NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Jatuhnya Vanessa

"Vanessa Shen tidak hamil."

Empat kata itu membuat seluruh ballroom Hotel Maharaja membeku.

Vanessa berdiri di tengah ruangan dengan wajah seputih gaunnya. Tangan yang tadi memegang perut kini jatuh ke sisi tubuh. Selama beberapa detik, ia seperti lupa cara bernapas. Semua air mata yang ia paksa keluar kehilangan tempat untuk jatuh.

Lalu bisik-bisik meledak.

"Tidak hamil?"

"Jadi suratnya palsu?"

"Dia berani melakukannya di pesta Darren Wijaya?"

Naomi berdiri di bawah panggung, mendengar setiap bisikan seperti pecahan kaca. Bagian paling buruk dari skandal publik bukan suara keras, melainkan tatapan. Tatapan para tamu berpindah dari Vanessa ke Darren, lalu ke Naomi, seolah mereka sedang menonton drama mahal yang tiketnya dibayar dengan undangan emas.

Darren tidak tampak terganggu.

Ia berdiri di panggung dengan beberapa lembar dokumen di tangan, wajahnya tenang seperti sedang memimpin rapat direksi, bukan menghancurkan seorang sosialita di pesta ulang tahunnya sendiri.

Vanessa akhirnya menemukan suaranya. "Itu palsu!"

Darren mengangkat alis. "Laporan rumah sakitmu palsu, atau laporan yang aku pegang palsu?"

"Kamu memfitnahku."

"Billy."

Billy yang berdiri di samping panggung segera mengangguk pada petugas audio visual. Layar besar di belakang Darren menyala. Tidak ada foto memalukan, tidak ada detail pribadi yang tidak pantas dibuka. Hanya rangkaian bukti bersih: jadwal kunjungan Vanessa ke RS swasta, catatan konsultasi yang menunjukkan hasil negatif, dan bukti transfer kepada seorang staf administrasi untuk menerbitkan surat palsu.

Nama staf disamarkan. Nomor rekening disamarkan. Tetapi nama Vanessa Shen terlihat jelas.

Ballroom semakin riuh.

Tiffany menutup mulut dengan punggung tangan, matanya membulat puas. "Ya ampun. Dia datang bawa korek, Darren bawa pemadam satu truk."

Jason yang berdiri di belakang mereka berbisik, "Versi ini masih sopan. Dulu kalau Darren marah, dia lebih suka cara yang bikin pengacara lembur."

Naomi tidak menjawab. Matanya tertuju pada Darren.

Ia tidak sedang menikmati kehancuran Vanessa. Yang membuat dadanya bergetar adalah cara Darren melakukannya. Tidak ada keraguan, tidak ada ruang untuk orang-orang menyudutkan Naomi sebagai perusak hubungan. Ia membersihkan panggung itu di depan semua orang, memastikan setiap tuduhan yang dilemparkan pada Naomi runtuh di tempat yang sama.

Vanessa menggenggam gaunnya. "Kamu tidak boleh membuka data medis orang lain!"

Darren tersenyum dingin. "Data ini diberikan oleh pengacaraku setelah kamu menyebarkan klaim palsu di ruang publik dan menyeret namaku. Aku tidak membuka hal yang tidak kamu jadikan senjata lebih dulu."

"Aku melakukannya karena kamu memaksaku!"

"Aku memaksamu membayar staf rumah sakit?"

Vanessa terdiam.

"Aku memaksamu menyuruh akun gosip mengunggah kabar pertunangan kita minggu lalu?" Darren memberi isyarat lagi.

Layar berganti. Kali ini tampil tangkapan layar percakapan antara nomor Vanessa dan admin akun gosip lifestyle. Isinya singkat, tetapi cukup. Vanessa mengirim foto lama dirinya berdiri di samping Darren dalam acara amal, lalu meminta caption yang membuat publik mengira mereka pasangan yang direstui keluarga.

Beberapa tamu perempuan yang tadi bersimpati mulai menggeleng.

Darren melanjutkan, "Aku memaksamu menyewa fotografer untuk menunggu di lobi apartemenku dan memotretmu saat kamu datang tanpa undangan?"

Layar berganti lagi. Bukti pembayaran. Pesan singkat. Rencana unggahan.

