NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Suara Puja terdengar sangat lirih, nyaris berbisik di antara helaan napasnya yang berat.

Ia menatap lurus ke dalam mata suaminya, menyalurkan seluruh kepedihan yang bersemayam di dadanya.

"Jangan berkata seperti itu lagi ya, Mas..." lirih Puja dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

"Hatiku... hatiku sakit sekali, Mas."

Kalimat itu meluncur begitu rapuh, namun telak menghantam nurani Jeffry.

Setiap kata yang keluar dari bibir istrinya terasa seperti belati yang kembali mengiris-iris hatinya, menyadarkannya betapa dalam luka yang telah ia torehkan pada wanita yang paling ia kasihi.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jeffry menundukkan kepalanya.

Dengan gerakan penuh kelembutan dan rasa hormat yang teramat sangat, ia meraih punggung tangan Puja yang bebas dari selang infus.

Dibawanya tangan yang dingin itu ke dekat bibirnya, lalu dikecupnya punggung tangan istrinya lama sekali.

Air mata penyesalan Jeffry kembali jatuh, membasahi kulit tangan Puja.

Jeffry mengangkat wajahnya perlahan, menatap manik mata istrinya dengan tatapan penuh janji dan ketulusan mutlak. Ia menganggukkan kepalanya dengan pasti.

"Iya, Dek... Mas janji. Mas tidak akan pernah mengulangi kebodohan itu lagi," bisik Jeffry serak, suaranya sarat akan permohonan ampun.

"Maafkan Mas... Maaf karena sudah membuat hatimu sesakit ini. Biarkan Mas menebus semuanya, ya?"

Puja menganggukkan kepalanya pelan, tanda ia menerima permintaan maaf suaminya sekaligus memberikan kesempatan bagi rumah tangga mereka untuk bernapas kembali.

Dengan bantuan Jeffry yang memegangi selang infusnya dengan hati-hati, Puja kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemah ke atas bantal.

Sapu tangan yang tadi ia gunakan untuk menyeka darah masih berada di dalam genggamannya.

Jeffry merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya, lalu meraih kembali mangkuk bubur yang sempat ia letakkan di meja nakas tadi.

"Ayo makan lagi, Dek. Biar tenaga kamu cepat pulih," tawar Jeffry dengan nada penuh kelembutan dan kehati-hatian.

Puja menggeleng pelan, lalu menatap suaminya dengan mata yang masih sayu.

"Sebentar, Mas... Biar darahnya berhenti dulu. Dadaku masih agak sesak."

Mendengar itu, Jeffry langsung meletakkan kembali mangkuk bubur tersebut.

Ia mengangguk patuh, tidak ingin memaksakan keadaan istrinya.

"Iya, Dek. Maaf, Mas tidak sabaran. Istirahat dulu ya, jangan dipaksa."

Tok... tok... tok.

Suara ketukan pintu yang pelan menghentikan percakapan mereka berdua.

Pintu ruang perawatan perlahan terbuka, menampilkan sosok Kyai Ali yang melangkah masuk dengan senyum teduh di wajahnya.

Di tangan beliau tampak sebuah botol kecil berisi madu murni yang dibungkus rapi.

"Assalamualaikum," salam Kyai Ali dengan suara baritonnya yang menenangkan, membawa keteduhan instan ke dalam ruangan tersebut.

"Waalaikumsalam, Abah..." jawab Jeffry dan Puja hampir bersamaan dengan nada suara yang penuh takzim.

Jeffry langsung bangkit dari kursinya, menyambut kedatangan sang ayah dengan mencium takzim punggung tangan Kyai Ali.

Ada binar kelegaan sekaligus rasa segan di mata Jeffry setelah nasihat panjang yang ia terima dari beliau beberapa jam lalu.

Kyai Ali tersenyum hangat, lalu melangkah mendekati ranjang tempat Puja terbaring.

Melihat menantunya hendak bergerak untuk bangun dan memberi hormat, beliau dengan cepat mengangkat sebelah tangannya.

"Sudah, Nak... kamu berbaring saja, tidak usah memaksakan diri," ucap Kyai Ali lembut, menenangkan Puja yang tampak ingin mencoba duduk. Beliau lalu menarik sebuah kursi dan duduk di sisi ranjang.

