NovelToon NovelToon
Aku Hidup Kembali

Aku Hidup Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Baru

Bab 17

Pagi itu, suasana kampus kembali ramai seperti biasa. Setelah beberapa hari menjadi bahan pembicaraan karena insiden surat peringatan Kai, keadaan mulai berangsur tenang. Masih ada beberapa mahasiswa yang sesekali berbisik ketika melihat Kai berjalan melewati koridor, tetapi jumlahnya jauh berkurang dibanding sebelumnya.

Karin merasa sedikit lega. Setidaknya, kehidupan mereka mulai kembali berjalan normal.

"Selamat pagi."

Suara Kai terdengar dari samping. Karin menoleh sambil tersenyum.

"Pagi."

Kai mengangkat sebuah kantong kertas berisi roti.

"Apa itu?"

"Aku mampir ke toko roti tadi. Rotinya. Katanya enak."

Kai memberikan satu pada Karin.

"Beneran enak. Kebetulan aku nggak sempat sarapan."

Kai tersenyum kecil.

Tak jauh dari sana, Nia yang baru datang menggeleng pelan melihat pemandangan itu.

"Aku jadi nyesel ganggu."

Karin langsung menoleh.

"Nia!"

"Apa?"

"Kamu salah paham."

Nia justru tertawa.

"Aku belum bilang apa-apa."

Kai hanya menghela napas pelan sambil menggeleng. Entah sejak kapan, ia mulai terbiasa mendengar godaan seperti itu.

-

-

-

Jam kuliah hari itu berlalu tanpa kendala.

Saat dosen membagi tugas presentasi untuk minggu depan, setiap kelompok diminta mencari referensi tambahan di perpustakaan.

"Kumpulkan minggu depan," ujar dosen sebelum menutup buku absennya.

Mahasiswa mulai meninggalkan kelas.

"Karin."

Kai menghampiri.

"Nanti jadi ke perpustakaan?"

"Iya."

Nia ikut menyambar.

"Aku juga ikut."

"Kan tugasnya sama."

Mereka bertiga berjalan menuju perpustakaan.

Di sepanjang perjalanan, Karin merasa suasana mulai berubah. Bukan karena dirinya. Melainkan karena Kai.

Beberapa mahasiswa yang dulu menjauh kini mulai menyapa meski hanya sekadar menganggukkan kepala.

Kai memang tidak banyak membalas, tetapi setidaknya ia tidak lagi dipandang seperti pembuat masalah.

Melihat itu, Karin tersenyum dalam hati. Usahanya tidak sia-sia.

Siang itu perpustakaan cukup ramai. Mereka memilih duduk di meja yang berada dekat jendela.

Sinar matahari masuk melalui kaca besar, membuat suasana terasa hangat.

Nia sibuk mencari buku di rak sebelah. Sementara Karin dan Kai mulai membaca referensi masing-masing.

"Kai."

"Hm?"

"Kalau bagian ini menurutmu bagaimana?"

Kai menggeser kursinya sedikit lebih dekat.

"Coba lihat."

Ia membaca beberapa baris tulisan di buku Karin.

"Lihat penjelasan yang ini." Kai menunjuk salah satu paragraf. "Kalau digabung sama teori yang tadi, lebih nyambung."

"Oh..."

Karin mengangguk pelan.

"Pantes aku bingung."

Kai tersenyum tipis.

"Kamu terlalu cepat bacanya."

Belum sempat Karin menjawab, terdengar suara seseorang dari belakang.

"Maaf..."

Mereka menoleh bersamaan.

Seorang mahasiswi berambut sebahu berdiri sambil membawa tiga buku tebal di pelukannya.

"Di sini masih kosong?"

Karin langsung mengenal wajah itu.

Gadis yang pernah dilihatnya berdiri di koridor beberapa hari lalu.

"Oh, masih. Silakan."

"Terima kasih."

Gadis itu duduk di meja sebelah. Ia mengeluarkan laptop dan mulai membuka beberapa catatan.

Sesekali pandangannya mengarah ke Karin. Namun tidak lama. Hanya sekilas.

Tak jauh dari sana, Nia kembali sambil membawa setumpuk buku.

"Wah, penuh juga hari ini."

Ia meletakkan buku-buku di meja. Tanpa sengaja, salah satunya terjatuh.

Bruk.

Beberapa lembar kertas berserakan.

"Aduh."

Sebelum Karin sempat membantu, mahasiswi di meja sebelah lebih dulu memungut beberapa lembar kertas itu.

"Ini."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Ia tersenyum ramah. Senyum yang membuat kesan pertamanya jauh berbeda dari bayangan Karin.