Vanessa mundur satu langkah.

"Berhenti," bisiknya.

"Kamu yang memilih panggung, Vanessa." Suara Darren turun, tetapi justru terdengar lebih jelas. "Sekarang berdirilah sampai pertunjukanmu selesai."

Naomi melihat bahu Vanessa bergetar. Untuk sesaat, ia hampir merasa kasihan. Hampir. Lalu ia mengingat wajah Vanessa di depan Maison de Belle, cara perempuan itu menyebut Naomi sebagai nostalgia, cara ia memegang perut di depan ratusan orang untuk menuduh seorang lelaki dan menghancurkan perempuan lain.

Rasa kasihan itu mengeras kembali.

Vanessa menatap Naomi dengan mata merah. "Kamu puas sekarang?"

Naomi mengangkat wajah. Ballroom kembali hening, menunggu jawabannya.

Ia bisa saja diam. Ia bisa membiarkan Darren menyelesaikan semuanya. Namun kali ini, Naomi tidak ingin menjadi bayangan yang hanya dilindungi.

"Tidak," jawab Naomi.

Vanessa tersentak.

Naomi melangkah satu langkah ke depan. Suaranya tidak keras, tetapi stabil. "Saya tidak puas melihat seorang perempuan merendahkan dirinya sendiri hanya untuk menyakiti perempuan lain."

Tiffany menatapnya dengan bangga.

"Kamu kira aku merendahkan diri?" Vanessa tertawa pahit. "Kamu tidak tahu apa-apa. Kamu pikir laki-laki seperti Darren akan memilihmu selamanya? Begitu keluarganya menolak, kamu akan dibuang."

Kalimat itu menyentuh luka lama Naomi. Namun sebelum luka itu bisa terbuka, Darren sudah turun dari panggung.

Ia berdiri di samping Naomi, tidak di depannya. Kali ini bukan dinding yang menutupinya, melainkan posisi yang menyatakan mereka berdiri bersama.

"Keluargaku tidak memilihkan istriku," kata Darren. "Aku yang memilih."

Seorang pria paruh baya dari pihak Shen maju dengan wajah gelap. "Darren, cukup. Vanessa memang salah, tapi mempermalukannya seperti ini akan merusak hubungan dua keluarga."

Darren menatapnya. "Hubungan bisnis yang dibangun di atas ancaman palsu tidak layak dipertahankan."

"Wijaya Group akan menyesal."

"Wijaya Group sudah mengirim surat penghentian negosiasi ke Shen Capital tiga puluh menit lalu."

Pria itu membeku.

Gelombang bisik-bisik baru menyapu ruangan. Naomi mendengar kata proyek, investasi, saham, dan kerja sama disebut bergantian. Ia tidak memahami semua detail bisnisnya, tetapi ia memahami satu hal: Darren tidak hanya membantah Vanessa. Ia mencabut lantai di bawah kaki keluarga Shen.

Vanessa menatap ayahnya, lalu Darren. "Kamu menghancurkan keluargaku demi dia?"

"Tidak," jawab Darren. "Kamu melakukannya sendiri. Aku hanya berhenti menutup pintu agar orang lain tidak melihat."

Billy memberi isyarat kepada dua petugas keamanan hotel. Mereka mendekat dengan sopan, tidak kasar, tetapi jelas tidak memberi pilihan.

Vanessa mundur. "Jangan sentuh aku."

"Tidak ada yang akan menyentuhmu kalau kamu berjalan sendiri," kata Darren.

Wajah Vanessa hancur antara marah dan malu. Ia menatap Naomi sekali lagi, penuh kebencian yang belum selesai. "Ini belum berakhir."

Naomi menjawab pelan, "Untuk saya, ini sudah selesai."

Vanessa keluar dari ballroom dengan langkah kacau. Gaun putihnya yang tadi tampak seperti simbol kemenangan kini terlihat terlalu terang di bawah lampu, membuat setiap tatapan menempel padanya. Pintu tertutup di belakangnya, tetapi bisik-bisik tidak langsung berhenti.

