NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:680
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Konser

Hari Sabtu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Inilah momen puncak bagi Trio Plenger yang sudah berlatih keras untuk tampil membawakan lagu kebanggaan mereka. Namun tentu saja, di sudut lain sekolah, kelompok Reno juga sudah bersiap menyusun taktik kotor untuk mengacaukan panggung mereka.

Kawasan sekolah kini disulap menjadi area festival mini. Deretan stan makanan berjajar ramai di sepanjang jalan luar sekolah, menyebarkan aroma gurih yang memancing selera siapa saja. Karena ini hari Sabtu, jadwal pelajaran resmi diliburkan sepenuhnya demi acara festival. Para murid pun dibebaskan dari seragam dan diizinkan memakai pakaian kasual andalan masing-masing.

Danu berdiri menempelkan wajahnya di kaca jendela koridor, matanya berbinar menatap jejeran stan jajanan yang sibuk melayani pembeli di bawah sana.

"Wah, kelihatan enak banget..." gumam Danu membayangkan makanan-makanan itu.

"Iya, kelihatan enak," sahut sebuah suara santai tepat di sebelahnya.

Danu terlonjak kaget dan nyaris terantuk kaca. Rio sudah berdiri cengengesan di belakangnya. "Waduh! Bikin kaget aja lu, Yo!"

"Hahaha, sorry, sorry. Lu mau turun ke stan sekarang?" tawar Rio santai.

"Emangnya boleh keluyuran sekarang?"

"Ya... boleh-boleh saja, kan? Toh kita pakai baju bebas dan acaranya juga belum sepenuhnya mulai," jawab Rio logis.

"Iya juga, ya..." Danu tampak menimbang-nimbang. Ia menatap stan jajanan itu sekali lagi sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Tapi enggak dulu deh, gue mau lanjut ngetik bab baru buat ceritaku aja."

Mata Rio membulat tertarik. "Wah, lu punya cerita baru lagi? Judulnya apa?"

"Iya, judulnya Kaisar dengan Badan Kecil," jawab Danu bangga.

"Hahaha, dari judulnya aja udah kedengaran lucu," kekeh Rio. Ia langsung merogoh saku celananya. "Coba gue cari pakai HP gue, mumpung kemarin gue udah unduh aplikasi baca novelnya."

"Wah, makasih lho udah mau baca."

"Ya... sama-sama. Cerita lu itu selalu bagus-bagus dan berbobot, Dan. Saking berbobotnya diksi lu, kadang gue sampai sering nanya AI buat ngerti maksud kalimatnya," aku Rio jujur.

Danu tertawa pelan mendengarnya. "Hahaha, padahal ini gue nulisnya juga dibantu pakai AI, lho."

Rio langsung berhenti mengetik di layar HP-nya dan menatap Danu kaget. "Lah, serius lu? Bukannya curang ya kalau nulis pakai AI?"

"Hmm, nggak curang kok, asalkan gue yang masih pegang kendali mutlak sama ceritanya. AI itu cuma sekadar sparring partner buat diskusi brainstorming, ngatur tempo adegan, sama moles kalimat biar lebih rapi. Imajinasi sama naskah aslinya tetap murni ketikan tangan gue," jelas Danu dengan prinsip yang sangat kuat.

Rio manggut-manggut paham, rasa hormatnya pada sang drummer bertambah. "Ouuh, masuk akal juga. Bagus lah kalau gitu! Lu emang beneran punya bakat, Dan. Secara gak sadar lu itu udah jadi penulis hebat!"

"Iyakah?" pipi Danu sedikit bersemu karena dipuji mendadak.

"Iya, serius!" tegas Rio yakin.

"Wah, makasih banget atas pujiannya," ucap Danu dengan senyum tulus.

"Yaelah, slow aja kali. Kita kan teman," balas Rio sambil menepuk pelan bahu sang drummer.

"Haha, iya."

"Jadi, lu mau nongkrong di kelas aja nih? Nyelesain ceritanya?"

Danu tampak berpikir sejenak. "Hmm... rencananya sih iya. Emangnya lu sendiri mau ke mana, Yo?"

"Gue mau ke ruang musik. Mau numpang main game, lumayan di sana ada sinyal WiFi nganggur." Rio menaikkan sebelah alisnya. "Lu mau ikut?"

"Boleh deh."

"Yaudah, gaskan!"

Mereka berdua melangkah keluar dari ruang kelas. Baru beberapa langkah menyusuri koridor yang ramai, mereka berpapasan dengan vokalis andalan mereka, Zahra. Sontak, langkah ketiganya terhenti.

"Eh, lu pada mau ke mana?" tanya Zahra.

"Mau ke ruang musik," jawab Danu.

"Wah, bentar-bentar! Tungguin gue!" Zahra langsung berbalik badan, mempercepat langkahnya masuk kembali ke kelasnya sejenak. Ia mengaitkan tali tasnya dengan asal-asalan di sandaran kursi, lalu bergegas berlari kecil kembali menghampiri kedua temannya.

"Yuk!" seru Zahra tak sabar.

"Udah naruh tasnya?"

"Udah."

