NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Cengkeraman tangan Damian di kerah baju pemuda lokal itu mengencang hingga buku-buku jarinya memutih, memancarkan amarah gelap yang siap meremukkan apa saja. Namun, sebelum situasi bergeser menjadi pertumpahan darah di tengah toko yang mulai riuh, pintu kayu di hadapan mereka terbanting terbuka oleh embusan angin luar.

Seorang pengawal kekaisaran bergegas masuk dengan napas terengah-engah, membawa gulungan perkamen stempel resmi. Namun, saat mata sang pengawal menangkap aura mengerikan dari sang Jenderal yang hampir mencekik seorang warga sipil, ia langsung membeku ketakutan.

Di meja sudut, Elaina Valancaster menyaksikan semuanya dengan mata safirnya yang menyipit tajam. Ia melihat bagaimana seorang panglima perang yang dikenal sebagai tiran berdarah dingin—pria yang tak pernah menunjukkan emosi di medan pertempuran—kini dikuasai sepenuhnya oleh rasa cemburu buta yang kekanak-kanakan hanya karena seorang pemuda pelabuhan menyentuh ujung gaun wanitanya tepat di hadapannya.

Sebuah senyuman kecil, tipis, dan penuh makna terukir di bibir sang Putri Mahkota. Elaina menyadari bahwa benteng pertahanan psikologis Damian terhadap Aurelia telah runtuh sepenuhnya. Pria itu tidak lagi memegang kendali atas dirinya sendiri; ia adalah tawanan dari perasaannya sendiri.

Menyadari bahwa kehadirannya di sana sudah tidak lagi dibutuhkan dan hanya menjadi bayang-bayang kelam di tengah drama pribadi sang Jenderal, Elaina perlahan bangkit dari duduknya. Ia merapikan lipatan gaun sutra biru pucatnya dengan anggun.

"Sepertinya urusanmu di sini jauh lebih rumit dari yang kubayangkan, Jenderal," ucap Elaina dengan nada suara yang tenang namun menusuk, memecah ketegangan ruangan.

Damian melirik sekilas ke arah Elaina, cengkeramannya pada kerah pemuda itu sedikit mengendur, meskipun manik mata abu-abunya masih menyala tajam.

Elaina melangkah mendekat pelan, menatap sekilas ke arah Aurelia yang bergeming ketakutan di balik etalase, lalu kembali menatap Damian. "Kurasa kita semua butuh waktu dan ruang. Aku akan kembali ke penginapan bersama para pengawal. Jangan khawatir, aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu... untuk saat ini."

Tanpa menunggu balasan atau persetujuan dari Damian, Elaina membungkuk hormat dengan sopan ala bangsawan kekaisaran, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar dari toko roti, membiarkan pintu kembali tertutup rapat di belakangnya.

Damian mengangguk kaku, mengabaikan kepergian Elaina. Ia lalu menghempaskan pemuda lokal itu kembali ke lantai dengan kasar, membuat si pemuda terduduk lemas sambil terbatuk-batuk ketakutan.

"Pergi," ucap Damian dengan suara rendah yang mematikan.

Tanpa perlu diperintahkan dua kali, pemuda itu dan Lily, sang pelayan toko, segera berlari tunggang langgang melalui pintu belakang, meninggalkan ruangan toko utama dalam keheningan total.

Aurelia berdiri terpaku di balik etalase. Jantungnya berdegup liar, napasnya memburu tidak teratur. Ia sendirian. Tidak ada orang lain di sini. Hanya ada dirinya dan pria yang menjadi sumber segala teror di hidupnya. Aurelia bingung ini tidak seperti yang ada dalam novel.

Waktu berlalu tanpa disadari, membawa sore yang cerah berganti dengan kegelapan yang pekat.

Di luar bangunan kayu toko Roti Hangat Auris, perubahan cuaca terjadi dengan kecepatan yang mengerikan. Langit pesisir selatan yang tadinya jernih mendadak berubah gelap gulita dalam hitungan menit, tertutup oleh tumpukan awan badai tebal berwarna kelabu kehitaman.

Swing.... swiwing...... wing wing wing...... perrrrrekkkutuk...... tuk tuk....

Deru angin kencang melolong di celah-celah bangunan, membawa serta butiran-butiran es putih yang turun dengan lebatnya. Badai salju besar yang langka terjadi di wilayah pesisir selatan tiba-tiba menghantam kota pelabuhan itu tanpa peringatan. Suhu udara drop drastis hingga titik beku, mengubah jalanan berbatu menjadi hamparan putih licin yang mematikan. Dalam waktu singkat, seluruh aktivitas di luar ruangan lumpuh total. Kota itu terisolasi.