Kyai Ali meletakkan botol kecil berisi madu murni di atas meja nakas di samping mangkuk bubur yang tadi sempat tertunda.

Beliau memperhatikan wajah Puja yang masih terlihat pucat, namun sorot matanya sudah jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Puja?" tanya Kyai Ali penuh perhatian, menatap menantunya.

"Sudah agak enakan?"

Puja menganggukkan kepalanya perlahan di atas bantal, mencoba menepis rasa sungkan.

"Alhamdulillah sudah agak mendingan, Bah... Maafkan Puja sudah merepotkan Abah datang pagi-pagi begini."

"Hus, tidak ada yang namanya merepotkan," sahut Kyai Ali sambil tersenyum bijak.

Beliau melirik sekilas ke arah Jeffry yang berdiri di sampingnya dengan sikap siaga penuh.

"Abah ke sini bukan untuk repot, tapi ingin melihat langsung keadaan kalian. Alhamdulillah kalau sudah sadar. Ini, Abah membawakan madu murni untuk membantumu memulihkan stamina dan menghentikan pendarahan di tubuhmu. Nanti diminum ya setelah makan."

"Iya, Abah. Terima kasih banyak," jawab Puja pelan dengan senyuman tipis di balik bibirnya yang masih pucat.

Kyai Ali mengangguk penuh kasih, lalu berdiri dari kursinya.

Beliau menepuk pundak putranya pelan, memberikan isyarat penuh makna.

Jeffry, yang masih mengingat dengan jelas setiap butir nasihat ayahnya semalam—terutama tentang bagaimana menjaga amanah pernikahan dan membentengi diri dari hasutan Jin Dasim—menganggukkan kepalanya dengan mantap ke arah sang ayah.

Setelah berpesan agar Puja lekas pulih dan beristirahat total, Kyai Ali pamit untuk kembali ke pondok.

Ceklek.

Pintu ruang rawat kembali tertutup rapat setelah Kyai Ali berlalu, meninggalkan Jeffry dan Puja dalam keheningan yang kini terasa jauh lebih hangat dan menenangkan.

Melihat suaminya masih berdiri di sisinya, Puja perlahan mencoba bergerak.

Ia menyingkirkan selimut tipis yang menutupi tubuhnya, lalu bersiap untuk bangkit dari posisi berbaring.

"Puja... kamu mau ke mana, Dek?" tanya Jeffry panik, reflek menahan lengan istrinya dengan sangat hati-hati.

"Jangan dipaksakan dulu, kalau butuh apa-apa bilang sama Mas."

Puja menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil untuk menepis kekhawatiran suaminya.

"Aku mau duduk, Mas. Darahnya sudah berhenti... Aku mau makan lagi, kasihan buburnya dari tadi dingin."

Mendengar ucapan istrinya, kekhawatiran di wajah Jeffry seketika berganti dengan kelegaan yang luar biasa.

Pria itu buru-buru merapikan bantal di belakang punggung Puja agar istrinya bisa bersandar dengan nyaman.

"Ah, iya... Biar Mas bantu, ya," ujar Jeffry cepat.

Ia langsung meraih mangkuk bubur di meja nakas, mengaduknya perlahan, lalu meniupnya dengan telaten sebelum menyendokkan suapan demi suapan ke mulut istrinya dengan penuh kelembutan dan perhatian yang tak terhingga.

Suapan bubur yang hendak disendokkan Jeffry terhenti tepat di udara.

Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Puja membuat pria itu terpaku seketika.

"Mas, aku berhenti kuliah saja ya..." ucap Puja lirih, menundukkan pandangannya ke selimut rumah sakit, merasa bahwa mimpinya menuntut ilmu justru menjadi akar dari malapetaka dan pertengkaran hebat yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka.

Mendengar itu, Jeffry langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat-kuat.

Ia meletakkan kembali mangkuk bubur di meja nakas, lalu menggenggam kedua tangan Puja dengan lembut namun penuh ketegasan.

"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Dek," ujar Jeffry dengan suara bergetar, menatap tepat ke dalam manik mata istrinya.

"Jangan pernah korbankan mimpimu hanya karena kebodohan dan ego Mas semalam."

