NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

janji yang rusak

Dikta Rey Ibrahim mengira, setelah perpisahan yang ikhlas dengan Seraphina, ia berhak menyambut lembaran baru yang lebih terang.

Dan Delara adalah perempuan yang ia yakini akan mengisi kekosongan itu.

Cantik, lincah, seolah membawa warna baru ke dalam hidup Dikta yang sempat kelabu.

Delara dan Dikta adalah sepasang kekasih sejak mereka sama-sama duduk di bangku universitas.

Delara yang mengejar Dikta hingga laki-laki dingin itu luluh oleh perhatian dan pesona Delara yang gampang bergaul.

"Kau tak perlu takut mencintaiku, Dikta. Aku tak akan pernah seperti mereka yang menyakitimu," ucap Delara lembut saat itu, menautkan jemarinya ke tangan Dikta. Kata-kata itu terasa seperti obat penenang yang Dikta butuhkan.

Namun takdir berkata lain. Sore itu, saat Dikta hendak memberi kejutan ulang tahun untuk Delara di kafe tempat mereka biasa bertemu, langkahnya terhenti kaku di balik pintu kaca.

Di sudut ruangan, perempuan yang ia percaya dan begitu dia puja hingga menentang kedua orangtuanya dan menceraikan Seraphina.

Perempuan itu kini sedang duduk berdekatan dengan laki-laki lain. Tawa renyah Delara terdengar begitu akrab, tangannya bahkan berani menyentuh lengan pria itu dengan penuh kemesraan. Bahkan tanpa malu-malu mencium pipi laki-laki yang Dikta perkirakan usianya tak jauh beda dengan dirinya.

Dikta mundur perlahan, berharap matanya salah lihat. Namun saat ia mendekat sedikit, kata-kata Delara menembus telinganya bagaikan pisau tajam

"Dikta? Oh, dia hanya seseorang yang aku butuhkan untuk sementara. Mapan, setia, dan mudah diatur. Kalau kau sudah siap, kita bisa pergi seperti yang kita rencanakan. Uang dan perhatiannya sudah cukup aku nikmati."

Dunia Dikta seolah runtuh seketika.

Dikta merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya.

Disana, nomor Delara tertulis berdering.

Bukannya diangkat, Delara justru mematikan ponselnya dan kembali berbincang dengan laki-laki yang terus menggenggam tangannya.

Dikta tak menyerah.

Hingga panggilan kelima, barulah Delara menjawab panggilannya.

"Yes baby... "

"Aku.. Aku lagi di rumah sakit sekarang. Nenekku tiba-tiba sesak.. Baby, aku tutup yaa, mama memanggilku.. bye..."

Panggilan itu diputus secara sepihak tanpa memberi kesempatan untuk Dikta berbicara.

Tawa mengejek kembali terdengar dari dua pasangan paling menjijikan bagi Dikta.

Laki-laki itu tak masuk, tak berteriak, dan tak menampakkan dirinya. Cukup berdiri diam, merasakan bagaimana kepercayaan yang ia bangun bertahun-tahun hancur lebur menjadi debu.

Dikta berbalik dan membuang bunga serta coklat yang dari jauh-jauh hari dia pesan.

Rahangnya mengeras.

Dia bagaikan seorang pecundang.

Melepaskan berlian demi batu kali.

Dikta tersenyum sinis pada dirinya sendiri.

"Lihat Dikta...! Kau laki-laki bod*h! Benar-benar b*doh!" gumamnya mengutuk diri sendiri.

Dikta kembali kekantornya.

Dia bahkan membatalkan pertemuan dengan klien demi memberi pesta kejutan kepada perempuan yang bahkan tak pantas disebut kekasih.

Semua karyawannya menatap kaku kepada Dikta yang baru saja memasuki ruang kerjanya.

Suasana kantor jadi makin horor dirasakan oleh beberapa karyawan.

"Tadi pak bos baik-baik saja, air mukanya juga nampak cerah, tapi kok sekarang dia kayak gunung es yang siap membekukan kita semua..." bisik dari beberapa karyawannya.

"Iya.. Aku jadi takut buat kesalahan hari ini..." bisik yang lain.

"Kheeemmm... Kalau mau gosip, di cafe sana jangan di kantor" tegur Gavin, asisten Dikta.

"Maaf pak Gavin, kami salah" sahut mereka dengan wajah menunduk ngeri.

Gavin melirik kearah pintu ruang kerja Dikta.

Dia pun juga sama merindingnya dengan karyawan lain meskipun dia bisa dikatakan cukup dekat dengan Dikta diluar jam kantor.

Sore harinya, saat Delara datang menemui Dikta dengan wajah ceria seolah tak ada apa-apa, Dikta menatapnya tanpa amarah, hanya kekecewaan yang sedalam samudera.

"Baby... Aku datang... Lihat apa yang aku bawa... Kue mochi isi stoberi kesukaan kamu... Aku bahkan rela antri buat ini loh... Ayo, kita makan sama-sama" ucap Delara meletakkan sekotak mochi di atas meja tamu ruang kerja Dikta.

Dikta hanya diam tak bergerak sama sekali.

Tatapannya tajam menembus jantung.

Dan Delara menyadari ada yang berbeda dari sinar mata Dikta.

Bukan lagi tatapan memuja apalagi cinta seperti biasanya.

"Baby... Kamu kenapa? Kamu marah karena tadi aku tutup panggilan secara sepihak?" tanyanya hati-hati.

Dikta meletakkan pena yang sejak tadi di mainkan.

"Kau tahu apa yang paling membuatku benci hingga siapapun yang melakukannya tak perduli dia adalah yang paling kucintai sekalipun!" ucap Dikta dingin.

Delara mengeratkan pegangan pada sendoknya.

Bola matanya liar memindai semua sudut ruangan.

Jakunnya naik turun dan Dikta paham jika Delara kini sedang gelisah.

"Baby... Kau kenapa?"

Bersambung....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!