkuat) Dia mulai menerjang ke arah Kai tanpa ragu.

Lantai dan ruangan itu bergetar dibuatnya. Kai yang melihat itu langsung tersenyum lebar.

"Apa kau yakin kau tidak akan memberi pertahanan kepada mereka semua??"

Namun Gigan tanpa ragu terus melangkah maju.

"Soal itu... aku percayakan kepadanya!!"

Kai langsung membuka tangannya dengan lebar.

"Kalau begitu biar aku tunjukkan, kekuatan yang selama ini aku sembunyikan." Gigan menabraknya dengan sangat keras.

*BRUKK*

Kai tersenyum tipis sambil memegangi tameng Gigan dengan tangannya.

"Bagaimana?? Apa sekarang kau ingin menyerah??" Kai langsung menendang tameng itu dan membuat Gigan terpental mundur.

Sophie langsung berlari menuju ke arah Gigan.

"Biar aku sembuhkan kalian semua... Verdant Pulse!!" (Gelombang hijau yang menyembuhkan orang-orang di sekitarnya) Astra dan Selena berdiri di depan Agrees.

Selena langsung menoleh ke arahnya.

"Maaf Agrees, tapi kita harus melakukannya, jika dia berhasil keluar dari tempat ini, dia akan menjadi monster yang mengancam seluruh dunia!!"

Agrees langsung menggertakkan giginya dan menggenggam pedangnya dengan erat.

"Kau benar, aku tidak boleh ragu sekarang!!"

Kai langsung tersenyum lebar.

"Hehh... ternyata memang benar, kalian menyembunyikan jalan keluar dari tempat ini dariku."

Semua orang menatap Kai dengan tatapan tajam, lalu Agrees dan Astra menerjang ke arah Kai dengan sangat cepat. Mereka mulai menyerang Kai tanpa adanya ragu sedikitpun.

Kai pun menepis serangan mereka semua dengan terlihat sangat santai.

"Heii... jika kalian tidak serius, aku bisa saja membunuh kalian!!"

Astra langsung mundur dan mengambil kedua belatinya.

"Gale Phantom!!" (Membuat gerakannya menjadi sangat cepat seperti tertelan angin) Dia terus menyerang ke bagian vital milik Kai tanpa henti.

Agrees yang berada di dekatnya langsung mengangkat pedangnya dengan tinggi.

"Stardust Severance!!" (Mengalirkan sihir ke pedangnya dan menebas dengan pola bintang)

Kai yang sadar akan hal itu, langsung menangkap tangan Astra dan melemparnya ke tembok. Saat dia menoleh ke arah pedang itu dia terlambat, pedang itu sudah menebasnya dan membuatnya terpental jauh.

Sophie yang sedang menyembuhkan luka pada Astra langsung tersenyum.

"Kita berhasil!!"

Gigan langsung mengangkat tamengnya.

"Tidak... belum selesai." Dia langsung mengerutkan dahinya. "Area Aura Of Resolve!!" (Sebuah lingkaran muncul mengelilingi mereka dan membuat tubuh mereka bertiga mengeluarkan aura emas)

Dia menoleh ke arah Selena.

"Hei... Selena, jika dugaanku benar, tuan kita bisa melakukan itu??"

Selena mengerutkan alisnya.

"Mengeluarkan mana di tubuhnya, lalu memadatkannya di tubuhnya sendiri sebagai armor, ditambah armor itu juga bisa menyerap sebagian mana yang ada di sihir seseorang."

Kai langsung bangun dan memegangi lehernya.

"Aduh... itu tadi sangatlah sakit, tapi untung saja aku bisa meregenerasi tubuhku." Mana di tubuhnya mulai membuat lapisan baru berwarna putih yang melapisi bagian yang berwarna hitam. "Baiklah... karena kalian sudah seserius ini, maka aku juga akan serius."

Agrees langsung menoleh ke arah Selena.

"Sekarang!! Selena!!" Dia langsung berlari dan menebas Kai dengan cepat.

Astra pun tersenyum melihat Agrees.

