Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab26
Hawa dingin menyusup tajam hingga ke balik kemeja seragam Kirei saat melangkah melintasi lobi vila tua bergaya kolonial itu. Bau kayu pinus yang basah bercampur aroma lapuk bangunan tua menyambut kedatangan seluruh rombongan SMA Nusantara.
Di meja resepsionis, dua petugas keamanan berseragam hitam—bawahan utusan Dion—berdiri tegap di depan kotak kayu berukir.
"Harap seluruh peserta dan panitia mengumpulkan ponsel, tablet, dan alat komunikasi lainnya di kotak ini," instruksi salah satu petugas dengan suara kaku dan dingin. "Ini sesuai protokol isolasi penuh Karantina Olimpiade sponsor Hartono Corp."
Beberapa siswa pengurus OSIS mendesah pasrah, menyerahkan ponsel mereka satu per satu.
Kirei berdiri di antrean, memeluk tas ranselnya erat-erat. Ketika gilirannya tiba, Kirei mengeluarkan ponselnya dengan ragu. Namun, sebelum jemarinya sempat melepaskan benda itu ke dalam kotak, sebuah tangan tegap menyambar ponsel Kirei dengan gerakan cepat dari samping.
Arka.
Arka dengan santai melemparkan ponsel milik Kirei bersama ponselnya sendiri ke dalam kotak hingga berbunyi benturan nyaring.
"Puas, Pak?" cibir Arka dingin pada petugas keamanan tersebut, menyunggingkan senyum miring provokatifnya.
Petugas itu menyipitkan mata, namun Arka hanya mengibaskan tangan santai lalu merangkul bahu Kirei, menarik cewek itu melangkah menuju koridor kamar peserta.
Dion yang memperhatikan kejadian itu dari sudut lobi hanya tersenyum tipis, menyesap cangkir teh hangatnya dengan raut tenang yang begitu licik.
Pukul 19.30 WIB.
Kabut tebal dari hutan pinus menyelimuti seluruh area vila. Jarak pandang di luar jendela kamar hanya tersisa beberapa meter. Suara angin malam yang meliuk di antara pepohonan terdengar seperti bisikan misterius yang menekan.
Di dalam kamar nomor 104—kamar khusus Ketua OSIS—Kirei duduk di depan meja belajar kayu, merapikan berkas soal olimpiade untuk sesi besok pagi. Keheningan kamar yang terisolasi tanpa sinyal ponsel mendadak terasa begitu membebani pikirannya.
Knock! Knock! Knock!
Ketukan pelan tiga kali di pintu kamar membuat Kirei tersentak. Cewek itu berdiri perlahan, mendekati pintu. "Siapa?"
"Gue, Bu Ketua."
Suara rendah khas Arka memecah kecemasan Kirei seketika. Kirei membuka kunci dan menggeser pintu kayu tebal itu.
Arka melangkah masuk tanpa ragu, langsung mengunci pintu kembali dari dalam. Ia mengenakan jaket hoodie hitam polos dengan celana jeans gelap. Rambutnya yang sedikit berantakan mempertegas ketampanannya yang alami di bawah pendar redup lampu kamar.
"Arka? Kok lo bisa ke kamar cewek?" bisik Kirei cemas, melirik ke arah koridor di luar. "Penjaga vila kan patroli tiap satu jam."
"Penjaga vila lo itu sudah diajak main kartu sama Farhan dan anak-anak basket di lobi bawah," jawab Arka santai, menyandarkan tubuhnya ke tepi meja belajar Kirei. "Mereka enggak bakal naik ke lantai dua sampai dua jam ke depan."
Kirei menghela napas lega, membetulkan letak kacamatanya. "Lo nekat banget, Arka. Kalau Dion tahu—"
"Dion memang mau kita panik karena terisolasi tanpa ponsel, Kirei," potong Arka cepat. Cowok itu merogoh saku hoodie-nya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna hitam—HT (Handie-Talkie) profesional berjangkauan luas.
Kirei membelalakkan mata. "Alat komunikasi rahasia?"
"Farhan bawa tiga unit di dalam tas perlengkapan basket," Arka menyunggingkan senyum bangganya, menyerahkan satu unit HT kecil yang sudah dipasangi earpiece ke tangan Kirei. "Sinyal radio HT enggak bisa diacak sama pemancar isolasi Dion. Saluran empat sudah terhubung langsung ke ponsel Om Wijaya di Jakarta lewat penerus sinyal di mobil tim basket."
Kirei menatap HT di tangannya, lalu mendongak menatap Arka dengan rasa kagum yang membuncah hebat di dadanya. Cowok yang dulu ia anggap murid pembuat onar ugal-ugalan ini... kini selalu tiga langkah lebih maju dalam melindungi dirinya.
