Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Akan tetapi, rasa lelah yang luar biasa tampaknya bertindak sebagai "obat tidur" yang ampuh. Belum sempat Theo menekan tombol kirim pada pesan singkat yang ia ketik, ponselnya terjatuh pelan ke kasur seiring dengan matanya yang terpejam rapat. Ia pun tertidur pulas dalam posisi masih mengenakan pakaian lengkap.
Di luar, matahari pagi Jakarta semakin tinggi, menghangatkan udara. Namun, di dalam dunia bawah sadar Theo, suasana berubah drastis. Ketenangan tidurnya tak bertahan lama.
Theo merasa dirinya sedang berjalan di sebuah lorong yang sangat gelap dan panjang. Ia tidak tahu di mana ujungnya, namun ia terus melangkah, didorong oleh perasaan takut yang semakin mencekam. Suara tawa anak kecil yang melengking tiba-tiba terdengar, memecah keheningan lorong tersebut. Theo mempercepat langkahnya, namun tawa itu terdengar semakin dekat.
Tiba-tiba, ia melihat sesosok bayangan hitam yang besar di ujung lorong. Bayangan itu perlahan-lahan mendekat, dan Theo menyadari bahwa itu adalah sosok kakeknya, Pak Harto. Namun, wajah kakeknya tampak pucat dan matanya melotot tajam. Kakeknya membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya ada hembusan angin dingin yang menerpa wajah Theo.
Theo mencoba untuk berteriak, namun suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Ia merasa sesak napas, dan tubuhnya gemetar hebat. Ia mencoba untuk berlari, namun kakinya terasa berat dan sulit untuk digerakkan. Bayangan kakeknya semakin dekat, dan Theo merasa seolah-olah ia akan diterkam oleh sosok tersebut.
Tiba-tiba, Theo terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia menatap sekeliling kamarnya, dan menyadari bahwa itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun, rasa takut yang dirasakannya masih terasa begitu nyata. Ia segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Tiara,
"Aku sudah sampai di Jakarta, Sayang. Maaf baru kasih kabar. AKu baru saja bangun dari mimpi buruk. I love you."
Setelah mengirim pesan, Theo kembali merebahkan tubuhnya yang terasa masih lelah kembali ke atas tempat tidur.
.
.
.
Sementara itu, di desa Bojasari, terik sinar matahari pagi menyapu bersih sisa-sisa embun yang menempel di balik dedaunan persawahan. Suara kicau burung gereja di teras rumah besar peninggalan almarhum Pak Harto menghidupkan suasana pagi yang syahdu.
Tiara sedang duduk di ruang tengah sambil membantu Bu Sri merapikan beberapa lipatan kain batik tua, ketika tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di atas meja jati bergetar pelan.
BIP
Tiara meraih ponselnya. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat melihat nama "Mas Theo" tertera di layar. Namun, begitu membaca pesan singkat yang baru saja masuk, kerutan khawatir mendadak muncul di dahinya.
> *"Aku sudah sampai di Jakarta, Sayang. Maaf baru kasih kabar. Aku baru saja bangun dari mimpi buruk. I love you."*
Melihat jam di layar ponselnya yang telah menunjukkan pukul 10.15 WIB, rasa lega bersanding rapat dengan rasa cemas di dadanya. Lega karena suaminya telah tiba di Jakarta dengan selamat, namun kepikiran karena mimpi buruk itu seolah terus mengejar Theo bahkan hingga ke ibu kota.
Dengan ibu jari yang bergerak cepat di atas layar touch screen, Tiara segera mengetikkan balasan:
> *"Alhamdulillah kalau sudah sampai dengan selamat, Mas. Istirahat yang cukup ya, jangan dipikirkan terus mimpinya. Bismillahi tawakkaltu 'alallah, banyak berdoa. Aku, Uti, sama yang lain di sini baik-baik saja kok. I love you more, Mas Theo. Jangan lupa sarapan nanti kalau sudah bangun lagi."*
Setelah menekan tombol kirim, Tiara menghela napas panjang dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya sendiri. Ia tidak boleh terlihat panik di depan sang Uti.
"Ada apa, Tiara? Pesan dari Theo?" tanya Bu Sri lembut sambil memperhatikan raut wajah cucu menantunya itu dari balik kacamata bacanya.
Tiara dengan cepat memasang senyum menenangkan. Ia mengangguk pelan. "Iya, Uti. Mas Theo baru saja mengabari kalau dia dan Mas Yayan sudah sampai di rumah Jakarta dengan selamat."
"Alhamdulillah..." Bu Sri mengelus dadanya, menyunggingkan senyum lega. "Gusti Allah selalu melindungi mereka di jalan. Biarkan Theo istirahat dulu, perjalanan malam pasti capek sekali."
"Iya, Uti. Mas Theo bilang dia mau tidur sebentar lagi," sahut Tiara lembut.
