Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Mentor Misterius, Om Hendra
"Kita buat seluruh Jakarta bertanya, sebenarnya siapa Felicia Santoso?"
Brandon ingin seluruh Jakarta bertanya.
Felicia memutuskan ia akan memberi Jakarta jawaban yang lebih menarik daripada rumor murahan.
Siang itu, ia pergi ke kawasan Sudirman bersama Adi dan Rina. Kevin awalnya menolak karena situasi media sedang panas, tetapi Felicia menunjukkan daftar kebutuhan yang sudah ia susun: bertemu konsultan PR yang netral, mengambil data legal dari notaris lama Santoso, dan membeli beberapa perlengkapan untuk rencana konten resmi Surya Foundation.
"Aku ikut," kata Kevin.
"Mas Kevin ada rapat dewan kecil jam dua."
"Bisa ditunda."
"Tidak bisa kalau kamu mau board voting-mu maju."
Kevin menatapnya.
Felicia tersenyum manis. "Wajahmu yang bilang."
Untuk pertama kalinya, Felicia memakai senjata itu kembali pada Kevin.
Rina hampir tepuk tangan.
Akhirnya Kevin mengizinkan dengan syarat Adi ikut, dua pengawal menjaga jarak, dan Felicia mengirim lokasi setiap tiga puluh menit.
"Ini seperti izin field trip sekolah," gumam Felicia di mobil.
Rina menyandarkan kepala ke kursi. "Bedanya sekolah kita punya musuh konglomerat."
Adi di kursi depan berkata datar, "Dan protokol evakuasi."
Felicia menatapnya lewat kaca spion. "Adi, kamu kadang lucu."
"Maaf, Bu."
"Itu pujian."
Mereka berhenti di kompleks perkantoran dekat SCBD. Setelah bertemu konsultan PR, Felicia merasa kepalanya lebih penuh. Rumor anonim belum meledak, tapi beberapa akun sudah menyiapkan narasi bahwa Felicia adalah istri kontrak yang memanfaatkan kondisi psikologis Kevin dan memperkeruh keluarga Surya.
"Mereka akan menyerang dengan simpati palsu," kata konsultan itu. "Membuat publik merasa Pak Kevin korban manipulasi."
Felicia keluar dari gedung dengan wajah tenang, tapi langkahnya lebih cepat.
*Memakai luka Kevin untuk menyerang aku. Mereka benar-benar tidak punya dasar moral.*
Rina berjalan di sampingnya. "Kamu mau langsung hajar?"
"Aku mau bukti dan panggung."
"Sayang. Aku lebih suka hajar."
"Aku tahu."
Mereka melewati area drop-off ketika seorang pria tua tiba-tiba muncul dari sisi pilar. Tubuhnya kurus, memakai kemeja lusuh, topi tua, dan membawa kantong plastik berisi botol air mineral. Ia berjalan terlalu dekat ke arah Felicia, lalu tersandung.
"Aduh!"
Kantong plastik jatuh. Botol-botol menggelinding.
Adi langsung maju, menahan Felicia di belakangnya.
Rina menunjuk pria itu. "Hei, Bapak, dari mana munculnya?"
Pria tua itu duduk di lantai, memegang lutut. "Maaf, Nona. Saya pusing. Tidak lihat jalan."
Felicia menatapnya.
Pakaiannya lusuh, tapi sepatunya tidak murah. Tangan yang memegang lutut terlalu stabil untuk orang yang benar-benar jatuh. Mata pria itu juga terlalu tajam. Bukan mata orang bingung. Mata itu sedang menilai.
*Pura-pura nabrak? Serius? Om-om ini aktingnya niat tapi properti sepatunya bocor.*
Adi hendak memanggil security.
Felicia menahan. "Tidak apa-apa. Pak, lututnya sakit?"
Pria itu mendongak. "Sedikit, Nona."
"Adi, beli air baru dan plester. Rina, tolong kumpulkan botolnya."
Rina menatapnya. "Cia."
"Tolong."
Rina mendengus, tapi tetap memungut botol.
Felicia berjongkok di depan pria tua itu, menjaga jarak aman. "Bapak bisa berdiri?"
"Mungkin sulit."
"Kalau sulit, kita panggil ambulans."
Pria tua itu berkedip. "Ambulans?"
"Iya. Kalau benar jatuh dan lutut sakit, harus diperiksa. Saya juga bisa minta CCTV gedung sebagai bukti untuk laporan asuransi."
Sudut bibir pria tua itu bergerak sedikit.
"Tidak perlu sampai begitu."
"Kalau tidak perlu, berarti Bapak bisa berdiri."
Rina menutup mulut, menahan tawa.
Pria tua itu akhirnya tertawa pelan. Suaranya berubah, tidak lagi lemah. "Anak muda sekarang galak juga."