Di dalam toko roti, suasana terasa begitu senyap dan terisolasi dari dunia luar.

Pelanggan terakhir yang sempat berteduh telah bergegas pulang sebelum badai mencapai puncaknya, meninggalkan Damian dan Aurelia terjebak di dalam satu ruangan yang sama.

Aurelia bergerak mondar-mandir dengan gelisah di balik etalase. Ia mendengar suara badai yang menghantam dinding kayu luar dengan ganas, menciptakan suara berderit yang menyeramkan. Rasa dingin mulai merambat naik dari lantai kayu, menusuk telapak kakinya yang bersepatu tipis. Ia melirik ke arah pintu depan—pintu itu terkunci rapat oleh tumpukan es tebal di bagian luar.

Mereka terjebak.

Bersama.

Di sudut ruangan, Damian masih duduk di kursi kayunya yang biasa. Ia tidak beranjak sejak kepergian Elaina dan para pelayan tadi sore. Mantel hitamnya tersampir di sandaran kursi, memperlihatkan kemeja militer gelap dengan lengan yang sedikit digulung ke atas. Manik mata abu-abu badainya terus mengikuti setiap pergerakan Aurelia dalam diam yang pekat.

Tidak ada suara lain di dalam ruangan itu selain deru angin badai yang mengamuk di luar dan suara ketukan ritmis dari jemari Damian yang mengetuk permukaan meja kayu.

Ketegangan di ruang sempit itu kian memuncak dari detik ke detik. Udara terasa semakin menipis, bukan karena kekurangan oksigen, melainkan karena tekanan psikologis yang menyesakkan dada. Aurelia merasa ruang geraknya semakin menyempit. Setiap kali ia melangkah, ia bisa merasakan tatapan tajam pria itu membakar punggungnya, mengikuti setiap gerak-geriknya bagaikan seekor pemangsa yang mengawasi mangsanya di dalam gua yang gelap.

"Jangan mendekat..." bisik Aurelia pelan pada dirinya sendiri, suaranya bergetar hebat saat ia menyadari Damian perlahan-lahan mulai bangkit dari kursinya.

Suara gesekan kaki kursi kayu dengan lantai terdengar begitu nyaring di telinga Aurelia, bagaikan lonceng kematian.

Damian berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar mengisi sebagian besar ruangan sempit di dekat etalase. Dengan langkah lambat, terukur, dan tanpa suara, pria itu mulai berjalan mendekati area tempat Aurelia berdiri terpojok.

Aurelia mundur perlahan hingga punggungnya membentur rak penyimpanan bahan kue di belakangnya. Tidak ada jalan keluar lagi. Pintunya terkunci oleh badai salju di luar, dan di hadapannya, dinding otot sang Jenderal membentang lebar, memblokir satu-satunya jalur pelarian yang ia miliki.

"Aurelia," panggil Damian. Suaranya serak, rendah, dan begitu sarat akan emosi yang tertahan—campuran antara kerinduan yang membakar, rasa bersalah yang menghancurkan, dan obsesi gelap yang tidak lagi bisa disembunyikan di balik topeng ketenangannya.

Aurelia menggelengkan kepalanya panik, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya yang hijau. "Pergi... kumohon, jangan mendekat... jangan sentuh aku..."

Damian mengabaikan rintihan itu. Ia terus melangkah maju hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa jengkal saja. Aroma maskulin pria itu, berpadu dengan dinginnya sisa badai salju, menguar memenuhi indra penciuman Aurelia, membuatnya merasa sesak napas.

Damian mengangkat tangan kanannya yang besar, mengulurkan jari-jarinya perlahan ke arah wajah Aurelia, berniat untuk menyentuh pipi wanita itu yang tampak pucat ketakutan—

Namun, tepat saat ujung jari Damian hampir menyentuh kulit pipinya, Aurelia secara refleks menepis tangan itu dengan kasar, memicu reaksi impulsif yang membuat Damian kehilangan sisa kesabarannya; dalam sekejap mata, pria itu menerjang maju, mengurung tubuh Aurelia di antara kedua lengannya di atas rak kayu, dan menundukkan wajahnya dengan tatapan lapar yang mematikan tepat di depan bibir wanita itu—

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!