"Aku Maya."

Karin membalas senyum itu.

"Karin."

"Nia."

"Dan ini Kai."

Kai menganggukkan kepala singkat.

"Halo."

Maya membalas anggukan itu.

"Aku tahu." Ucapan itu membuat ketiganya sedikit heran. "Kalian lumayan terkenal akhir-akhir ini."

Suasana mendadak canggung.

Melihat ekspresi mereka, Maya langsung tertawa kecil.

"Tenang. Aku bukan mau bergosip. Aku cuma sering lihat kalian di kampus."

Karin menghela napas lega.

"Kirain..."

"Kirain aku mau ikut-ikutan ngomongin Kai?"

Karin tersenyum malu.

"Iya."

Maya menutup laptopnya sebentar.

"Jujur saja..., aku nggak terlalu percaya gosip. Orang bisa kelihatan baik di depan banyak orang. Tapi juga bisa kelihatan buruk hanya karena cerita orang lain."

Kai yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat pandangan.

Untuk pertama kalinya, ada orang lain selain Karin yang tidak langsung menilainya berdasarkan gosip.

Tanpa disadari, sudut bibirnya terangkat tipis.

-

-

-

Suasana perpustakaan kembali tenang. Masing-masing kembali mengerjakan tugasnya. Sesekali hanya terdengar suara lembaran buku yang dibalik atau ketikan pelan dari laptop Maya.

Sekitar setengah jam kemudian, Nia meregangkan tubuhnya.

"Aduh... otakku rasanya penuh."

Karin tertawa kecil.

"Baru juga satu jam."

"Satu jam itu lama kalau isinya teori semua."

Kai menutup bukunya.

"Kita istirahat sebentar saja."

Karin mengangguk.

"Aku juga mau cari minum."

"Aku ikut ya," Ujar Maya.

Mereka pun keluar dari perpustakaan menuju kantin kecil yang berada di samping gedung.

Kantin tidak terlalu ramai karena sebagian besar mahasiswa masih mengikuti kelas sore.

Nia langsung memesan es teh.

"Aku yang traktir hari ini," katanya.

"Kok tumben?" tanya Karin.

"Kan kemarin kamu yang traktir."

Karin tersenyum.

"Baiklah."

Kai memilih teh hangat, sedangkan Karin membeli jus jeruk.

Mereka duduk di meja paling pojok.

Awalnya suasana masih canggung. Namun Maya ternyata cukup mudah diajak berbicara.

"Aku sebenarnya sudah tingkat akhir," ujarnya.

"Pantas aku jarang lihat," kata Karin.

"Iya. Semester ini lebih sering mengurus skripsi daripada masuk kelas."

Nia langsung menatapnya penasaran.

"Kak Maya ikut organisasi juga, ya?"

"Ikut. Dulu cukup aktif. Tapi sekarang sudah mengurangi kegiatan."

Percakapan mengalir ringan. Topiknya berpindah dari tugas kuliah, dosen, hingga cerita lucu tentang kehidupan kampus.

Selama itu pula, Karin memperhatikan sesuatu.

Maya sama sekali tidak berusaha mencari perhatian Kai. Ia berbicara kepada semua orang dengan porsi yang sama. Hal itu membuat Karin merasa nyaman.

Tak lama kemudian, ponsel Kai bergetar. Ia melihat layar sebentar, lalu berdiri.

"Maaf. Aku harus ke bengkel lebih awal. Motor pelanggan banyak."

Karin mengangguk.

"Hati-hati."

Kai merapikan tasnya.

"Nanti tugasnya kirim saja lewat pesan."

"Oke."

Sebelum pergi, Kai menganggukkan kepala kepada Maya.

"Permisi."

Maya balas mengangguk.

Kai pun berjalan meninggalkan kantin.

Nia memperhatikan punggung Kai hingga menghilang di balik koridor.

"Dia memang irit bicara, ya." Maya tersenyum. "Tapi kelihatan baik."

Karin tanpa sadar ikut tersenyum.

"Iya." Jawaban itu keluar begitu saja.

Maya menangkap perubahan ekspresi Karin, tetapi memilih tidak menggodanya.

-

-

-

Sementara itu...

Di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus, Gio duduk sendirian sambil memandangi layar laptop. Di hadapannya tergeletak beberapa lembar dokumen. Salah satunya berisi informasi mengenai perusahaan milik Pak Wirawan yang berhasil ia kumpulkan dari berbagai sumber.

"Perusahaan ini berkembang jauh sekali..." gumamnya.