Darren mengangkat tangan sedikit. Musik lembut kembali dimainkan. Pembawa acara, yang wajahnya pucat sejak tadi, segera mengambil alih dengan suara gemetar. Tamu-tamu dipersilakan menikmati hidangan lagi, seolah baru saja tidak menyaksikan reputasi seseorang runtuh di depan mata.

Namun suasana sudah berubah.

Orang-orang yang tadi menilai Naomi kini menatapnya dengan rasa ingin tahu baru. Beberapa istri pengusaha menghampirinya, bukan untuk bergosip, melainkan meminta kartu nama Maison de Belle dengan senyum yang jauh lebih hormat.

Salah satu dari mereka, pemilik jaringan klinik kecantikan yang tadi sempat berbisik paling keras, bahkan menyentuh lengan Naomi dengan hati-hati.

"Maaf kalau tadi kami salah paham," katanya. "Nona Vanessa memang pandai membuat orang kasihan."

Naomi menerima permintaan maaf itu dengan anggukan kecil. Ia tidak perlu membalas lebih tajam. Melihat perempuan-perempuan itu menurunkan suara di hadapannya sudah cukup untuk membuat posisi yang tadi goyah kembali berdiri.

Tiffany menyelipkan lengannya ke lengan Naomi. "Selamat. Toko lo baru saja dapat promosi gratis paling brutal se-Kota Megah."

Naomi menghela napas. "Aku tidak meminta promosi seperti ini."

"Memang. Tapi kalau dunia kasih panggung, kita ambil lighting terbaik."

Naomi akhirnya tertawa kecil.

Darren mendengar tawa itu. Wajahnya yang sejak tadi dingin melembut dalam sekejap. Ia mendekat, tetapi berhenti cukup jauh agar Naomi bisa memilih.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.

"Seharusnya aku yang tanya. Ini pesta ulang tahunmu."

"Aku sudah dapat hadiah."

Naomi menatapnya curiga. "Apa?"

"Kamu datang."

Tiffany membuat suara tersedak. Jason langsung bertepuk tangan pelan dari belakang, lalu berhenti ketika Darren meliriknya.

Naomi memalingkan wajah, tetapi telinganya panas. "Jangan mengalihkan topik."

"Aku serius." Darren menatapnya lama. "Mulai sekarang, tidak akan ada siapa pun yang berdiri di antara kita."

Kalimat itu seharusnya terdengar arogan. Namun di mata Darren, Naomi melihat sesuatu yang lebih rapuh. Seperti janji dari seseorang yang pernah kehilangan dan tidak sanggup mengulanginya.

Setelah pesta berakhir, tamu-tamu pulang satu per satu. Tiffany dijemput oleh mobil yang dipesan Jason setelah mereka bertengkar kecil soal siapa yang lebih cerewet. Billy mengurus media dengan wajah lelah. Kevin tidak terlihat sejak awal acara, tetapi pesan dari Darren menyebut pria itu sudah menunggu di ruangan lain dengan dokumen yang dijanjikan.

Naomi berjalan ke taman samping hotel untuk mencari udara.

Lampu taman memantul di kolam dangkal. Hujan sudah berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan bunga putih dari dekorasi ulang tahun. Naomi berdiri di bawah pergola, memegang kalung di dadanya.

"Nao."

Darren datang dari belakang.

"Kalau ini tentang Kevin, aku akan mendengarnya," kata Naomi tanpa menoleh.

"Nanti."

"Lalu apa?"

Darren berhenti di hadapannya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tampak gugup.

Naomi menyipit. "Kenapa wajahmu seperti mau melakukan hal bodoh?"

"Karena aku memang mau."

Sebelum Naomi sempat mundur, Darren berlutut satu kaki di lantai batu taman.

Napas Naomi berhenti.

Dari saku jasnya, Darren mengeluarkan sebuah map tipis, bukan kotak cincin. Map itu berwarna putih gading, diikat pita biru gelap. Ia membukanya perlahan.

Di dalamnya ada berkas Catatan Sipil, formulir yang sudah disiapkan, dan sampul dokumen bertuliskan Akta Nikah.

Naomi menatapnya tidak percaya.

Darren mendongak, mata rubahnya basah oleh cahaya lampu taman.

"Aku tidak mau bertunangan denganmu," katanya pelan. "Aku mau menikah denganmu."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!