Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Dinginnya Sebuah Pembuktian
Kalimat 'Aku nggak masalah kok' itu bergema berulang-ulang di dalam kepala Raisha. Dalam logika wanita yang sedang kasmaran, pria yang benar-benar tertarik dan berniat menjalin hubungan serius pasti akan merasa cemburu, lega saat tahu itu hanya teman, atau minimal ingin memastikan kebenarannya.
Tapi Aldo? Dia terang-terangan menyatakan bahwa dia tidak peduli apakah Raisha sudah punya pacar atau belum. Kalimat itu mengisyaratkan satu hal yang sangat pahit: Aldo mengajak Raisha keluar bukan karena berniat menjadikannya satu-satunya wanita atau kekasih resmi, melainkan hanya ingin menikmati dinamika hubungan tanpa rasa tanggung jawab, sebuah permainan biasa.
Malam itu, makanan lezat di depan Raisha mendadak terasa hambar bagaikan pasir.
Ketidaknyamanan dari malam minggu itu terus membakar dada Raisha selama beberapa hari berikutnya. Rasa cinta dan desiran manis yang sempat tumbuh untuk Aldo kini bercampur dengan rasa sakit hati karena merasa diremehkan dan disalahpahami.
Raisha bukanlah wanita yang suka membiarkan masalah menggantung. Dia butuh kepastian dan ingin membuktikan pada Aldo bahwa tuduhannya soal "pacaran dengan Reno" adalah salah besar.
Pada hari Kamis jam tiga sore, Raisha mengirimkan pesan singkat kepada Aldo:
'Al, bisa ketemu sebentar di pantry belakang jam setengah empat? Pantry lagi sepi.'
Balasan dari Aldo masuk hanya dalam hitungan detik: 'Bisa banget, Ra. See you.'
Jam setengah empat tepat, Aldo melangkah masuk ke dalam pantry belakang yang tersembunyi. Senyum santai khasnya terkembang di wajahnya. Namun, langkahnya mendadak terhenti beberapa senti setelah melewati pintu.
Di dalam pantry, Raisha tidak berdiri sendirian. Di sampingnya berdiri Reno yang sedang menyandarkan punggung di meja dapur sambil bermain ponsel.
Aldo menyembunyikan rasa kagetnya dengan cepat, merapikan raut wajahnya kembali menjadi sopan.
"Eh... ada Reno juga di sini."
Raisha menarik napas panjang, melangkah satu titik ke depan.
"Al, aku sengaja ajak kamu ketemu di sini bareng Reno. Aku mau meluruskan hal yang kamu omongin waktu di kafe."
Raisha menunjuk Reno dengan jemarinya.
"Kenalkan, ini Reno. Cowok dari divisi IT yang tempo hari kamu lihat makan bareng aku. Aku cuma mau pertegas sekali lagi: kita berdua ini murni cuma temenan, bukan pacaran."
Aldo tampak sedikit terkejut dengan aksi nekat dan frontal dari Raisha yang membawa "pihak ketiga" secara langsung hanya untuk membuktikan statusnya.
Reno, yang sudah dibriefing oleh Raisha sebelumnya agar membantunya meredakan desas-desus ini, menyunggingkan senyum ramah dan mengulurkan tangannya pada Aldo.
"Santai, Bro," ujar Reno santai, menyalami tangan Aldo singkat.
"Gue sama Raisha ini emang udah temenan dari zaman kuliah. Gue juga udah punya pacar sendiri di luar kantor. Jadi nggak usah salah paham ya."
Keheningan merayap di dalam pantry selama beberapa detik setelah pernyataan Reno selesai terucap.
Raisha menatap wajah Aldo dengan lekat, menantikan perubahan reaksi yang dia harapkan: binar lega, permintaan maaf manis, atau setidaknya pancaran mata hangat dari Aldo yang sadar bahwa Raisha memang single murni dan tidak membohonginya.
Namun, harapan Raisha runtuh sekeras-kerasnya.
Raut wajah Aldo berubah total. Senyum ramah yang tadinya menghiasi bibirnya menyurut perlahan, berganti menjadi ekspresi dingin, datar, dan sangat tidak peduli. Binar ketertarikan yang selama ini selalu ada di matanya saat menatap Raisha... mendadak padam sepenuhnya.
"Oh... gitu," jawab Aldo singkat. Suaranya begitu dingin dan berjarak, seolah dia baru saja mendengar kabar paling tidak penting di dunia.
