Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DELAPAN MINGGU, GANTI NAMA
Usia 8 minggu 0 hari.
Hari ini adalah hari ganti status.
Jika selama 8 minggu terakhir di semua buku kedokteran Sia disebut embrio, mulai hari ini, detik ini, ia resmi disebut janin. Fetuses. Artinya, semua organ vital yang seharusnya ada, sudah ada. Mulai hari ini, tugasnya bukan lagi membentuk organ dari nol, tapi membesarkan dan mematangkan organ yang sudah ada.
Panjangnya hari ini 18 milimeter. Sebesar buah raspberry besar atau sebesar biji anggur. Dalam 2 hari, ia tumbuh hampir 3 milimeter. Jantungnya 148 kali per menit. Hampir stabil di angka kelahirannya nanti.
Dan hari ini, ada 3 hal besar yang selesai di dalam tubuhnya:
Pertama, ususnya yang selama 2 minggu terakhir tinggal di luar perut, di dalam tali pusat, karena perutnya belum cukup besar untuk menampungnya, hari ini mulai kembali masuk ke dalam rongga perut. Pindah rumah.
Kedua, kelopak matanya yang sudah menutup, hari ini tertutup rapat dan menyatu, akan tetap begitu sampai 6 bulan ke depan.
Ketiga, ujung jarinya yang kemarin baru terpisah, hari ini sudah punya bantalan jari. Sidik jarinya yang unik, yang tidak akan sama dengan manusia mana pun di bumi, mulai dibentuk hari ini. Di atas bantalan itu, kuku-kuku kecil mulai muncul sebagai lipatan tipis.
Sia hari ini sudah lengkap. Punya jantung yang berdetak 148 kali, punya 10 jari dengan bantalan dan kuku, punya kelopak mata yang tertutup, punya usus yang baru pindah rumah, dan punya telinga luar yang sudah berbentuk jelas.
Untuk merayakan kepindahan usus dan pembuatan sidik jari itu, Sia meminjam hampir semua energi Alya.
Pukul 02.30 pagi, Alya terbangun karena muntah. Bukan mual menggantung. Muntah beneran, banyak, asam, sampai perutnya kosong.
Ini adalah puncak.
Dokter pernah bilang, mual muntah biasanya memuncak di usia 8-9 minggu, saat hCG mencapai level tertinggi sepanjang kehamilan. Hari ini adalah puncak pertama itu.
Rafael terbangun, tidak panik lagi. Ia sudah hafal prosedurnya. Ia mengambil baskom, memberikan air hangat, mengusap punggung, lalu setelah selesai, memberikan air lemon es seteguk kecil, dan biskuit kraker yang sudah dihancurkan jadi bubuk agar lebih mudah ditelan.
"Ini puncaknya ya, Fa?" tanya Alya, suaranya habis, wajahnya pucat pasi, keringat dingin di dahinya.
Rafael mengangguk, mengusap keringat itu dengan tisu. "Ini puncaknya. Dokter bilang setelah 8 minggu, hCG pelan-pelan turun, plasenta ambil alih. Jadi setelah ini, pelan-pelan akan lebih enak. Hari ini paling berat. Besok sudah mulai turun sedikit."
Alya memejamkan mata, bersandar di bahu Rafael di lantai kamar mandi yang dingin. "Aku tidak kuat kalau tiap malam begini."
"Kamu kuat. Kamu sudah kuat 24 hari rahasia, kamu sudah kuat 2 hari jadi milik semua orang. Ini cuma satu malam puncak. Besok Team Sia datang lagi bawa pasukan sop bening."
Pukul 07.00, seperti yang dijanjikan, pasukan datang.
Bukan hanya Mama. Hari ini Tante Rina, Mama, dan sepupu Alya, Dinda, datang bersamaan. Membawa 3 rantang berbeda: sop bening ayam, bubur ayam tanpa bawang goreng, dan kentang rebus dingin plus telur rebus dingin. Dan satu kantong besar berisi apel hijau kecil yang dingin, yang ternyata kemarin Alya bilang di grup "enak kalau apel dingin".
Apartemen 36 meter persegi yang biasanya sepi, hari ini penuh.
Alya yang masih pucat dan lemas karena muntah jam 2.30 pagi, hanya bisa berbaring di sofa, diselimuti, dengan 3 orang perempuan yang mengelilinginya, bergantian mengusap kaki, mengipasi, dan menyuapi.
"Gantian jaga malam ya," kata Tante Rina ke Rafael. "Kamu jangan sendirian terus. Semalam muntah ya? Alya cerita di grup jam 3 pagi. Mama langsung tidak bisa tidur."
Rafael mengangguk. Ia memang mengirim satu pesan ke grup jam 3 pagi: *Team Sia, laporan: Sia bikin ibunya muntah banyak jam 2.30. Puncak hCG katanya. Ibu sudah tidur lagi.*
Dan Mama langsung membalas jam 3.10: *Ya Allah, lap nakasnya pakai air hangat ya, Fa. Jangan pakai AC terlalu dingin.*
Itulah yang terjadi sekarang. Apartemen menjadi posko.
Pukul 11.00, dokter menelepon balik. Rafael sempat kirim pesan ke dokter pagi tadi tentang muntah malam.
"Bagaimana muntahnya? Berapa kali? Masih bisa minum?" tanya dokter di telepon, dengan suara tenang.
"Sekali aja tadi malam, Dok, tapi banyak. Setelah itu masih bisa minum air lemon sedikit-sedikit. Masih bisa makan biskuit," jawab Rafael sambil di-loudspeaker agar Alya dengar.