Ia masih ingat ayahnya pernah bercerita bahwa Pak Wirawan hanyalah seorang pengusaha kecil ketika mereka masih muda.

Kini semuanya berbeda. Perusahaan itu telah memiliki beberapa cabang dan menjadi salah satu perusahaan yang cukup dikenal di kota mereka.

Gio menutup berkas itu perlahan.

"Sayang sekali kalau nanti jatuh ke tangan orang lain."

Ia lalu membuka foto lama di ponselnya. Foto itu memperlihatkan dirinya dan Karin saat masih kecil. Usia mereka sekitar enam atau tujuh tahun.

Mereka hanya pernah bertemu dua kali ketika kedua keluarga berkumpul.

Karin tentu tidak lagi mengingatnya. Namun Gio masih menyimpan foto itu.

Awalnya ia hanya berniat menjalin kembali hubungan baik dengan keluarga sahabat ayahnya.

Tetapi setelah mengetahui siapa Karin sekarang... dan melihat sebesar apa perusahaan Pak Wirawan berkembang... pikirannya mulai berubah.

"Aku tidak mungkin melepaskan kesempatan ini."

Ia bersandar di kursi sambil menarik napas panjang.

Meski begitu, satu hal mulai mengganggunya.

Kai.

Pria itu memang tidak memiliki harta. Namun justru karena kesederhanaannya, Pak Wirawan dan Hesti mulai menaruh simpati.

Hal itu tidak pernah masuk dalam perhitungan Gio.

"Kalau dibiarkan terus..., mereka bisa semakin dekat."

Ia mengetuk meja pelan dengan ujung jarinya.

"Tidak. Aku harus membuat mereka menjaga jarak."

Namun kali ini ia tidak ingin menggunakan cara yang tergesa-gesa. Ia sadar, jika menyerang Kai secara terang-terangan, justru Karin akan semakin membelanya. Mengejar Karin terang-terangan, juga membuat Karin jauh darinya.

Ia membutuhkan cara yang lebih halus. Cara yang membuat hubungan mereka renggang dengan sendirinya.

-

-

-

Sore hari.

Karin dan Nia berjalan keluar dari gerbang kampus.

"Kak Maya ternyata asyik juga ya," kata Nia.

"Iya. Aku kira galak."

"Kesan pertamanya memang begitu."

Karin mengangguk pelan.

Entah mengapa, ia merasa Maya bukan orang yang mudah dipengaruhi gosip. Itu membuatnya sedikit tenang.

Setidaknya, mulai ada orang lain yang melihat Kai apa adanya.

Sesampainya di halte, Karin mengirim pesan kepada Kai.

Sudah sampai bengkel

Tak lama kemudian balasan masuk.

Sudah. Lagi ganti kampas rem.

Karin tersenyum kecil.

"Kenapa?" tanya Nia.

"Kai."

"Hah? Sudah mulai tukeran nomor kontak? Cieee...."

"Apa sih, nggak gitu. Hanya kan kita perlu komunikasi jarak jauh kalau ada yang penting."

Meski Karin beralasan, Nia menangkap wajah tersipu Karin.

Nia tersenyum.

"Nah, itu baru kemajuan."

Bus yang mereka tunggu akhirnya datang.

Karin melangkah naik sambil memandang langit sore dari balik jendela. Beberapa minggu terakhir hidupnya memang masih dipenuhi masalah. Namun kini ia tidak lagi merasa sendirian.

-

-

-

Bersambung...

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kali ini jalanmu tak kan mulus gi
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mungkin jalanmu akan berubah mulai sekarang gi..
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh gercep juga si gio ya, udah sampai ke bengkel
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kita liat
Author.N.
Untunglah ada saksi
Author.N.
pasti ini orang suruhan Gio
Author.N.
Dasar licik Gio 😏
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
semoga bisa merubah semua yg lalu
Author.N.
alhamdulillahnya tuh ayah ibunya menyambut baik
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mau apa? bikin gentar kai?
Author.N.
lahhh dianya beneran 😅
Author.N.
pikirkan cara lagi buat menghancurkan Gio, Rin. Cari tau kehidupan dia
Author.N.
huwaaa misteri lagi. Gio dari awal licik sih ya,
Author.N.
cieee belum2 udah perhatian nih 😍
Author.N.
hati2 abang Kai ada yg lagi mengawasimu
Author.N.
Kasian 🤣
Author.N.
thoorr kasih visualnya cepetaaann 😍
Author.N.
mau es teh jumbo yang 4rebuan apa 5rebuan nih bang
Author.N.
ganteng tapi nyakitin 😌😌
Author.N.
eh mendadak ada teka teki
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!