Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Suara teriakan Ibu Megawati menggema memenuhi lorong rumah Bintang. Kemarahannya meluap dalam kata-kata bertekanan tinggi yang ditujukan langsung kepada Bintang.
Di tempat sholat, Talita yang baru selesai magrib mengusap wajahnya, lalu melirik Bulan yang masih kusyuk berdoa. Tidak mau mengganggu mama Bulan, bocah itu keluar sendiri dari tempat itu ketika mendengar suara bentakan mbah putri.
"Ada apa ya?" tanyanya dalam hati sambil berjalan terburu-buru. Tidak sempat lagi melepas mukena putih yang masih melekat di tubuh mungilnya, cukup mengangkat kain bawahan yang sedikit terurai menyapu lantai.
"Kamu sudah membuat malu Mama, tahu tidak, Bintang?!"
Suara keributan semakin terdengar dari arah kamar mbah putri, Talita pun berhenti di luar pintu, lebih menajamkan pendengaran sejenak apa yang membuat mbah putri marah-marah seperti itu padahal biasanya lembut.
"Mama tidak mau tahu! Ceraikan Rembulan, biarkan dia pergi dari rumah ini."
Baru mendengar sepotong ucapkan Megawati, dan belum mendengar lebih jauh, air mata Talita menetes. Di ambang pintu, kata-kata mbah Megawati yang minta Bintang menyuruh mama Rembulan pergi, terdengar menembus relung hatinya. Sungguh ia takut mama Bulan yang baru pulang akhirnya pergi lagi.
Tanpa berpikir panjang, Talita berlari masuk ke dalam kamar. Langkah kaki kecilnya terdengar lirih, diiringi isak tangis yang tidak lagi bisa ia tahan. Ia mendekati Mbah Megawati, menggenggam tepi baju neneknya dengan jemari mungilnya.
"Mbah Putri... jangan suruh Mama Bulan pergi," pinta Talita di antara sedu-sedannya, menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata.
Mbah Megawati mengusap kepala cucunya lembut, lalu menuntun ke tepi tempat tidur. Belum sempat berbicara, Talita merengek khas anak-anak.
"Talita nggak mau Mama pergi, Mbah... Talita saja yang dicerai sama Papa," lanjutnya, tidak tahu apa itu cerai.
Ruangan itu mendadak hening. Kata-kata polos dari seorang anak yang belum memahami rumitnya perpisahan itu seolah menghentikan waktu, meninggalkan keheningan yang berat di antara mereka semua.
Bintang tertegun mendengar ucapan putrinya yang tidak ia duga.
"Talita... Bukan begitu maksud Mbah Putri," Mega membersihkan air mata cucunya. Ia menyesal seharusnya tidak berteriak seperti tadi. Terlebih saat ini waktu magrib, seolah memberi contoh cucunya yang tidak baik.
"Talita... kita keluar sayang... Mbah Putri mau istirahat," sela Bintang lalu menggendong putrinya keluar.
Selepas magrib, suasana rumah berangsur sepi. Ibu Mega mengajak Rembulan duduk berdua di gazebo belakang rumah yang agak jauh dari keramaian. Di bawah sinar lampu benderang, tatapan mata wanita paruh baya itu penuh dengan kecemasan seorang ibu.
"Bulan," panggil Ibu Mega, meraih jemari tangan Rembulan.
"Iya, Bu..." Bulan menatap balik mertuanya, masih saja takut seolah dirinya yang salah.
"Jujur sama Ibu, Nak. Apakah menjadi istri kedua Bintang sama sekali tidak membuatmu tertekan? Ibu tidak ingin kamu mengorbankan perasaanmu sendiri."
Rembulan menarik napas panjang, menatap lekat manik mata Ibu Mega. Hatinya seketika merasa plong, rupanya ibu Mega tidak menyalahkan dirinya, justru diliputi rasa bersalah.
"Sejujurnya saya menerima pernikahan ini semata-mata hanya sampai Mentari sembuh Bu," Bulan menceritakan bahwa semua sudah disepakati oleh Bintang. Setelah Mentari pulih dan bisa kembali menjalani hidupnya dengan normal, Bulan akan pergi dari kehidupan mereka.
Mega menarik napas sesak, ingin rasanya memberi nasehat bahwa pernikahan bukan untuk permainan seperti itu. Seharusnya mereka bisa berpikir jernih sebelum ijab terucap, karena sudah mengikat janji di hadapan Tuhan. Namun, Megawati tidak bisa melakukan itu. Justru hatinya dilema antara ingin tetap Bulan menjadi menantunya dan melahirkan banyak cucu, tapi ia tidak boleh bermimpi.
