Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sebuah samsak besar ternyata tidak bisa meredakan emosi orang memukul saat ini, dia kesal, dia emosi tapi teka tahu ingin melampiaskannya ke siapa, alhasil dia memilih olahraga untuk meredakan semua emosinya.
"AKKHHHH!" teriaknya keras. Nafasnya memburu, tatapannya menajam, sudut atas bibirnya naik, menggambarkan bagaimana emosinya pria itu saat ini.
"Bisa-bisanya hidup dia setenang itu pas udah nikah!"
Pria itu membuka sarung tinjunya, meludah sebentar dan berjalan ke arah kursi di depannya. Satu botol air minum ia teguk kasar sampai airnya tumpah ke luar.
"Menurut informasi orang sekitar, mereka baru pindah ke situ," jata seorang pria yang berdiri depannya.
Sang lawan bicara melemparkan botol plastik minuman itu dengan keras, ia kemudian tersenyum miring. "Zakia-Zakia, kenapa sih gue harus ngerasain fase terpuruk kayak gini!" ujarnya.
Ia menyenderkan tubuh di kursi yang diduduki, keringat yang bercucuran tak ia pedulikan, pandangannya lurus, terlihat kosong namun mengisi berbagai macam dendam di dalamnya.
"Zakia-Zakia, bisa-bisanya lo tenang pas gue lagi dalam kondisi kayak gini," ujarnya pelan. Jari jemari besar itu mengetuk pelan meja dan kemudian ia tertawa kecil.
"Awasi terus, gue mau cari celah untuk mereka berdua!" titahnya.
"Baik Pak." Suruhan tersebut menunduk dan lanjut melangkah pergi dari sana. Sementara pria yang di dalam, dia kembali olahraga untuk menghilangkan emosinya. Sungguh enak sekali hidup wanita itu di kala seperti ini!
****
"Zakia enak kok Ma di sini, Mama di sana udah makan b elum?" Wajah Sinta terlihat jelas di layar ponsel pintar milik Zakia, raut wajah wanita itu seketika bersinar saat Zakia memberi kabar bahwa dia baik-baik saja.
"Mama udah makan, tadi cuman masak soto aja, Rega itu loh pengen banget makan soto, kamu mau masak apa?"
Zakia tersenyum, ia mengangkat satu bakul cumi yang sudah dibersihkan, tak lupa dengan beberapa bahan dapur yang sudah mereka beli tadi berdua di pasar. Zakia hanya membersihkan, tapi dia sendiri pun bingung mau dimasak apa, sementara dia sendiri tidak tahu selera Daren seperti apa.
"Wih enak tuh! Masak cumi saus padang aja," saran Sinta. Dahi Zakia mengerut, benar juga apa kata ibunya. Saos padang terdengar enak, tapi Daren apakah dia mau memakan itu?
"Loh, tapi bang Daren apa mau makan kayak gitu?"
"Halah! Zakia, yang namanya suami kalau dimasakin apapun sama istri pasti bakal dimakan, percaya aja sama mama, mama yakin Daren pasti bakal makan kok!" ujar Sinta.
"Tapi Zakia, mama mau nanya sama kamu," lanjut Sinta.
Zakia berpindah dari wastafel ke meja makan, dia akan memotong bahan makanan di situ saja, kakinya tidaterlalu kuat untuk dibawa berdiri, ini saja ketika berjalan, kaki Zakia sedikit pincang.
Zakia duduk di meja makan dan ponsel tersebut diletakkan di depan dirinya, "nanya apa Ma?"
"Tadi mama masuk ke kamar kamu sekalian bersih-bersih, mama ada lihat almameter kamu tergantung di balik pintu, kamu ga mau kuliah lagi Nak?"
Potongan pisau Zakia terhadap jagung dihadapannya langsung berhenti, almameter? Kuliah? Tanpa sadar tawa kecil terdengar dari bibirnya, setelah kejadian itu, Zakia bahkan tak berpikir tentang kuliah, pendidikan dan segala macamnya, semuanya telah berakhir!
"Belum tau Ma," jawab Zakia pelan.
"Sayang loh Nak, coba bicara sama Daren siapa tau dia ngasih izin untuk kamu kuliah," saran Sinta. Zakia hanya diam, pikirannya kembali kacau mendengar kata kuliah itu.
Zakia tidak tahu, perkataan sang ibu tentang kuliah dan juga raut wajah Zakia semua diperhatikan oleh sang suami, Daren usai pulang dari Pasar dia memilih untuk mandi sebentar, tubuhnya terlalu kepanasan, niatnya setelah ke luar dia ingin membantu Zakia memasak makanan, tapi bukannya membantu Zakia, Daren malah mendapat informasi yang sebelumnya tidak dia ketahui.
"Zakia kuliah?" gumamnya.
"Udahlah Nak, mama matiin dulu ya, ada kerjaan bentar."
