NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Realita Kehidupan

Aroma kopi hitam menguap di dalam ruang kerja Denny Werdhana, SH.

Wangi itu dari arah sofa. Sudah dua hari penuh Rangga mengurung diri di kantor hukum ini, menganggap sofa kulit abu-abu di sana jauh lebih aman ketimbang rumah mewah dan kantornya.

Bukannya ia takut, ia hanya malas ribet. Rangga tahu di luar sana banyak orang mengawasinya. Bukan untuk menangkapnya, tapi untuk sebuah berita yang disinyalir akan viral. Ia tahu banyak wartawan lepas yang tahu mengenai kasus ini -entah dari mana mereka tahu- selalu mencoba untuk menemuinya. Rangga juga tahu kalau banyak orang berkunjung ke rumah Arumi untuk mencoba mencari tahu mengenai kasus ini, jadi beberapa orang bayaran ia tugaskan untuk mengawasi rumah Arumi. Sejauh ini menurut sepengetahuannya, Arumi tetap bungkam.

Namun foto hasil jepretan masyarakat di sekitar kejadian tetap ia simpan.

Foto dirinya, di bawah kolong truk, bersujud sambil menangis, dengan tangan menggenggam jasad Ary Prambudi yang sudah tidak utuh.

Jemari Rangga membelai sisi gambar Ary.

Ia sangat menyesali kejadian hari itu.

Bahkan di saat terakhir hidupnya, Mas Ary ini tetap mengkhawatirkan istrinya.

Tony melangkah masuk dengan napas terengah-engah, membawa sebuah gawai tabulet yang langsung ia letakkan di atas meja kaca di depan Rangga.

"Hasil pemulihan data dari Cyber Crime sudah keluar, Pak," ujar Tony dengan suara rendah. "Petugas CCTV hotel terbukti menerima suap untuk menghapus rekaman server utama malam itu. Tim IT kita juga menemukan beberapa CCTV tersembunyi hotel di lain tempat yang bisa mengkonfirmasi CCTV utama. Hasil pemulihan juga sudah kami share ke tim siber kepolisian. Ini tayangan dari kamera lorong Oscar Club."

Rangga menegakkan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah layar tablet yang mulai memutar video berwarna dengan kualitas yang baik, tanpa buram.

Ini yang ia cari. Hotel sekaliber Oscar, club sekaliber Oscar, yang dinilai sebagai hotel dan club terbaik di negeri ini, tidak mungkin ada data yang terhapus begitu saja dengan alasan ‘rusak’. Bahkan kamera ini memiliki mode hybrid yang baterainya bisa bertahan beberapa jam walau pun dalam keadaan mati listrik. Dan alat ini bukan hanya satu, terutama yang lokasinya berdekatan dengan club karena biasanya ada banyak persoalan yang terjadi saat seseorang ‘kobam’. Hal ini juga yang akan diangkat Denny ke pengadilan seandainya kasus mereka naik.

"Lima orang ini..." Rangga menunjuk layar dengan jemarinya yang dingin. Dahinya berkerut dalam. “Saya kenal mereka. Karyawan kantor ini kan?”

Tony mengangguk, "Mereka semua sekretaris junior dari Corporate Secretary.”

“Kenapa bisa mereka yang masuk ke dalam club? Malam itu perintah saya jelas, kan Tony? Saya hanya mengizinkan kamu saja untuk mendampingi."

Tony mengangguk tegas, itu juga pertanyaan yang sama yang ada di benaknya. "Malam itu nama saya mendadak dicoret dari daftar manifes tamu di meja depan, Pak. Petugas keamanan melarang saya masuk karena sistem mendeteksi undangan saya sudah dialihkan ke orang lain, ditambah saya terdata harus diamankan.”

“Diamankan... huh!” Dengus Rangga sambil menggelengkan kepalanya. Kata-kata yang menurut Rangga sangat menghina, terkesan Tony sering berbuat onar di hotel itu.