Jeffry menarik napas dalam-dalam, menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia perbuat hingga membuat istrinya merasa harus mengubur impiannya sendiri.

"Kuliahmu adalah hakmu, dan itu adalah impian yang selalu kita bicarakan bersama," lanjut Jeffry dengan penuh penyesalan sekaligus ketulusan.

"Mas yang salah, Mas yang terbawa emosi buta. Jangan hukum dirimu sendiri dengan berhenti kuliah. Mulai sekarang, Mas yang akan mendukungmu sepenuhnya. Mas akan jadi orang pertama yang mengantarmu dan menjemputmu, tanpa rasa curiga sedikit pun. Jadi, tolong, lanjutkan kuliahmu, ya?"

Puja menatap lekat-lekat manik mata suaminya, mencari sisa-sisa keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang mendalam.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, lalu ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Jeffry yang merasa lega luar biasa kembali mengambil mangkuk bubur itu dan melanjutkan menyuapi istrinya dengan penuh kelembutan.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, suasana kantin kampus mendadak riuh dengan aktivitas mahasiswa yang sedang beristirahat.

Di sebuah warung es langganan yang berada di sudut area kantin, kelima sahabat Puja—Yuana, Sulfi, Norma, Dwi Ratna, dan Dewi—tengah duduk melingkar sambil menikmati minuman dingin.

Tiba-tiba, bayangan seseorang mendekati meja mereka.

Kelimanya lantas mendongak, dan seketika mata mereka membelalak kaget.

Sosok yang berdiri di hadapan mereka adalah Andy.

Namun, penampilan senior itu tampak sangat berantakan.

Wajahnya dipenuhi lebam kebiruan di sudut bibir dan pelipisnya, sehabis menjadi korban amukan Jeffry malam sebelumnya.

"Kak... Andy?" panya Yuana terbata-bata, mewakili keterkejutan teman-temannya.

Sulfi dan Norma langsung menegakkan duduk mereka, sementara Dwi Ratna dan Dewi saling berpandangan dengan rasa penasaran yang besar.

"Tumben banget Kakak ke sini nyamperin kita," lanjut Dewi dengan nada heran.

Namun, bukan sapaan ramah yang mereka dapatkan.

Pandangan Andy menyapu kelima gadis itu dengan sorot mata gelisah, penuh rasa penasaran yang membakar dada.

Ia ingin menuntaskan rasa penasarannya, memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Puja dan pria yang mengaku sebagai suaminya.

"Dan, ya ampun, Kak! Wajah Kakak kenapa bisa babak belur begitu?!" seru Dwi Ratna spontan, menunjuk ke arah luka lebam di wajah Andy dengan ekspresi ngeri.

Andy menghela napas kasar, wajahnya yang lebam tampak semakin menegang menahan amarah yang belum usai.

"Ini ulah lelaki yang mengaku suami sahabat kalian, si Puja!"

Kelima gadis itu tersentak. Yuana, Sulfi, Norma, Dwi Ratna, dan Dewi saling pandang dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Ustaz Jeffry?" tanya Yuana dengan suara hampir berbisik, memastikan nama yang dimaksud Andy.

Andy menyipitkan mata, menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajam.

"Kalian kenal dia?"

Tanpa perlu berdiskusi panjang, kelimanya mengangguk serentak.

Norma, yang biasanya paling vokal di antara mereka, menjawab dengan nada yang tegas namun menyimpan tanda tanya besar, "Iya, kami kenal. Memangnya ada apa, Kak? Dia memang suami Puja."

Jawaban itu seperti sambaran petir di siang bolong bagi Andy.

Selama ini ia menganggap pengakuan Jeffry malam itu hanyalah kebohongan belaka untuk menjauhkannya dari Puja.

Namun, melihat kepastian dari kelima sahabat Puja, Andy merasa tanah yang dipijaknya seolah berguncang.

"Jadi, dia memang benar-benar suaminya?" gumam Andy, suaranya melemah.

Ia terduduk di kursi kosong di dekat mereka, memegangi wajahnya yang masih terasa nyeri akibat hantaman tangan Jeffry malam itu.

Rasa penasarannya terjawab, namun rasa sakit di hatinya justru semakin menjadi-jadi.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!