Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Bayangan yang Tak Bernama
Vano terpaku di tempatnya, rokok di jemarinya tak lagi terhisap, asap tipisnya perlahan luruh diterpa angin malam yang sejuk namun menusuk hingga ke tulang.
Di hadapannya berdiri wanita itu — Meloudy, bawahannya — dan di antara mereka terbentang jarak yang jauh lebih lebar daripada sekadar pembatas tanaman. Ia tak tahu siapa sesungguhnya wanita yang berdiri di hadapannya. Tak tahu bahwa nama yang ia rindukan dalam diam tersembunyi rapat di balik nama yang ia panggil sekarang.
"Nona Meloudy…" panggilnya pelan, nada tetap menjaga batas, meski hatinya berdenyut tak menentu.
"Apa… apa yang Anda lakukan di sini?" Ia menunduk sejenak, menyadari betapa berantakannya dirinya, jauh dari sosok yang selalu tegap dan berwibawa.
Di balik pintu di belakangnya, Elona terbaring menunggu; di luar sana, Ina terus mengancam akan membongkar segalanya.
Dan di tengah semua tekanan itu, ada satu nama yang senantiasa muncul di benaknya — Laudys. Sosok yang tak pernah ia temukan, yang wajahnya ia bayangkan saat menutup mata, yang kehadirannya ia rindukan saat berada di sisi orang lain.
Saat ia bersama Elona, matanya tak melihat wanita itu — ia membayangkan sosok yang tak dikenalnya. Saat Ina menekannya, ia bertahan dengan mengingat bayangan itu. Dan kini, wanita yang berdiri di hadapannya mengingatkannya pada sosok itu — namun ia tak menyadari bahwa mereka adalah orang yang sama.
"Maaf… seharusnya Anda tidak melihat saya seperti ini," ucapnya pelan, tangan refleks menutupi diri.
"Saya tak menyangka ada orang di balkon sebelah. Apakah… Anda datang bersama teman-teman?"
Meloudy hanya mengangguk pelan, bibirnya terkatup rapat. Ia tak tahu bahwa setiap kali Vano terjebak, setiap kali ia memejamkan mata, sosok yang terbayang justru dirinya — dengan nama lain, dengan wajah yang belum dikenali. Ia hanya tahu satu hal: di sini, di hadapannya, ia bukan siapa-siapa.
Vano menghela napas panjang, membuang puntung rokoknya. Ia menatap wanita itu sekilas, lalu memalingkan wajah — tak sanggup menatap lebih lama, takut sesuatu yang tak seharusnya terasa justru terlihat.
"Anda tidak perlu takut," ucapnya akhirnya, suara kembali tenang namun berat.
"Saya tidak marah. Hanya… terkejut, itu saja. Silakan kembali, Nona Meloudy. Kembalilah ke teman-teman Anda. Tempat ini… bukan tempat yang seharusnya Anda saksikan."
Kata-kata itu terasa seperti pintu yang ditutup rapat — dan ia tahu, ia tak punya hak mengetuknya.
"Baik, Tuan… maafkan saya," jawabnya lirih, menunduk dalam.
"Saya pamit."
Ia berbalik dan melangkah pergi, tak menoleh sedikit pun.
Di belakangnya, Vano masih berdiri diam, menatap pintu yang tertutup. Ia tak tahu — tak sedikit pun menyadari — bahwa wanita yang baru saja pergi adalah sosok yang ia bayangkan setiap kali berbaring di samping Elona.
Bahwa tangan yang ia genggam dalam khayalan, wajah yang ia bisikkan namanya, adalah milik wanita yang kini menjauh. Bahwa setiap kali ia menolak Ina karena ada seseorang di hatinya — seseorang yang ia sebut Laudys — orang itu ada di sini, begitu dekat, namun tak dikenali.
Ia menghela napas getir, lalu kembali berbisik nama yang tak pernah hilang:
Laudys...
Ia tak tahu jawabannya baru saja melangkah pergi.
Melangkah masuk kembali ke ruangan yang riuh itu, Meloudy duduk di sudutnya, menahan napas. Ia tak tahu bahwa di ruangan sebelah, pria itu memanggil namanya yang lain — nama yang ia sembunyikan rapat.
Ia tak tahu bahwa ia adalah penenang yang dicari-carinya, sosok yang di mimpikan nya di saat-saat tergelapnya. Ia hanya tahu satu hal: baginya, ia hanyalah Meloudy. Bukan siapa-siapa.
**
**
Gita sibuk menekan layar ponselnya berkali-kali, wajahnya tampak cemas. Tak ada jawaban. Ia dan Neneng sudah berdiri bersiap bergegas ke lobi mencari Meloudy, tepat saat pintu kamar terbuka perlahan.
Meloudy melangkah masuk, berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, namun tatapannya diusahakan tenang.
"Meloudy!" Gita langsung berlari menghampirinya, menatapnya dari atas ke bawah. "Dari mana saja kau?! Kami mencarimu ke mana-mana, telepon pun tak diangkat! Wajahmu pucat sekali, ada apa?"
Meloudy menghela napas pelan, menyusun senyum setenang mungkin.
"Dari toilet saja, mungkin sedikit lelah," jawabnya lembut, suaranya datar, tak membiarkan siapa pun mendengar getaran di sana.
Ia berjalan melewati Gita, kembali ke tempat duduknya, ikut tersenyum, ikut tertawa mendengar cerita teman-temannya — namun di dalam benaknya, satu pikiran menguat perlahan, tenang dan tegas.
Bukan urusanku.
Ia punya kehidupannya, aku pun punya kehidupanku sendiri. Siapa yang ada di sampingnya, dengan siapa ia bermalam, itu sama sekali bukan bagian dari dunianya. Aku hanya bekerja di perusahaannya, itu saja. Bukan keluarganya, bukan temannya, bukan siapa-siapa. Garis itu jelas, dan aku tak akan melangkahinya.
Namun bayangan wanita yang terbaring di kamar sebelah sesekali melintas — rambut panjang itu, cara wanita itu memeluk lengan Vano erat-erat — dan ia menggeleng pelan, membuangnya.
Ia tak tahu — tak sedikit pun menyadari — kenyataan yang jauh lebih ironis dan menyakitkan.
Bahwa pria yang ia hormati sebagai atasannya itu, ternyata adalah pengagum nomor satu sosok bernama Laudys — sosok yang tersembunyi di balik dirinya sendiri. Bahwa ia terobsesi begitu dalam, mencari-cari ke mana-mana, memikirkan nama itu di setiap kesempatan, bahkan saat berbaring di samping wanita lain — hanya untuk melampiaskan kerinduan pada sosok yang tak dikenalnya. Bahwa setiap sentuhan, setiap kebersamaan, hanyalah pelampiasan bagi bayangan yang sesungguhnya berdiri begitu dekat, namun tak pernah ia kenali.
Dan Meloudy — tak tahu sedikit pun.
Ia tak tahu bahwa nama yang dicari-cari itu adalah namanya yang lain. Tak tahu bahwa orang yang terobsesi padanya itu justru orang yang ia sapa setiap pagi. Tak tahu bahwa di setiap malam yang ia lalui dengan tenang, pria itu justru memanggil namanya yang tersembunyi, merindukan sosok yang ada di hadapannya, tanpa pernah menyadari keduanya adalah satu.
Ia mengangkat wajahnya kembali, tersenyum mendengar candaan teman di sebelahnya, hatinya tenang meski sedikit perih. Biarlah semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Itu bukan urusanku. Cukup aku hidup dengan tenang, menafkahi Ibu, dan menjalani hari sebagai Meloudy — bukan siapa-siapa.
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu