NovelToon NovelToon
Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31.

Viola berlari menyusuri lorong rumah sakit. Langkahnya tergesa-gesa. Napasnya memburu, sementara telapak tangannya berkali-kali menggenggam ponsel yang sejak tadi menampilkan pesan singkat dari Segara.

Lantai 3. Kamar 308.

Itulah satu-satunya petunjuk yang diberikan pria itu.

Semakin dekat menuju kamar tersebut, langkah Viola justru semakin berat. Ada perasaan tidak nyaman yang sejak tadi menekan dadanya.

Sampai di depan kamar bernomor 308. Viola mengetuk, lalu membuka perlahan pintu itu.

Begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada ranjang pasien di dalam kamar.

Nara. Wanita itu terbaring dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat begitu pucat. Sebuah selang infus menancap di punggung tangannya, mengalirkan cairan bening secara perlahan.

Viola membeku di ambang pintu. "Kenapa bisa jadi seperti ini?" Suaranya nyaris berbisik.

Ia segera melangkah mendekati ranjang. Setiap langkah terasa seperti menyeret sesuatu yang berat di dalam dadanya. Viola menatap wajah Nara yang biasanya terlihat kuat, ceria, dan sulit disentuh siapa pun. Namun, kini wanita bahkan tidak bergerak. Hanya suara lembut mesin pemantau dan tetesan infus yang mengisi keheningan kamar.

Sagara yang sejak tadi duduk di kursi di samping ranjang mengangkat wajah. Ia tampak terkejut melihat kedatangan Viola. "Kau datang ...," sapanya pelan.

Viola mengangguk pelan. "Aku langsung ke sini begitu membaca pesan darimu."

"Terima kasih sudah datang." Sagara mengatakannya tanpa menatap Viola. Pandangannya justru tertuju pada Nara yang masih terbaring dengan mata terpejam.

"Apa yang terjadi? Kenapa Nara bisa seperti ini?" tanya Viola. Nadanya terdengar khawatir.

"Nara pingsan. Kondisinya masih belum stabil." Suara Sagara terdengar berat. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Rambutnya berantakan, kemejanya tidak lagi serapi biasanya, dan matanya tampak memerah.

"Aku sangat ceroboh!"

"Pagi tadi aku pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa masalah perusahaan. Kupikir Nara sudah lebih baik. Kami sudah banyak bicara semalam. Aku bahkan sempat melarang Nara menyalakan televisi atau mengaktifkan ponselnya."

Sagara berhenti, rahangnya mengeras.

"Tapi dia tidak mengindahkan laranganku."

Viola menahan napas.

"Siang tadi, Bu Rini tiba-tiba menghubungiku. Beliau mengatakan Nara jatuh pingsan." Sagara menundukkan wajah.

Viola dapat melihat jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan.

"Nara jatuh pingsan setelah mengaktifkan kembali ponselnya."

Suara Sagara semakin lirih.

"Dia membaca semua komentar yang ada di akun media sosial miliknya. Orang-orang menuduh dan memojokkannya. Beberapa temannya juga mengirimkan pesan, mempertanyakan kebenaran berita itu."

Ia menarik napas panjang, tetapi napas itu terdengar seperti tertahan di dadanya. Pandangannya lalu tertuju pada ponsel Nara yang berada di atas meja kecil di samping ranjang.

"Aku melihat semua riwayat penelusurannya." Matanya kembali beralih pada istrinya.

"Dia membaca semuanya, Viola."

Hening.

Suara mesin pendingin ruangan terdengar samar. Sesekali terdengar langkah kaki perawat melewati lorong di luar kamar.

"Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendirian." Sagara mengusap kedua telapak tangannya ke wajah. "Seharusnya aku tetap berada di sampingnya."

Bahu pria itu turun perlahan. "Tapi apa yang kulakukan? Aku justru pergi ke kantor. Meninggalkannya sendiri hingga ia kembali terpuruk seperti ini."

Viola menatapnya. Ada sesuatu dalam tatapan Sagara yang membuat dadanya ikut terasa sesak.

"Aku sudah berusaha menghentikan berita itu." Sagara mengepalkan tangan. "Meminta orang-orangku menekan media. Tapi semakin aku berusaha menghilangkan berita itu ...."

Ia menggeleng pelan. "Berita itu justru semakin melebar." Jemarinya mencengkram rambutnya sendiri.

"Seolah ada seseorang yang sengaja memastikan berita itu tetap muncul dan semakin melebar."

Viola menatap Nara.

Wanita itu masih terbaring dengan wajah pucat. Wajah yang kemarin dipenuhi air mata kini terlihat begitu tenang, tetapi ketenangan itu justru terasa menyakitkan.

Tidak ada senyuman, suara ramah dan ceria. Hanya ada tubuh lemah yang bergantung pada cairan infus.

Viola mengigit bibir bawahnya. Permintaan Sagara kemarin kembali terlintas di benaknya. Sebuah permintaan yang sejak semalam terus mengusik pikirannya.