Aldo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kerjanya, menatap Raisha dan Reno bergantian dengan pandangan tak berminat.
"Bagus deh kalau cuma temenan," lanjut Aldo dengan nada malas, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan.
"Yaudah ya, aku balik ke kubikel dulu. Masih ada rekap data analitik yang belum selesai."
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Aldo berbalik dan berjalan keluar dari pantry dengan langkah lebar yang santai.
Pintu pantry tertutup rapat.
Reno menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu menoleh menatap Raisha yang berdiri kaku dengan wajah pucat bagaikan mayat. Reno juga tidak menyangka respon Aldo akan sedingin itu.
"Ra..." bisik Reno pelan, nada bercandanya yang biasa kini hilang, berganti menjadi rasa kasihan yang mendalam.
"Cowok itu... dia emang nggak pernah berniat nyari pacar dari awal."
Raisha berdiri bergeming di tengah pantry. Rasa sakit yang amat pekat menghantam dadanya bukan rasa sakit karena diputusin seperti masa lalunya, melainkan rasa sakit karena untuk pertama kalinya dalam hidup, hatinya yang baru saja belajar berdetak dan mencintai seseorang... justru ditolak dan dipermainkan dengan begitu dingin oleh pria yang paling dia inginkan.
"Ra, lu nggak apa-apa?" tanyanya lembut, sarat akan rasa bersalah meski dia tahu betul bahwa dialah yang dimintai bantuan sebagai 'skena pembuktian' sore ini.
Raisha tidak menjawab. Bibirnya mengatup rapat, mengeras membentuk garis tipis yang bergetar. Tangannya mengepal di sisi rok kerjanya, mencengkeram kain sintetis itu hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya masih terkunci pada daun pintu kayu bertekstur gelap yang tadi tertutup rapat saat Aldo melangkah keluar tanpa penyesalan.
"Gue... gue nggak menyangka reaksinya bakal begitu, Ra," bisik Reno lagi, mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Gue pikir, setelah gue jelasin soal pacar gue dan hubungan kuliah kita, dia minimal nggak salah paham lagi sama lu."
Kata-kata Reno bagai sembilu yang menyayat tepat di atas luka yang baru saja terbuka. Memang benar. Aldo tidak marah, tidak menunjukkan rasa cemburu, dan yang paling menyakitkan, dia tidak merasa lega. Pria itu hanya kehilangan minat.
Seolah-olah misteri kecil yang membuat Raisha menarik di matanya, status 'milik orang lain' yang memberi sensasi dalam permainan telah pecah, dan kini yang tersisa hanyalah seorang wanita biasa yang terlalu serius menanggapinya.
Jam menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit. Jam-jam kritis di mana ritme kerja kantor mulai melambat dan orang-orang mulai bersiap untuk menyelesaikan pekerjaan harian.
Raisha berjalan menyusuri lorong karpet tebal yang memisahkan divisi IT dan divisi analitik data. Langkah kakinya terdengar teratur dan mantap, berbanding terbalik dengan gemuruh yang masih melenyapkan ketenangannya di dalam dada. Dia memegang beberapa lembar berkas cetak di tangannya—sebuah alasan formal jika ada yang mempertanyakan keberadaannya di area tersebut.
Saat melintasi deretan kubikel divisi analitik, tatapannya secara tak sengaja menangkap sosok Aldo.
Pria itu sedang duduk santai di kursi putarnya, menatap layar monitor ganda dengan satu tangan memegang cangkir kopi hitam. Tidak ada raut bersalah, tidak ada beban, bahkan tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya. Dia sedang tertawa pelan menanggapi lelucon dari rekan kerjanya di kubikel sebelah, seolah-olah percakapan penuh ketegangan di pantry sepuluh menit lalu hanyalah semilir angin lalu yang tak berbekas.
Penglihatan itu mengirimkan gelombang dingin yang menusuk hingga ke tulang belakang Raisha. Sungguh luar biasa bagaimana seseorang bisa beralih dari sosok yang begitu manis dan penuh perhatian menjadi manusia yang asing dan tak tersentuh hanya dalam hitungan detik.
Tiba-tiba, seolah merasakan kehadiran seseorang, Aldo memutar kursinya sedikit dan menoleh ke arah lorong.
Pandangan mata mereka bertemu di udara