"Tidak kusangka yang paling tenang, bisa juga emosional di saat seperti ini." Dia mulai membantu Agrees dengan mengincar titik-titik vital di tubuh Kai.

Kai yang sudah muak pun mengerutkan alisnya.

"Jangan meremehkan aku!!" Dia menangkap mereka berdua dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Hancurlah kalian berdua!!"

Tiba-tiba saja sebuah akar berduri mulai mencekik leher Kai, dan akar-akar berduri yang lain mulai merambat. Selena langsung tersenyum lebar.

"Harusnya kami yang bilang begitu... Thorned Embrace!!" (Menciptakan akar-akar berduri yang melilit musuh)

Kai mulai menggertakkan giginya, dan mulai mencoba menyerap mana yang ada di sihir itu.

"Kenapa?? Kenapa aku tidak bisa menyerap sihir ini??" Dia menoleh ke bawah, matanya membelalak. "Sejak kapan ada lingkaran sihir di bawah??"

Belial dan Zafira tiba-tiba sudah muncul di depan dan belakang Kai, penampilan mereka berbeda, dan masing-masing dari kepala mereka muncul satu tanduk. Belial menatap tajam.

"Kembalikan..."

Zafira langsung menerjang dari belakang dan langsung menggenggam kepala Kai.

"...Kai kami, sekarang juga!!" Dia langsung membanting Kai dengan keras ke lantai, lantai itu pun seketika langsung hancur.

Kai langsung terkapar tidak bisa bergerak setelah itu.

"Apa yang terjadi?? Tubuhku tidak bisa digerakkan??"

Zafira langsung melompat dan menginjak tubuh Kai dengan sangat keras, hingga lantai itu benar-benar hancur dan membuat kawah yang sangat kecil.

"Diamlah... dan jangan melawan."

Tiba-tiba mulai muncul rantai yang mengikat tubuh Kai.

"Apa yang ingin kalian lakukan??"

Zafira dan Belial langsung menatap tajam, matanya memerah dan masing-masing setengah matanya mengeluarkan pola bintang segi 6.

"Menyatukan dirimu kembali dengan dirinya... Hexagram Union!!" (Memunculkan rantai dan sebuah batu prasasti bergambar bintang segi enam untuk mengikat jiwa) Sebuah prasasti bergambar bintang segi enam muncul, dan rantai-rantai itu tertarik ke tiap ujungnya.

Kai terikat dengan sangat erat di prasasti tersebut.

"Begitu... ternyata alasan kalian tidak berniat untuk membunuhku dari awal adalah ini..."

Batu prasasti itu mulai menghilang, bersamaan dengan lapisan mana yang ada di tubuh Kai yang juga ikut menghilang. Kai tersenyum lebar ke arah mereka semua.

"Dengarkan aku baik-baik kalian semua... Aku akan membalas dendam pada kalian semua.. dan kapan aku akan melakukannya lagi itu tergantung pada dirinya..."

Seluruh mana itu pun menghilang, menyisakan urat-urat hitam di tubuh Kai, sementara Kai sendiri masih tidak sadarkan diri.

[Akhir Kilas Balik]

Selena menundukkan kepalanya.

"Setelah itu kami semua langsung membawa tuan ke kamarmu... terlebih lagi..." Selena meneteskan air matanya. "Nona Zafira dan Tuan Belial..."

Aku langsung menoleh ke arah mereka berdua.

"Apa yang terjadi kepada kalian berdua?? Bukankah di cerita tadi kalian memunculkan sebuah tanduk??"

Zafira langsung menundukkan kepala dan membuang wajahnya, sementara itu Belial memegangi pundakku dan tersenyum.

"Jangan dipikirkan... kami hanya kehilangan kekuatan dan wujud di dunia mu saja..."

Mataku membelalak, bahuku menurun lalu aku mulai meneteskan air mata.

"Kenapa?? Kenapa?? Padahal aku sudah sangat yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja."

[Ingatan Masa Lalu]

Belial tersenyum tipis.