Bertiga, geng Trio Plenger itu berjalan santai menuju ruang musik. Sepanjang koridor, suasana sekolah terasa sangat kacau dan riuh khas persiapan festival. Setiap sudut memiliki aktivitas absurdnya masing-masing. Di satu sisi, ada kelompok yang lagi panik ribut gara-gara salah menulis lirik lagu di spanduk stan mereka. Di sisi lapangan, pemandangannya lebih ngilu lagi; ada siswa yang niatnya mau memukul paku untuk memaku dekorasi kayu, eh palunya malah meleset menghantam tangan temannya sendiri sampai si korban melompat-lompat kesakitan.

Setibanya di depan ruang musik, Rio perlahan mendorong pintunya. Mereka bertiga sontak melongo di ambang pintu.

Kondisi ruangan itu jauh berbeda dari pertama kali mereka menginjakkan kaki di sana. Kini, ruangannya tampak sangat bersih, alat-alat ditata rapi, dan lantai kayunya mengkilap. Di tengah ruangan, terlihat Kak Rizki sedang duduk lesehan dengan ramah menyambut kedatangan seseorang yang tampak asing.

"Lah, ada orang?" gumam Rio bingung.

"Mungkin itu anak baru yang mau daftar ekstra," tebak Danu.

"Wah, berarti ekstrakurikuler musik kita bakal semakin besar dong?!" mata Danu berbinar penuh semangat menyadari band mereka mungkin punya anggota tambahan.

"Iya sih... tapi pastinya bakal makin ribet juga ngaturnya," sahut Zahra setuju, meski kalimatnya diakhiri dengan raut wajah sedikit malas membayangkan kericuhan baru.

Kak Rizki yang menyadari kehadiran anak-anak didiknya langsung melambaikan tangan ceria. "Nah... kebetulan Trio Plenger kita udah masuk nih!"

"Apalah Kak, kita bukan plenger!" bantah Rio tak terima julukan itu dipakai di depan orang asing. "Kita cuma agak bodoh aja sedikit."

"Hahah, bukannya itu sama aja artinya? Yaudah, yuk sini duduk kumpul. Kita kedatangan anggota baru nih," ajak Kak Rizki.

Ketiganya berjalan mendekat dan ikut duduk melingkar. Seorang gadis berbaju kasual rapi yang duduk di hadapan Kak Rizki menoleh dengan ekspresi malu-malu.

"Halo... nama saya Putri," sapanya dengan nada suara yang sangat lembut dan sopan, jauh berbeda dengan energi ngegas ala Rio atau Zahra.

"Halo Putri, namaku Rio."

"Namaku Danu."

"Namaku Zahra."

Setelah perkenalan singkat yang diwarnai kecanggungan itu, Zahra mulai menatap Putri dengan tatapan menyelidik.

"Btw, kenapa kamu mau masuk ke ekstra musik yang isinya cuma orang-orang plenger kayak gini?" tanya Zahra terang-terangan, sambil sengaja melirik tajam ke arah Rio.

Rio yang merasa tersindir langsung tersulut. "Hah? Kenapa lu nanya gitu sambil ngelirik gue?!"

"Hahaha, perasaan lu aja kali," tawa Zahra puas bisa menjahili sang keyboardist.

Putri hanya bisa tersenyum canggung melihat dinamika ajaib dua orang di depannya ini. "Hmm... saya suka musik."

"Ouuh, suka musik? Kalau begitu, kamu bisa main alat musik apa?" selidik Zahra semakin penasaran.

Gadis berambut sebahu itu menunduk sedikit, meremas ujung bajunya gugup. "Aku... bisa main seruling."

]

"Widih, seruling? Coba praktekin dong sekarang!" seru Rio antusias.

"Jangan paksa, Rio!" tegur Zahra tajam.

"Memangnya siapa yang maksa? Gue cuma penasaran, Zahra!" bantah Rio tak mau kalah.

"Hmm... iya deh..." gumam Zahra masih mengawasi Rio dengan curiga.

Melihat dua orang itu mulai berdebat, Putri langsung gelagapan. "Ehh, ehh, jangan berantem..."

"Haha, gapapa kok, Putri. Ini sudah lumrah terjadi di antara mereka," sela Kak Rizki dengan tawa kecil yang menenangkan.

"Ouhh..." Putri menghela napas lega. "Aku mau saja mempraktikkan, tapi hari ini aku nggak bawa serulingnya."

"Yaa... sayang sekali. Padahal kita mau langsung praktek ke konser hari ini lho," keluh Rio dengan nada kecewa.

Putri tersentak kaget, matanya membulat sempurna. "Hah? Serius?!" Gadis itu menoleh ke arah sang mentor. "Iya... kamu nggak diberitahu sama Kak Rizki?"

Putri menggeleng polos. "Hmm... nggak."

"Kak Rizki!" protes Zahra dan Rio serempak.

Kak Rizki hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir. "Hehe, maaf. Kan ini anggota baru, jadi Kakak nggak enak kalau langsung merepotkannya."

"Make sense sih," Zahra manggut-manggut membenarkan alasan itu.

