"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB LIMA: Arus Bawah (Bagian 4)
“Kita nunggu siapa sih ini?” Ara mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Terlihat sekali dia sudah tak sabar.
“Tunggu aja! Bentar lagi juga nyampe kok dia.”
“Dari tadi bentar mulu,” Ara menelungkupkan wajahnya di atas meja. Selain tempat duduknya menghadap ke arah matahari, aku tahu Ara memang paling tidak tahan disuruh menunggu. Jadi, akulah yang harus bisa menjaga moodnya agar tidak drop. Kamu ingat kan bagaimana mengerikannya dia ketika sedang tidak mood? Karena sifat moodynya itu, kadang aku takut dia mengidap bipolar.
“Sabar dong, Chan. Baru juga 20 menit,” aku mengelus-elus kepala Ara, menenangkannya. Kulirik jam tanganku. Dia seharusnya sudah sampai di sini sejak 10 menit yang lalu. Masa iya dia tersesat?
“Eh, nunggu lama ya? Sorry!” seseorang menepuk punggungku pelan dari belakang. Aku menoleh.
“Kamu nih! Tadi kan udah kubangunin sebelum aku berangkat jemput Ara,” mendengar namanya kusebut, Ara mendongakkan kepalanya. Seketika itu juga dia langsung mendudukkan tubuhnya tegak-tegak. Nyaris tak berkedip menatap seseorang di belakangku.
“Aku bukan kesiangan. Tadi mampir beli bensin dulu tahu,” cetus Ian tidak mau disalahkan. Ara masih saja terduduk tegak di kursinya. Sepertinya dia terlalu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
“Chan? Kok malah bengong? Ini nih orang yang bikin kamu nunggu. Nggak mau ngomel?”
“Zang, jangan mulai!” Ian buru-buru menyenggol bahuku. Dia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ara.
“Halo! Aku Ian.”
“Ara!” Ara tersenyum, membalas jabat tangan Ian.
“Ternyata Ara yang asli lebih cantik daripada yang di foto ya?” Ian menopangkan kepalanya sambil menatap Ara. Ara malah menatapku.
“Foto mana ini yang kamu kasih liat?”
“Yang...yang aku punyalah,” jawabku sekenanya.
“Ih, awas aja kamu kalau kamu kasih liat yang jelek!” Ara mencubit pipiku.
“Duh! Mau kamu jelek juga, bagiku kamu cantik. Kan kamu pacarku. Masa bodoh orang lain mau bilang kamu gimana.”
“Kenapa gombalmu makin menjadi-jadi sih? Kebanyakan makan pare ya di Bandung?” mendengar ocehan Ara, Ian jadi tertawa. Aku ikut nyengir. Antara menertawakan Ara dan meringis karena cubitan Ara di pipiku.
“Izang nggak gombal kok, Ra. Dia emang segitu cinta matinya sama kamu. Kamu nggak tahu kalau selama dia di Bandung dia nggak pernah bonceng cewek lain?” Ian membelaku. Yah, ada untungnya juga bocah ini menyusulku ke sini. Seandainya tidak, mungkin aku akan pulang ke Bandung dalam keadaan lebam-lebam.
“Eh? Kenapa kok sampai kayak gitu?” Ara terkejut.
“Ya karena dia pingin jaga perasaan kamu meskipun kamu nggak tahu dia ngapain aja di sana. Makanya jangan marah kalau dia gombal-gombal gini, di Bandung nggak ada yang digombalin soalnya,” Ian terbahak. Bagus, sekarang aku merasa hidupku menyedihkan sekali.
“Sebenernya kamu mau membantuku atau menjatuhkanku sih?” aku memberikan Ian tatapan datar. Bukannya berhenti tertawa, dia malah makin cekikikan. Baru kali ini aku melihat dia sebahagia ini.
“Dua-duanya. Awalnya sih emang kasihan, tapi lucu juga ngelihat kamu diomelin Ara.”
“Sialan!” aku menoyor kepala Ian. Kami berdua akhirnya terbahak-bahak. Aku tak sadar jika Ara sudah terdiam sejak tadi. Dengan antengnya mengamati aku dan Ian secara bergantian.
“Kenapa, Chan? Kok ngelihatinnya gitu banget?”
“Nggak apa-apa kok. Cuma baru ngeh aja perbedaan kalian dimana,” Ara menyangga wajahnya dengan kedua tangan. Aku dan Ian saling berpandangan, penasaran.