"Iya, sehat-sehat ya Ma." Zakia melambaikan tangan ta dan tersenyum, panggilah tersebut dimatikan, setelah dari panggilan itu Zakia merasa energinya terkuras habis, topik yang selama ini tak pernah lagi ia pikirkan, kini kembali dibahas oleh sang ibu.
"Cuminya mau dimasak apa?"
Lamunan Zakia langsung buyar, sebuah suara bariton mengganggu gendang telinganya. Ia mendongak, di depannya ada Daren dengan raut wajah datarnya itu. Tangannya terlipat di dada dan matanya meneliti semua bahan makanan yang dikerjakan oleh sang istri.
"Ga tau, kayaknya cumi saus padang enak deh, kebetulan ada jagung juga," jawab Zakia. Tanpa banyak bicara, Daren mengambil bumbu dapur yang sudah disiapkan Zakia dan memasukkannya ke dalam blender. Zakia memperhatikan itu, tapi dia tidak berbicara apapun, dua hari tinggal dengan Daren sepertinya Zakia mulai paham bahwa suaminya ini memang gemar membantu pekerjaan rumah.
"Lumayan juga dapat suami mau bantu-bantu ngerjakan rumah," gumam Zakia lalu tersenyum. Setidaknya dengan kondisinya saat ini, Zakia bersyukur mendapatkan pria yang tak merasa malu saat terjun ke dunia dapur.
"Cuminya mana?" tanya Daren. Tangannya sibuk mengaduk bumbu yang sedang dimasak, tapi kepala beserta isinya mengarah kepada Zakia.
"Ada ini, bentar," sahut Zakia. Zakia berdiri, rasa ngilu itu kembali datang, bibirnya meringis dan hal itu tak. lepas dari atensi Daren
"Bisa? Pelan-pelan," peringat Daren.
"Aman," jawab Zakia dan berjalan menghampiri Daren.
Zakia berjalan pelan-pelan, langkahnya satu persatu menuju Daren dan sedikit pincang, hanya saja ketika menghampiri sang suami, ponsel Zakia kembali berdering, fokus Zakia teralih ke ponsel tersebut tapi kakinya tetap melangkah.
Pun dengan Daren yang sibuk dengan masakannya sehingga tidak memperhatikan Zakia.
"Akhh!" teriak Zakia. Kakinya terpeleset, semua cuminya berhamburan dan jangan lupa, sakit di kakinya semakin berdenyut ngilu.
Wanita itu mengaduh, kepalanya sakit bukan main, dunia terasa berputar, lama kelamaan pandangan Zakia menggelap dan dia tak sadarkan diri
"ZAKIA!" Daren mematikan kompor dan menghampiri istrinya, kepala wanita itu terhempas ke lantai.
Raut wajah Daren panik bukan main, ia mengangkat kepala Zakia dan mengecek apakah ada yang berdarah, jantungnya semakin mencelos, kepala wanita itu baik-baik saja, bisa jadi luka dalam yang semakin parah
Jikalau ia tau kejadiannya seperti ini, lebih baik dirinya membiarkan Zakia duduk atau dia yang mengambil cumi itu sendiri.
"Zakia! Zakia!" Berulang kali Daren menepuk pelan pipi istrinya, namun nihil tak ada jawaban. Tanpa menunggu lama, Daren langsung mengangkat tubuh Zakia, ada gunanya selama ini dia berlatih mengangkat beban, hasilnya bisa terlihat di situasi genting seperti ini.
Daren mengambil kunci mobil terletak di meja makan, iq membuka pintu dan berlari membawa Zakia ke dalam mobil. Demi apapun, hatinya gelisah bukan main sekarang. Kaki wanita itu sudah disakiti jangan sampai organ tubuhnya yang lain ikut sakit lagi.
Daren meletakkan Zakia ke dalam mobil dan langsung melaju ke luar dari rumah mereka. Tujuannya Rumah sakit, diperjalanan berulang kali Daren mengecek nafas Zakia, ia takut wanita itu kenapa-napa, karena tidak ada terlihat tanda-tanda darah ke luar, Daren takut jika terjadi sesuatu yang lebih parah di kepala istrinya.
Begitu sampai di Rumah sakit, Daren langsung turun dan memanggil perawat yang ada di sana.
"Suster, tolongin istri saya!" seru Daren. Daren membuka pintu mobil, mengambil Zakia dan meletakkannya di atas brankar yang langsung dibawa oleh perawat.
Untuk pertama kalinya, wanita yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya bisa menjadi istrinya, berhasil membuat jantungnya berdetak kencang seperti ini. Dalam hati, Daren memanjatkan doa, semoga sang istri baik-baik saja.
Duh kalau kalian dapat suami kayak Daren kira-kira gimana ya? Se green forest itu woyyyy, huwaaaa.
Eh tapi kria-kira orang misterius itu siapa ya? Kok jayaknya dendam banget sama Zakia:(