“Di-a-man-kan, bapaaak, bayangkaaan!” sahut Tony kesal mengingat masa lalu. “Saya tertahan di lobi luar selama tiga jam tanpa tahu apa yang terjadi di dalam. Baru kali ini saya ‘diamankan’, itu berarti saya diblokir dari hotel itu selama beberapa waktu. Saya bahkan tidak pernah menginap di sana. saya pikir di kantor ada yang dendam kesumat sama saya dan menyebarkan fitnah ke hotel itu. Saya berkali-kali menghubungi Pak Rangga, tapi bapak nggak respon."

Rangga menyandarkan punggungnya, giginya gemeretak menahan amarah yang mulai membakar dadanya. "Ada orang dalam yang bermain... Cewek-cewek bego itu tidak mungkin punya akses atau keberanian untuk mengubah manifes seseorang seperti kamu. Coba ulangi lagi posisi kamu di kantor ini Tony?” Rangga mencondongkan telinganya ke Tony, berniat menggoda.

“Asisten pribadi Direktur Utama." Sahut Tony agak keras. “Bonafit, berkelas, dan Triple Ribet.”

“Masa kamu kalau sama sekretaris Junior?” gumam Rangga.

“Sekurity Club hanya bilang, kalau yang menelepon mereka suara wanita, mengaku dari bagian Corsec Red Desmont. Bahkan suara itu bilang kalau lebih pantas wanita yang menemani Direksinya menemui Klien karena klien kali ini terkenal menyukai wanita cantik. Katanya, bisnis bisa berjalan lancar kalau ada campur tangan bidadari.” Tony membaca laporannya dengan mengernyit, ada rekaman telepon yang diterjemahkan ke tulisan di laporannya. “Kok rasanya kalimat ini khas ya, saya pernah dengar dimanaaaa gitu.” Ia memiringkan kepalanya berusaha mengingat tapi tetap tidak dapat.

“Semakin rupawan wujud manusianya, semakin mengerikan wujud iblisnya.” Gumam Rangga. Tony akan memprotes tidak semua manusia begitu, namun Rangga langsung memotongnya dengan kata-kata, “Menurut Kitab Kalatidha, loh. Saya yakin Bu Arumi kebaikan hatinya sesuai dengan wajahnya.”

“Nah! Itu maksud saya.” Tony mengangguk. “Bapak tahu kan kalau Rian dan Aryo itu adalah anak tiri Pak Ary? Bu Arumi sangat menyayangi keduanya seperti anak sendiri. Pak. Saya juga sudah mendatangi rumah sakit tempat almarhum istri pertama Pak Ary dirawat dulu, kata Kepala Perawatnya, Bu Arumi datang setiap hari, bahkan sering menginap untuk menemani istri pertama Pak Ary, karena menganggapnya sebagai kakak. Katanya, mereka pernah menceritakan, kalau dulu Bu Arumi ini pernah ngamuk karena Pak Ary menolak skripsinya, nah, Almarhum istri Pak Ary ini yang membesarkan hati Bu Arumi. Bahkan kedua orang tua Bu Arumi sering menunggui almarhum istri Pak Ary di sini.”

Rangga mendengarkan penjelasan Tony sambil tertegun.

Sungguh terasa tak nyata.

Di jaman sekarang, dimana manusia hidup dan berjalan berdasarkan keuntungan, masih ada orang-orang yang saling peduli seperti keluarganya Arumi.

“Jadi... pernikahan mereka, Mas Ary dan Arumi ini, juga atas persetujuan Istri Pertama?”

“Bisa jadi, Pak. Tidak ada bukti karena kantor pengacara mereka tidak bersedia mengeluarkan rekaman dan surat pernyataan Almarhumah Istri Pertama, tapi saya bercerita berdasarkan kesaksian para perawat saja. Mereka bilang sampai menangis terharu saat Almarhum Istri Pertama memohon kepada Bu Arumi untuk menikah dengan Pak Ary sepeninggalnya.”

Rangga memijat pelipisnya yang kembali berdenyut nyeri.

