NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Acara Keluarga Dimitri

Hari yang selama ini membuat Rubi gugup akhirnya tiba.

Sejak pagi para pelayan sudah sibuk keluar masuk kamar. Gaun, perhiasan, sepatu, hingga berbagai perlengkapan lainnya sudah disiapkan sejak beberapa hari lalu.

Rubi duduk di depan meja rias sambil memandang pantulan dirinya di cermin.

Perutnya yang sudah memasuki usia lima bulan kehamilan kini terlihat jelas.

Meski begitu, gaun berwarna biru tua yang dipilih khusus untuknya tetap terlihat elegan dan nyaman digunakan.

"Apa tidak berlebihan?"

tanya Rubi sambil melihat anting yang sedang dipasang pelayan.

Pelayan itu tersenyum.

"Nyonya muda tetap cantik tanpa perhiasan, tapi hari ini semua orang akan hadir."

"Itu justru yang membuat saya takut."

Beberapa pelayan tertawa kecil.

Mereka sudah tahu kalau Rubi bukan tipe wanita yang menyukai perhatian berlebihan.

Saat itulah terdengar ketukan pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Dan Alexander masuk ke dalam.

Ruangan langsung menjadi hening.

Para pelayan refleks menundukkan kepala.

Sementara Alexander yang awalnya hanya ingin memastikan Rubi siap, mendadak berhenti melangkah.

Tatapannya tertuju pada wanita yang duduk di depan cermin.

Untuk beberapa detik ia tidak mengatakan apa pun.

Rubi yang menyadari tatapan itu mulai merasa canggung.

"Ada yang aneh?"

Alexander masih diam.

Sampai akhirnya salah satu pelayan tersenyum diam-diam.

Karena untuk pertama kalinya mereka melihat Tuan Muda terlihat kehilangan kata-kata.

"Tidak."

jawab Alexander akhirnya.

Namun matanya masih belum berpindah.

"Kau terlihat bagus."

Kalimat sederhana itu langsung membuat pipi Rubi memanas.

"Terima kasih."

Alexander mengangguk singkat lalu berbalik.

"Aku menunggu di bawah."

Setelah pintu tertutup, para pelayan langsung saling berpandangan.

Dan salah satu dari mereka berbisik pelan,

"Tuan Muda tadi seperti terpesona."

Rubi langsung menutup wajahnya.

"Jangan mulai."

Namun senyum kecil di bibirnya sulit disembunyikan.

---

Satu jam kemudian.

Mobil keluarga Dimitri melaju meninggalkan mansion.

Rubi duduk di samping Alexander di kursi belakang.

Semakin dekat mereka ke lokasi acara, semakin tegang dirinya.

Ia bahkan beberapa kali memainkan ujung gaunnya tanpa sadar.

Alexander yang memperhatikan sejak tadi akhirnya berkata,

"Kau gugup."

"Bisa kelihatan ya?"

"Sangat."

Rubi menghela napas panjang.

"Kalau nanti ada yang tidak suka sama saya bagaimana?"

Alexander menoleh.

Tatapannya tenang.

"Itu masalah mereka."

"Hah?"

"Aku tidak peduli."

Jawaban itu membuat Rubi terdiam.

Alexander kembali menatap ke depan.

"Tidak ada yang akan mengganggumu."

Nada suaranya terdengar datar seperti biasa.

Namun entah kenapa kalimat itu membuat Rubi merasa jauh lebih tenang.

Karena ia tahu satu hal.

Alexander bukan tipe orang yang mengucapkan sesuatu tanpa arti.

Jika ia berkata akan melindunginya, maka ia akan melakukannya.

---

Acara keluarga Dimitri diadakan di sebuah hotel mewah milik keluarga mereka.

Begitu mobil berhenti, beberapa petugas langsung menyambut.

Lampu kamera mulai berkedip dari berbagai arah.

Para wartawan yang diundang untuk meliput acara keluarga langsung bergerak mendekat.

Rubi hampir mundur karena terkejut.

Namun sebelum sempat melakukannya, sebuah tangan besar menyentuh punggungnya dengan lembut.

Alexander.

"Tetap di dekatku."

ucap pria itu pelan.

Jantung Rubi langsung berdetak lebih cepat.

Meski hanya gerakan sederhana, entah kenapa membuatnya merasa aman.

Mereka kemudian memasuki ballroom utama.

Dan seketika puluhan pasang mata tertuju pada mereka.

Rubi langsung merasa ingin bersembunyi.

Namun ia memaksa dirinya tetap tersenyum.

Di sisi lain, Alexander terlihat sama sekali tidak terpengaruh.

Ia berjalan dengan tenang seperti seorang raja yang sedang memasuki wilayahnya sendiri.

Dan memang begitulah kenyataannya.

Di keluarga Dimitri, posisinya sangat kuat.

Meski masih banyak yang tidak menyukainya.

---

Awalnya acara berjalan cukup lancar.