“Emang dimana?” tanya kami bersamaan.
“Sebenernya ada beberapa, tapi yang paling kelihatan sih mata. Warna mata Ian lebih terang daripada warna matamu, Chan,” jawab Ara setelah memicingkan matanya ke arah kami berdua.
Selama ini aku dan Ian tidak berpikir bahwa kami memiliki perbedaan yang mencolok. Apalagi sejak Ian meniruku habis-habisan. Mulai dari gaya rambut, pakaian, motor, semuanya. Aku bisa menjamin orang kantor tidak akan ada yang bisa mengenali kami seandainya kami bertukar pekerjaan dalam satu hari. Ah, tak perlu sampai bertukar pekerjaan. Ketika kami berjalan bersama saja, mereka tetap salah memanggil nama kami. Lebih sering tertukarnya daripada yang benar. Padahal mereka sudah bekerja dengan kami berdua selama dua tahun. Sampai-sampai kami malas membenarkan panggilan itu. Jadi, aku dan Ian berprinsip siapapun yang disapa, kami berdua akan mengiyakan tanpa ambil pusing. Ternyata, butuh seorang Ara untuk menyadarkan aku dan Ian bahwa kami tetap dua orang yang berbeda. Dia, yang sudah kukencani selama tiga tahun ini, yang baru bertemu Ian beberapa menit lalu, dengan mudahnya menebak letak perbedaan itu. Dan aku sendiri nyaris tak percaya dengan perkataan Ara ketika kemudian aku dan Ian menoleh ke kaca di samping meja kami. Ara benar.
“Nah, kalau gitu gantengan siapa coba?” tanyaku iseng. Ian melengos.
“Ara kan pacarmu. Jelas aja dia bakal jawab kalau kamu yang lebih ganteng.”
“Nggak, ah. Gantengan Ian lagi,” tutur Ara tanpa pikir panjang. Kutengok Ian, karena kukira dia akan tertawa. Namun bukan tawa yang kudapat di wajah cerahnya, melainkan rona samar. Dan entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang aneh di dalam diriku. Awalnya kuacuhkan saja, karena kupikir aku hanya sedang lapar. Tapi ketika aku menatap Ian dengan lebih teliti, aku baru tercekat. Tatapan itu, tatapan yang dia berikan pada Ara, adalah tatapan yang sama dengan tatapan jatuh cinta yang pernah dia berikan pada Sarah.
...***...
“Ini dari Vanno. Semua berkas yang kamu butuhin ada di situ. Baru aku cek beberapa sih, tapi kayaknya nggak ada masalah,” Ian menyodorkan setumpuk map berbagai warna ke arahku. Aku mendorong kursiku untuk menerimanya.
“Alright. Laporan soal tendernya Pak Richard udah kelar? Udah finishing kan?” aku balik bertanya. Ian berdeham, mengecek salah satu berkas yang berserakan di meja ruang rapat yang kami tempati sekarang.
“Kemarin aku kelarin sebelum berangkat ke Malang. Mau kamu cek lagi?”
“Boleh,” sahutku sambil mengambil map hijau itu dari tangan Ian. Menarik napas panjang sebelum mulai membaca laporan itu.
Sudah dua minggu ini aku kembali ke habitatku di Bandung. Dengan terpaksa kembali meninggalkan Ara yang baru terbiasa dengan kehadiranku. Sebenarnya aku ingin menemaninya di hari pertama kuliah. Memantau laki-laki mana yang sekiranya akan berani memandang Ara lebih dari sepuluh detik. Meneliti siapa yang berpotensi mencuri perhatian Ara ketika berjauhan denganku. Tapi, tentu saja Ara menolak mentah-mentah keinginanku itu. Dia tetap menyuruhku untuk kembali ke Bandung. Bahkan dia mengancam tidak akan meneleponku kalau aku masih ngeyel memperpanjang tinggalku di Malang. Aku jelas saja tidak berani ambil risiko. Daripada berdebat panjang dengan Ara, lebih baik kuturuti saja maunya. Toh aku malah dapat kecupan di pipi karena setuju untuk kembali ke Bandung tepat waktu.