"Saya tidak galak. Saya efisien."
"Efisien mengancam orang tua?"
"Efisien memastikan orang tua tidak pura-pura celaka."
Adi kembali membawa air dan plester, matanya tetap waspada.
Felicia mengambil satu botol, membukanya, lalu menyerahkannya pada pria itu. "Ini. Minum dulu. Kalau Bapak memang butuh bantuan, saya bantu. Kalau Bapak sedang menguji orang, setidaknya jangan pakai sepatu mahal saat berpura-pura miskin."
Pria tua itu menatap sepatunya, lalu tertawa lebih keras.
"Aku suka kamu."
Adi menegang.
Felicia berdiri. "Terima kasih, tapi saya sudah menikah."
Rina benar-benar tertawa kali ini.
Pria itu mengangkat tangan. "Maksud saya, saya suka keberanianmu."
"Saya juga suka kejujuran. Sayangnya Bapak belum memberi nama."
"Panggil saja Hendra."
Felicia mengulang dalam hati.
*Hendra? Seperti Om Hendra yang disebut Si Kepo? Mentor Kevin?*
***"Host, data wajah cocok 78%. Kemungkinan besar: Om Hendra, mentor Kevin."***
Felicia menatap pria tua itu lagi. Jadi ini orang yang menyelamatkan Kevin dari Singapore.
Ekspresinya berubah sedikit, menjadi lebih lembut.
"Pak Hendra," katanya, kini lebih sopan. "Kalau Bapak butuh sesuatu, kami bisa antar."
Hendra memperhatikan perubahan kecil itu. "Kenapa tiba-tiba lebih sopan?"
"Karena saya baru sadar Bapak mungkin bukan penipu biasa."
"Bisa saja aku penipu luar biasa."
"Maka saya lebih harus sopan. Penipu luar biasa biasanya punya jaringan."
Hendra tertawa lagi.
Di sisi lain drop-off, sebuah mobil hitam berhenti. Pengemudinya menurunkan kaca. Hendra mengambil kantong plastiknya dan berdiri tanpa kesulitan apa pun.
Rina menunjuk lututnya. "Lho, sembuh cepat."
"Anak muda, kadang hati yang perlu dites, bukan lutut," kata Hendra.
Rina melipat tangan. "Kalau mau tes hati, ke dokter."
"Kamu juga menarik." Hendra tersenyum.
"Saya tidak ikut audisi."
Felicia hampir tertawa.
Hendra menatap Felicia sekali lagi. "Sampaikan pada Kevin, pilihannya kali ini tidak buruk."
Felicia menegang. "Bapak kenal Mas Kevin?"
Hendra sudah masuk mobil. Sebelum kaca menutup, ia berkata, "Tanya saja padanya."
Mobil itu pergi.
Felicia berdiri di drop-off, memegang botol air yang belum sempat ia minum.
Adi tampak seperti orang yang baru sadar ia gagal mengenali target penting. "Bu Felicia..."
"Tidak apa-apa," kata Felicia. "Sepertinya memang dia ingin bertemu."
Rina menatap jalan. "Orang tua aneh."
"Sangat."
*Tapi kalau benar dia menyelamatkan Kevin, aku berutang rasa hormat.*
Di dalam mobil yang sudah menjauh, Hendra mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
"Murid es batuku," katanya begitu telepon tersambung. "Istrimu tajam. Aku pura-pura jatuh, dia hampir memanggil ambulans dan CCTV."
Di seberang, Kevin terdiam dua detik.
"Om Hendra," suaranya berubah dingin. "Jangan ganggu dia."
Hendra tersenyum, melihat jalan Jakarta dari kaca mobil.
"Justru karena itu aku bilang, pilihanmu tidak buruk."
Kevin menutup telepon tanpa menjawab.
Namun Hendra mendengar cukup banyak dari diamnya.
Di drop-off SCBD, Felicia menyimpan nama itu dalam catatannya.
Om Hendra.
Orang tua yang berpura-pura jatuh.
Dan mungkin, salah satu kunci terbesar untuk memahami Kevin Surya.
Ponsel Felicia bergetar tidak sampai satu menit kemudian.
Pesan dari Kevin masuk singkat.
Jangan percaya semua yang Om Hendra lakukan. Tapi kalau dia menawarkan bantuan, dengarkan dulu.
Felicia membaca pesan itu dua kali.
*Jadi benar. Orang tua itu penting.*
Ia menyimpan ponsel, lalu menatap jalan tempat mobil Hendra menghilang. Di antara rumor yang mulai bergerak dan musuh yang makin terbuka, tiba-tiba ada satu sekutu aneh yang datang dengan cara pura-pura jatuh.
Felicia tersenyum kecil.
"Baiklah, Om Hendra. Kita lihat permainanmu."