"Kalau begitu... kamu mau diajak naik ke panggung bareng kita nggak?" tawar Danu tiba-tiba.

"Hmm... nggak tahu. Gimana menurutmu, Putri? Mau ikut naik ke panggung bersama kami?" tambah Kak Rizki meyakinkan.

Putri tampak ragu, menggigit bibir bawahnya. "Ehhmm... bentar, boleh aku lihat video latihan kalian dulu?"

"Boleh, boleh! Nih," Zahra sigap menyodorkan HP-nya, memutar rekaman video saat mereka berlatih membawakan lagu Sayap Merah di Antara Awan.

Mata Putri tak berkedip menatap layar kecil itu. "Wah... keren banget!" pujinya takjub begitu video berakhir.

"Wah, makasih, ya," balas Zahra tersenyum bangga.

"Iya! Oh iya, karena aku sudah dengar lagunya, aku bisa nyesuain nada dasar pakai seruling nanti, jadi aman saja," ucap Putri yang mendadak menemukan kepercayaan dirinya.

"Ouh, bagus kalau begitu!" puji Kak Rizki. "Jadi, Kak Rizki mau ajak ke panggung sekarang?"

"Belum... kita bisa nonton penampilan orang lain dulu di panggung kalau kalian mau bersantai sebentar."

"Boleh-boleh, ayo!" semangat Rio memimpin jalan.

Mereka berlima pun keluar dari ruang ekstra musik dan berjalan santai menuju lapangan utama sekolah. Tak lama kemudian, speaker sekolah berbunyi nyaring di seluruh penjuru gedung.

"Tes, tes! Ayo anak-anak yang mau tampil konser silakan bersiap, panggung sudah bisa dipakai, ya! Bagi yang lain, jangan lupa nonton untuk mengapresiasi teman-temannya sembari menunggu penampilan kalian. Terima kasih!"

"Wah lihat, anak-anak lain udah pada ready aja tuh," tunjuk Kak Rizki ke arah panggung yang mulai dikerumuni beberapa murid.

Melihat keramaian itu, langkah Putri mendadak melambat. Tangannya bertaut dingin. "Hmm... aku baru pertama kali ke panggung, jadi agak gugup..."

"Tenang saja, kan ditemanin sama kita-kita," ujar Rio sambil menoleh dan memberikan senyum penyemangat.

Putri sedikit tertegun, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Yo. Ternyata kamu berbeda dengan bayanganku waktu pertama kali ngobrol tadi."

"Hahah, iya kah?" Rio mendadak menggaruk tengkuknya, wajahnya memerah tersipu malu mendengar pujian halus itu. Zahra yang melihatnya hanya bisa menahan tawa geli.

Mereka berlima segera mengambil tempat duduk di selasar depan kelas yang posisinya berhadapan langsung dengan lapangan sekolah.

Penampilan demi penampilan bergulir dan sukses membuat mereka takjub. Ada yang bernyanyi dengan suara bergetar karena gugup, ada band yang tampil dengan semangat meledak-ledak, dan ada juga yang tampil kelewat santai karena sudah berstatus kakak kelas langganan panggung.

Hingga akhirnya, MC kembali naik ke atas panggung dengan suara menggelegar.

"Ok, ok! Penampilan terakhir yang paling kita tunggu-tunggu, perwakilan dari Ekstra Musik! Apa yang kali ini mereka tampilkan? Mari kita saksikan!" seru MC disambut riuh tepuk tangan penonton.

Jantung mereka berdetak lebih cepat. Mereka berlima berjalan beriringan menaiki panggung. Kak Rizki mengambil alih sebuah mikrofon di tengah panggung untuk memberikan salam pembuka.

"Terima kasih bagi kalian yang sudah men-support ekstra kami. Kami di sini akan menampilkan sebuah lagu yang berjudul... Sayap Merah di Antara Awan."

Sorak-sorai penonton perlahan mereda, memberi ruang bagi band tersebut. Danu mengangkat stik drumnya, mengetukkannya ke udara sebagai aba-aba tempo.

Tuk... tuk... tuk!

"Satu... dua... tiga... satu... dua... tiga!"

Rio mulai menekan tuts keyboard-nya, memecah keheningan dengan melodi pop yang indah, disusul dentuman snare yang mantap dari drum Danu.

Zahra maju selangkah, menggenggam erat mikrofon di depannya. Ia menarik napas panjang, lalu membuka suara.

"Biasanya..."

Dan seketika, sihir itu terjadi.

Begitu kata pertama lolos dari bibir Zahra, lapangan yang tadinya bising oleh obrolan dan suara orang mengunyah jajanan mendadak hening total. Suara Zahra yang jernih, kuat, dan penuh emosi mengudara melalui speaker raksasa, menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Angin siang itu seolah ikut berhenti berhembus. Murid-murid yang sibuk berlalu-lalang serempak menghentikan langkah mereka, menoleh ke arah panggung dengan mata terpaku.

Hanya dengan satu tarikan napas pertama, Zahra sukses menyihir satu sekolah, dipadukan secara magis dengan harmoni musik Danu dan Rio yang mengawal suaranya dengan sempurna.

[Bersambung]

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!