Beberapa anggota keluarga menyapa mereka.

Sebagian tulus.

Sebagian lagi hanya basa-basi.

Rubi berusaha bersikap ramah kepada semua orang.

Sampai akhirnya seorang wanita menghampiri.

Usianya sekitar tiga puluhan.

Cantik.

Elegan.

Namun tatapan matanya membuat Rubi tidak nyaman.

Wanita itu adalah Vanessa Dimitri.

Sepupu Alexander.

Dan salah satu orang yang paling terang-terangan tidak menyukai Rubi.

"Rubi."

sapanya sambil tersenyum.

"Ternyata kamu datang."

Rubi membalas senyum sopan.

"Tentu."

Vanessa melirik perut Rubi.

Senyumnya tetap ada.

Namun matanya dingin.

"Kehamilanmu terlihat sehat."

"Terima kasih."

"Semoga saja semuanya berjalan lancar."

Kalimat itu terdengar normal.

Tetapi entah kenapa ada sesuatu yang membuat Rubi merasa tidak nyaman.

Beruntung sebelum percakapan semakin panjang, Alexander muncul di sampingnya.

Tatapan pria itu langsung tertuju pada Vanessa.

"Ada masalah?"

Vanessa tersenyum.

"Tidak."

"Bagus."

Jawaban singkat itu membuat senyum Vanessa sedikit memudar.

Dan beberapa detik kemudian wanita itu memilih pergi.

Setelah Vanessa menjauh, Rubi menghela napas lega.

"Dia menyeramkan."

gumamnya.

Alexander hampir tersenyum.

"Hanya banyak bicara."

"Saya lebih takut orang banyak bicara dibanding orang galak."

Alexander kali ini benar-benar tersenyum tipis.

Dan pemandangan itu langsung membuat beberapa orang yang melihat terkejut.

Karena Alexander Dimitri terkenal jarang tersenyum.

---

Malam semakin larut.

Acara memasuki sesi makan malam.

Semua anggota keluarga duduk sesuai posisi masing-masing.

Di sinilah masalah mulai muncul.

Salah satu paman Alexander tiba-tiba membuka topik yang sensitif.

"Kudengar keamanan keluarga sedang diperketat."

Suasana meja langsung berubah.

Beberapa orang saling bertukar pandangan.

Alexander tetap tenang.

"Memang."

"Apakah ada ancaman?"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

jawab Alexander.

Namun beberapa orang terlihat tidak puas.

Karena mereka tahu jika keamanan keluarga Dimitri ditingkatkan, pasti ada sesuatu yang terjadi.

Dan Rubi langsung teringat cerita tentang seseorang yang mengawasi mansion beberapa waktu lalu.

Untungnya topik itu segera berganti.

Tetapi perasaan tidak nyaman di hati Rubi tetap tidak hilang.

---

Setelah makan malam selesai, para tamu mulai berpindah ke area dansa dan lounge.

Rubi memilih duduk di balkon luar untuk mencari udara segar.

Terlalu banyak orang membuatnya lelah.

Apalagi kondisi kehamilannya membuatnya lebih cepat capek.

Saat sedang menikmati udara malam, seseorang tiba-tiba datang.

Daniel.

Rubi sedikit terkejut.

"Daniel?"

Pria itu tersenyum.

"Aku tidak menyangka bertemu di sini."

"Aku juga."

Daniel berdiri di sampingnya.

"Kamu terlihat bahagia."

Rubi tersenyum kecil.

"Mungkin."

Daniel menatapnya beberapa saat.

Lalu berkata pelan,

"Aku senang melihatnya."

Belum sempat Rubi menjawab, suara langkah kaki terdengar.

Alexander.

Tatapan kedua pria itu langsung bertemu.

Dan suasana berubah dalam sekejap.

Daniel tetap tersenyum sopan.

Sementara Alexander terlihat tenang seperti biasa.

Namun Rubi yang sudah cukup mengenalnya mulai bisa membaca ekspresinya.

Pria itu tidak senang.

Sangat tidak senang.

"Aku sedang mencarimu."

kata Alexander pada Rubi.

"Oh?"

"Kakek ingin bertemu."

Rubi langsung berdiri.

"Baik."

Daniel tersenyum tipis.

"Sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Setelah Daniel pergi, mereka berjalan menuju aula utama.

Namun beberapa langkah kemudian Alexander tiba-tiba berkata,

"Kau terlihat cukup nyaman berbicara dengannya."

Rubi berkedip.

"Apa?"

"Daniel."

"Oh."

Rubi baru sadar.

Apakah ini...

cemburu?

Pikiran itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Sementara Alexander sendiri langsung menyesali kata-katanya.

Karena itu terdengar jauh lebih posesif daripada yang ia inginkan.

Namun sudah terlambat.

Keduanya terdiam.

Dan untuk pertama kalinya, perasaan yang selama ini berusaha mereka abaikan mulai terlihat jelas di antara mereka.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!