"Itu masih dalam batas wajar puncak 8 minggu. Yang tidak wajar kalau tidak bisa minum sama sekali 24 jam, muntah lebih dari 5 kali sehari, dan pipis jadi gelap. Kalau Alya masih bisa minum dan pipis masih bening, aman. Itu tanda plasenta mau ambil alih. Hormonnya lagi tinggi-tingginya sebelum turun. Pertahankan makan sedikit tapi sering, yang dingin lebih baik. Dan istirahat total hari ini. Jangan USG dulu minggu ini, kasihan ibunya capek bolak-balik. USG lagi minggu depan saja pas 9 minggu."
Telepon ditutup. Mama dan Tante Rina mengangguk-angguk seperti murid yang mendengarkan guru.
"Didengar ya, Nak? Jangan USG dulu. Sia lagi sibuk pindahan usus sama bikin sidik jari. Jangan diganggu dulu," kata Mama, mengelus perut Alya yang masih rata.
Alya tertawa kecil, pertama kalinya hari ini. "Mama tahu dari mana Sia bikin sidik jari?"
"Mama baca di Google tadi pagi pas nunggu GoSend. Hari ini Sia 8 minggu, sudah punya kuku dan sidik jari katanya."
Semua orang tertawa.
Sore itu, untuk pertama kalinya dalam 34 bab, ritual kalender tidak ditulis oleh Rafael atau Alya. Ritual itu ditulis oleh Mama di buku pink.
Mama mengambil buku pink itu, membuka halaman kedua, dan menulis dengan tulisan besar-besar:
*28 Okt 2026 - 8 minggu 0 hari - Sia - 18mm - FHR 148 bpm - Resmi jadi JANIN hari ini! Bukan embrio lagi! Usus pindah rumah masuk perut, kelopak mata tutup rapat, sidik jari dan kuku mulai dibentuk! Gejala Ibu hari ini puncak mual muntah (muntah banyak jam 2.30 pagi) - tanda hCG tertinggi. Ibu hebat, sudah lewati puncak. Nenek, Tante Rina, Dinda jaga di apartemen seharian. Ibu makan disuapin. Dokter bilang istirahat total, USG libur seminggu. Sia lagi sibuk pindahan.*
Di bawahnya, Tante Rina menambahkan: _Sia, Tante bawain apel hijau dingin banyak. Ibu kamu suka. Bikin sidik jarinya yang cantik ya. Nanti sidik jarinya cuma kamu yang punya di dunia._
Dinda menambahkan: _Sia, Kak Dinda tunggu kamu lahir biar bisa main bareng. Jangan bikin Ibu muntah terus ya._
Alya membaca tulisan-tulisan itu dengan air mata yang mengalir pelan. Bukan air mata sedih, tapi air mata karena tiba-tiba ia punya banyak tangan yang menulis untuk anaknya.
Malamnya, setelah semua orang pulang, apartemen kembali sepi. Rantang-rantang kosong berjejer di dapur. Sisa apel hijau dingin ada di kulkas.
Rafael menulis di kalender besar mereka, melanjutkan tulisan Mama:
*28 Okt 2026 - 8w0d - 18mm - FHR 148 - Resmi janin, sidik jari mulai, usus masuk perut. Puncak mual: muntah hebat 02.30. Team Sia full team datang ke apartemen jaga seharian. Ibu disuapin bergantian. Dokter: ini puncak hCG, akan turun pelan-pelan setelah ini. USG libur seminggu. Ibu hebat sudah lewati 8 minggu.*
Alya menambahkan di buku pink, di bawah tulisan Mama, Tante Rina, dan Dinda:
_Sia, hari ini kamu ganti nama. Dari embrio jadi janin. Artinya kamu sudah lengkap. Hari ini kamu bikin sidik jari, cuma kamu yang punya. Ibu bangga sekali. Hari ini Ibu muntah paling banyak, tapi Ibu tidak sendirian. Nenek, Tante Rina, Kak Dinda ada di sini. Mereka suapin Ibu. Mereka tulis buku ini buat kamu. Kamu sudah punya banyak orang yang sayang kamu bahkan sebelum kamu bisa lihat mereka. Tidur yang nyenyak ya di rumah barumu yang ususnya sudah pindah masuk perut. Ibu janji besok akan coba makan apel hijau dingin yang Tante Rina bawa._
Pukul 22.30, Alya berbaring di pangkuan Rafael. Tidak ada rekaman detak jantung yang diputar malam ini. Dokter bilang kasih Sia istirahat.
Rafael hanya mengusap perut Alya yang masih rata, dengan gerakan melingkar yang sangat pelan.
"Selamat malam, Sia yang sudah 18 milimeter," bisik Alya, matanya sudah mengantuk berat karena seharian dijaga banyak orang, "hari ini kamu resmi jadi janin. Sudah punya sidik jari. Ibu masih mual, tapi Ibu bahagia. Karena hari ini Ibu lihat kamu tidak cuma dijaga Ayah dan Ibu, tapi dijaga satu rumah penuh. Tidur yang nyenyak ya, di rumah barumu yang sudah rapi ususnya."
Di atas meja nakas, buku pink yang kemarin hanya ada satu tulisan Mama, hari ini sudah ada 4 tulisan berbeda, dengan 4 warna pulpen berbeda.
Di dalam perut Alya, seorang janin sebesar biji anggur dengan sidik jari yang baru saja mulai dibentuk hari ini dan usus yang baru saja pindah rumah, berdetak 148 kali per menit, tanpa tahu bahwa di luar, sidik jarinya yang unik itu sudah ditunggu oleh sebuah buku pink yang akan mencatat setiap milimeter pertumbuhannya.
Bersambung...