Denny masuk sambil menenteng beberapa berkas-berkas perjanjian Restorative Justice. Pengacara muda ini masuk ke dalam ruangannya sambil menyerahkan dua gelas kopi panas ke arah Rangga dan Tony. Rangga pun melirik cangkir kopi di mejanya yang belum habis. Dan saat itu ia tahu kalau Denny lagi pusing sampai lupa kalau ia sudah menyerahkan dua gelas kopi ke Rangga.

“Gimana, bro? Ada respon dari Bu Arumi?” tanya Rangga.

Denny meletakkan Map-Map meetingnya di atas meja. Ia menolak beberapa kasus viral karena Rangga membayarnya untuk fokus ke kasusnya dengan memberikan kompensasi tambahan. Kasus yang ia tolak ini adalah kasus yang sudah lama ia incar dan ia prediksi akan mengangkat namanya.

Tapi ia harus merelakannya karena Rangga.

Itu yang membuatnya pusing, hari-harinya dipenuhi dengan Rangga dan lagi-lagi Rangga.

Pagi itu dengan berusaha profesional, ia menatap Rangga dengan pandangan realistis. "Belum ada respons, Pak. Ponselnya aktif, tapi semua pesan kompensasi kita hanya berstatus dibaca. Sepertinya dia tipe wanita keras. Dia tidak akan mengemis hanya karena kita menyorongkan tumpukan uang di depan wajahnya. Setidaknya, belum untuk saat ini."

Rangga menghela napas berat, menatap langit-langit ruangan dengan perasaan bersalah yang tak berdasar. "Saya akan menunggu sampai dia siap. Berikan dia waktu."

Tony melirik Dennis yang sedang menatap berkasnya dengan mulut cemberut. Ia tahu, Denny ingin sekali bilang ‘naif’ untuk Arumi.

Satu Bulan Kemudian...

Waktu berjalan tanpa permisi, membawa mendung yang tak kunjung usai di rumah kediaman almarhum Ary Prambudi.

Arumi duduk di meja makan kecilnya, dikelilingi oleh tumpukan kertas, amplop putih bertinta merah, dan sebuah kalkulator. Sinar matahari sore yang menembus jendela kaca nampak menyinari gurat-gurat kelelahan di wajah cantiknya yang kini nampak lebih tirus.

Di atas meja, ada beberapa lembar pemberitahuan. Bahasa awamnya... tagihan-tagihan yang sudah jatuh tempo. Beberapa tagihan yang lain ada di ponsel Ary yang kini dipegang Arumi.

"Ya Allah..." Arumi memijat pangkal hidungnya yang terasa linu.

Bulan ini adalah puncaknya. Semua kewajiban finansial seolah bersekongkol datang bersamaan untuk mencekik lehernya.

Pajak Kendaraan Bermotor mobil  mereka yang biasa digunakan almarhum untuk ke kampus sudah jatuh tempo. Nilainya mencapai jutaan rupiah karena pajaknya belum sempat dibayarkan bulan lalu. PBB dari dinas perpajakan daerah sudah tergeletak dua hari di teras rumah.

Tagihan dari pihak leasing atas cicilan mobil, sudah mulai memunculkan pesan pengingat otomatis di ponselnya. Si bungsu tadi pagi menyerahkan selembar surat tagihan dari tata usaha sekolah karena SPP bulanan tingkat akhir SMP-nya belum diselesaikan sejak pemakaman ayahnya.

Token listrik yang sudah berbunyi tit-tit-tit di dinding luar, serta tagihan air bersih yang jatuh tempo besok pagi.

Arumi membuka buku tabungan bank milik almarhum suaminya. Sisa angka di sana sebenarnya masih cukup untuk membayar semua tagihan ini sekaligus jika ia menguras seluruh dana darurat yang tersisa.

Namun, otaknya yang bergelar Sarjana Ekonomi langsung berputar menghitung risiko makro di dalam rumah tangganya.