"Tapi Bintang sangat mencintai kamu Nak."
"Ini masalahnya Bu, Bintang melanggar kesepakatan, tanpa saya tahu saat tidur siang tiba-tiba memeluk saya, dan direkam oleh Sherly adik Mentari," Bulan menceritakan bagaimana awal mula video itu beredar dengan mata berair.
"Dalam hal ini, ibu hanya bisa minta maaf, Nak," kata Mega serak. Mendengar kejujuran dan ketegaran Rembulan bukanlah sesuatu yang tumbuh begitu saja, tentu ada sosok luar biasa yang telah membentuk karakter dan kelembutan Rembulan, yaitu kedua orang tua Rembulan.
"Boleh, Ibu silaturahmi ke rumah orang tuamu, Nak?" Megawati ingin berkenalan sekaligus minta maaf.
"Tentu saja boleh, Bu..."
"Kalau gitu, bagaimana kalau malam ini saja? Ibu ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibumu," lanjut Ibu Mega.
"Baik, Bu," pungkas Bulan. Mereka pun masuk ke kamar masing-masing.
Bulan segera siap-siap, saat sedang menyisir rambut, ia menoleh karena langkah kaki terdengar masuk. Bintang berjalan ke arahnya tampak kusut dan sedih.
"Bulan, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak ingin berpisah dengan kamu," ucapnya serius, berdiri di belakang Bulan memandangi dari kaca.
Bulan tidak menjawab, tangannya tetap fokus mengikat rambut.
"Aku sudah minta anak buah untuk mencari rumah untuk kita, aku salah, seharusnya tidak mengajak kamu tinggal satu rumah bersama Mentari," Bintang sungguh-sungguh.
Bulan berdiri, dua pasang mata itu saling pandang.
"Jujur Pak Bintang, sejauh ini saya menempatkan posisi saya bukan menjadi istri sesuai kesepakatan awal. Pak Bintang, saya lelah bertengkar, saya capek. Saya akan tetap berada di antara kalian tapi hanya sebagai sahabat," tegas Rembulan.
"Aku tidak akan memaksamu, Bulan," Bintang mengangguk. Namun, dalam hatinya akan memperjuangkan cintanya sampai hati Bulan luluh dan menerima dirinya.
Malam itu juga, Bulan, Bintang, Mega tidak terkecuali Talita berangkat dalam satu kendaraan menuju kediaman Rembulan.
Talita yang duduk di kursi tengah bersama Rembulan tidak melepaskan pegangan tangannya. Seolah takut Bulan pergi dari hidupnya seperti yang ia dengar dari mbah putri.
"Mama Bulan tidak akan pergi kan?" Tanyanya polos.
"Pergi kemana sayang?" Bulan membungkuk memandangi wajah anak Bintang dan Mentari itu, tidak tahu apa maksudnya.
"Kata Mbah Putri, Papa suruh cerai sama Mama, tapi Talita nggak mau. Iya kan Mbah, Pa? Biar Talita saja yang dicerai," ucapnya. Membuat tiga orang di dalam kendaraan itu membisu larut dalam pikirannya masing-masing.
Mega segera menoleh ke belakang, sebenarnya ingin meluruskan kepada Bulan, tapi lidahnya seolah tidak mampu bergerak.
Bulan menatap keluar jendela, pikirannya segera menangkap bahwa sebelumnya ibu Mega dan Bintang membahas tentang perceraian. Namun, ia tidak akan menuntut atau protes apapun, ia menyadari hanya sebagai wayang yang tidak berdaya menunggu peran apa yang akan dalang berikan.
Sementara Bintang menatap wajah Bulan dari kaca spion, takut jika Bulan salah paham.
Hingga mereka tiba di halaman rumah mami, segera di sambut art yang sedang membuka pagar. Di luar garasi, kendaraan Langit sang kakak masih parkir di sana. Dada Rembulan berdebar-debar, antara kangen ingin bertemu sang kakak, tapi juga takut Langit akan marah kepadanya.
Dada Megawati deg-degan saat pandangannya tertuju kepada sesosok wanita yang seusia dengannya berdiri di ambang pintu, menatapnya lekat. Di belakangnya berdiri pria muda, sorot matanya yang tajam tertuju ke wajah Bintang seolah sedang marah.
...~Bersambung~...