Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan yang Terpendam
Gizel langsung tersenyum senang melihat kedatangan suaminya.
"Sayang......!" ia langsung memeluk Mahendra.
Mahendra dengan cepat melepaskan pelukan itu karena dia memang tak suka bersikap romantis di depan banyak orang.
"Bagaimana kabar papamu?" tanya Mahendra. Ia tersenyum ke arah kakak Gizel yang ada di sana.
"Papa belum sadar. Keadaannya masih kritis. Aku takut sesuatu terjadi pada papa." kata Gizel sambil bergelut di lengan kokoh Mahendra.
"Doakan saja yang terbaik bagi papamu. Oh ya, di mana mamamu?"
"Mama baru saja pulang. Kami tak mengijinkan mama berjaga semalaman di sini." Kata Gizel. "Kata mama, papa kena serangan jantung saat tahu kalau kamu menikah lagi."
Mahendra menarik napas panjang. Saat mendengar alasan papa Gizel sakit, ia justru ingat dengan Sinta yang seharian ini tak dihubunginya.
"Aku sudah bilang padamu, Gizel. Katakan pada kedua orang tuamu tentang aku yang harus berpoligami." kata Mahendra pelan. Tangannya sibuk mencari nomor Sinta di ponselnya. Mahendra baru sadar kalau dia tak menyimpan nomor Sinta di ponselnya.
"Ada apa, sayang?" tanya Gizel saat melihat Mahendra sibuk dengan ponselnya.
"Tidak ada apa-apa." jawab Mahendra.
"Aunty ....!"
Mahendra dan Gizel sama-sama menoleh mendengar panggilan itu. Seorang cowok ganteng berusia sekitar 20 an mendekati mereka.
"Arsen?" Gizel langsung memeluk ponakan tertuanya itu.
Arsen melepaskan pelukannya. "Bagaimana kabar opa?"
"Opa masih koma. Kita doakan yang terbaik buat opa ya?" Gizel berkata penuh harap. Ia kemudian menatap suaminya. "Sayang, kamu masih ingat Arsen kan? Dia anak sambung kakakku."
Mahendra mengangguk pelan.
Arsen menjabat tangan Gizel. Namun saat ia memperhatikan wajah Mahendra, dia ingat sesuatu. Lelaki itu langsung menjauh dan membuka ponselnya. Ia melihat foto pernikahan Sinta yang dikirim oleh temannya. Lelaki itu langsung tersenyum sinis.
Sinta, ternyata kamu adalah suami kedua pamanku. Mengapa kamu menolak aku untuk bersama dengan kepala desa ini? Arsen berkata dalam hati. Ia kemudian mendekati mama sambungnya, kakak Gizel yang menikah dengan papanya.
"Mama....!"
Gina menatap putra sambungnya. Gina sendiri belum dianugerahkan anak walaupun sudah 11 tahun menikah dengan papanya Arsen. Ia menyayangi Arsen karena sejak dulu, Arsen selalu sopan dan baik padanya. Ia bahkan memanggil Gina dengan sebutan mama. Makanya seluruh keluarga Gina menyayangi Arsen juga.
"Kamu semalam kemana, nak? Kenapa tak pulang ke rumah?" tanya Gina.
"Aku ada acara di rumah teman. Sekalian mengerjakan proyek bersama Delon."
"Kamu nggak minum-minum kan, nak? Mama takut kalau kamu masih patah hati karena gadis pujaan mu menikah."
Arsen tersenyum kejut. "Aku memang minum sedikit. Tapi nggak mabuk." Arsen menatap Mahendra. "Ma, suami aunty Gizel menikah lagi ya?" tanya Arsen sambil memelankan suaranya.
"Iya. Itulah yang menyebab opa sok dan langsung masuk rumah sakit."
"Mengapa aunty mau dipoligami sih?"
"Mama nggak tahu, sayang. Mungkin karena aunty belum hamil juga. Entah kenapa mam dan aunty sepertinya susah untuk hamil. Pada hal kata dokter kami sehat tak ada masalah dengan kandungan kami. Mama kasihan melihat aunty Gizel. Walaupun ia setuju Mahendra berpoligami namun hatinya pasti sedih. Wanita mana yang ingin dimadu?"
Arsen melingkarkan tangannya di bahu mama sambungnya. Perempuan yang sudah merawatnya semenjak ia berusia 12 tahun. Perempuan yang membuatnya merasakan lagi kasih sayang seorang ibu setelah ibunya meninggal saat Arsen berusia 8 tahun. "Mama, aku adalah cucu tertua di keluarga ini. Opa menyayangiku walaupun aku bukan cucu kandungnya. Aku akan pastikan kalau mama dan aunty Gizel akan berbahagia." kata Arsen sambil menatap Mahendra yang masih berbicara dengan bibinya itu. Aku akan mengambil wanita yang kau jadikan sebagai istri kedua untuk menjadi ratu dalam hidupku.