“Kalau semua ini aku bayarkan sekaligus minggu ini, saldo tabungan kami akan menyentuh batas minimal,” batin Arumi dengan dada yang bergemuruh panik. “Bagaimana dengan biaya makan anak-anak untuk tiga bulan ke depan? Bagaimana kalau Rian mendadak butuh biaya ujian masuk perguruan tinggi? Uang masuk SMA Aryo sebentar lagi juga harus dibayar.”

Selama sepuluh tahun ini, Arumi dimanjakan oleh pengaturan keuangan Ary yang sangat rapi dan mandiri. Ia tidak pernah tahu seberapa pusingnya menjadi tulang punggung yang harus memikirkan perputaran uang setiap awal bulan. Kini, tanpa ada aliran gaji bulanan dari universitas yang masuk ke rekeningnya, angka-angka di atas kertas itu nampak seperti monster yang siap menggulung masa depan kedua anak laki-lakinya. Apalagi Universitas tempat Ary bekerja, sedang tersandung masalah Hukum. Sehingga pesangon yang seharusnya diterima dan uang duka, masih tertahan.

Dari ruang tengah, terdengar suara tawa renyah Rian dan Aryo yang sedang menonton televisi bersama, sama sekali belum menyadari bahwa isi dompet Mamanya sedang berada di titik kritis.

Arumi menutup buku tabungannya dengan tangan yang gemetar. Harga dirinya sebagai seorang wanita meronta, namun nalurinya sebagai seorang ibu mulai berbisik bahwa ia tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik amarah masa lalu jika ingin melihat anak-anaknya tetap bisa makan esok hari.

Demi anak-anak.

Bukan dirinya.

Kalau dia, bisa saja pergi meninggalkan Rian dan Aryo, pulang ke rumah kedua orang tuanya di Purwokerto lalu menikah lagi. Ia masih 30an tahun, masih cantik, belum pernah melahirkan dan menurut laporan kesehatan, ia subur.

Tapi apakah itu pantas?

Kehidupan seperti itu?

Anak-anak Ary selalu melimpahinya dengan kasih sayang selama ini. Memberinya semangat, memberinya kehidupan nyaman yang selalu diidamkannya. Keluarga harmonis dengan anak-anak pintar yang saling peduli.

“Bang Rian, sini...” ia pun melambaikan tangannya ke anak tertua Ary.

Rian menghampirinya sambil ngemil nugget, lalu duduk di sebelah Arumi dengan pandangan bertanya.

“Kalau mama bekerja lagi, kamu bisa jaga Aryo kan?”

Rian pun menarik nafas panjang.

Sebagai seorang remaja yang nggak bodoh-bodoh amat, ia tahu kondisi semacam ini pasti akan datang, dan biasanya datangnya cepat. Makanya, sejak seminggu setelah pemakaman ayahnya, Rian sudah mulai keliling sepulang sekolah untuk mencari lowongan. Kerja apa pun yang penting bisa makan. “Aku bisa gantiin mama cari duit. Aku bisa kerja di minimarket. Hitung-hitung jadi anak magang. Atau kerja di bengkel. Mang Kusno kemarin nawarin kerjaan, aku bilangnya mau izin mama dulu.”

“Tapi, ijasah mama lebih tinggi, Rian. Mungkin... gajinya akan lebih besar.”

“Tapi spesifikasi pekerjaan jaman sekarang kebanyakan maksimal usia 28 tahun, Mah.”

Arumi mengernyit. “Kalau... mama memalsukan usia bagaimana? Kan Cuma 4 tahun.”

“Ya jangan dong, kalau ketahuan bisa diblacklist semua perusahaan, makin runyam nanti.”

Arumi dan Rian kini sama-sama menunduk.

“Oke, mama sebar CV aja. 32 tahun belum terlalu tua sih Mah. Tapi, aku juga mau kerja sambilan buat biaya kuliah. Pasti butuh duit banyak kan mah? Sukur-sukur bisa dapat beasiswa, tapi kita kesampingkan dulu urusan itu. Kalau aku kerja juga, aku pesimis bisa fokus belajar. Kuliah bisa nanti-nanti yang penting kita setiap hari bisa makan.”

Arumi diam.

Lalu dia menangis.

