Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Di kamar sebelah, Seina juga belum tertidur. Ia berbaring sambil menatap langit-langit rumah bambu.
Pikirannya kembali melayang ke kehidupan sebelumnya.
Pada waktu yang sama di kehidupan itu, kakaknya yang kini berada di keluarga Pratama mungkin sedang dikurung di gudang kayu.
Seina memejamkan mata perlahan.
'Kak... Kau pasti mengira berhasil merebut kehidupan yang paling membahagiakan. Padahal yang kau pilih justru jalan penuh penderitaan.'
Di kehidupan sebelumnya, kakaknya juga pernah menangis semalaman pada malam pertama tinggal di keluarga Hartono.
Saat itu Mira memeluknya sepanjang malam, membujuknya tanpa lelah hingga akhirnya gadis kecil itu tertidur sambil memanggil, "Ibu..."
Kenangan itu membuat dada Seina terasa sesak, namun ia segera menggeleng pelan.
Semua itu sudah berlalu. Kalau diberi kesempatan memilih sekali lagi... ia tetap akan memilih keluarga ini.
***
Keesokan paginya, setelah sarapan selesai, kakak-kakaknya kembali berangkat ke akademi.
Sang ayah pergi bekerja ke bengkel pandai besi seperti biasa. Sementara itu, Mira kembali membawa Seina menuju rumah keluarga Sia.
Sebenarnya Mira tidak tega mengajak putrinya ikut bekerja setiap hari, namun keluarga mereka masih harus menghidupi lima orang anak yang bersekolah.
Kalau hanya mengandalkan penghasilan suaminya, beban itu akan terlalu berat.
Begitu memasuki halaman rumah keluarga Sia, seperti biasanya, Cilia segera menghampiri mereka.
"Kak Mira! Nyonya Tua sedang menunggumu, beliau ingin kau menyisir rambutnya.. Cepatlah.."
Seina yang mendengar itu hanya berkedip pelan.
'Kenapa Nyonya Tua itu aneh sekali? Bukankah di rumah ini ada banyak pelayan? Mengapa harus menunggu Ibu?'
Tanpa sadar, kenangan masa lalunya kembali muncul.
Dulu, ketika tinggal di keluarga bangsawan, ia juga pernah hanya bergantung kepada dua orang pelayan yang melayaninya setiap hari.
Saat kedua pelayan itu pergi, ia sempat merasa kehilangan untuk waktu yang lama.
Barangkali... Nyonya Tua Sia juga memiliki perasaan yang sama.
Namun Mira tetap menggeleng.
"Maaf.. Aku datang ke rumah ini sebagai pembantu harian. Aku tidak bertugas melayani kebutuhan pribadi Nyonya Tua."
Cilia langsung tercengang, kemarin Mira memang belum bersedia menerima pekerjaan itu secara tetap.
Tetapi setidaknya ia masih mau membantu, mengapa hari ini ia menolak begitu tegas?
"Kak Mira... Kalau begini kami akan kesulitan."
Mira tetap tersenyum sopan.
"Aku sudah mengajarimu cara menyisir rambut beliau, kau hanya perlu lebih sering berlatih."
Setelah mengatakan itu, ia menggandeng tangan Seina dan berjalan pergi.
Cilia menggigit bibirnya karena kesal.
"Kalau begitu... Jangan salahkan aku."
Hari itu juga ia menemui kepala pelayan dan diam-diam meminta agar pekerjaan Mira ditambah.
Sejak saat itu, beban kerja Mira menjadi jauh lebih berat.
Hari demi hari berlalu.
Punggungnya mulai sering pegal, begitu pula dengan pinggangnya yang terasa nyeri. Bahkan langkahnya tidak lagi seringan dulu.
Seina memperhatikan semua itu dalam diam.
Ia tahu bahwa ibunya sedang dipersulit.
Suatu sore, saat mereka pulang bersama menggunakan kereta keledai, Seina perlahan memeluk pinggang Mira.
"Ibu... berhentilah bekerja di sana, mereka memperlakukan Ibu dengan tidak adil."
Mira sedikit terkejut, ia tidak menyangka putrinya menyadari semuanya.
Anak-anak lain seusia Seina masih sibuk bermain, namun putrinya justru mengkhawatirkan pekerjaan ibunya.
Mira mengusap rambut Seina sambil tersenyum.
"Ibu tidak apa-apa, ibu tidak lelah."
Seina tahu ibunya sedang berbohong, namun ia juga mengerti alasan di balik kebohongan itu.
Kalau Mira berhenti bekerja... Biaya sekolah kelima kakaknya akan menjadi jauh lebih berat. Karena itu, ia hanya memeluk ibunya lebih erat tanpa berkata apa-apa lagi.
***
Malam harinya, seluruh keluarga berkumpul di meja makan.
Begitu melihat wajah Mira yang tampak pucat, kakak sulung langsung bertanya dengan cemas.
"Bu... Apakah Ibu sakit?"
Mira menggeleng pelan. "Tidak.. Akhir-akhir ini hanya sedikit lebih lelah."
Sang ayah langsung berkata, "Kalau begitu, besok jangan bekerja, ambillah cuti beberapa hari."
Mira hanya tersenyum pahit, ia tahu itu hampir mustahil. Orang-orang di rumah keluarga Sia jelas sedang mencari-cari alasan untuk mempersulitnya, mana mungkin mereka mengizinkannya beristirahat.
"Keluarga Sia sedang kekurangan orang, sepertinya tidak mudah meminta cuti."
Suasana makan malam pun menjadi sunyi. Semua orang menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Selesai makan, Seina kembali ke kamarnya, namun baru saja membuka pintu... Ia mendapati kelima kakaknya sudah berdiri di dalam sambil menatap ke arahnya.
Seina berhenti melangkah, ia berkedip pelan.
"Sepertinya... Kalian semua salah masuk kamar ya?"
cerita nya juga seru