Tadinya, ia mengira masih memiliki waktu untuk memutuskan. Namun, melihat Nara seperti ini, Viola merasa waktu justru sedang mengejarnya.

Ia menoleh pada Sagara. Pria itu masih menatap istrinya.

Ada rasa bersalah yang begitu dalam di matanya. Seola-olah setiap tetes air mata Nara telah berubah menjadi beban yang ia letakkan sendiri di atas bahunya.

Viola menarik napas panjang. Dalam hidupnya, hanya ada beberapa orang yang benar-benar tulus padanya.

Nara. Wanita itu selalu bersikap ramah, bahkan menganggapnya sebagai saudarinya sendiri.

Sagara. Pria itu tidak pernah terlihat membencinya. Padahal ia bisa saja membencinya karena Viola mendapat banyak kasih sayang dari mendiang Jayendra. Ayah kandung Sagara.

Dan Han Seokjin. Pria itu telah beberapa kali membantunya membangun kembali Sweet Cake.

Semua kebaikan itu berputar di kepala Viola. Kini mereka sedang berada dalam kesulitan. Dan ia tidak sanggup hanya berdiri sebagai penonton.

Viola menatap Nara sekali lagi. Lalu perlahan tangannya meraih tangan Nara.

"Sagara," ucap Viola pelan.

Sagara mengangkat wajah.

"Aku akan melakukannya." Viola mengatakan itu tanpa menatap Sagara. Pandangannya tetap tertuju pada Nara.

Mata pria itu perlahan melebar. "Kau yakin?"

Viola menganguk. "Aku sudah memikirkannya." Suaranya terdengar pelan, tetapi tidak ada keraguan di dalamnya. "Aku akan memenuhi lagi permintaanmu."

Sagara menatap Viola cukup lama. Seolah memastikan bahwa wanita itu sungguh-sungguh pada ucapannya. Ia sadar, permintaannya kali ini membutuhkan sebuah pengorbanan besar yang mungkin akan berdampak bukan hanya pada dirinya, tetapi juga usaha yang baru saja dirintisnya. Meski begitu, Sagara juga tidak bisa tetap diam. Ada Nara yang harus ia lindungi.

"Viola ... apa kau benar-benar yakin? kau sudah tahu apa konsekuensinya?" Sekali lagi Sagara berusaha memastikan. Ia tidak ingin wanita itu terburu-buru mengambil keputusan lalu menyesalinya.

"Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa hanya diam melihat saudariku terpuruk karena semua tuduhan itu." Viola mengatakannya dengan tenang.

"Viola ...."

"Karena itu." Viola memotong dengan tenang. "Besok pagi. Siapkan semuanya untukku."

Sagara tidak langsung menjawab. Di antara mereka, keheningan kembali turun. Namun, kali ini berbeda.

Sebuah keputusan telah dibuat. Dan Viola tahu, setelah besok pagi, hidupnya tidak akan lagi sama.

Ia telah memilih untuk berdiri di depan badai. Bukan karena ia tidak takut, melainkan karena ada dua orang yang begitu berati baginya tengah tenggelam di dalamnya.

**** Bersambung.

1
-Thiea-
buat si Han klepek-klepek sama kamu vio. aku mendukungmu. 🫰
Lisa
Makin seru nih kisahnya..
mama Al
apakah viola jadi pelampiasan amarah Seok jin
mama Al
Casing nya tuh yang dingin siapa tahu dia sebenarnya pria yang perhatian
mama Al
berat amat tuh bibir
mama Al
Apa Nara mau menjodohkan viola dan Seok jin
Teteh Lia: Sagara lebih tepat na yang mau jodohin Viola sama Seokjin
total 1 replies
mama Al
pasti Nara yang datang
mama Al
Sekarang Seok jin lebih paham keinginan viola
Bunda HB
siap thor,,,,,,,🫡🫡🫡
tpi kasian viola nikah tanpa di cintai.sll jdi lilin menerangi org lain .tpi kena tanga sndri 🙏🙏😭😭
Lisa: ya kasian banget Viola..mestinya dia g ambil keputusan nikah sama Seokjin..
total 2 replies
-Thiea-
semoga kalian bisa sama-sama merasakan manisnya cinta. 🫰
Lisa
Semangat y Viola..
Hariyoo { hiat }
wahhh enak nih , dibayangin aja udah enak .
Hariyoo { hiat }
ohhh dia CEO juga rupanya, makin keren nih 👍
Hariyoo { hiat }
mantap keren 👍
kopi tubruk
suka-suka lu aje dah🤣
Lisa
Ya nih aq juga ga yakin..😊
Teteh Lia: mau na seumur hidup, ya, kak🤭
total 1 replies
-Thiea-
ye lah tuan Han. gak yakin aku cuma setahun..😁
Aegis
ini juga foreshadowing
Aegis
tunggu aja besok udah ada buldozer🥴
Aegis
selalu ada menariknya 🥴 ntar bentar lagi menggusur🥴🥴🥴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!