Dari arah dapur, terdengar derap langkah kaki dan riuh tawa renyah seorang anak kecil. Tak lama kemudian, Jalu—anak laki-laki Marni yang berusia sekitar delapan tahun—berlari kecil memasuki ruang tengah sambil membawa sebuah mainan mobil-mobilan kayu tua. Di belakangnya, Mbak Marni berjalan menyusul sambil membawa nampan berisi rebusan pisang hangat dan teh manis.
"Ayo Jalu, jangan lari-lari di dalam rumah orang begini, nanti tersandung," tegur Marni halus namun tegas. Ia lalu menaruh nampan di atas meja tengah. "Ndoro Putri, Mbak Tiara, ini ada pisang rebus hangat. Tadi Mas Joko baru saja memetiknya dari kebun belakang."
"Wah, terima kasih banyak ya, Mbak Marni. Jadi merepotkan begini," balas Tiara hangat.
"Ah, tidak merepotkan sama sekali, Mbak Tiara. Justru kami yang berterima kasih sudah diperbolehkan membawa Jalu menginap di sini," ujar Marni ramah. Wajahnya yang kemarin sore sempat pucat ketakutan, kini tampak jauh lebih rileks setelah melewati malam pertama tanpa gangguan sama sekali.
Joko pun melangkah masuk dari pintu samping dengan kaos melipat di bahu dan menyapa mereka dengan hormat. Kehadiran keluarga kecil Joko dan renyahnya tawa Jalu benar-benar mengubah atmosfer rumah besar yang biasanya terkesan dingin dan angker itu menjadi bernyawa dan hangat.
Namun, di tengah kehangatan obrolan pagi itu, pandangan Tiara sempat melirik ke arah lorong remang yang menuju ke area kamar belakang—kamar ujung paling dekat dengan dapur yang pintu kayunya selalu terkunci rapat.
Meski suasana pagi terasa begitu menenangkan dan tidak ada teror mistis yang mengusik sejak semalam, ada bisikan halus di sudut hatinya yang berfirasat... bahwa ketenangan ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sebenarnya datang.
.
.
.
Sore harinya di Jakarta, jarum jam telah menunjuk ke angka 13.30 WIB. Setelah tidur yang cukup untuk mengembalikan stamina dan membersihkan diri, Theo dan Yayan merasa kondisi tubuh mereka sudah jauh lebih segar. Sesuai agenda yang telah direncanakan Theo, mereka segera bersiap untuk menuju ke daerah Bekasi—mendatangi rumah orang tua Tiara.
Perjalanan dari Jakarta menuju Bekasi memakan waktu sekitar satu jam akibat padatnya lalu lintas sore itu. Mobil SUV hitam yang dikendarai Yayan akhirnya berbelok masuk ke halaman sebuah rumah asri bergaya minimalis di kawasan Bekasi.
Begitu mobil terparkir, pintu depan rumah langsung terbuka. Pak Alwi dan Bu Euis—mertua Theo—keluar menyambut dengan raut wajah terkejut sekaligus gembira.
"Assalamualaikum." Ucap Theo tak lama setelah turun dari kendaraan sembari berjalan dengan senyum hangat menghampiri kedua mertuanya tersebut.
"Waalaikumsalam... Lho, Theo? Kamu ke sini kok tidak mengabari dulu, Nak?" panggil Bu Euis hangat sambil melangkah mendekat.
Theo segera mencium tangan kedua mertuanya dengan penuh takzim, diikuti oleh Yayan di belakangnya. "Iya, Ma, maaf tiba-tiba. Soalnya dari kemarin perjalanannya agak mendadak."
"Mari, mari masuk dulu. Kebetulan Papa baru saja selesai menyiram tanaman di samping," ajak Pak Alwi ramah sambil memepetkan pundak menantunya.
Mereka berempat kemudian duduk di ruang tamu yang sejuk. Setelah Bu Euis menyuguhkan minuman dingin dan camilan, Theo memulainya dengan mengenalkan Yayan yang duduk santai di sampingnya.
"Papa, Mama... kenalkan, ini Mas Yayan. Beliau ini teman sekaligus orang kepercayaan keluarga di kampung," ujar Theo melempar senyum ke arah Yayan. Yayan pun mengangguk hormat sambil menjabat tangan Pak Alwi dan Bu Euis.
"Oh iya, Mas Yayan... salam kenal ya," sambut Pak Alwi hangat. "Oya Theo, Tiara mana? Kok tidak ikut? Kalian baru pulang liburan atau bagaimana?"
Mendengar pertanyaan Pak Alwi, raut wajah Theo mendadak berubah agak serius dan redup. Ia menelan ludah, lalu menghela napas panjang sebelum menyampaikan kabar penting yang selama ini tertahan.
"Sebenarnya begini, Pa, Ma..." ucap Theo pelan. "Ada kabar duka yang kemarin belum sempat Theo kabarkan langsung. Kakung... maksud Theo, Pak Harto, kakek Theo di Jawa... beliau sudah meninggal dunia sekitar seminggu yang lalu."
Mendengar ucapan tersebut, Pak Alwi dan Bu Euis seketika tertegun. Suasana ruang tamu yang tadinya hangat mendadak hening.
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