"Arka..." bisik Kirei lirih, matanya berbinar tulus. "Lo beneran penjelajah taktik yang gila."
"Gue cuma suami yang enggak mau istrinya dijebak orang," balas Arka rendah. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mengusap lembut helai rambut Kirei yang menutupi dahinya.
Sentuhan hangat jemari Arka membuat pendar listrik halus merayapi seluruh tubuh Kirei. Dada cewek itu berdebar kencang. Dalam remang lampu kamar vila, jarak mereka mendadak terasa begitu dekat dan intim.
Arka menatap mata Kirei lurus-lurus, lalu pandangannya turun ke bibir cewek itu. "Malam ini lo harus tidur nyenyak, Kirei. Besok sesi pertama olimpiade. Biar sisanya jadi urusan gue."
Kirei menggigit bibir bawahnya, mengangguk pelan. "Lo juga... jangan bertindak sendirian kalau ada apa-apa."
"Siap, Bu Ketua," bisik Arka, tersenyum hangat—sebuah senyuman langka yang selalu berhasil melelehkan pertahanan Kirei.
Pukul 02.15 WIB.
Suara gemericik hujan gerimis dan hembusan angin dingin yang menusuk terus mengetuk jendela kaca kamar nomor 104.
Kirei terbangun dari tidurnya, merasakan tenggorokannya yang amat kering. Ia duduk di tepi tempat tidur, meraih gelas air di meja nakas, namun ternyata sudah kosong. Cewek itu mendesah pelan, memutuskan keluar kamar menuju dispenser di koridor tengah lantai dua.
Dengan memakai cardigan rajut tebal melapisi piyamanya, Kirei membuka pintu kamar perlahan. Suasana koridor lantai dua gelap dan sangat sepi, hanya diterangi beberapa lampu dinding bernuansa kuning redup.
Kirei berjalan mendekati dispenser di dekat tangga tengah. Namun, tepat ketika ia selesai mengisi gelasnya, suara langkah kaki teratur dan berbisik dari arah balik sudut koridor ruang kerja pengelola vila terdengar sayup-sayup.
Kirei membeku. Ia secara refleks bersembunyi di balik pilar kayu besar di dekat tangga, menahan napasnya.
Dua orang berdiri di sudut koridor yang remang. Salah satunya adalah Dion Hartono, sementara orang di depannya adalah seorang pria paruh baya bersetelan jas hujan tebal yang memegang sebuah koper besi.
"Semua lembar soal sesi esok pagi sudah diganti dengan versi revisi khusus?" suara Dion terdengar amat dingin dan tenang di dalam kegelapan.
Pria itu mengangguk kaku. "Sudah, Tuan Muda Dion. Kunci jawaban yang kami pasang di sistem penilaian besok adalah kunci jawaban yang salah untuk paket soal milik Kirei Wijaya. Begitu dia selesai mengerjakan, nilainya akan otomatis nol dan dia bakal didiskualifikasi atas dugaan kecurangan."
Darah Kirei seolah membeku seketika. Matanya terbelalak lebar di balik pilar. Dion tidak menyerangnya secara fisik... tapi menghancurkan reputasi akademiknya secara total di depan seluruh panitia nasional!
"Bagus," Dion terkekeh dingin. "Begitu Kirei terdiskualifikasi besok pagi, nama baik SMA Nusantara runtuh, dan Kakeknya di rumah sakit pasti bakal terkena serangan jantung mendengar berita ini. Setelah itu... Arka enggak punya alasan lagi buat bertahan."
Pria itu menyerahkan koper besi ke tangan Dion, lalu melangkah cepat menuju tangga belakang. Dion tersenyum puas, memutar tubuhnya hendak kembali ke kamarnya.
Namun, saat Dion melangkah, ujung sepatu boot-nya tanpa sengaja menyenggol sebuah vas bunga kuningan di meja koridor. PRANG!
Suara pecahan nyaring menggema membelah keheningan malam vila yang sepi.
Dion membeku di tempat, matanya yang tajam menyipit curiga. "Siapa di sana?!"
Kirei merapat ke pilar kayu, jantungnya berdegup gila-gilaan seolah mau melompat keluar dari dada. Jemarinya bergetar hebat saat menggenggam erat gelas air di tangannya. Dion melangkah perlahan ke arah pilar, bayangan tubuhnya makin memanjang menutupi lantai.
Kirei memejamkan mata rapat-rapat, merogoh saku cardigan-nya untuk menekan tombol darurat di HT kecil pemberian Arka.