"Apa benar kami paham dengan apa yang kau sukai?? Apakah kau tidak terpikir bahwa mungkin itu adalah keinginanmu sendiri??"

Aku langsung menoleh ke arahnya, mataku membelalak, aku melihat Belial yang menatapku dengan tatapan yang sangat kosong.

"Apa yang kau bicarakan, Belial?? Apa yang terjadi denganmu??"

Dia berjalan ke arahku.

"Semua yang kau rasakan saat ini... adalah kebohongan yang kau ciptakan."

[Akhir Ingatan Masa Lalu]

Aku langsung memegangi kepalaku dan mulai menangis.

"Aku mengerti... semuanya hanyalah khayalan yang aku ciptakan agar aku bisa merasa baik-baik saja, aku selalu membohongi diriku sendiri dengan berkata seperti itu..."

Zafira langsung memelukku dengan erat.

"Tidak!! Itu bukan khayalanmu..." Dia pun menangis terisak-isak.

Aku menatap langit-langit dengan tatapan kosong _mulai sekarang, apa yang akan terjadi padaku kedepannya??_

[Keesokan harinya]

Aku duduk dan termenung di atas tempat tidurku.

_Setelah kejadian itu pun aku dilarang keras oleh mereka untuk berlatih dan mendekati ruang arsip lagi._

Aku berdiri dan berjalan ke pintu keluar.

_Tapi sepertinya aku harus melanggar itu._ Saat aku membuka pintu dua orang penjaga, ksatria dan penyihir langsung menoleh ke arahku.

Ksatria bertanya kepadaku.

"Apa yang tuan lakukan, nona Zafira melarang anda meninggalkan ruangan ini."

Aku tersenyum tipis kepada mereka semua.

"Aku hanya ingin bertemu dengan kakakku, apa tidak boleh??"

Mereka berdua menatap, dan akhirnya mengangguk. Sang penyihir langsung menjulurkan tangannya.

"Kalau begitu kami akan mengantarkan tuan."

Aku langsung tersenyum lebar kepada mereka berdua.

"Tidak, terima kasih, aku bisa melakukannya sendiri." Aku langsung menciptakan rantai dan mengikat mereka berdua.

Aku pun berlari menuju ruang arsip.

_Ada yang ingin aku pastikan, karena itu aku harus menuju ruang arsip._

 

Zafira yang langsung mengetahui bahwa aku mendekati ruang arsip langsung memberi tahu semuanya lewat telepati.

"Semuanya, dengarkan aku, Kai sekarang sedang menuju ruang arsip, apapun yang terjadi hentikan dia!!"

Semua orang langsung berlari mengejarku. Saat aku sudah hampir sampai ke ruang arsip, langkahku terhenti.

Aku melihat mereka semua sedang mengepungku, masing-masing dari mereka sudah berdiri di masing-masing lorong, lalu Belial muncul dari lorong arahku berlari tadi.

"Sepertinya aku dalam kondisi yang buruk sekarang."

Zafira pun muncul dari lorong yang mengarah ke ruang arsip.

"Sebaiknya kau menyerah Kai, tidak ada tempat untukmu berlari lagi."

Aku langsung tersenyum dengan lebar dan melihat ke arah sekitar.

"Dengarkan aku kakak, pantang menyerah adalah kekuatanku." Aku langsung membuat rantai dan menancapkannya ke ujung langit-langit.

Lalu aku mendorong tubuhku sekuat tenaga ke arah depan dan melemparkan diriku langsung ke ruang arsip, semua orang ternganga, mata mereka membelalak melihat aksiku.

Saat aku terjatuh ke ruang arsip, pintu ruangan itu pun menghilang.

"Sudah aku duga... tempat ini adalah awal dari kejadian kali ini."

Di depanku sudah ada diriku versi yang lainnya, memegang buku sambil tersenyum kepadaku.

"Aku tidak menyangka kau akan datang kepada diriku secara langsung."

Aku langsung bangun dan berjalan maju ke arahnya.

"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, dan untuk mendapatkan jawaban itu, aku harus bertarung melawan dirimu!!"

Rating

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!