“Maaaah, nangis lagiii... Papah nanti bisa ketawain mamah di atas sana loh!” Rian berdiri untuk memeluk ibu tirinya itu.

“Maaf ya, Bang... maaf, mamah harus melibatkan kalian untuk urusan mencari nafkah...”

“Yah, kalau aku kan laki-laki Mah, suatu saat aku akan mencari Nafkah. Ini kan Cuma... gladi resik. Hehe.”

“Apa sih! Masih bercanda aja!” dengus Arumi sambil memukul bahu anaknya.

Minggu demi minggu berjalan, Rian memang diterima bekerja di Minimarket lokal menjadi anak magang. Tapi Arumi... semua lamaran yang dilayangkannya tidak membawa hasil.

Sudah 3 bulan kini, ia belum mendapat pekerjaan.

Selama 3 bulan ini Rian menyerahkan gajinya ke Arumi, 500ribu rupiah per bulan.. Hanya cukup untuk token dan air.

Mobil Ary sudah dijual, over kredit, semua hutang sudah ditutup, semua tagihan sudah dibayarkan.

Tapi masalahnya... Aryo, si  bungsu, sebentar lagi menghadapi UTBK.

“Dana infaq atau pembangunan... 5 jutaan, seragam 2 jutaan, buku... 1 jutaan. Duh...” keluh Arumi saat pulang dari SMA wilayahnya untuk mendapatkan informasi mengenai biaya. Aryo ini anak yang berprestasi, ia bisa mengharumkan nama negara dengan kepandaiannya. Dan Rian... Arumi tidak rela melihatnya tidak berkuliah. Rian anak yang rajin yang bertanggung jawab. Sementara Arumi tidak memenuhi syarat lewat jalur afirmasi karena rumah Arumi yang dua lantai dinilai ‘mampu’, walau pun ia janda dan surat keterangan kematian Ary sudah dilampirkan. Apalagi latar belakang pendidikan Arumi lumayan tinggi dianggap masih bisa mencari pekerjaan.

Arumi mengangkat brosur Perguruan Tinggi Swasta yang sejak lama diincar Rian. Biaya gedungnya... 70 juta. Belum UKT dan lainnya.

Arumi pun melihat ke arah rumahnya. “Apakah ini harus dijual juga?”

Tapi hal itu terasa sangat berat untuknya. Rumah ini adalah tempat Rian dan Aryo tumbuh, tempat Almarhum istri Ary dulu hidup dan merawat rumah ini sepenuh hati, tempat ia dan Ary mengikat janji di depan penghulu.

Kenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Menjual rumah ini akan membuat Rian dan Aryo sangat sedih.

Orang Tua Arumi sudah bilang kalau mereka bisa menampung Arumi, Rian dan Aryo. Juallah rumah itu, hidup di Purwokerto. Di sini juga ada SMA, ada kampus. Begitu kata mereka.

Tapi Arumi tidak ingin Rian dan Aryo stress.

Sebuah notifikasi pesan singkat mengagetkannya.

Arumi membukanya.

Tony, Asisten Rangga.

Arumi menarik nafas panjang.

Sialan... geramnya dalam hati. Pas sekali pesan ini muncul. Seakan ada yang sedang mengamatinya dari jauh dan menangkap kegalauan hatinya.

Pesan singkat ini memang muncul setiap dua minggu sekali. Dan biasanya Arumi abaikan. Karena setiap membacanya, yang terbayang adalah wajah Almarhum Suaminya.

Tapi...

Mungkin ide yang bagus adalah, menerima saja kompensasi kesedihan dari Rangga ini.

Arumi tidak ingin setengah-setengah.

Demi anak-anaknya.

Maafkan Mama, Rian. Kamu tidak boleh jadi seperti ini selamanya. Mas Ary mengusahakan segalanya untuk kamu dan Aryo, Mamah juga akan begitu. Begitu batin Arumi berbicara.

“Sampaikan ke Boss kamu, saya ingin ketemu.” Begitu balas Arumi ke Tony.

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!