***********
Mahendra tiba di apartemen saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia menggunakan berbagai macam alasan agar Gizel tak bertanya di mana ia akan tinggal. Di kota ini, Mahendra memang memberikan Gizel sebuah rumah. Gizel tak pernah datang di apartemen ini karena memang Mahendra selalu ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Ia melihat Sinta yang tertidur di atas sofa. Mahendra memeluk Sinta dan memindahkannya ke kamar utama. Kamar yang selalu ia tempati. Apartemen ini memang memiliki dua kamar namun kamar yang satu tak pernah ditempati sehingga pasti harus dibersihkan.
Setelah menyelimuti tubuh Sinta, Mahendra keluar dari kamar. Ia bermaksud akan minum air putih. Saat membuka penutup saji, Mahendra langsung tersenyum melihat ada makanan. Jujur saja ia lapar karena belum makan malam.
"Abang, kenapa tak bangunan aku?" Sinta yang ternyata sudah bangun segera keluar kamar saat sadar bahwa ia sudah berada di kamar. "Abang mau makan? Aku panaskan dulu makanannya." Sinta segera menyalahkan kompor listrik itu dan segera memanaskan masakan yang dibuatnya tadi siang bersama Natari.
Mahendra duduk di depan meja makan sambil memperhatikan tangan Sinta yang dengan lincah bergerak di atas kompor. Tak sampai 15 menit semua makanan sudah tersaji di hadapan Mahendra.
"Abang ingin ku buatkan kopi?" tanya Sinta.
"Tidak. Aku ingin minum air hangat saja."
Sinta meletakan gelas berisi air putih hangat di dekat meja. "Abang makan dulu. Aku mau mandi."
"Tunggu! Temani aku makan. Nanti kita mandi bersama." kata Mahendra dengan suara yang terdengar seperti perintah yang tidak bisa dibantah.
Deg!
Mandi bersama? Otak Sinta langsung traveling kemana-mana.
Ia menarik kursi dan duduk di depan Mahendra.
"Kamu tidak makan?" tanya Mahendra melihat Sinta hanya diam saja.
"Aku tadi sore makan sangat banyak dengan temanku."
"Temanmu?"
"Iya. Tadi siang aku tak sengaja bertemu teman baikku di depan lobby. Dia ingin tahu cerita tentang aku. Jadi dia ikut aku ke sini."
Mahendra menatap Sinta. "Lain kali, bertanya padaku apakah boleh membawa temanmu ke sini. Apartemen ini adalah salah satu tempat pribadiku. Gizel dan mamaku sendiri belum pernah datang ke sini. Aku ingin kamu menjaganya untuk tetap menjadi tempat pribadi yang tak dimasuki orang lain."
"Maaf. Sebenarnya tadi aku ingin meminta ijin tapi aku tak punya nomor telepon Abang."
Mahendra terus makan dan tak menyambung ucapan Sinta. Setelah ia selesai makan, ia menatap Sinta. "Mana ponselmu."
Sinta menyerahkan ponselnya. Ponsel yang layarnya sudah sedikit retak karena sudah berulang kali jatuh dan juga ponsel itu dibeli mamanya saat Sinta masuk kuliah.
"Besok saja nomornya disimpan." Mahendra mengembalikan ponsel itu. "Siapkan air mandi di dalam bathtub."
Sinta mengangguk. Ia segera ke kamar mandi dan mengisi bathup dengan air hangat. Setelah siap, ia keluar dari kamar mandi. Nampak Mahendra yang sementara membuka kemeja miliknya. "Buka bajumu dan kita mandi bersama."
"Mandi?" Sinta jadi tegang.
"Ya. Aku butuh kamu untuk menggosok punggungku." Mahendra melepaskan semua pakaiannya. Sinta yang merasa malu saat melihat bahwa suaminya itu sungguh tak tahu malu tampil polos di hadapannya.
"Cepatlah, Sinta!"
Tangan Sinta bergetar saat mengeluarkan pakaian dari tubuhnya. Ia kemudian berjalan menuju ke kamar mandi.
"Masuk ke sini dan duduk di belakangku." perintah Mahendra.
Sinta menahan napas saat ia masuk ke dalam bathup. Gadis itu sengaja berjongkok di belakang Mahendra dan mulai menggosok punggung Mahendra.
Lama kelamaan kakinya terasa pegal. Perlahan Sinta menurunkan kakinya. Mahendra tiba-tiba memundurkan posisi duduknya. "Abang, aku terjepit." kata Sinta panik ketika punggung Mahendra sudah menempel di dadanya.
Mahendra tersenyum saat mendengar suara panik Sinta. Ia perlahan membalikan posisi duduknya sehingga keduanya kini saling berhadapan. Mahendra duduk di sisi yang lain.
" Ke sini......!" katanya sambil menepuk pahanya.
"Aku kesitu? Duduk di situ?" Sinta semakin panik.
"Ya."
"Tapi....!"
"Sekarang!"
Sinta pun bergerak perlahan dan duduk di pangkuan Mahendra.
"Kamu harus dihukum karena berani memasukan orang di daerah pribadiku." lalu Mahendra melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Menarik tubuh mungil istrinya lalu mencium.bibir Sinta
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