Ian? Dia juga kembali bersamaan denganku. Mengikuti keterpaksaanku untuk kembali tepat waktu. Tentu saja dia tidak dapat kecupan dari Ara. Dia hanya dapat pelukan hangat sebagai tanda untuk jaga diri. Dan Ian sudah sangat bahagia dengan pelukan itu. Ternyata seminggu di Malang sudah bisa membuatnya mengendapkan Sarah di titik terbawah. Tak ada lagi kesedihan tiba-tiba di malam hari yang kadang sampai membuatnya mengigau. Kusadari jika Ara membantu Ian dengan baik. Cukup baik sampai Ian selalu bercerita tentang Ara sebelum tidur. Membuatku kembali merasakan sesuatu aneh yang familier di perasaanku.
“Udah bener, nih. Tinggal minta tanda tangan si Andra,” kututup map itu dan menyerahkannya pada Ian. Yah, di sinilah kami berdua. Mengejar kenyataan pekerjaan yang semakin kejam.
“Okay, got it!” Ian menumpuk map itu di sisi meja yang lain. Kuhitung ada delapan map yang sudah berhasil kami bereskan sejak tadi pagi. Baru delapan, tapi leherku rasanya sudah mau copot. Mataku sampai panas karena memelototi kertas dan laptop secara bergantian. Belum lagi punggungku yang menegang karena duduk seharian. Andra sialan ini benar-benar balas dendam.
Aku melirik Ian. Kulihat dia sudah kembali berkutat dengan berkas yang baru. Oh, dia tidak tersiksa dengan laporan yang seabrek itu rupanya. Aku hanya geleng-geleng kepala, memutuskan untuk berhenti sejenak dengan menyandarkan kepalaku di bantalan kursi.
“Eh, Zang!” baru beberapa menit aku terpejam, Ian sudah memanggilku.
“Hmm?” aku menyahut malas. Aku berniat tidak akan menjawabnya lagi kalau sampai dia bertanya soal tender atau laporan.
“Kamu percaya sama cinta pada pandangan pertama, nggak?” ah, untung saja permintaanku terkabul. Aku tertawa kecil sebelum menjawab.
“Percaya nggak percaya, sih. Abisnya pacar pertamaku kan si Ara. Kamu tahu sendiri bagaimana aku jatuh cinta padanya. Bukan seperti itu kan cinta pandangan pertama yang kamu maksud?”
“Yeah, it is not,” tukas Ian pelan. Tak ada pertanyaan lanjutan setelah beberapa saat. Dan justru aku yang jadi penasaran dengan pikiran Ian.
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Have you move on now?” aku balik bertanya tanpa sedikit pun membuka mataku. Kudengar Ian menarik napas dalam.
“Sepertinya. Tapi, aku masih belum yakin. Lagi pula ini akan jadi hal yang penuh risiko buatku.”
“Cuma perasaanmu aja mungkin, kan belum dicoba. Jangan kebayang-bayang sakit hatimu dululah!” ujarku menenangkan.
“Ini bukan sekadar perasaan, Zang. Aku bukan menduga-duga. Aku tahu ini bakal lebih sakit jika dibandingkan dengan masalah Sarah kemarin,” jawab Ian lagi.
“Maksudmu? Emangnya kamu jatuh cinta sama siapa, sih? Kok segitu pesimisnya,” aku mendengus kesal. Saking kesalnya aku sampai memutar kursiku hingga membelakanginya. Aku gemas sekali dengan kelakuan Ian yang satu ini. Dia memang kembali menjadi Ian yang kukenal pertama kali tapi dia jadi terlalu berhati-hati. Terlalu berhati-hati sampai jadi aneh sendiri.
Kuputuskan untuk diam. Bagiku pertanyaanku tadi sudah jelas. Jadi, aku menunggu saja jawaban Ian tentang perempuan yang sekarang hinggap di pikirannya. Meskipun mataku terpejam, aku bisa mendengar dengan jelas Ian beranjak dari kursi yang berseberangan denganku. Mungkin dia ingin menghitung kancing kemejanya. Bertaruh untuk mengatakan padaku atau tidak.
“Ara. Sepertinya aku jatuh cinta sama Ara,” Ian mengatakannya dengan lugas. Aku membuka mataku perlahan. Dari kaca ruangan di hadapanku, aku bisa melihat Ian berdiri lesu. Menatap punggung kursiku dengan tatapan yang nanar, sendu. Tatapan itu pula yang menyelusup di hatiku. Mengingatkanku dengan perasaan aneh yang kerap muncul ketika melihat Ian bercanda dengan Ara, tertawa dengan Ara, dan bercerita tentang Ara. Perasaan yang setelah kuingat adalah perasaan yang sama ketika dulu aku berseteru dengan Joan karena Ara. Oh, aku cemburu ternyata.
...***...